Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 122


__ADS_3

Pagi ini ada pemandangan tak biasa yang membuat seulas senyum terbit di bibir Mami Sandra. bagaimana tidak, saat ini Askara dan Anin terlihat berjalan menuruni anak tangga dengan rangkulan posesif Askara yang berada di pinggang Anin.


"Pagi, Mi". sapa Anin dengan senyum mengembang.


"Pagi, sayang". balas Mami Sandra dengan senyum merekah. "Tumben kalian bangunnya telat". goda Mami Sandra membuat pipi Anin bersemu merah.


"Mami jelas tau apa yang di lakukan seorang pasangan suami istri untuk melepas rasa rindu, kayak Mami tidak pernah muda aja". cibir Askara menarik kursi untuk Anin duduki.


"Mas!". tegur Anin karena merasa malu, Askara terlalu terang-terangan di depan Mami Sandra.


"Kau tidak perlu malu sayang, aku ini adalah mertua paling pengertian di dunia ini, dan kau beruntung punya mertua seperti Mami". kekeh Mami Sandra membuat suasana sarapan pagi ini menjadi lebih hangat. "Benar kan, Askara?". tanya Mami Sandra meminta persetujuan Askara.


"Hemm, terserah Mami saja". singkat Askara, entah angin dari mana hingga Maminya berubah begitu narsis pagi ini.


"Oh Iyya, Anin. bagaimana keadaan ibumu?". tanya Mami Sandra menanyakan kabar besannya yang sebulan lalu katanya masuk rumah sakit.


"Keadaan ibu sudah jauh lebih baik, Mi. dia juga nitip salam buat Mami dan katanya ingin segera bertemu". ungkap Anin akan pesan ibunya sebelum pulang ke Jakarta.


"Benar, kita belum pernah bertemu secara langsung setelah kalian menikah. bagaimana kalau kau ajak ibumu ke Jakarta dan menginap di sini". usul Mami Sandra. "Lagi pula Papi Argio akan pulang beberapa hari lagi, jadi kita bisa bertemu dengan formasi keluarga yang lengkap".


"Rencananya ibu memang akan ke Jakarta tapi saat mendekati hari persalinanku nanti. katanya dia tidak enak kalau harus tinggal terlalu lama". tutur Anin, sebelum dia berangkat ke Jakarta dia sudah membujuk ibunya untuk ikut karna Askara juga setuju dengan permintaannya, tapi Bu Risa menolak dan mengatakan bahwa saat mendekati hari persalinan Anin nanti, baru dia akan menyusul ke Jakarta.

__ADS_1


"Ya sudah, tidak apa-apa. Papi Argio juga akan menetap di sini sampai kau lahiran nanti, dia juga ingin melihat kelahiran cucu pertamanya". ujar Mami Sandra di sertai senyum.


"Iyya, Mi". balas Anin melanjutkan sarapannya, sedangkan Askara hanya menjadi pendengar setia obrolan antara Anin dan juga Maminya sambil menyantap sarapannya.


*****


"Kau sudah siap?". tanya Askara yang sedari tadi sudah menunggu Anin bersiap-siap, rencananya hari ini mereka akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Anin.


"Sudah, Mas". balas Anin sudah siap dengan dress simple nya.


"Mami boleh ikut?". tanya Mami Sandra ingin melihat secara langsung perkembangan cucunya.


"Tidak".


Jawab Anin dan Askara bersamaan tapi dengan dua jawaban yang berbeda.


"Kenapa Mami nggak boleh ikut, Mas?". heran Anin.


"Iyya, Askara. kenapa kau melarang Mami untuk ikut, Mami kan juga mau lihat perkembangan calon cucu Mami".


"Hari ini aku mau quality time dengan Anin. jadi Mami tidak perlu ikut karena itu akan mengganggu". tanpa rasa takut, Askara mengatakan hal tersebut pada Maminya.

__ADS_1


"Dasar anak durhaka, kalau bukan karena Mami pasti saat ini Anin masih mendiamkanmu". ujar Mami Sandra kembali mengingatkan kejadian kemarin.


"Mi, stop it". peringat Askara karena melihat raut wajah Anin yang tiba-tiba berubah.


Mami Sandra menutup mulutnya karena tidak seharusnya dia mengatakan hal tersebut. mengerti akan situasi, dia akhirnya buru-buru buka suara.


"Ya sudah, kalian boleh pergi berdua. buat Anin happy, Askara. tapi ingat jangan sampai Anin kelelahan".


"Mami beneran nggak mau ikut?". tanya Anin sekali lagi.


"Setelah di fikir-fikir, kalian berdua memang perlu waktu untuk berdua, apalagi hari ini Askara libur dari pekerjaan kantor, jadi ini adalah moment yang pas untuk kalian jalan berdua". ujar Mami Sandra.


"Benar kata Mami, kita memang perlu waktu untuk berdua, sayang". timpal Askara.


Meskipun Anin sangat ingin mengajak Mami Sandra, tapi nyatanya dia juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan Askara.


"Kalau begitu kita berdua pamit, Mi". pamit Anin mencium punggung tangan Mami Sandra.


"Hati-hati, sayang. jaga Anin baik-baik, Askara". pesan Mami Sandra pada Askara.


"Iyya, Mi". sahut Askara lalu berjalan meninggalkan mansion sambil menggandeng tangan Anin.

__ADS_1


__ADS_2