Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 100


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam jakarta-bandung, Anin dan Vivi akhirnya sampai dan langsung menuju rumah sakit tempat ibu Anin di rawat.


Di depan ruang rawat Risa, ibu Anin. sudah berdiri Bude Yuni yang menunggu kedatangan Anin dan juga Vivi yang sebelumnya sudah mengabarinya bahwa sebentar lagi mereka akan sampai.


Di ujung lorong rumah sakit, Anin dengan perut buncitnya berjalan tergesa-gesa, di susul oleh Vivi di belakangnya. Anin langsung menghambur memeluk Bude Yuni saat pertama kali melihat wanita paruh baya yang seumuran dengan ibunya itu.


"Bude Yuni". Lirih Anin memeluk erat tubuh wanita yang merupakan kakak kandung dari almarhum ayahnya itu.


"Embun, kamu apa kabar nak?". Bude Yuni membalas pelukan Anin tak kalah erat. Embun adalah nama panggilan akrab Bude Yuni pada Anin.


"Kabar Embun baik, bude". balas Anin yang masih berada dalam pelukan Bude Yuni.


Vivi yang melihat pertemuan Anin dan bude Yuni jadi ikut terharu, pasalnya selama ini, saat sikap Risa berubah drastis pada Anin, Bude Yuni adalah orang yang selalu ada membantu Anin.


"Nak Vivi ikut juga ke sini?". tanya bude Yuni saat melihat kehadiran Vivi.


Vivi tersenyum hangat. "Iyya bude, saya nemenin Anin ke sini".


Bude Yuni mengurai pelukannya dengan Anin kemudian beralih memeluk Vivi. "Kamu apa kabar nak, bagaimana kuliahnya di Jakarta?".


"Kabar Vivi baik, bude. kuliahnya juga lancar". balas Vivi yang kini sudah melepaskan pelukan mereka.


Bude Yuni meneliti penampilan Anin yang terlihat berbeda. matanya tertuju pada perut Anin yang sudah membesar.


"Jadi berita itu benar nak?, kamu sudah menikah dan sekarang sedang mengandung?". tanya Bude Yuni dengan mata yang masih fokus pada perut Anin.


Anin mengangguk bersamaan dengan deraian air matanya yang berjatuhan.


"Maafin aku bude, aku sama sekali tidak punya maksud untuk menutupi semuanya. aku punya alasan di balik semua ini bude". Anin terisak mengingat betapa dia sudah mengecewakan banyak orang.


Bude Yuni mengelus lembut lengan Anin. "Meskipun awalnya bude sempat kecewa sama kamu setelah melihat berita itu, tapi bude yakin kamu pasti punya alasan di balik ini semua. bude akan tunggu kamu sampai siap untuk ceritakan semuanya. sekarang temui ibumu di dalam, dia sudah sadar sejak tadi dan tau kalau kamu akan datang ke sini".


Perasaan Anin campur aduk sekarang, karena ini adalah pertemuan yang pertama kalinya dengan ibunya setelah dirinya menikah.


Anin menatap bude Yuni dan Vivi secara bergantian. dua wanita yang selalu ada untuknya itu mengangguk secara bersamaan seolah menghapus keraguannya untuk masuk dan menemui ibunya.


Anin menarik nafas dalam-dalam, tangannya yang gemetar terangkat perlahan untuk memutar handle pintu ruang rawat ibunya. Anin memejamkan matanya sebentar, bayangan akan kemarahan ibunya sudah siap menyambut dirinya, namun dia harus bisa melewati semuanya, biar bagaimanapun ibunya harus tau kondisinya.


Ceklek. pintu ruang rawat Risa terbuka.

__ADS_1


Tampak wanita yang sangat di rindukan oleh Anin, tengah duduk di atas ranjang rumah sakit dengan posisi duduk bersandar dan pandangan yang menghadap keluar jendela.


Belum apa-apa, tapi air mata Anin sudah menggenang di pelupuk mata saat melihat kondisi ibunya yang saat ini sedang di pasangi selang infus.


"Ibu". panggil Anin dengan suara bergetar.


Risa yang sedang melihat ke arah luar jendela menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya ibu.


Mata Risa bertemu dengan mata Anin yang menyiratkan kerinduan. tidak ada binar bahagia di mata Risa, yang ada hanyalah tatapan datar yang meneliti penampilan Anin hingga matanya berhenti tepat pada perut Anin yang sudah membesar.


"Dasar anak kurang ajar". Risa tiba-tiba berteriak histeris. "Tenyata selama ini kau bukannya kuliah tapi malah menjual diri di Jakarta". Risa semakin berteriak kencang melempar apa saja yang ada di dekatnya pada Anin.


Anin menghindar dari amukan ibunya, melindungi dirinya lebih tepatnya perutnya agar tidak terkena lemparan Risa.


Hati Anin hancur melihat kebencian ibunya padanya. "Bu.. Maafin Anin, Bu. Anin sama sekali nggak bermaksud buat bohongin ibu". Anin mencoba mendekat tapi Risa menahan langkah kakinya.


"Jangan mendekat anak sialan, selama ini aku membesarkanmu dengan susah payah, tapi ini balasan yang kau berikan? kau hanya bisa membuat malu keluarga, kau itu hanya beban masalah, Anin". Perkataan Risa menghantam keras hati Anin hingga air mata pun tak bisa di tahannya lagi.


Anin kembali mencoba meraih tangan ibunya, tapi Risa mendorong tubuh Anin dengan keras, membuat tubuh Anin terhuyung ke belakang, untung saja Vivi dengan cepat masuk saat mendengar suara ribut dan langsung menangkap tubuh Anin.


"Risa !, sadarlah dengan apa yang baru saja kau lakukan". bentak bude Yuni yang masuk bersama Vivi saat mendengar suara ribut dari luar.


"Risa!". sentak Bude Yuni "Embun itu anakmu, dia sekarang sedang mengandung cucumu, apa yang baru saja kau lakukan itu bisa membahayakan nyawa mereka berdua".


Risa tersenyum sarkas. "Aku tidak pernah punya anak seperti dia yang bisanya hanya membawa masalah dan membuat malu keluarga. apa mbak Yuni tidak bisa melihat? dia dengan beraninya datang menampakkan batang hidungnya di sini dan memperlihatkan perut buncitnya, benar-benar memalukan". geram Risa menatap tajam Anin yang berdiri terisak dalam dekapan Vivi.


"Risa, jaga ucapanmu. kau bisa melukai hati Embun. ingat juga kondisi mu yang baru pulih". peringat bude Yuni.


"Aku bisa masuk rumah sakit ini semua karena dia Mbak, anak ini memang ingin membuatku segera menyusul ayahnya". teriak Risa dengan perkataan yang menusuk hati Anin.


Anin menggeleng dengan bulir air mata yang terus mengalir. "Maafkan Anin, Bu. Anin sama sekali tidak punya maksud menyakiti ibu". Anin bersimpuh di dekat ranjang Risa.


"Anin tau sudah melakukan kesalahan besar karena menutupi semuanya dari kalian, tapi sungguh, Anin punya alasannya, Bu". lirih Anin dengan suara yang bergetar hebat.


"Nin, Lo nggak perlu kayak gini. ayo bangun". Vivi hendak membantu Anin berdiri tapi di tolak oleh wanita itu.


"Gue nggak akan berdiri, Vi. sampa ibu mau maafin gue". ujar Anin.


Bude Yuni mendekat, mengsejajarkan tubuhnya dengan Anin. "Nak, ayo bangun. ibumu pasti akan memaafkanmu". bujuk bude Yuni.

__ADS_1


"Tidak!". sergah Risa dengan cepat. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi memaafkan anak kurang ajar ini".


Anin menangis kencang mendengar penuturan ibunya. "Bu, mohon maafin, Anin. jangan seperti ini pada Anin, cuman ibu yang Anin punya di dunia ini". Anin merangkak memegang kaki Risa yang tertutupi selimut.


Risa menyentak kakinya keras. " Jangan pernah sentuh aku. pergi sekarang kau dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu".


"Tapi bu_".


"Pergi aku bilang". bentak Risa.


Tangis Anin semakin pecah membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iba, termasuk Vivi dan juga bude Yuni.


Bude Yuni menenangkan Anin. "Nak, bukannya bude mau mengusir kamu, tapi alangkah lebih baiknya sekarang kamu pulang ke rumah, biarkan ibumu tenang dulu, bude akan bantu bicara baik-baik pada ibumu. pulanglah istirahat, kamu pasti capek habis perjalanan jauh ke sini, kasian juga sama kandungan kamu". sebisa mungkin bude Yuni menyampaikannya dengan lemah lembut dan hati-hati agar Anin tidak merasa tersinggung.


Anin menyeka air matanya. "Tapi bude_".


"Ibumu akan baik-baik saja, nak". ujar bude Yuni mengerti kekhawatiran Anin.


Vivi membantu Anin untuk berdiri. "Kita pulang yah, Nin. tenangin diri Lo dulu dan juga beri waktu ibu Lo untuk bisa menerima semua ini".


Anin tidak menjawab, matanya terus menatap ibunya yang memalingkan wajah tak ingin menatapnya.


"Bu, Anin pamit pulang dulu. besok Anin ke sini lagi". ujar Anin lirih, dia memutuskan untuk pulang ke rumah tempatnya di besarkan, yaitu rumah ayah dan ibunya.


Risa tidak menjawab, dia masih setia memalingkan wajah sampai tubuh Anin menghilang di balik pintu ruang rawatnya, barulah Risa menangis. hatinya hancur karena Anin merusak kepercayaannya selama ini. sikapnya berubah pada Anin karena dirinya belum siap di tinggal oleh ayah Anin, jadi Risa selalu meluapkan amarahnya pada Anin dan juga menghabiskan waktu dengan berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak dia butuhkan. jati diri Risa perlahan menghilang saat ayah Anin meninggal dunia.


Sementara itu di rumah sakit yang berbeda, tepatnya di ruang rawat Dalila. Askara berkali-kali menghubungi nomor Anin, tapi tidak bisa tersambung. seharusnya Anin sudah memakai ponsel yang di bawakan oleh sekretaris Dito tadi pagi, tapi kenapa sekarang nomornya belum aktif sama sekali. fikiran Askara mulai berkecamuk. dengan segera dia menyambar jas yang dia simpang di atas sofa.


"Askara, kau mau kemana?". tanya Dalila melihat Askara berjalan ke arah pintu.


"Aku harus pulang, nomor Anin tidak aktif". jawab Askara membuat Dalila menatapnya datar.


"Tapi kau sudah berjanji akan menemaniku".


"Maaf Dalila, sepertinya kali ini aku ingkar. lagi pula ada Grace yang menemanimu". ujar Askara melirik Grace yang duduk di dekat ranjang Dalila. wanita itu baru kembali dari Singapore dan langsung ke rumah sakit saat mendengar kabar bahwa Dalila di rawat.


"Tapi_".


Askara tidak menghiraukan Dalila. dia segera bergegas meninggalkan ruang rawat Dalila tanpa menyadari bahwa Dalila saat ini merasa sakit hati dengan keputusannya.

__ADS_1


Hayolohh.. Dalila di abaikan sama Askara. siapa yang senang di sini?. komen dong hihihi.


__ADS_2