Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 86


__ADS_3

Di dalam kamar, Anin tengah sibuk bersiap-siap untuk segera berangkat ke rumah sakit. dia baru ingat jika hari ini adalah jadwalnya memeriksakan kandungan.


Sekitar setengah jam yang lalu, Anin sudah menghubungi Askara dan kebetulan suaminya itu mengiyakan untuk menemani karena pekerjaannya di kantor juga sedang tidak banyak.


Anin menatap dirinya lewat pantulan di cermin.


"Selesai". Anin tersenyum puas melihat penampilannya.


"Hari ini Mamah sama Papah mau nengokin kamu sayang". ujar Anin sambil mengelus perutnya.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Anin.


Anin mengambil tas serta memasukkan ponselnya lalu melangkah untuk membuka pintu.


"Yah, ada apa Mia?". tanya Anin saat melihat Mia berdiri di ambang pintu.


"Tuan Askara sudah menunggu di bawah Nona".


"Baiklah, aku juga sudah selesai". balas Anin


Mia kemudian berjalan lebih dulu kemudian di ikuti oleh Anin di belakangnya.


Tampak Askara sedang duduk di ruang tengah menunggu Anin. pria itu tengah fokus dengan ponselnya.


"Mas? lama yah nunggunya ?" tanya Anin menarik atensi Askara.


Askara terdiam sebentar menatap penampilan Anin yang terlihat berbeda. Anin tampak sangat cantik hari ini. Askara rasa semenjak hamil kecantikan Anin semakin bertambah dan itu membuatnya semakin tidak ingin jauh-jauh dari Anin.


Askara memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas nya lalu berdiri dengan tatapan yang tak lepas dari Anin.


Anin yang merasa tidak nyaman karena Askara terus memandanginya bertanya-tanya dalam benaknya, apa ada yang salah dengan penampilannya? atau make up nya berlebihan?.


"Kenapa menatapku seperti itu, ada yang salah dengan penampilanku? apa baju ini tidak cocok di badanku? atau aku ganti saja?". Anin menghujani Askara dengan beberapa pertanyaan bahkan dia hendak kembali ke kamarnya.


"Kau cantik". hanya dua kata yang keluar dari mulut Askara tapi mampu membuat jantung Anin serasa ingin meloncat dari tempatnya.


Anin menatap mata Askara mencari kebohongan di sana, tapi nihil Askara justru berkata jujur.


Dan karena perkataan Askara, Anin hanya mampu menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan semburat merah yang muncul di wajahnya.

__ADS_1


Askara tersenyum kecil, Anin memang sangat cepat blushing jika di puji sedikit saja. tapi Askara jujur, hari ini Anin memang sangat cantik dan yang paling Askara suka adalah tubuh Anin yang semakin sexy berisi walau wanita itu jarang memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Bisa kita berangkat sekarang?". tanya Askara karena Anin masih setia menyembunyikan wajah malu-malunya.


Anin mendongak menatap Askara, sebisa mungkin menyembunyikan rasa malu serta gugupnya.


"I-iyya mas". balas Anin


"Ayo, dokter Ziva sudah menunggu kita". Askara meraih pinggang Anin posesif lalu berjalan keluar dari mansion.


Belum kelar rasanya kegugupan Anin, kini Askara kembali membuat jantungnya berdetak tidak karuan karena pria itu merangkul pinggangnya.


Askara dan Anin akhirnya sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan dokter Ziva karena Askara sebelumnya sudah mengabari bahwa mereka sedang dalam perjalan menuju ke rumah sakit.


"Selamat siang pak Askara dan juga Anin". sapa dokter Ziva ramah saat Askara dan Anin memasuki ruangannya.


"Siang dok". balas Anin, sedang Askara hanya memasang wajah datarnya. Askara kembali mengingat fakta bahwa dokter Ziva adalah kakak dari Ken.


"Ayo silahkan duduk". dokter Ziva mempersilahkan Anin dan Askara duduk di kursi tepat di seberang mejanya.


"Oh Iyya bagaimana kabarmu? apa ada keluhan selepas pendarahan kemarin?". tanya dokter Ziva sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


"Sejauh ini semuanya baik Dok, tidak ada keluhan sama sekali". balas Anin sesuai dengan apa yang memang di rasakannya.


Askara membantu Anin menaiki ranjang karena posisinya yang cukup tinggi di tambah perut Anin yang sudah mulai membesar.


"Terima kasih mas". ujar Anin.


"Wah, pak Askara suami yang siaga yah". seru dokter Ziva yang hanya di balas senyum singkat dari pria dingin di depannya itu.


Melihat Askara yang tidak membalas perkataannya, tidak lantas membuat dokter Ziva merasa di acuhkan, karena dia memaklumi sifat Askara yang dingin dan irit bicara. dia cukup tau banyak dari cerita Sandra, Mami Askara.


Dokter Ziva segera melakukan pemeriksaan terhadap kandungan Anin. Askara dengan wajah datarnya memperhatikan layar yang menampilkan calon bayi nya yang kini ukurannya sudah lebih besar dari sebelumnya.


Setelah rangkaian pemeriksaan selesai, Anin dan Askara kembali duduk di kursi yang mereka tempati tadi untuk mendengarkan penjelasan dokter Ziva mengenai perkembangan kandungannya.


"Bagaimana keadaan calon anak saya dok?". Askara akhirnya buka suara setelah lama bungkam. dia merasa tidak sabar ingin segera mendengar penjelasan dari dokter Ziva.


Dokter Ziva tersenyum, meskipun Askara dingin dan irit bicara tapi terlihat antusias untuk tau perkembangan calon anaknya.

__ADS_1


"Kondisi babynya sehat, ukurannya juga normal di usianya yang sudah memasuki empat bulan, organ-organnya juga sudah mulai terbentuk secara lengkap dan terus berkembang tentunya hingga fungsional. intinya Anin harus menjaga pola makan, istirahat yang cukup, hindari stress dan rutin konsumsi vitamin serta suplemen penambah darahnya". jelas dokter Ziva begitu detail.


Anin bernafas lega mengetahui kondisi bayinya sehat apalagi setelah sempat mengalami pendarahan kemarin.


"Ahh..syukurlah dok, saya senang mendengarnya". ujar Anin.


"Apa jenis kelaminnya sudah ketahuan dok?". tanya Askara penasaran.


Anin juga sama penasarannya dengan Askara.


"Sudah pak Askara, dan dari yang saya lihat tadi jenis kelamin anak Pak Askara adalah laki-laki". ungkap dokter Ziva.


Anin tersenyum bahagia sekaligus terharu. sama halnya dengan Askara, pria itu saking bahagianya mengetahui calon anaknya berjenis kelamin laki-laki sampai-sampai memeluk tubuh Anin erat.


"Terimakasih Nin, terimakasih". Askara mencium puncak kepala Anin lalu beralih mencium pipi kiri dan kanan Anin berkali-kali. Askara bahkan sampai melupakan bahwa ada dokter Ziva di dalam ruangan tersebut.


"Mas Askara ...malu, ada dokter Ziva". cicit Anin menahan malu luar biasa karena Askara yang tiba-tiba menciumnya di depan dokter Ziva.


Askara menghentikan aktivitasnya, dia juga baru sadar bahwa mereka masih berada di ruangan dokter Ziva.


"Hemm.. maaf". Askara berdehem dan kembali memasang wajah datarnya namun di dalam hatinya sungguh sedang merasa bahagia.


Dokter Ziva terkekeh melihat pasangan suami istri di depannya itu. sejurus kemudian dia jadi teringat Ken yang menaruh hati pada Anin.


Meski merasa kasihan pada adiknya itu, namun dokter Ziva tidak bisa berbuat banyak. apalagi melihat hubungan Anin dan Askara yang begitu bahagia sekarang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka.


"Tidak papa Nin, saya memaklumi sikap pak Askara pasti sangat merasa senang sekarang". ujar dokter Ziva karena melihat raut wajah tidak enak dari Anin.


"Iyya dok". Anin membalas dengan senyuman ucapan dokter Ziva.


Ngetik satu part tapi rasanya pegel banget yah.


makanya author butuh dukungan para readers dengan vote, like, dan komen cerita Author


Outfit Anin cek kandungan.


Istri sultan ni boss..hehehe


Ingat yah, ini outfit bukan visual Anin.

__ADS_1


Untuk saat ini author memang sengaja nggak up visual Anin, Askara maupun pemain lainnya karena author ingin readers sendiri yang ngebayangan visual Anin. karena pasti dong para readers punya gambaran visual tersendiri untuk para pemain di cerita ini. sooo stay terus yah



__ADS_2