DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Asti Berdamai Dengan Hatinya Sendiri


__ADS_3

“Bu Asti, mohon Ibu jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Terus-terang, saya kaget menemukan sikap Ibu yang ternyata seperti ini. Padahal Ibu yang selama ini saya kenal, selalu menunjukkan wibawanya!” kata Tomi berbicar jujur kepada Asti, seperti mengeluarkan unek-uneknya selama ini.


Menurut Tomi mungkin ini waktu yang tepat untuk ia menyampaikan sekaligus menegur sikap-sikap Asti yang kasar kepadanya selama ini. Berhubung mereka berdua sedang di dalam kendaraan yang berjalan. Dan Tomi yang menyetir, jadi tidak mungkin gadis ini akan turun melompat dari dalam mobil yang sedang berjalan. Pikir Tomi dalam hati.


Asti menggit bibirnya sendiri, sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Tomi itu benar. Di luar hal-hal yang berkaitan dengan kampus, ia telah melupakan bagaimana seharusnya sikap seorang dosen di hadapan mahasiswanya sendiri. Tetapi ah, bukan kah Tomi sendiri juga tidak menunjukkan diri sebagai seorang mahasiswa saat bersama saya?


Sikap saya seperti ini terhadap dirinya bukan karena sikap asli saya seperti ini. Namun karena perilaku dia yang suka kelewatan. Ya mau tidak mau, karena setiap kali saya bertemu dengan dia saya sudah merasa kesal. Jangan kan ketemu langsung tatap muka, melihat wajahnya dari kejauhan saja saya sudah sangat kesal.


Asti terus mengomel dalam hati nya sambil menoleh kan wajahnya ke pemandangan yang ada di sebelah kirinya melalui kaca mobil.


Sepertinya jiwa saya sudah tidak bisa menerima kehadiran lelaki yang satu ini. Jiwa ku sudah meronta-ronta jika sudah melihat sosok lelaki yang model seperti ini. Kesalnya bukan main. Bisa-bisa nya dia berbicara seperti itu kepada ku, sedangkan semua permasalahan yang timbul di antara kami adalah berasal dari dia sendiri.


“Harap Saudara juga menyadari terlebih dahulu, sebelum Saudara mengomentari saya. Bahwa sikap Saudara kepada saya, pun tidak seperti seorang mahasiswa terhadap dosennya! Dan semua permasalahan yang ada selama ini berasal dari Saudara sendiri” jawab Asti dengan tegas.


“Sikap seseorang terhadap kita, akan tercermin dari sikap kita kepada orang itu! Tidak ada orang yang mampu menahan diri, untuk tetap bersikap baik kepada orang yang sudah bersikap kurang ajar kepadanya berkali-kali. Karena manusia punya batas kesabarannya sendiri”


“Jika dari awal Saudara tidak kurang ajar kepada saya, saya juga pasti sangat menghormati Saudara! Bahkan mungkin lebih dari yang Saudara berikan kepada saya” Asti merasa puas dengan penyampaian unek-unek di hatinya terhadap Tomi.


Tomi hanya diam, mendengar Asti mengeluarkan seluruh emosi terhadap dirinya. Sesekali Tomi menoleh ke arah Asti, saat gadis itu sedang berbicara. Dan tertangkap oleh mata Tomi bahwa saat Asti mengutarakan panjang lebar kali lebar isi hatinya, mata gadis itu juga terlihat berkaca-kaca. Terdengar dari suaranya juga sedikit bergetar. Menandakan ia sedang betul-betul mengeluarkan seluruh emosi yang ada di dalam hatinya dan mungkin selama ini tidak tersampaikan.

__ADS_1


Tidak heran bagi Tomi, karena dalam perihal masalah hati wanita memang tercipta mempunyai hati yang lemah lembut, mudah sekali merasa terharu dan mereka tercipta memang lebih peka dari pada pria.


“Ya… Saya sangat paham maksud Ibu. Saya minta maaf jika selama ini ada sikap perilaku saya yang mungkin telah menyakiti Ibu. Dan mungkin sampai saat ini pun, Ibu belum memaafkannya. Tolong untuk di maafkan. Ibu sendiri pasti tahu, tidaklah baik menyimpan dendam kepada orang lain” jawab Tomi dengan raut wajah yang serius.


“Bisa saja setelah Ibu memaafkan dan mengiklaskannya akan lebih baik. Dan mungkin Ibu akan menemukan kebaikan yang lebih pada diri orang tersebut. Namun terlepas dari itu semua, ketika saya pribadi melakukan sesuatu pasti saya mempunyai alasan tersendiri. Dan yang pasti itu semua sudah saya pikirkan terlebih dahulu” kata Tomi lagi.


Dan Asti pun kembali tidak berkomentar. Saat ini kondisi hatinya yang tadi memanas sudah mulai dingin, karena itu ia dapat mencerna maksud dari pernyataan yang telah Tomi utarakan kepadanya. Dan kali ini ia kembali setuju dengan pernyataan dari lelaki yang ada di sampingnya.


Asti berdoa dalam hatinya, meminta kepada Sang Pencipta untuk memberinya kesabaran dan dapat dengan rendah hati menerima juga memaafkan segala perbuatan yang telah Tomi lakukan kepadanya. Sehingga sudah membuatnya dongkol selama ini.


Asti mulai berbicara sendiri dalam hati, mungkin memang benar apa yang telah Tomi sampaikan kepadanya. Ketika kita sudah menanamkan kebencian terhadap orang lain, maka apapun yang dia lakukan akan tetap terlihat salah di mata kita. Padahal dalam pandangan orang lain mungkin tidak sama dengan pendapat kita.


Dan saat ini ia sudah mejadi seorang dosen yang dengan jelas sebenarnya dirinya sendiri tidak harus terpancing dengan perilaku seperti itu. Karena sudah mengetahuinya sejak awal dan yang ia ajarkan kepada mahasiswa nya juga tidak jauh dari sifat-sifat manusia.


Asti bertanya-tanya mengapa seakan selama ini ia melupakan semua itu, seakan matanya tertutup oleh kebencian dan rasa marah yang tidak kunjung reda terhadap lelaki yang ada di sampingnya selama ini?


Ya sudahlah… Saat ini biarkan semuanya berjalan apa adanya saja. Semoga saja aku bisa memaafkan lelaki ini, kata Asti lagi dalam hatinya.


Asti dan Tomi diam-diaman dalam beberapa saat. Mereka sama-sama sedang bberfikir keras.

__ADS_1


Tomi dengan tanpa ragu tetap melanjutkan perjalanan mereka dengan penuh kehati-hatian saat mengendarai mobilnya. Laju kendaraannya itu masih terkontrol dan tetap diarahkannya ke Selatan, melalui arah Wonosari. Tentu saja Asti yang sudah pernah ke Parangtritis kaget.


“Mau ke mana kita?” tanya Asti kepada Tomi.


“Lho, tadi kan sudah saya katakan, kita akan melihat pantai Selatan yang indah. Ibu tidak usah cemas. Percayalah kepada saya. Kita akan menemukan pemandangan yang indah. Jauh-jauh kita datang dari Jakarta, masa hanya melihat rumah sakit saja!” sahut Tomi sembari curhat dengan gadis pujaan hatinya tersebut.


“Asti membenarkan kata-kata lelaki itu di dalam hatinya. Semenjak ia tiba di kota Yogyakarta, selain keliling kota dengan sepeda motor milik eyang kakung sebelum ia mengalami kecelakaan lalu lintas itu, selebihnya memang hanya urusan ke rumah sakit saja yang membawanya keluar dari rumah eyang nya.


“Tetapi kenapa tidak lewat Bantul?” tanya Asti kemudian.


“Kita akan lewat Wonosari. Dan tidak akan ke Parangtritis, Bu. Tetapi ke Baron!” sahut Tomi kalem dan juga bahagia, karena mendapati Asti sudah terlihat ikhlas menuruti ajakannya, buktinya Asti merespon dengan bertanya arah jalan. Terpancar senyum lebar di bibir Tomi.


“Memang lebih jauh, tetapi perjalanan ke arah sana pemandangannya lebih bagus. Sudah pernah ke sana, belum?”


“Belum” jawab Asti dengan kebiasaan jutek nya itu.


“Kalau begitu pilihan saya tidak keliru. Saya sudah sedikit menguasai kota Yogya ini, karena saya suka berpetualang. Saya senang melihat keindahan-keindahan alam. Menurut saya keindahan alam itu mengalahkan mall dll. ‘Dan Ibu!’ adalah salah satu keindahan dari Tuhan yang luar biasa bagi saya (dua kata dan kalimat terakhir itu, di ucapkan Tomi dalam hati sambil tersenyum manis).


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2