
Perhatian demi perhatian tak henti-hentinya Askara berikan pada Anin semenjak hubungan mereka membaik.
Seperti pagi ini, Askara yang tidak pernah menyiapkan sarapan kini berubah menjadi pria yang romantis dengan membuatkan Anin susu hamil serta satu buah sandwich.
Askara memasuki kamar sambil tersenyum melihat Anin yang masih terlelap dengan selimut yang menggulung menutupi tubuh polosnya. Ya, semalam Askara menagih janji pada Anin dengan alasan bahwa sering berhubungan suami istri akan baik untuk seseorang yang ingin melahirkan normal.
"Sayang, ayo bangun". dengan lembut Askara membelai pipi chubby Anin.
"Enggg". Namun Anin hanya mengerang kecil, dan kembali mencari posisi yang nyaman.
Askara terkekeh, "Anin, ayo bangun dulu sayang". kali ini Askara menusuk-nusuk pelan pipi Anin agar istrinya itu mau bangun.
Anin perlahan membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah senyum Askara.
Melihat wajah Askara, Anin menarik selimut untuk menutupi rasa malunya karena mengingat malam panas semalam.
"Kenapa hemm?" tanya Askara menarik pelan selimut yang menutupi wajah Anin.
"Aku malu Mas". jawab Anin dengan wajah bersemu merah.
Askara lagi-lagi terkekeh karena tingkah Anin, "Padahal kita sudah sering melakukannya, tapi kenapa kau masih saja merasa malu?".
"Ya, aku malu saja mas". Anin tidak punya jawaban khusus, tapi setiap selesai melakukan hal tersebut bersama Askara. dia akan merasa malu dan salah tingkah.
"Bangunlah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu". ujar Askara
Anin lantas menegakkan tubuhnya dengan posisi tangan yang terus menahan selimut agar tidak melorot, mendengar Askara menyiapkan sarapan untuknya membuat dia jadi tidak enak hati.
"Maafkan aku, Mas. karena aku bangunnya telat jadinya Mas Askara yang harus menyiapkan sarapan untukku". sesal Anin memasang wajah cemberut.
"Tidak masalah, bahkan aku bisa melakukan itu setiap hari untukmu".
"Gombal". Anin memukul pelan lengan Askara.
"Sekarang kau sarapan, setelah itu bersihkan diri karena seseorang ingin bertemu denganmu".
"Siapa, Mas?". tanya Anin dengan kening berkerut.
__ADS_1
Askara hanya membalas dengan seulas senyum, "Nanti kau akan tau sendiri, cepat habiskan sarapanmu, aku akan menunggu di bawah".
Askara meninggalkan Anin yang menatapnya dengan tatapan bingung. siapa orang yang ingin menemuinya pagi-pagi begini?, fikir Anin.
Setelah menghabiskan sarapan dan juga selesai membersihkan diri. Anin memutuskan untuk turun karena takut membuat orang yang katanya ingin bertemu dengannya menunggu lama, dan Anin paling tidak enak membuat seseorang menunggunya.
Entah kenapa detak jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. "Kenapa aku jadi deg-degan begini". gumam Anin memegangi dada kirinya.
Berusaha menepis fikiran buruk yang hinggap di kepalanya, Anin melangkahkan kaki meninggalkan kamarnya untuk turun ke lantai bawah.
Sementara itu, Askara dan juga Mami Sandra terlihat sedang asik bercengkrama dengan seseorang di ruang tengah.
Melihat Anin yang berjalan menuruni anak tangga , Askara lantas berdiri.
"Yang kita tunggu-tunggu akhirnya sudah t
datang". ujar Askara tersenyum menyambut kedatangan Anin.
Kening Anin berkerut saat melihat punggung seseorang yang tampak asing baginya.
Mata Anin dan juga Papi Argio saling bertemu.
Anin tampak terkejut karena orang yang kini berdiri di hadapannya begitu mirip dengan Askara.
"Apa wanita ini adalah menantuku?". tanya Papi Argio dengan wajah datarnya.
Anin menjadi gugup karena yang berdiri di depannya sekarang adalah ayah mertuanya, meskipun belum berkenalan tapi Anin yakin bahwa pria paru baya yang terlihat begitu berwibawa itu adalah mertuanya, terlihat dari wajahnya yang begitu mirip dengan Askara. seperti gambaran Askara nanti saat menginjak usia tua.
"Apa kau adalah, Anin?". tanya Argio lagi, kali ini menyebutkan nama Anin.
"I-iya pak". Anin tidak tau harus memanggil pria di depannya dengan sebutan apa.
Mendengar Anin menyebutnya dengan sebutan pak, membuat Argio terkekeh kecil.
"Kemarilah". Papi Argio menyuruh Anin agar lebih dekat dengannya.
Anin melirik Askara dan juga Mami Sandra yang berdiri tidak jauh darinya seolah meminta persetujuan. Askara dan Mami Sandra kompak mengangguk sambil tersenyum memberi isyarat agar Anin mendekat.
__ADS_1
Dengan sedikit ragu, tapi Anin tetap melangkahkan kakinya. hingga jaraknya begitu dekat dengan Papi Argio.
Papi Argio mengelus lembut kepala Anin, "Sepertinya aku sudah membuat menantuku ketakutan pada pertemuan pertama kami". ujar papi Argio menatap Mami Sandra yang berdiri di dekatnya.
"Itu karena papi memasang wajah dingin". Mami Sandra memukul pelan lengan suaminya. "Kau tidak perlu takut, sayang. papi Argio hanya bercanda tadi". ujar Mami Sandra agar Anin tidak lagi merasa takut.
Sesuai dengan prediksinya bahwa pria paru baya di depannya ini adalah ayah mertuanya, Anin langsung meraih dan mencium punggung tangan papi Argio.
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda". ujar Anin masih begitu kaku.
"Panggil aku Papi seperti kau memanggil Sandra dengan sebutan Mami". titah Argio tersenyum, senyum yang begitu mirip dengan Askara.
Anin bahkan sempat di buat terpanah, ketampanan Askara benar-benar menurun dari kedua orang tuanya, terlebih gen papi Argio.
"I-iya, Pi". balas Anin sedikit canggung karena ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Kau terlihat lebih muda dari foto yang Mami Sandra tunjukan, berapa usiamu?". tanya Papi Argio penasaran.
"Sebentar lagi akan menginjak usia 21 tahun". balas Anin tersenyum.
Papi Argio mengangguk paham. "Ternyata kau memang masih sangat muda". papi Argio melirik Askara, menyindir putranya itu karena sudah menghancurkan masa depan Anin di usianya yang masih sangat belia.
"Apa Papi tidak akan membiarkan Anin duduk?, kasihan istriku sedang hamil besar, dia tidak bisa berdiri terlalu lama". Askara mengalihkan pembicaraan agar Papinya tidak kembali bertanya hal-hal yang bisa menyudutkannya.
"Ah Iyya, maafkan Papi karena tidak sadar. wajah cantik Anin membuat orang ingin berlama-lama menatapnya". goda Papi Argio membuat Askara melotot sempurna.
"Papi ingin menikung anak sendiri, hah?". sungut Askara tidak terima.
Papi Argio tertawa keras, dia hanya ingin mengetes bagaimana paniknya Askara dan terbukti bahwa putranya itu tidak terima istrinya di puji oleh orang lain termasuk oleh dirinya sendiri.
"Mas!, Papi pasti hanya bercanda". bisik Anin.
"Sudah.. sudah.. Papi mu itu hanya bercanda Askara. seperti kau tidak kenal sifat papi mu saja". ujar Mami Sandra menengahi.
"Kalau kau betul cinta dengan Anin, maka kau harus jaga dia baik-baik". nasehat Papi Argio menepuk pundak Askara. sikap posesif anaknya itu sudah cukup membuktikan bahwa Askara benar-benar mencintai Anin.
Mereka pun memilih untuk kembali duduk di sofa, melanjutkan obrolan, terutama antara papi Argio dan Anin. karena sifat ramah dari papi Argio, membuat Anin cepat berbaur dan nyambung di ajak mengobrol. suara tawa sesekali terdengar karena candaan dari Papi Argio. awalnya Anin yang merasa takut tidak akan di terima dengan baik oleh ayah mertuanya itu, justru kini fikirannya itu sirna karena ternyata semua di luar dari dugaannya.
__ADS_1