
"Mia.. aku senang sekali kau bisa bekerja di sini. aku merasa jadi punya teman sekarang". Anin tak henti-hentinya berdecak senang.
Mia sampai di buat menggelengkan kepalanya tersenyum.
"Nona, anda sudah mengatakan hal itu berkali-kali". ujar Mia terkekeh.
Dia menghentikan kursi roda Anin saat sampai di taman belakang mansion.
"Hehe.. aku terlalu excited" balas Anin.
"Oh ya, kau akan tinggal di sini kan?".
"Iyya nona, seperti perintah tuan Askara saya harus selalu ada untuk nona Anin".
"Baguslah kalau begitu".
"Duduklah Mia, jangan berdiri terus seperti itu. nanti kakimu pegal". Anin menunjuk kursi di samping Mia . gadis itu hanya terus berdiri tanpa berniat untuk duduk.
"Maaf nona, rasanya tidak sopan jika saya harus ikut duduk".
"Kenapa?, apa itu juga bagian dari aturan pekerjaan mu?".
"Iyya nona. seorang pelayan hanya akan terus berdiri mendampingi selama melaksanakan pekerjaan".
"Cih.. tidak manusiawi sekali". cebik Anin tidak habis fikir dengan peraturan yang ada.
Mia hanya tersenyum kecil mendengar kekesalan Anin.
Dia tau, Anin ini orangnya tidak tegaan.
*****
"Kemana saja kau? kenapa baru mengangkat telfonku?". tanya Askara kesal saat Dito baru mengangkat telfonnya setelah puluhan kali dia menghubungi pria itu.
"Maaf tuan, hpnya saya silent". balas Dito di balik sambungan telefon.
"Cepat kirimkan file meeting untuk besok". titah Askara masih tersisa nada kekesalan.
"Baik tuan, segera saya kirimkan".
Klik. Askara mematikan telfonnya.
Tak lama sebuah pesan email dari sekretaris Dito masuk.
Askara segera membukanya dan mempelajarinya karena besok akan ada meeting penting para pemegang saham di perusahaannya.
Hari sudah semakin sore, Askara sudah selesai dengan pekerjaannya.
Pria itu keluar dari ruang kerjanya. matanya mengendar ke sekeliling ruangan tapi tidak melihat Anin maupun Mia.
Askara memutuskan untuk ke taman belakang memeriksa keberadaan Anin.
__ADS_1
Terdengar suara tawa renyah saat langkah kaki Askara makin mendekat ke sumber suara.
"Kau masih di sini?" tanya Askara dengan suara baritonnya.
Mia yang sedang tertawa bersama Anin buru-buru menghentikan tawanya kemudian menunduk memberi hormat pada Askara.
"Mas..?" seru Anin melihat Askara sudah berdiri di pinggir kolam tidak jauh dari tempatnya.
"Kenapa masih di sini hemmm?". tanya Askara mendekati Anin.
"Kita berdua sedang mengobrol mas".
"Mas sendiri ngapain ke sini?, kan katanya mau nyelesain kerjaan?" tanya Anin balik.
"Pekerjaanku sudah selesai. aku ke sini mencarimu karena hari sudah terlalu sore tapi kau belum juga masuk rumah" ujar Askara melirik Mia sebentar.
Mia menundukkan kepalanya, mengerti arti tatapan Askara.
"Mas, jangan salahkan Mia. ini hari pertama dia bekerja, jangan membuatnya takut dan tidak betah di sini". ujar Anin menyadari ketakutan Mia.
"Lalu kenapa kau belum juga masuk ke dalam rumah, angin sore terlalu dingin untukmu".
"Aku yang menahan Mia, mas. lagi pula aku merasa baik-baik saja".
"Anin, jangan keras kepala. sekarang ayo ikut masuk ke dalam rumah". kini Askara yang mengambil alih kursi roda Anin.
"Mia, kau masuklah dan siapkan makan malam untuk Anin. ingat! makanan khusus untuk Anin semuanya sudah di resepkan. kau tinggal bertanya pada bi Ratih". jelas Askara.
Anin menatap punggung Mia yang semakin menjauh.
"Mas, bisa tidak wajahmu itu jangan jutek-jutek kalau bicara. kau membuat Mia ketakutan tadi". protes Anin takut Mia tidak betah bekerja di sini.
"Wajahku memang seperti ini" elak Askara mendorong kursi roda Anin memasuki mansion.
"Isshh..." Anin mendesis kesal.
Askara tidak memperdulikan kekesalan Anin, dia membawa Anin memasuki mansion karena hari sudah gelap.
"Askara ...Anin...kemarilah, Mami mau bicara sesuatu". panggil Sandra saat Askara akan memasuki lift untuk membawa Anin ke kamarnya.
"Ada apa, Mi?". tanya Anin.
"Sini duduk dulu".
Mau tidak mau Askara membawa Anin ke ruang tengah, tempat maminya menunggu.
Askara duduk di kursi seberang Maminya, sedangkan Anin tetap berada di atas kursi rodanya.
"Mami sebenarnya sedih mau ngasih tau hal ini, tapi dengan berat hati Mami harus katakan bahwa besok Mami harus balik ke Inggris". ujar Sandra dengan raut wajah sedihnya.
Anin cukup terkejut mendengar pernyataan Sandra, sedangkan Askara wajahnya terlihat biasa saja karena memang ini bukan kali pertamanya dia di tinggal oleh Maminya.
__ADS_1
"Tapi kenapa, Mi?, Mami nggak betah yah tinggal di sini". Anin berusaha mencari tau alasannya.
Sandra menggeleng cepat "Bukan begitu sayang, Papi Askara alias Papi mertua kamu, minta Mami untuk pulang dulu karena kesibukannya yang sangat padat akhir-akhir ini".
"Semua keperluan Papi Argio tidak ada yang urus di sana sayang, meskipun ada pelayan tapi tetap saja harus Mami yang turun tangan". terang Sandra.
Raut wajah Anin berubah sendu. Di tinggal Sandra ke Inggris, rasanya dia akan semakin merasa kesepian.
"Tapi kata Mami, akan menemani Anin di sini sampai melahirkan". katakanlah Anin egois, tapi sungguh Anin tidak ingin Sandra balik ke Inggris.
"Mami akan kembali secepatnya sayang, bahkan mungkin Papi Argio akan ikut. kalian belum pernah bertemu kan? ini akan menjadi pertemuan pertama kalian nantinya". Sandra berusaha menenangkan Anin agar tak merasa sedih.
"Kapan Mami berangkat?" tanya Askara akhirnya yang hanya diam sedari tadi.
"Besok pagi".
Anin semakin tidak rela.
"Mi, itu artinya malam ini malam terakhir mami di mansion ini" Anin semakin sedih karena Sandra akan berangkat besok pagi.
"Kau jangan sedih atau kefikiran yah sayang. meskipun Mami jauh, Mami akan pantau terus perkembangan calon cucu Mami dari sana".
"Ingat, kau baru keluar dari rumah sakit". ujar Sandra.
"Benar kata Mami, kau jangan sedih apalagi sampai menjadikannya beban fikiran. aku tidak ingin hal ini mengganggu kehamilanmu". ujar Askara.
"Tuh...dengar kata suamimu. sekarang kau ke kamarmu, Mia akan membawakan makan malammu ke atas, kau makan di kamar saja".
"Tidak.. aku tidak mau. aku mau makan malam bersama Mami di sini, ini akan menjadi makan malam terakhir Mami di sini sebelum berangkat ke Inggris". tolak Anin cepat.
"Mas, bolehkan?" tanya Anin meminta persetujuan Askara.
"Hemm...asal kau berjanji tidak akan merasa sedih".
"Aku sudah tidak sedih kok". dengan cepat Anin memasang senyum lebarnya.
"Kalau kayak gini kan Mami juga nggak sedih nanti perginya".
"Iyya Mi, maaf Anin egois mau Mami terus ada di sini".
"Tidak papa sayang, Mami mengerti perasaan kamu. apalagi yang sedang dalam keadaan hamil".
Bi Ratih yang sudah selesai menata makan malam di meja di bantu oleh Mia, menghampiri ke ruang tengah.
"Nyonya, makan malam sudah siap". lapor bi Ratih.
"Iyya Bi, kami akan segera ke sana".
"Ayo Nin, kita makan malam bersama" ajak Sandra.
Ketiganya berjalan bersama ke meja makan yang di mana akan menjadi makan malam terakhir Sandra sebelum berangkat ke Inggris besok pagi.
__ADS_1