Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 112


__ADS_3

Mobil Askara berhenti tepat di depan sebuah rumah sakit sesuai dengan alamat yang di katakan oleh Dalila di sambungkan telfon tadi.


Askara melangkah masuk dan langsung mencari keberadaan Dalila.


Sementara itu, mobil yang membawa Anin juga sampai di rumah sakit. untungnya pak Hilman bisa mengikuti jejak mobil Askara yang melaju cukup kencang tadi.


Kening Anin berkerut, dia mengerti sekarang kenapa Askara begitu terburu-buru, tapi pertanyaan yang ada di benak Anin saat ini adalah siapa yang sedang masuk rumah sakit.


Tidak ingin di buat penasaran, Anin memutuskan untuk ikut masuk.


Di depan sebuah ruangan, Dalila duduk dengan wajah cemas serta tangan yang terus gemetar menahan rasa takutnya.


Askara datang dan melihat Dalila sudah menangis sendirian.


Melihat kedatangan Askara, spontan saja Dalila berdiri dan langsung memeluk tubuh Askara.


"Dalila, apa yang terjadi?". tanya Askara tak kalah cemasnya.


Dalila tidak menjawab karena terus terisak.


"Kau baik-baik saja?". tanya Askara lagi.


"Askara.. aku nggak sengaja nabrak orang, dan sekarang dia sedang di tangani di dalam". terang Dalila sambil terus menangis karena ketakutan.


Askara menghela nafas pelan sambil terus mengelus punggung Dalila untuk menenangkan wanita itu. "Kau yang tenang, yah. ada aku di sini".


"Aku takut, Askara. bagaimana kalo orang itu terluka parah". ujar Dalila masih terus menangis.


"Kau duduk dulu baru ceritakan semuanya". Askara membimbing Dalila untuk duduk. "Sekarang ceritakan semuanya dari awal kenapa semuanya bisa terjadi". pinta Askara saat Dalila sudah lebih tenang.


Dengan bibir yang masih bergetar, Dalila menceritakan semuanya, di mana dirinya yang hendak menuju lokasi pemotretan tak sengaja menabrak seorang pedagang asongan yang hendak menyebrang jalan karena dirinya yang berusaha mengambil ponselnya yang terjatuh, dan saat itu tiba-tiba orang tersebut sudah ada di tengah jalan dan Dalila sudah tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya hingga menabrak orang tersebut.


Askara kembali memeluk Dalila saat melihat wanita itu kembali menangis.


"Kau jangan khawatir, orang itu akan baik-baik saja, percaya padaku". Askara bersikap begitu tenang karena tidak ingin membuat Dalila cemas. padahal dia sendiri juga berharap orang yang di tabrak Dalila baik-baik saja, dia tidak ingin Dalila menanggung beban yang terlalu berat.


Pintu ruangan rumah sakit terbuka, seorang dokter laki-laki keluar membuat Askara segera berdiri dari duduknya begitupun dengan Dalila.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, dok?". tanya Askara langsung.


"Bapak tidak usah khawatir, luka pasien termasuk luka ringan dan sudah bisa pulang". jelas dokter laki-laki tersebut lalu pamit meninggalkan Askara dan juga Dalila.


Askara dan Dalila bernafas lega, tak lama kemudian orang yang di tabrak oleh Dalila berjalan keluar dengan langkah tertatih sambil di bantu oleh salah satu perawat.


Dalila bersembunyi di balik punggung Askara karena takut orang tersebut akan memarahinya.


"Kau suami dari wanita itu?". tanya lelaki tersebut menunjuk Dalila yang bersembunyi di balik punggung Askara.


Askara sedikit bingung tapi mengiyakan pertanyaan lelaki yang menjadi korban Dalila. "I-iyya dia istri saya". jawab Askara meskipun terdengar ragu. sontak saja Dalila terkejut karena Askara mengatakan bahwa dia adalah istrinya.


"Kau lihat apa yang di perbuat istrimu?, karena dia saya jadi luka-luka begini di tambah dagangan saya juga semuanya hancur". ujar lelaki itu marah.


"Maafkan istri saya, pak. saya akan mengganti semua kerugian yang bapak alami". Askara langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan semua uang yang ada di dalam dompetnya, bahkan jumlahnya lebih dari kerugian yang di alami lelaki tersebut.


Dengan mata berbinar lelaki tersebut menerima uang dari Askara.


"Itu sudah lebih dari cukup kan, pak?". tanya Askara.


"Lain kali ajarin istri kamu bawa mobil yang bener". ujar lelaki tersebut meninggalkan Askara dan Dalila setelah menerima uang ganti rugi.


"Tidak papa, Dalila. yang penting kamu selamat, nggak ada yang luka, kan?." Askara baru mengecek keadaan Dalila sendiri.


Dalila tersenyum "Aku tidak apa-apa Askara, terima kasih". ujar Dalila kembali memeluk Askara. "Terimakasih selalu ada untukku, Askara. aku tau, kau pasti masih punya perasaan kepadaku, makanya kau sekhawatir ini. Iyya kan, Askara?". tanya Dalila yang membuat Askara terdiam sebentar.


"Aku_".


"Mas". Panggil Anin yang tiba-tiba membuat Askara tidak melanjutkan perkataannya. sontak saja Askara langsung melepas pelukan Dalila dan berbalik menatap Anin. Dia terkejut begitupun dengan Dalila.


"Anin?". Askara terkejut melihat kehadiran Anin di rumah sakit. "K-kenapa kau bisa ada di sini?". tanya Askara.


"Aku kecewa Mas Askara". ujar Anin dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Anin, aku bisa jelasin semuanya. ini tidak seperti apa yang kau lihat". Askara hendak mendekat namun Anin mengangkat satu tangannya.


"Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, Mas. aku liat semuanya, aku juga sudah dengar semuanya. kau mengaku sebagai suami dari Dalila apa itu masih kurang jelas, Mas?". Teriak Anin marah. "Sebanyak apapun aku memaafkanmu mas, maka sebanyak itu pula kamu nyakitin aku".

__ADS_1


Askara menggeleng dengan cepat. "Aku hanya membantu Dalila, Nin. hanya itu, tolong kau jangan salah paham dulu". Askara berusaha menjelaskan.


"Kenapa harus kau, Mas?. kenapa harus kau yang selalu ikut terlibat dalam permasalahan Dalila?". ujar Anin tidak suka. "Sekarang aku baru sadar, Mas. kau bukannya tidak bisa menolak, tapi kau yang memang selalu ada dan punya waktu untuk Dalila kapanpun dia minta". lirih Anin dengan hati yang terluka.


"Anin, stop nyalahin Askara. ini bukan salah dia". Dalila mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


"Diam, Dalila!". sentak Anin. "Ini semua salahmu, kau hadir di tengah-tengah kehidupanku dan Askara. kau yang sudah menciptakan semua kesalahpahaman di antara kita berdua, seharusnya kau cukup sadar akan hal itu". teriak Anin merasa sesak di dadanya.


"Cukup Anin!". Bentak Askara merasa emosi karena Anin terus menyalahkan Dalila. "Berhenti menyalahkan Dalila atas apa yang terjadi. asal kau tau, Dalila sudah lebih dulu hadir di dalam hidupku di bandingkan kau, justru kau yang menjadi alasan aku harus merelakan perasaanku pada Dalila".


Tanpa memikirkan perasaan Anin, semua kata-kata menyakitkan itu keluar begitu saja dari mulut Askara.


Hati Anin hancur berkeping-keping mendengar semua perkataan Askara. Lelaki yang berstatus suaminya itu tega mengatakan hal yang begitu menyakitkan.


Anin tersenyum kecut menatap wajah Askara. "Selama ini aku memang bodoh, Mas. aku terlalu bodoh mempercayakan hati aku untuk kau miliki, aku terlalu naif menganggap kau lelaki yang bisa menjaga aku seperti ayah. aku dan kau tidak akan pernah bisa jadi kita selama masih ada masa lalumu di antaranya". setelah mengatakan itu, Anin berlari meninggalkan Askara dengan perasaan yang begitu hancur.


"Anin". teriak Askara setelah menyadari apa yang baru saja dia katakan, dia hendak menyusul Anin namun di tahan oleh Dalila.


"Kau mau kemana Askara?".


"Lepas, Dalila". Askara melepaskan cekalan tangan Dalila lalu mengejar Anin.


Anin berlari sekuat tenaga tidak peduli beberapa kali dia menabrak orang yang berpapasan dengannya. Anin juga tidak memperdulikan Askara yang terus meneriakkan namanya dan berusaha mengejarnya. hatinya sudah terlanjur hancur, perkataan Askara bagaikan belati menusuk tepat di ulu hatinya.


Vivi dan sekretaris Dito yang baru sampai di rumah sakit melihat Anin yang berlari ke luar sambil menangis. kebetulan saat Mami Sandra menelfon sekretaris Dito tadi, dia juga sedang bersama dengan kekasihnya itu, akhirnya Vivi meminta ikut karena takut terjadi sesuatu dengan Anin, dan dugaannya ternyata benar. Anin sedang tidak baik-baik saja.


"Anin, Lo mau kemana?" teriak Vivi mengejar Anin tapi sahabatnya itu sudah lebih dulu menyetop taksi.


"Kita susul Anin, Dit. aku takut dia kenapa-napa". desak Vivi bersamaan dengan Askara dan Dalila yang juga baru keluar.


"Dito, Vivi, Kalian lihat Anin?, di mana Anin?". tanya Askara langsung.


"Nona Anin baru saja pergi menggunakan taksi, tuan". ujar Sekretaris Dito.


Vivi menatap geram pada Askara dan juga Dalila. "Ini semua pasti gara-gara kalian, kalau sampai terjadi sesuatu pada Anin, aku akan buat kalian menyesal". peringat Vivi tajam pada Dalila dan Askara, kemudian masuk ke dalam mobil di ikuti oleh sekretaris Dito, mereka akan menyusul Anin.


"Arrghh... brengsek". teriak Askara menendang kaki ke udara. mobil sekretaris Dito sendiri sudah meninggalkan rumah sakit menyisakan Askara dan juga Dalila.

__ADS_1


**Yeayy.. author tripel up buat para readers yang udah setia nungguin cerita ini.


Jangan lupa tinggalin like, vote dan juga komen yah**.


__ADS_2