
Askara pulang dari kantor sekitar pukul 7 malam, saat memasuki apartement Askara tidak melihat keberadaan Anin di ruang tengah ataupun di dapur.
Sepertinya Anin masih berada di kamarnya, Askara pun masuk tapi lagi-lagi tidak menemukan keberadaan gadis itu.
"Kemana Dia?" gumam Askara
Apa mungkin sudah pindah ke kamarnya, fikir Askara. tapi saat akan hendak melangkah keluar matanya tak sengaja melihat pintu ruang kerja yang sudah jarang di tempatinya sedikit terbuka.
Padahal sebelumnya pintu tersebut selalu tertutup rapat karena Askara sudah jarang masuk ke sana.
Masih berfikir jernih, tidak mungkin Anin yang membuka pintu tersebut.
Askara hanya tidak ingin perasaan hampa itu kembali menelisik relung hatinya jika memasuki ruangan itu.
Tapi mau tidak mau Askara berjalan mendekat, mengecek apa benar Anin ada di dalam sana atau tidak.
Askara masuk dan melihat lampu ruangan menyala, itu artinya seseorang dengan lancang telah masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Hati Askara bergemuruh menahan amarah, di lihatnya pintu tempat Dia menyimpan sejuta kenangan terbuka yang sama saja seperti membuka kenangan lamanya.
Askara dapat mengenali punggung wanita dengan rambut sebahu yang sedang berdiri membelakanginya.
Anin tanpa permisi sudah menanggalkan kain putih yang menutupi lukisan yang amat berarti di hidupnya.
Askara mengepalkan kedua tangannya, amarah telah menguasai fikirannya. Dia sangat tidak suka orang lain mengorek kehidupan pribadinya.
"Apa yang kau lakukan di sini" Ucap suara bariton tersebut mengagetkan Anin.
Anin terperanjat kaget, ternyata Askara sudah ada di ruangan ini tanpa dia sadari.
Askara melayangkan tatapan membunuh pada Anin, gadis itu refleks melangkah mundur membuat lukisan di belakangnya terjatuh bersamaan dengan tumpahnya botol cat Askara dan mengenai lukisan tersebut.
Anin membekap mulutnya kaget, lukisan seorang wanita yang baru saja di puji visualnya olehnya sudah tak berbentuk karena terkena tumpahan cat.
Aura mencekam semakin terasa di dalam ruangan.
"Maa..ma...maafkan aku pak Askara" Suara Anin bergetar melihat kilatan amarah di mata Askara.
"Ikut aku keluar" Askara menarik pergelangan tangan Anin dengan kencang.
Anin meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya, darahnya serasa tidak mengalir saking kencangnya genggaman Askara.
"Aww.. tanganku sakit pak Askara, tolong lepaskan" Mohon Anin, matanya sudah memerah menahan tangis.
Seolah tuli, Askara tidak mengindahkan permohonan Anin.
__ADS_1
Askara menyeret tubuh Anin keluar dari ruangan, mendorong tubuh Anin hingga punggungnya membentur tembok dan menguncinya tubuh Anin di bawahnya dengan kedua tangannya.
Aksara bahkan melupakan bahwa Anin tengah hamil.
Anin meringis merasakan nyeri di punggungnya.
Jarak mereka hanya tersisa beberapa centi, Anin mengalihkan wajahnya ke arah lain, tidak berani menatap mata Askara.
"Lihat aku" perintah Askara dengan suara dingin tapi Anin tetap membuang muka ke arah lain.
"Aku bilang lihat aku Embun Anindira" teriak Askara tepat di depan wajah Anin.
Anin memekik kaget mendengar suara besar Askara.
Memberanikan diri menatap mata Askara, terkunci sejenak dengan mata berwarna coklat pekat tersebut.
Tidak ada kehangatan di sana, yang ada hanya tatapan penuh amarah dan itu karena dirinya.
"Ku rasa memang telingamu ini tidak berfungsi dengan baik" ucap Askara dingin menyentuh lembut telinga Anin, sentuhan lembut itu justru semakin membuat Anin ketakutan.
Askara terlihat seperti pembunuh berdarah dingin yang hendak melenyapkan musuhnya.
"Kenapa? Kenapaaaa hah?" Askara kembali berteriak kini tepat di telinga Anin.
Tubuh Anin bergetar "Maa..aafkan aku" air mata nya sudah jatuh.
"Aku berbaik hati hati padamu bukan berarti kau bisa sembarangan masuk ke dalam ruang pribadiku" kemarahan Askara masih membuncah.
Melihat lukisan berharganya hancur tak berbentuk membuat hatinya juga ikut hancur.
"Aku sungguh tidak sengaja, maafkan aku" tangis Anin.
Air mata Anin tidak menyurutkan kemarahannya.
Askara mencengkram dagu Anin dengan kuat "Dengar dan ingat ini baik-baik di sepanjang hidupmu, kau bukanlah siapa-siapa di hidupku. aku bersikap baik padamu tapi kau sudah seperti di atas awan. kau tidak tau diri sekali" ucap Askara melepas cengkraman di dagu Anin.
Perasaan Anin hancur mendengar perkataan Askara "Aku sedang mengandung anakmu, tapi kau dengan tega memperlakukanku seperti ini, aku sudah meminta maaf, sungguh aku tidak sengaja melakukannya"
"Berhenti menjadikan anak itu sebagai alasan, karena sampai sekarang aku bahkan masih meragukan kehadirannya. setelah anak itu lahir kau bisa pergi bersamanya, aku tidak akan melarangmu".
Hancur sudah hati Anin, dengan teganya Askara berkata demikian.
"Aku harap kau tidak akan menyesali semua perkataanmu" Anin menghapus kasar air matanya, keluar dari kamar Askara.
Anin menutup pintu kamarnya dengan perasaan hancur,. Perkataan Askara masih terngiang-ngiang di telinganya.
__ADS_1
Tubuh Anin yang bersandar pada pintu merosot ke lantai, memeluk kedua lututnya dengan tangis pilu.
Dalam keadaan seperti ini Anin merindukan Ayahnya. Sosok yang selalu berkata lembut padanya bahkan dalam keadaan marah sekalipun, menyayanginya sepenuh hati.
Kenapa? Ayah sekaligus cinta pertamanya meninggalkannya begitu cepat.
"Ayah, Anin rindu Ayah, hiks..hiks..hiks"
ucap Anin
"Dulu kata Ayah kehidupan menikah itu indah, bisa ngelakuin hal bareng-bareng, punya teman berbagi keluh kesah,ada yang ngejagain, di sayangi sepenuh hati" Anin teringat ucapan Ayahnya kala Dia masih duduk di bangku SMP.
"Tapi kok Askara nyakitin hati Anin, Yah. Anin tau kalo Anin memang salah karena sudah lancang, tapi Anin sudah minta maaf. Kan kata Ayah kalo mau hubungan yang awet harus menyadari kesalahan dan jangan gengsi untuk minta maaf, tapi kenapa Askara masih marah sama Anin" tangisnya pecah
"Nanti kapan-kapan Anin bawa Askara ketemu sama Ayah yah, Dia suami Anin sekarang. Meskipun orangnya dingin tapi Anin yakin suatu saat nanti Dia pasti bisa nerima Anin" racau Anin berbicara seolah-olah sosok Ayahnya ada di depannya saat ini.
Siapa pun yang melihat kondisi Anin saat ini pasti akan merasa prihatin. Matanya sudah sembab karena menangis.
Anin berjalan gontai menuju tempat tidurnya, mengistirahatkan tubuh dan juga batinnya.
Tubuh mungil Anin meringkuk di dalam selimut, Anin memejamkan matanya meski begitu air matanya sesekali masih merembes keluar lewat ekor matanya.
Harapan Anin dalam tidurnya adalah ingin bertemu Ayahnya walau hanya lewat mimpi. Anin ingin bercerita banyak tentang hari-hari berat yang di laluinya selepas kepergian Ayahnya, dan juga tentang pernikahannya dengan Askara.
Anin tertidur bersama luka yang di torehkan Askara.
Selepas kepergian Anin dari kamarnya, Askara kembali masuk ke dalam ruangan yang penuh memori indah, dulunya.
Di raihnya lukisan yang tadinya menampakkan wajah gadis cantik yang masih di pujanya, kini sudah kotor penuh dengan tumpahan cat.
Wajah anggun itu adalah wajah yang masih di pujanya sampai sekarang, Askara mengosongkan hatinya selama bertahun-tahun demi Dia namun justru mendapatkan penolakan dengan alasan mereka hanyalah sebatas sahabat.
Kepergian Dalila ke Jerman menyisakan luka di hatinya tapi Askara tetap saja tidak bisa membencinya.
Hanya bisa melampiaskan kekecewaannya, kemarahannya dengan mendatangi bar dan minum alkohol sampai mabuk, itu di lakukannya hampir setiap hari.
Hingga di mana Askara mendatangi apartement Dalila. Apartement yang dulu Dia berikan sebagai hadiah ulang tahun gadis itu.
Sampai pada kejadian di mana Dia memperkosa Anin yang tidak sengaja menabraknya, saat itu Askara yang di bawah pengaruh alkohol di fikirannya hanya Dalila saja, bahkan mengira Anin adalah Dalila.
Yang tidak bisa Askara terima sampai sekarang, karena perbuatannya ada benih yang tumbuh di rahim Anin, dan sekarang Dia terikat pernikahan dengan wanita yang tidak Dia cintai.
"Aaaarrghhhh" Askara menggeram marah,membanting semua yang ada di dalam di ruangan tersebut. Foto-foto masa kecilnya bersama Dalila juga pecah karena di lemparnya ke lantai.
*jgn lupa like dan comment cerita author yah gaess
__ADS_1
selamat sahur semua