
Gadis dengan rambut sebahu nampak gelisah memandangi wadah berisi urinnya. Dia Embun Anindira akrab di sapa Anin, sudah sekitar 15 menit dirinya berada di toilet kostnya, Anin tidak berani untuk melihat hasil dari benda kecil nan tipis tersebut.
Perlahan namun pasti, Anin memberanikan diri mengangkat testpack yang sudah hampir 20 menit dia abaikan.
"Tenang Anin, semua akan baik- baik saja" tampak Anin berusaha menenangkan dirinya
Sambil berharap-harap cemas Anin perlahan menyipitkan matanya, layaknya seperti orang yang sedang mengintip. Namun justru hasil dari tespack tersebut membuat kadua mata Anin membola, Anin membekap mulutnya dengan tangan gemetar, kakinya terasa tidak bertulang saat ini. dua garis merah tampak nyata di depan matanya saat ini.
" Nggak ..ini nggak mungkin" Anin menggelengkan kepalanya, menghapus air matanya yang jatuh tanpa permisi.
Ini semua serasa mimpi buat Anin, dirinya bahkan dengan mati-matian melupakan malam kelam yang sudah merenggut masa depannya, sekarang justru ada benih yang tumbuh dalam rahimnya. Anin bingung harus berbuat apa, dirinya yang masih duduk di bangku kuliah semester 3 merasa hidupnya di jungkir balikan seketika, terlebih lagi Anin takut meminta pertanggungjawaban pada pria yang sudah merenggut masa depannya, pria yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.
" Aku harus bagaimana ? Hiks .hiks .hiks.. bagaimana jika ibu tau aku hamil ? ibu pasti akan mengusir bahkan tidak menganggap ku sebagai anak lagi " Sungguh pilu hati Anin membayangkan nasibnya nanti.
Sudah 1 jam lebih Anin berada di dalam toilet, Anin memutuskan untuk membersihkan diri, Anin ingin menemui sahabatnya, Vivi. Ya..Anin akan menceritakan semuanya pada sahabatnya, hanya Vivi yang Anin punya selama tinggal di Jakarta. Mereka sudah bersahabat sejak di bangku SMP, bahkan Vivi yang notabene anak orang kaya tidak memandang latar belakang Anin yang berasal dari keluarga sederhana, itulah yang membuat hubungan persahabatan mereka awet sampai sekarang.
Anin menatap pantulan dirinya di cermin, mata sembapnya bahkan tidak bisa di tutupi dengan sapuan bedak. ah sudahlah, bahkan Anin sudah tidak peduli dengan penampilannya, Anin yakin bahkan setelah menceritakan semuanya pada Vivi air matanya akan kembali tumpah. terakhir, Anin mengoleskan liptint seadanya di bibirnya, meminimalisir wajahnya terlihat pucat.
Sebelum berangkat, Anin sudah terlebih dulu mengabari Vivi, untungnya hari ini jadwal kuliah Vivi sedang kosong.
sekitar 25 menit, Anin sampai di depan gedung apartemen Vivi, Anin lalu turun dari taxi online yang dia tumpangi.
Lantai 9, tujuan kaki Anin melangkah. setelah membunyikan bel apartemen tampak Vivi tersenyum menyambut kedatangan Anin, karena tidak biasanya sahabatnya itu meminta untuk bertemu. berbeda dengan Vivi yang tampak senang, raut wajah Anin justru menampakkan kesedihan.
"Bruk.." belum sempat Vivi mempersilahkan masuk, Anin sudah lebih dulu menubruk tubuh Vivi, memeluk sahabatnya erat berharap mendapat kekuatan lebih untuk bercerita nantinya.
Vivi tampak bingung dengan kening berkerut
"Lo kenapa sih Nin ? tiba-tiba datang pake meluk kayak gini, kangen Lo yah sama gue" heran Vivi sembari menggoda Anin
__ADS_1
Vivi merasakan punggung Anin bergetar, seketika Vivi merasa Anin memang sedang tidak baik-baik saja. Vivi sedikit mendorong tubuh Anin untuk melihat kondisi sahabatnya.
"Nin, kok Lo nangis ? "panik Vivi
Luruh sudah pertahanan Anin, sekuat apapun dia menahan tetap saja air matanya lolos begitu saja.
"Kita bicara di dalam yah Nin, ayo masuk dulu" Vivi mulai khawatir, karena memang Anin tampak berbeda dari biasanya.
Kini mereka berdua duduk di sofa ruang tengah apartemen Vivi.
"Sekarang Lo cerita sama gue, sebenarnya Lo ini kenapa hah?" tanya Vivi sembari menggenggam tangan Anin yang bahkan terasa dingin di kulitnya.
Anin yang masih terisak berusaha menetralkan rasa sedih, emosi, dan juga shock setelah mengetahui kebenaran kehamilannya.
"Gue hamil Vi" dua kata itu lolos bgitu saja, Anin semakin terisak setelah mengatakan kebenarannya.
Bagai petir di siang bolong, Vivi tentu kaget bahkan sangat kaget. selama ini Anin bahkan menjaga jarak dari para lelaki yang mendekatinya karena lebih memilih fokus untuk kuliah. Lalu apa ini? Anin tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa dirinya hamil, apa memang selama ini dirinya yang tidak tau Anin dekat dengan pria ? .
"Gue nggak becanda Vi, bahkan gue udah tespack dan hasilnya positif" Anin bahkan mengeluarkan bukti tespack yang dia bawa dari kost.
Vivi menatap nanar tespack yang berada di tangan Anin, sungguh ini membuat kepala Vivi seperti di hantam benda tumpul seketika.
"Tapi siapa Nin? " Pertanyaan ini yang sejak tadi memenuhi kepala Vivi.
"Gue nggak kenal Vi, malam itu kejadiannya begitu cepat. saat itu gue gantiin Doni nganterin pesanan kue ke langganannya kak Ambar. Pas gue mau balik gue nggak sengaja nabrak cowok di lorong apartemen, dari penampilannya emang udah kacau, dan badannya pun bau alkohol, saat itu gue cuman berniat bantu dia berdiri karena posisinya dia jatuh karena gue tabrak tadi. Tapi, pas gue mau jalan dia nahan gue dan narik paksa gue masuk ke apartemennya, gue berusaha berontak saat itu Vi tapi tenaganya kuat banget bahkan gue pun sempet di tampar " Anin semakin sedih jika mengingat malam itu.
Vivi yang mendengar cerita Anin mengepalkan tangannya menahan gejolak emosi yang sudah memburu.
"Kurang ajar, gue pastiin tuh cowok bakal bertanggung jawab atas perbuatannya"
__ADS_1
Anin mendongak menatap Vivi "Tapi gimana kalo dia nggak mau bertanggungjawab Vi ?, Hiks..hiks...kuliah gue gimana ?, Belum lagi kalo ibu tau kalo gue hamil"
Vivi memeluk tubuh Anin erat " Lo tenang dulu yah, semua masalah pasti ada jalan keluarnya"
Vivi sungguh kasihan melihat kondisi Anin, bagaimanapun Anin adalah sahabat satu-satunya yang dia punya. Vivi tidak bisa membayangkan bagaimana jika Bu Risa tau Anin hamil, apalagi selama ini Bu Risa memang tidak terlalu menyukai Anin, yang dia mau hanyalah transferan uang tiap bulannya dari Anin.
Entahlah, padahal dulunya Bu Risa adalah orang yang baik tapi semenjak ayah Anin meninggal membuat tulang punggung keluarga berpindah pada Bu Risa, sampai Anin kuliah di Jakarta dan mendapat kerja part time di toko kue, Bu Risa mulai mengandalkan Anin untuk biaya hidupnya di kampung, padahal kadang Anin pun harus pintar-pintar mengatur uang kuliah dan juga kebutuhan sehari-harinya.
"Nin.. liat gue, sekarang Lo tenang yah. kita cari jalan keluarnya sama-sama. Lo nggak sendiri, ada gue yang bakalan bantuin Lo dapat pertanggungjawaban dari pria brengksek itu".
Anin mengangguk, kata-kata Vivi setidaknya membuatnya sedikit tenang.
"Sekarang gue tanya, setelah kejadian itu nggak mungkin kan kalo kalian berpisah gitu aja ?, maksud gue gini loh Nin, mungkin nggak dia ninggalin sesuatu gitu atau setidaknya dia basa- basi ke Lo sekedar minta maaf misalnya"
Vivi yakin, setelah kejadian malam itu nggak mungkin jika tidak ada percakapan antara mereka.
Anin menggelengkan kepala, karena memang pada saat itu dirinya bangun dalam keadaan seorang diri dalam kamar apartemen itu.
"Gue bahkan bangun dalam keadaan apartemen kosong, yang tersisa cuman gue Vi"
" Tapi tunggu dulu" Anin tiba-tiba mengingat sesuatu. "Dia ninggalin satu kartu nama di atas meja, tapi itu ada di tas gue yang di kost"
"Oke kalo gitu, sekarang Lo tunggu di sini, gue mau mandi abis itu kita ke kost Lo dan cari kartu namanya"
Vivi pun bergegas untuk mandi meninggalkan Anin yang sudah harap cemas akan nasibnya.
"Kamu doain mama yah, semoga papa kamu mau tanggungjawab atas kita berdua" Anin mengelus lembut perut ratanya. bahkan saat mengetahui dirinya hamil tidak terbersit sedikit pun di hatinya untuk melenyapkan atau menggugurkan kandungannya, bahkan jika nanti pun ayah dari anaknya tidak mau bertanggungjawab, Anin akan berusaha tegar menerima dan menjalani hidupnya.
..
__ADS_1
Hai semuanya..maaf yah jika masih banyak kesalahan dalam penulisan, karena ini memang cerita pertamaku masih dalam tahap proses belajar. jangan lupa supportnya yah.