
" Bagaimana dokter Tyas, apa sudah ada kabar mengenai dokter Tomi? " tanya dokter Radit saat dokter Tyas dan dokter Siska sampai di tempat perawatan dokter Radit.
Dokter Tyas menggelengkan kepalanya dan menunduk sedih.
" Maksudnya gimana, dokter? " tanya dokter Radit penasaran.
" Saya sudah mendatangi posko tim SAR, tapi menurut pak Robi selaku ketua tim SAR, mereka tidak menemukan korban lain setelah semua korban dinaikkan ke atas kapal. " jawab dokter Tyas dengan raut wajahnya yang bersedih.
" Mereka juga sempat menyisir tempat kejadian sebelum menarik speedboat yang terbalik ke darat, tapi tidak ada korban lain sehingga mereka kembali ke darat karena menurut informasi yang mereka terima semua korban sudah dinaikkan ke atas kapal."
Dokter Tyas menjelaskan pada dokter Radit tentang apa yang dia dengar tadi dari ketua tim SAR.
" Ya Allah, jadi dimana dokter Tomi? " tanya dokter Radit pada dirinya sendiri.
Dokter Radit tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, dengan kondisinya dia tidak mungkin bisa mencari dokter Tomi.
" Tim SAR akan melakukan penyisiran ulang dan akan bertanya pada nelayan di sekitar pantai, siapa tahu ada diantara mereka yang menemukan dokter Tomi. "
Dokter Tyas mengatakan pada dokter Radit jika tim SAR akan menyisir ulang tempat terjadinya kecelakaan dan akan bertanya pada nelayan disekitar pantai.
Dokter Radit hanya mampu terdiam, begitu pun dengan yang lain.
Mereka tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan keselamatan dokter Tomi.
" Kemungkinan besar kita akan kembali ke kota besok bersama para korban yang membutuhkan penanganan secara intensif. " dokter Tyas memberitahu jika kemungkinan besok mereka akan kembali ke kota.
" Karena musibah ini, acara bakti sosial juga dibatalkan, pihak yang terkait sudah menyampaikan kepada para warga juga pihak lain yang berkepentingan. "
Dokter Tyas juga menyampaikan jika acara mereka dibatalkan karena adanya musibah ini.
" Untuk acara mungkin bisa diganti lain waktu, walaupun bukan untuk perayaan hari dokter nasional. " kata dokter Tyas lagi.
" Dokter, apa kita akan kembali menggunakan speedboat? " tanya suster Mirah.
" Saya takut kalau harus menggunakan speedboat lagi. " kata suster Mirah melanjutkan.
" Tidak, kita akan menggunakan kapal fery karena ada korban yang harus dibawa ke rumah sakit di kota.
Lagian sebagian besar dari kita masih trauma dengan kejadian siang tadi. "
Dokter Tyas menjelaskan jika mereka akan kembali menggunakan kapal fery dan tidak menggunakan speedboat.
__ADS_1
" Tapi waktu tempuh akan lebih lama jika dibandingkan dengan menggunakan speedboat. " kata dokter Tyas lagi.
" Dokter Siska dan suster Mirah, sebaiknya kita istirahat, kalian pasti masih pusing akibat kejadian tadi.
Kita istirahat ditempat yang sudah disediakan. "
Dokter Tyas meminta dokter Siska dan suster Mirah untuk beristirahat, karena mereka juga mengalami luka-luka akibat kejadian tadi.
Mereka memilih untuk beristirahat ditempat yang disediakan, tidak jauh dari dokter Radit.
Mereka membaringkan diri dilantai beralaskan tikar seadanya.
Mereka bersyukur masih bisa selamat dari kejadian tadi siang, sedangkan dokter Tomi, mereka belum tahu bagaimana keadaannya.
Sore itu, saat hujan sudah mulai reda, sebuah kapal nelayan melaju perlahan mengikuti arah ombak untuk menuju pesisir pantai.
Dua orang laki-laki tengah duduk diatas kapal sambil menghisap rokok mengusir dingin karena hujan baru saja berhenti.
Tiba-tiba, anak muda yang ada di kapal itu menunjuk sesuatu kearah tengah laut.
" Ayah, lihatlah! Itu seperti seseorang yang sedang terapung di tengah laut. " kata sang pemuda kepada ayahnya.
" Roni, cepat arahkan kapal kita kesana, kita lihat apa orang itu masih hidup atau sudah meninggal. " pinta bapak itu pada anaknya yang bernama Roni.
Roni mengarahkan kapal itu kearah seseorang yang sedang terapung.
Saat sudah dekat, Roni dan ayahnya berusaha menarik orang yang terapung tersebut kearah kapal mereka dan dengan susah payah menaikkan keatas kapal.
" Coba dilihat Ron, apa masih bernafas atau tidak? " pinta ayah Roni pada anaknya.
Roni meletakkan jarinya di leher orang yang ditemukannya, juga memijit pergelangan tangan orang tersebut.
" Masih ada denyut nadinya, ayah! tapi sangat lemah, dan tubuhnya terasa dingin, sepertinya dia hanya pingsan. "
Roni mengatakan jika orang tersebut masih bernafas tapi sangat lemah dan tubuhnya sangat dingin.
" Coba selimuti dengan terpal untuk menutup peti itu, kita tidak punya kain untuk menutupi tubuhnya, pakaiannya juga basah semua. " pinta ayah pada Roni untuk menutupi tubuh orang tersebut dengan terpal.
" Ayah, sebaiknya kita buka dulu pelampung yang ia kenakan, agar ia bisa bernafas dengan lega, juga bajunya agar tidak terlalu dingin karena mengenakan baju basah. Bantu Roni untuk membukanya.
Biar ia mengenakan sarung Roni saja untuk menutupi tubuhnya."
__ADS_1
Roni meminta tolong pada ayahnya untuk membantunya membuka pelampung yang dikenakan juga pakaiannya yang basah.
Roni dan ayahnya membuka pelampung juga pakai orang tersebut.
Lalu mereka memakaikan kain sarung yang tadi Roni kenakan.
Roni juga menutupi tubuh orang itu dari kaki hingga ke leher menggunakan terpal yang biasa mereka gunakan untuk mereka berlindung jika ada hujan deras.
" Siapa dia, ya ayah? mengapa ia terapung ditengah laut dan mengenakan pelampung? Apakah dia korban kecelakaan? "
Roni bertanya pada ayahnya tentang siapa orang yang mereka temukan.
" Ayah juga tidak tahu, tapi kita tidak mendengar ada kecelakaan disekitar sini. " jawab ayah Roni yang tidak mengetahui siapa orang yang mereka tolong.
" Lalu bagaimana dengan orang ini, ayah? akan kita bawa kemana? "
tanya Roni pada ayahnya.
" Karena hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita bawa pulang ke rumah, nanti jika dia sudah sadar kita bisa antarkan ketempat asalnya. "
Ayah mengatakan jika mereka akan membawa orang tersebut pulang ke rumah karena tidak tahu akan dibawa kemana.
Tiba di tepi pantai, ayah Roni dan Roni berusaha membawa orang tersebut ke rumah mereka yang tidak jauh dari tepi pantai.
Setelah menambatkan perahu mereka, ayah Roni dan Roni memapah orang tersebut menuju rumah, mereka tidak bisa menggotongnya karena terasa berat.
Terpaksa mereka memapah dan sedikit menyeret tubuh orang tersebut.
Tiba dirumah mereka, seorang wanita paruh baya sangat terkejut melihat suami dan anaknya pulang membawa seseorang dengan cara memapahnya.
" Siapa orang ini, ayah? Kenapa kalian membawanya pulang ke rumah? " tanya sang istri pada suami dan anaknya.
" Nanti saja kami ceritakan, bu! Sekarang tolong buka pintunya. "
pinta ayah pada istrinya.
Si ibu pun membuka pintu rumah mereka, lalu Roni dan ayahnya membaringkan pemuda itu diatas bale-bale yang ada ditengah rumah tersebut.
Roni berusaha membuka celana panjang yang dikenakan oleh pemuda itu karena basah dan kotor oleh pasir karena mereka setengah menyeretnya saat membawa ke rumah mereka.
Roni juga memasangkan baju koas pada pemuda itu, serta mengganti sarung yang tadi ia kenakan pada pemuda itu.
__ADS_1