
Matahari pagi telah menampakkan wujudnya.
Sinarnya masuk melalui celah jendela membuat Askara menggeliat.
Kepalanya terasa berat, badannya juga terasa remuk dan nyeri terlebih pada bagian wajahnya.
Perlahan membuka mata, Askara mengenal betul kamar yang dia tempati sekarang.
Ingatannya menerawang sisa kejadian semalam, dirinya tengah bertengkar dengan seorang pengunjung bar.
Lalu siapa yang membawanya kemari? kenapa dia bisa berada di sini.
Askara ingin menggerakkan tangannya tapi seperti ada yang menahannya.
Dan ternyata, itu adalah Anin.
Pemandangan pertama yang di dapati Askara adalah wajah lelap Anin yang tengah tertidur.
Ingin menarik tangannya, namun hatinya seperti menolak.
Seperti tersihir, Askara betah memandangi wajah teduh Anin, anak rambutnya yang kemana-kemana menambah kesan manis di wajah putih mulusnya.
Tunggu dulu, apa yang baru saja dia fikirkan? dia memuji Anin? yang benar saja.
"Hemm" dehem Askara bermaksud membangunkan Anin.
Tidak ada pergerakan dari Anin.
"Hemm..Hemm.." kali ini lebih keras.
Tidur Anin mulai terganggu, perlahan mulai membuka mata.
Ternyata hari sudah pagi.
Anin belum sadar jika sedari tadi ada mata tajam bak elang tengah memperhatikannya.
"Kau ternyata mencari kesempatan saat aku tidak sadarkan diri?" sinis Askara pada Anin yang terlihat masih mengumpulkan nyawa.
Anin tersadar sepenuhnya setelah mendengar suara orang yang sangat di kenalinya
Mata keduanya bertemu, Anin tampak gelalapan di tatap intens seperti itu.
"Pak Askara sudah bangun?" tanyanya mengalihkan suasana akward.
"Kau sudah puas memegang tanganku heh?" sindirnya tanpa menjawab Anin.
Anin beralih pada tangan mereka yang masih bertautan, lebih tepatnya Anin yang menggenggam tangan Askara.
Buru-buru Anin melepaskannya "Aaa..kuuu minta maaf, aku tidak sengaja " ucapnya terbata, Anin gugup.
Sial, dia tertangkap basah.
Askara menggerakkan tubuhnya, ingin bersandar pada kepala ranjang tapi sedikit merasa kesusahan karena seluruh badannya terasa sakit.
"Biar aku bantu" tawar Anin melihat Askara bergerak kesusahan.
Askara hanya diam mendapat perhatian dari Anin.
"Pak Askara butuh sesuatu?" tanya Anin setelah membantu Askara bersandar.
"Aku ingin minum" ujarnya dengan wajah cuek.
Anin ingin berdiri mengambil air di nakas
"Awww" ringisnya merasakan kram di perutnya.
Anin memegang perut bagaian bawahnya.
"Kau kenapa?" heran Askara, tak tersirat rasa khawatir sedikitpun.
Sebisanya, Anin berusaha menetralkan rasa sakit di perutnya dengan menarik nafas dalam.
"Aku tidak papa, hanya saja perutku terasa kram mungkin karena posisi tidurku yang kurang nyaman semalaman" jawab Anin
Syukurnya, rasa sakit di perutnya berangsur membaik.
Anin menyodorkan segelas air putih pada Askara.
Di tenggaknya hingga habis.
__ADS_1
"Apa lukamu masih sakit?" tanya Anin memberanikan diri.
"Menurutmu?" malas Askara.
"Aku akan mengompres luka pak Askara, tunggulah sebentar" beranjak dari duduknya, Anin turun mengambil es batu dan kain bersih untuk mengompres luka Askara.
"Hemm" singkat Askara tidak menolak seperti biasanya.
Kaki Anin berhenti di ruang tengah, kepalanya celangak-celinguk seperti mencari sesuatu.
Anin tampak kebingungan "Letak dapur di mana yah?" gumam Anin menurutiki diri sendiri yang sok tau ingin mengambil peralatan kompres namun tidak mengetahui letak dapur sama sekali.
Ini karena dia terlalu gugup berada di dalam satu kamar dengan Askara.
"Kenapa mansion ini terlalu luas tuhan, aku harus kemana?" gerutu Anin, terlalu banyak ruangan membuatnya pusing.
Dengan mengira-ngira, Anin melangkahkan kakinya ke arah samping.
Akhirnya Anin menemukan letak dapur "Akhirnya" ujarnya.
Bi Ratih yang sedang mempersiapkan sarapan di kaget melihat kehadiran Anin di dapur.
"Nona Anin kenapa ke dapur?, kalau butuh sesuatu kan bisa panggil bibi" ujar Bi Ratih gusar, takut kena marah tuan Askara.
"Tidak papa bi, lagian aku cuman mau ambil es batu sama kain bersih buat ngompres"
"Ngompres? ngompres siapa Non?" tanya bi Ratih yang memang belum mengetahui kondisi Askara.
"Itu bi, Askara semalam bertengkar sama seseorang"
Bi Ratih menggelengkan kepala, mendengar Askara bertengkar dan pulang dalam keadaan babak belur bukanlah hal yang baru lagi.
"Bibi tau betul sifat tuan Askara, emosinya susah di tahan. ini bukan kejadian yang pertama apalagi semenjak..."
Bi Ratih menggantung ceritanya, sadar dengan apa yang baru akan dia ucapkan.
"Semenjak apa Bi?" tanya Anin penasaran.
Ekspresi wajah Bi Ratih berubah.
"Ah..bukan apa-apa Non, lupakan saja." bi Ratih tampak gelalapan.
"Oh iya, non Anin tunggu saja di sini biar bibi yang ambilkan kompresannya" lanjutnya lagi
"Baik bi, maaf merepotkan" ucapnya tidak enak.
"Ini kan memang sudah pekerjaan saya non, tunggu yah"
Bi Ratih kemudian meninggalkan Anin untuk mengambil kompresan.
Tak lama bi Ratih kembali dengan nampan di tangannya.
"Ini non, sekalian sarapan untuk tuan Askara, kebetulan bibi udah masak".
bi Ratih menyerahkan nampan berisi kompresan dan juga sarapan untuk Askara.
Anin meraih nampan tersebut "Terimakasih bi"
"Non Anin juga belum sarapan kan? nanti biar bibi susul ke atas bawakan sarapannya"
"Nggak usah bi, nanti biar Anin yang turun sendiri" tolak Anin, sebenarnya dia tidak terbiasa di layani seperti ini.
"Ya udah kalo itu maunya non, bibi lanjut kerja lagi yah" pamitnya pada Anin.
"Iyya bi, Anin juga udah mau naik ke kamar".
Askara sedang mengecek beberapa pekerjaan kantor yang baru saja di kirimkan oleh Dito melalui tabnya.
Pintu kamar terbuka, Askara mengalihkan perhatiannya.
Anin masuk dengan nampan di tangannya.
Namun fokus Askara kembali ke tabnya.
Anin meletakkan nampan di atas meja samping ranjang.
Sepertinya Askara sedang sibuk "Apa kau sedang sibuk?" tanyanya.
"Seperti yang kau yang lihat" jawab Askara tanpa mengalihkan perhatian dari tab nya.
__ADS_1
"Engg..Luka pak Askara harus segera di kompres agar bengkaknya berkurang" ujar Anin takut-takut.
Askara merasa terganggu "Apa kau tidak lihat aku sedang mengecek file kantor?" dengusnya.
"Sebentar saja, agar lukanya cepat membaik" ucap Anin, kali ini dia harus sedikit memaksa.
Dengan menghela nafas berat, Askara menutup tab di tangannya.
"Cepatlah" perintah cepat dengan perasaan dongkol.
Tanpa berlama-lama, Anin segera mencelupkan kain bersih ke dalam mangkok berisi es batu.
"Maaf" ujar Anin saat akan menyentuh wajah Askara dengan kompresan.
Dingin dan nyeri, dua hal yang di rasakan Askara.
"Awww.... sakit" ringisnya merasakan nyeri sampai ke tulang wajahnya saat Anin menempelkan kompresan.
"Tahan sebentar" Anin dengan telaten mengobati wajah Askara.
Jujur saat ini Anin berusaha dengan kuat menahan rasa gugup dan deg-degannya agar terlihat biasa-biasa saja.
Di akui Anin, tingkat ketampanan Askara malah semakin bertambah meskipun wajahnya penuh dengan luka.
Terlihat sangat cool dan macho.
"Aku yakin kau pasti sedang mengagumi ku dalam hatimu" tebak Askara membuat tangan Anin yang akan kembali mengompres wajahnya terhenti di udara.
"Apa maksud pak Askara?" tanya Anin pura-pura tidak mengerti.
"Aku tau diam-diam kau pasti mengagumiku, aku sadar tidak ada wanita satupun yang mampu menolak pesonaku" ujar Askara percaya diri.
Anin terheran melihat sikap percaya diri Askara.
wajahnya yang babak belur tapi kenapa otaknya yang bermasalah sekarang ?.
Anin memilih tidak menjawab, ia lanjut mengompres wajah Askara.
Askara kesal karena Anin hanya diam, dan tidak terpancing sedikit pun .
Selesai mengompres wajah Askara, Anin beralih mengambil semangkok sup krim jamur buatan bi Ratih.
"Sekarang buka mulut pak Askara" perintah Anin, dia seperti sedang menyuapi anak kecil.
"Aku tidak mau, aku bukan anak kecil" tolak Askara karena masih kesal dengan Anin.
"Bapak harus sarapan, aku juga harus berangkat kerja hari ini" Lelah, Anin menghadapi Askara.
Askara semakin tidak selera makan mendengar Anin masih tetap dengan pekerjaannya.
"Aku sudah bilang berhenti dari pekerjaanmu itu, kenapa kau tidak pernah mendengarkan ku " sinis Askara.
Anin tidak suka di paksa seperti ini. netranya menatap Askara sejenak "karena hanya pekerjaan ini yang aku punya " jawab Anin tertunduk ,wajahnya berubah sedih.
"Setelah pernikahan ini benar-benar berakhir, itu artinya peran pak Askara sebagai suami juga berakhir. aku hanya tidak ingin hidup bergantung nantinya, dan waktu itu kurang dari sembilan bulan lagi".
Anin berusaha menahan air matanya
"Pak Askara mau menikahiku saja itu sudah lebih dari cukup, kau tau? hari demi hari yang ku lewati setelah tau bahwa aku mengandung, setiap harinya aku gunakan untuk belajar ikhlas menerima, dan sampai hari ini pun aku masih terus belajar agar tiba saatnya nanti aku bisa benar-benar ikhlas.
Anin tersenyum menyembunyikan kesedihan hatinya.
"Satu lagi" ujar Anin menatap Askara.
"Pak Askara tidak perlu terbebani dengan kehadiranku, hiduplah seperti tidak ada aku di samping pak Askara, dengan begitu kau tidak perlu menghindari ku hingga harus berakhir seperti ini"
Nyess... hati Anin mencolos, hatinya terasa sakit dan berat mengatakan itu semua.
Namun ini lebih baik, sedikit beban fikirannya menguap setelah menyampaikan kegundahan hatinya.
Askara hanya diam mendengarkan. perasaannya berubah tak karuan sekarang.
"Kau sudah selesai dengan semua ucapanmu, kalau begitu pergilah bekerja seperti yang kau mau" usirnya tak memikirkan perasaan sedih Anin, Askara seperti tak tersentuh sama sekali.
Manusia macam apa dia ini?
"kau tunggu apa lagi?" hardik Askara dengan suara dinginnya karena Anin masih di tempatnya.
Anin berdiri dari duduknya, meletakkan sarapan Askara yang belum di sentuhnya sama sekali.
__ADS_1
Lagi pula untuk apa berlama-lama di samping Askara, jika pria itu tak pernah mengharapkan kehadirannya.