Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 81


__ADS_3

Perkataan Dalila yang baru saja terlontar sukses membuat Anin mematung di tempatnya. Anin menatap Askara dan paperbag yang baru saja di letakkan oleh Dalila di atas meja secara bergantian.


Anin langsung teringat dengan penampilan Askara semalam. suaminya itu pulang dalam keadaan yang begitu lelah dengan pakaian kantor yang tidak lagi melekat rapi di tubuhnya. serta bau parfum yang di ciumnya dari jas Askara apa itu juga adalah bau parfum Dalila?.


Apa yang mereka lakukan di apartement Dalila hingga Askara pulang malam. Dada Anin mendadak sesak, dia kecewa karena Askara tidak memberitahunya. pantas saja askara hanya memasang wajah datar saat melihat kehadiran Dalila pagi ini karena dia sudah mengetahui kepulangan Dalila bahkan sudah mendatangi apartement wanita itu.


Anin beralih menatap Askara yang duduk memasang ekspresi datarnya. Askara tidak menatapnya sama sekali setelah Dalila menyerahkan paperbag berisi jam tangannya, bahkan untuk buka suara saja tidak.


Askara diam, dia tidak membuka suara sama sekali. matanya menatap datar paperbag berisi jam tangannya yang tidak sengaja dia tinggalkan di apartement Dalila kemarin. Askara melepasnya saat membantu Dalila membereskan apartement.


Askara yakin pasti Anin sekarang merasa sangat kecewa kepadanya, makanya pria itu tidak berani menatap mata Anin.


"Kau benar-benar tidak berubah Askara. masih sama seperti dulu, selalu saja ceroboh meninggalkan barang-barangmu". Dalila masih saja terus berbicara dan mengabaikan perasaan Anin yang saat ini tengah menahan sesak di dadanya.


"Aku lupa". hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Askara.


"Oh Iyya, Anin. maaf yah Askara pulang telat kemarin, soalnya dia bantuin aku beres-beres apartement. kau tidak marah kan?". tanya Dalila membuat Anin mau tidak mau memasang senyum semanis mungkin padahal dalam hatinya sedang merasakan sesak.


"Iyya tidak papa, lagi pula kalian kan sahabatan, jadi sudah sewajarnya Mas Askara membantu". balas Anin seolah-olah semuanya baik-baik saja.


Saat menjawab tadi pun, Anin sempat melirik Askara. ekspresi dari pria itu masih tetap sama, datar.


"Askara kau sangat beruntung punya istri pengertian seperti Anin. jangan sia-siakan wanita sebaik dia". Dalila memberi ultimatum pada Askara.


"Hemm". singkat Askara membuat Anin tersenyum kecut dengan kepala menunduk.


"Aku mau dong telur mata sapi di piringmu, boleh?". tanya Dalila tergiur melihat telur mata sapi yang berada di piring Askara.


"Kau mau?".


"Hemm". Dalila mengangguk antusias.


Tanpa memperdulikan perasaan Anin, Askara memberikan telur mata sapi yang berada di atas piringnya beralih ke atas piring Dalila.


"Makan yang banyak, kau terlihat sangat kurus". Askara begitu perhatian bahkan mengabaikan Anin yang notabene sedang hamil. seharusnya perhatian itu lebih di tujukan pada Anin yang sedang mengandung.


"Ihh.. kalau aku gemuk, aku tidak akan laku menjadi model nanti". balas Dalila terkekeh membuat Askara tersenyum.


Semudah itu Askara memberikan senyumnya pada Dalila padahal selama ini pria itu terkenal sangat dingin dan kaku. bahkan Anin sendiri butuh perjuangan untuk sampai pada titik ini.


Interaksi antara Askara dan Dalila terlihat begitu hangat hingga Anin merasa dirinya seperti orang ketiga yang tengah duduk ikut bergabung di meja makan bersama mereka.


Mata Anin memanas melihat pemandangan di depannya. dengan sekuat tenaga Anin mencengkram sendok dan garpu di kedua tangannya. rongga dadanya terasa di himpit hingga rasanya untuk bernafas saja susah.


Apakah perlakuan manis Askara pada Dalila di dasari atas rasa cinta yang mungkin masih tersisa di hati suaminya itu?. fikir Anin.


Anin menarik nafas dalam, menahan agar air matanya tidak jatuh di depan Askara dan juga Dalila.


Anin memakan sarapannya dengan tidak berselera namun harus tetap menghabiskan makanannya agar Askara dan Dalila tidak menanyakan keadaannya. begini lebih baik menurut Anin.

__ADS_1


"Aku sudah selesai". ujar Askara mengakhiri sarapannya dan berdiri dari kursinya.


"Mas Askara sudah mau berangkat?". buru-buru Anin juga ikut berdiri.


"Iyya, kau jaga diri baik-baik". pesan Askara.


"Iyya Mas".


"Aku juga mau pamit". Dalila juga ikut berdiri dari kursinya.


Askara beralih menatap Dalila.


"Kau ke sini bersama siapa?". tanya Askara pada Dalila.


"Aku? aku di antar supir. soalnya belum perpanjang SIM, mungkin lusa baru ngurus". jawab Dalila.


"Biar aku antar kau ke apartement, arah kantor dan apartement sama".


"Tapi_".


"Aku tidak suka penolakan Lila".


Dalila menatap Anin merasa tidak enak.


"Tidak papa, kau terima saja tawaran Mas Askara". ujar Anin mengerti arti tatapan Dalila. meskipun dalam hatinya berusaha sekuat tenaga menahan nyeri karena sikap perhatian Askara pada Dalila.


"Baiklah, aku terima tawaranmu". putus Dalila.


"Tunggu Mas".


"Ada apa lagi hemm?" tanya Askara lembut.


"Kau melupakan sesuatu". ujar Anin pelan berusaha menahan malu.


"Aku sedang buru-buru Nin, lagian ada Dalila juga di sini". Askara mengerti maksud Anin tapi dalam dirinya menahan untuk tidak mengecup Anin apalagi ada Dalila di antara mereka. entah, Askara ingin menjaga perasaan Dalila, padahal pria itu sendiri tidak tahu kenapa dia harus melakukan itu padahal sudah jelas Anin adalah istrinya.


Hati Anin mencolos mendapatkan penolakan secara terang-terangan dari Askara hanya karena alasan ada Dalila di antara mereka.


"Aku keluar duluan saja, kalian bisa lanjutkan". Dalila bisa melihat kecanggungan yang terjadi antara Askara dan Anin dan dia sadar itu karena kehadirannya.


"Tunggu Lila, kita keluar bersama". ujar Askara. menahan langkah Dalila.


Askara beralih pada Anin. "Kau jaga diri baik-baik, jangan keluar mansion tanpa izin dariku".


Anin hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, setelah itu Askara melangkah keluar dari mansion bersama Dalila di belakangnya. pagi ini, tidak ada kecupan hangat yang biasa Askara lakukan sebelum berangkat kerja.


Anin menatap nanar punggung Askara yang perlahan hilang di balik pintu mansion. baru satu hari kepulangan Dalila dari Jerman, Askara sudah menunjukkan perubahan besar di matanya.


Kaki Anin berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya. hatinya terasa sakit melihat sikap Askara pagi ini. air matanya yang berusaha di tahan sedari tadi akhirnya dia tumpahkan seiring dengan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


Anin melangkah gontai memasuki kamarnya, baru saja rasanya Anin tersenyum karena hubungannya semakin membaik, kini orang di masa lalu Askara kembali ke tengah-tengah mereka.


Meskipun Anin tau Dalila wanita yang baik, tapi bagaimana dengan Askara, Anin sendiri bahkan belum yakin kekuatan pondasi dari perasaan Askara untuknya sekuat apa sekarang.


Anin mendudukkan tubuhnya di atas sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak mengingat Askara yang sudah berbohong kepadanya. pria itu berada di apartement Dalila kemarin sampai malam hari.


Ponsel Anin yang berada di atas nakas berdering membuat Anin menghentikan tangisnya sejenak. dia berdiri dengan malas untuk melihat siapa yang menelfonnya pagi-pagi.


"Vivi". gumam Anin buru-buru menghapus air matanya. Vivi melakukan panggilan video call.


Anin menarik nafas dalam, berdehem untuk mengetes suaranya agar tidak terdengar parau karena habis menangis.


"Hai Vi". sapa Anin terlebih dulu.


"Lama banget sih ngangkatnya". gerutu Vivi terlihat dari layar ponsel Anin.


"Baru selsai sarapan, hp gue di kamar soalnya. ini baru balik kamar". terang Anin setenang mungkin.


"Ngapain video call, biasanya juga chat doang". tanya Anin.


"Ngga tau nih, tiba-tiba kefikiran Lo. baik-baik aja kan di sana?". tanya Vivi.


Padahal Vivi dan Anin hanyalah seorang sahabat, tapi entah kenapa hari ini Vivi seolah merasakan ikatan batin terhadap Anin dan merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


"Jadi maksud Lo kita punya ikatan batin gitu?". Anin berusaha bercanda untuk menutupi kesedihannya dari Vivi.


"Gue serius Nin, tapi tunggu dulu. muka Lo kok sembab gitu? abis nangis yah". tebak Vivi


"N-nggak, gue nggak nangis. mungkin karena baru bangun tidur makanya muka gue masih keliatan bengkak". Anin berusaha mencari alasan agar Vivi percaya.


Terlihat Vivi memicingkan matanya. "Enggak, Lo nggak pandai bohong Nin, sumpah. mending Lo jujur sekarang ada apa? kita sahabatan bukan baru 1 atau 2 bulan tapi udah bertahun-tahun". Vivi mendesak Anin untuk bicara karena tampaknya ada hal yang di sembunyikan oleh Anin.


Anin menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Vivi, dia memang tidak pandai berbohong atau menutupi sesuatu di depan Vivi.


"Vi, gue udah bilang nggak ada apa-apa, perasaan Lo aja yang berlebihan". Anin masih berusaha mencari alasan, namun bukan Vivi namanya jika menyerah begitu saja.


"Oke.. kalo Lo nggak mau cerita, biar gue tanya langsung aja sama Askara". ujar Vivi membuat Anin merengut kesal. selalu saja Vivi berhasil memaksanya.


"Iyya..Iyya..gue cerita. nggak usah pake acara nanya sama Mas Askara segala".


"Nah gitu dong, Lo tuh nggak pandai nutupin sesuatu dari gue".


Mau tidak mau Anin menceritakan kembalinya Dalila dari Jerman yang membuat perubahan sikap Askara mulai terlihat serta Askara yang mulai membohonginya. semua Anin ceritakan dan itu membuat air matanya kembali jatuh.


Vivi yang mendengarkan semua cerita Anin cukup terkejut mengetahui cinta dari masa lalu Askara sudah kembali dan hadir di tengah-tengah hubungan rumah tangga Anin.


Untuk saat ini, Vivi hanya bisa menenangkan Anin secara virtual, dia akan datang mengunjungi Anin saat jadwal kuliahnya kosong nanti.


**Gimana ? lanjut?

__ADS_1


Like, komen, dan vote dulu dong**


__ADS_2