Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 72


__ADS_3

Suara teriakan Askara yang menggelegar membuat hening suasana lobi.


Semua menatap terkejut kehadiran Askara di ikuti sekretaris Dito di belakangnya.


Terlebih pernyataan Askara yang mengatakan bahwa wanita yang sedang duduk di atas kursi roda tersebut adalah istrinya.


Anin dan Mia yang sudah berada di ambang pintu tersenyum lega melihat kehadiran Askara dan juga sekretaris Dito.


Meskipun keduanya juga sempat terkejut tadi.


"Mas Askara". ujar Anin pelan menatap Askara yang raut wajahnya terlihat mengeras.


Anin menyadari bahwa Askara pasti sedang menahan amarah.


Askara melangkah menuju tempat Anin berada. bahkan suara sepatunya mendominasi lantai lobi yang masih dalam suasana hening, yang ada hanya tatapan penasaran dari para karyawan yang kebetulan berada di sana.


Wajah Askara terlihat menegang, aura mencekam jelas di rasakan oleh orang-orang yang berada di sana.


"Singkirkan tanganmu dari wanita ini". tekan Askara menatap tajam satpam di depannya.


"T-tapi tuan, dia tidak punya janji dengan anda dan memaksa ingin masuk". jelas satpan tersebut takut-takut karena tatapan mata Askara seolah menghunus jantung.


"Siapa yang menyuruhmu mengusirnya?" tanya Askara dingin.


"B-bu Tari, tuan". balas satpam tersebut.


Askara mengepalkan tangannya.


"Dengar semua yang ada di sini". teriak Askara menarik perhatian semua orang.


Bahkan kini jumlah mereka semakin banyak karena berita yang cepat tersebar ke sesama karyawan bahwa sedang ada kekacauan di lobi hingga membuat mereka berkumpul di bawah.


"Jangan pernah berani berlaku kurang ajar ataupun tidak sopan pada wanita ini. karena dia adalah ISTRIKU". Teriak Askara sengaja menekan kalimat terakhirnya kemudian menatap sinis Tari seolah sedang menyindir.


"Dan asal kalian tau, dia sedang mengandung anakku, jadi siapapun yang sudah berlaku kurang ajar padanya, siap-siap berurusan denganku".


Kata-kata Askara sukses membuat tubuh Tari menegang, dengan susah payah wanita itu menelan salivanya, begitupun dengan satpam yang menyeret Anin hendak keluar dari perusahaan.


Semua orang yang berada di sana pun sama kagetnya. selama ini mereka tidak pernah mendengar kabar CEO mereka melangsungkan pernikahan tapi kini tiba-tiba mengklaim dirinya sudah menikah.


Jantung Anin berdetak kencang saat dengan lantang Askara mengakuinya di depan banyak orang sebagai istrinya.


Anin menatap Askara dengan wajah terharu sekaligus senang.


Sedangkan Mia, dia balas tersenyum mengejek pada Tari persis seperti apa yang di lakukan Tari padanya tadi.


"Kalian semua dengar aku?" teriak Askara lagi.


"Iyya tuan". jawab kompak karyawan yang berada di sana.


Askara beralih menatap sekretaris Dito.


"Dito, kau urus mereka berdua". Askara memberi kode pada sekretaris Dito untuk mengurus Tari dan juga satpam yang hendak mengusir Anin keluar tadi.


"Baik, tuan". balas sekretaris Dito kemudian memanggil Tari dan satpam tadi ke dalam ruangannya.


Tari yang tadinya banyak bicara mendadak diam dengan tubuh gemetar, dia takut akan kehilangan pekerjaannya.


Selepas kepergian sekretaris Dito.


Askara berlutut di depan kursi roda Anin tanpa memperdulikan tatapan para karyawannya yang tengah asik berbisik satu sama lain.


"Kau baik-baik saja?" tanya Askara lembut merapikan rambut Anin padahal tidak berantakan.


"Aku baik-baik saja Mas". balas Anin tersenyum.


"Kau kenapa ke sini hemm?, bukankah seharusnya kau berada di rumah dan beristirahat?". tanya Askara yang sangat terkejut melihat kehadiran Anin yang tiba-tiba di kantornya.


"A-aku merindukan Mas Askara". balas Anin dengan wajah sendunya.

__ADS_1


Askara yang tadinya ingin memarahi Anin menjadi tidak tega melihat wajah sedih istrinya itu.


"Seharusnya kau bisa menghubungi Dito jika ingin ke sini. jadi kau tidak akan di perlakukan seperti itu tadi".


"Aku ingin memberi kejutan pada Mas Askara. kenapa? Mas tidak suka aku di sini? kalau begitu aku pulang saja".


"Siapa bilang aku tidak suka kau di sini?, justru aku tidak suka melihatmu di perlakukan seperti itu tadi oleh bawahan ku".


Anin tersenyum mendengar jawaban Askara. padahal dia sendiri sudah sangat ketakutan, takut Askara tidak akan mengakuinya di depan para karyawannya sebagai istrinya, mengingat seperti apa awal pernikahan mereka.


"Tapi aku ingin di sini bersama Mas Askara, boleh kan?". ujar Anin manja.


Askara nampak berfikir.


"Memangnya kau tidak papa menunggu? aku masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan bersama Dito".


Anin mengangguk cepat. "Aku bisa menunggu mas Askara kok".


Askara mengacak gemas rambut Anin. "Baiklah, sekarang kita ke ruangan ku".


Entah kenapa Askara berubah menjadi sangat bersemangat kali ini. mungkin karena Anin datang ke kantornya padahal sejak tadi dia merasa sangat lelah menjalani rapat yang cukup alot.


"Tapi Mia bagaimana, Mas?" tanya Anin karena dia berangkat bersama Mia.


"Mia, kau pulanglah bersama pak Hilman. Anin akan pulang bersamaku nanti". ujar Askara.


"Baik tuan".


"Nona Anin, saya permisi balik ke mansion". pamit Mia pada Anin.


"Iyya Mia. terimakasih, hati-hati di jalan".


"Iyya Nona". balas Mia kemudian meninggalkan lobi kantor Askara.


"Ayo, sekarang kita menuju ke ruangan ku". Askara bangkit dan mengambil alih mendorong kursi roda Anin memasuki lift khusus CEO.


Askara tidak peduli tatapan para karyawannya yang sedang menjadikan mereka topik pembicaraan.


Apalagi ini kali pertama Anin memasuki ruangan tersebut.


Anin sendiri sudah duduk di sofa yang berada di dalam ruangan Askara.


"Kau merasa senang sekarang karena sudah bertemu denganku?" tanya Askara ikut duduk di samping Anin.


Anin tersenyum mengangguk. memeluk pinggang Askara dari samping.


"Mungkin ini bawaan bayi kita". ujar Anin mengelus perutnya yang sudah tercetak jelas di balik dress yang di gunakannya.


"Boleh aku mengelusnya?" Askara menatap perut Anin.


"Dengan senang hati, Mas. dia juga pasti merindukan sentuhan papahnya".


"Benarkah?". tanya Askara.


Tangannya sudah meluncur bebas mengelus perut Anin.


Hati Anin menghangat melihat perlakuan Askara yang semakin hari menunjukkan kepedulian terhadap dirinya dan juga calon anaknya.


"Kalau Mamahnya, apa dia juga butuh sentuhan?". seloroh Askara menatap lekat wajah Anin.


Anin yang di tatap seperti itu oleh Askara reflek tersenyum malu dengan semburat merah terbit di wajahnya.


Wajah Askara bahkan sudah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.


"Mas, ini di kantor. nanti kalau ada orang yang liat gimana?" tanya Anin gugup.


"Tidak ada yang berani masuk ke dalam ruangan ku tanpa persetujuanku". ucap Askara mengusap bibir ranum Anin dengan ibu jarinya.


Perlakuan kecil itu sukses membuat Anin bergerak gelisah.

__ADS_1


"Tapi Mas_".


"Husssttt". Askara menempelkan jari telunjuknya di bibir Anin. tanda tidak ingin mendengar alasan apapun lagi.


"Cukup bermain di bibir, okey".


Anin mengangguk patuh, dia pun tidak bisa menolak sentuhan lembut yang di berikan oleh Askara.


Tok..tok..tok.


Baru saja Askara akan mendaratkan ciuman panasnya, suara pintu di ketuk membuat Askara menghentikan aksinya.


Terlihat wajah Askara menahan geram karena aksinya tertunda oleh orang yang berada di luar ruangannya. berani-beraninya mengganggu aktifitasnya.


"****..mengganggu saja". kesal Askara melonggarkan dasinya.


"Masuk". teriak Askara.


Pintu ruangan terbuka, sekretaris Dito masuk dengan beberapa berkas di tangannya.


"Maaf mengganggu tuan". ujar sekretaris Dito.


"Cckk...kau memang mengganggu sekali Dito, datang di waktu yang tidak tepat". gerutu Askara.


Sekretaris Dito yang tidak mengerti langsung mengerutkan kening, pasalnya kata-kata yang di ucapkannya tadi sekedar basa-basi dan itu sudah sangat sering dia ucapkan.


"Maaf tuan". balas sekretaris Dito membuat Anin yang duduk di samping Askara menahan senyum.


"Cepat katakan, ada perlu apa kau kemari?". tanya Askara masih sangat kesal.


"Saya sudah mengurus kekacauan di lobi tadi tuan, dan keduanya sudah resmi di pecat hari ini juga". lapor sekretaris Dito.


"Bagus, aku tidak ingin orang-orang yang tidak punya sopan santun seperti mereka bekerja di perusahaan ku". ujar Askara yang rasa kesalnya semakin bertambah jika mengingat kejadian yang menimpa Anin tadi.


Anin yang mengerti siapa yang di maksud oleh Askara berseru tidak setuju.


"Mas.. kenapa mereka harus di pecat?". tanya Anin heran.


"Itu memang pantas mereka dapatkan, aku tidak ingin punya karyawan tidak beretika seperti mereka, apalagi mereka melakukan itu padamu".


"Tapi mas, sepenuhnya ini bukan salah mereka. sejujurnya kan mereka tidak tau siapa aku. kasian mereka kalau di pecat Mas, nyari kerja di Jakarta susah apalagi satpam tadi, dia pasti punya istri dan anak yang sedang menunggu di rumah". Anin tidak tega dan tidak setuju dengan keputusan Askara.


"Kenapa kau malah membela mereka Anin. kau tidak lihat perlakuan mereka seperti apa tadi padamu?".


"Mas..kau tau kan seperti apa aku? aku bahkan sudah memaafkan kesalahan mereka, aku hanya berharap semoga mereka lebih menghargai orang di sekitarnya". terang Anin.


Askara mendengus kesal. "Kau ini terlalu baik pada orang lain, Nin".


"Memang untungnya apa Mas, marah sama orang lain? nggak ada kan?".


"Iyya..Iyya .terserah". jengkel Askara.


"Sekarang Mas tarik kembali pemecatan mereka yah, kasian tau".


"Tapi dengan satu syarat". bukan Askara namanya jika meloloskan mereka begitu saja.


"Apa mas?"


"Mereka harus meminta maaf langsung di depanmu, kalau perlu berlutut sekalian.".


"Baiklah, tapi cukup meminta maaf saja". ucap Anin mantap.


"Dito, bawa mereka ke sini dan suruh mereka minta maaf langsung pada Anin". titah Askara.


"Baik tuan". sekretaris Dito pun segera meninggalkan ruangan Askara.


**Mana nih like, komennya.?


kok sepi?

__ADS_1


Author kangen komenan kalian..huhu


komen kalian tuh kayak moodbooster buat author**.


__ADS_2