
Usai mendengar semua cerita Mami Sandra tadi mengenai hubungan Dalila dan Askara, kini Anin menjadi kefikiran.
Anin duduk termenung memikirkan semuanya. dia teringat perkataan Grace, teman kuliah Askara sewaktu di Inggris yang bertemu dengannya di restorant waktu itu. Grace mengatakan Dalila sebentar lagi akan kembali.
Saat itu Anin juga bisa melihat raut wajah senang di wajah Askara.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Anin tanyakan tadi mengenai hubungan Dalila dan Askara, namun itu urung Anin lakukan karena takut hatinya tidak siap jika harus menerima kenyataan lebih dari yang di ceritakan Mami Sandra tadi.
Bagi Anin, untuk meminimalisir rasa sakit hatinya adalah dengan tidak berusaha mencari tau hal yang seharusnya tidak perlu di ketahui. karena baginya, mengetahui hubungan Askara yang begitu dekat dengan Dalila saja sudah sukses membuat rasa cemburu di hatinya.
Pintu kamar terbuka menampilkan Askara yang baru saja pulang dari kantor.
Kehadiran Askara bahkan tidak mengusik lamunan Anin.
"Siapkan air hangat untukku, aku ingin mandi" ujar Askara melepas kancing lengan kemejanya.
Namun tidak ada jawaban dari Anin.
Askara menatap Anin yang ternyata tidak menggubrisnya. gadis itu justru asik melamun.
"Anin" panggil Askara. Nihil, Anin masih tidak menyadarinya.
"Embun Anindira" panggil Askara lebih keras lagi membuat Anin tersentak kaget.
"Eh, Iyya Mas ada apa?" tanya Anin tersadar dari lamunannya.
"Kau ini sedang memikirkan apa?, sedari tadi aku mengajakmu bicara tapi tidak di respon". hardik Askara yang badannya sudah sangat lelah.
"Maaf Mas" sesal Anin "Tadi Mas Askara butuh apa, biar aku siapkan" lanjut Anin.
"Siapkan aku air hangat, aku ingin mandi" ujar Askara dengan sisa kekesalannya.
"Tunggu Mas" Anin kemudian memasuki kamar mandi untuk menyiapkan air hangat buat Askara.
Askara melempar asal tubuhnya pada sofa yang diduduki Anin tadi.
Tak lama Anin keluar dari dalam kamar mandi "Airnya sudah siap Mas" ujar Anin seperti tak bersemangat.
Askara memperhatikan Anin yang tidak seperti biasanya. sebenarnya apa yang sedang Anin fikirkan, apalagi tadi dia memergoki Anin sedang melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Askara
"Memangnya aku kenapa?" jawab anin lesu.
"Kau seperti sedang banyak fikiran, apa ini soal ibumu?". tanya Askara menebak.
Anin menggeleng "Bukan, sudahlah lupakan saja. ini hanya karena pengaruh hormon kehamilan jadi fikiranku tidak jelas" jawab Anin asal.
"Mas Askara cepatlah mandi, keburu airnya dingin" ujar Anin, mood nya tidak baik saat ini apalagi jika harus berbicara dengan Askara.
Askara berdiri dari duduknya tanpa bertanya lagi, dia memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Anin mendudukkan tubuhnya kembali ke sofa, dia mengusap wajahnya "Kenapa aku jadi kepikiran begini" gusar Anin, dia akui bayangan tentang Askara dan Dalila di masa lalu terus memenuhi fikirannya.
"Lebih baik aku turun" dari pada fikirannya ke mana-mana lebih baik Anin turun dan membuat susu untuknya.
Di ruang tengah ternyata ada Mami Sandra sedang menonton tv.
"Mami belum tidur?" tanya Anin karena biasanya Sandra sudah berada di kamar jam segini.
"Mami nggak bisa tidur, kau sendiri?" tanya Sandra balik.
"Anin mau ke dapur, mau bikin susu hangat"
"Kau tunggu di sini saja, biar bi Ratih yang buatkan"
"Tidak papa Mi. Biar Anin aja, lagian bikin susu nggak ribet, Anin tinggal ke dapur dulu yah Mi" ujar Anin.
"Iyya sayang" jawab Sandra melanjutkan menonton Tv.
Askara yang baru saja selesai mandi dan tidak melihat kehadiran Anin di kamar memutuskan untuk turun.
"Mana Anin ?" tanya Askara yang hanya mendapati Maminya seorang diri menonton Tv tanpa Anin .
"Ke dapur" jawab Sandra singkat karena matanya fokus pada sinetron azab di depannya.
Kaki Askara melangkah menuju dapur. terlihat Anin sedang membuat susu dengan posisi memunggunginya.
Anin sudah selesai, dia berbalik hendak ke ruang tengah bergabung dengan Mami Sandra.
"Astaga, sedang apa Mas Askara di situ" Anin terperanjak kaget saat melihat Askara berdiri di ambang pintu dapur dengan posisi kedua tangan di lipat. untung susu buatannya tidak tumpah.
"Kau sendiri sedang apa?" tanya balik Askara.
__ADS_1
"Aku sedang membuat susu" jawab Anin memperlihatkan gelas berisi susu di tangannya.
"Kenapa tidak menyuruh Bi Ratih, dan untuk apa kau ke dapur. Kau lupa? kau itu orang yang sangat ceroboh" Askara mengingat kejadian di apartemen waktu kaki Anin terkena tumpahan sup panas.
Anin memutar bola mata malas, Askara ini sangat lebay "Ini hanya membuat susu, kalo bisa buat sendiri kenapa harus menyusahkan orang lain"
"Karena itu memang tugas Bi Ratih, dia di gaji untuk melayani keluarga ini"
"Iyya aku tau Mas, tapi bi Ratih juga sudah tidur tidak enak membangunkannya hanya karena perkara membuat susu" ujar Anin karena memang ini sudah waktunya istirahat.
Askara mendengus kesal, Anin selalu saja membalas perkataannya.
"Mas, sendiri ngapain ke sini?" tanya Anin balik.
Askara tampak berfikir mencari alasan yang tepat karena memang tujuannya ke dapur adalah untuk mengecek Anin.
"Aku ingin minum" jawab Askara cepat.
"Mau aku ambilkan?" tawar Anin.
"Tidak perlu, kau temani saja Mami di ruang tengah" suruh Askara menetralkan kegugupannya.
"Ya sudah, aku tinggal dulu"
"Hemm".
Anin meninggalkan Askara yang sebenarnya hanya beralasan ingin mengambil minum.
Sedangkan di ruang tengah, Sandra sedang menggerutu karena kesal dengan sinetron yang di tontonnya.
"Mami kenapa marah-marah begitu?" tanya Anin terheran-heran, dia mengambil duduk ikut bergabung dengan Sandra.
"Mami kesal dengan model suami yang seperti itu Nin, masa dia selingkuh pas istrinya lagi hamil besar" ujar Sandra menggebu-gebu menunjuk ke arah TV berukuran 32 inch di depannya.
Anin menggelengkan kepalanya "Mi, itu cuman sinetron" ujar Anin mengingatkan.
"Di dunia nyata juga kadang bisa terjadi" ujar Sandra. "Kau temani Mami menonton yah" lanjut Sandra tidak ingin menonton sendiri.
"Iyya Mi" jawab Anin meskipun sebenarnya dia tidak tertarik.
Bersamaan dengan itu Askara juga baru kembali dari dapur. Askara melewati keduanya, matanya hanya melirik sekilas Sandra dan juga Anin yang tengah serius menonton.
"Askara kau mau kemana?. kemari sebentar" panggil Sandra pada Askara yang hendak menaiki tangga dan kembali ke kamarnya.
"Askara mau ke kamar, mau tidur" jawab Askara malas, Maminya pasti menyuruhnya bergabung untuk menonton sinetron yang tidak jelas itu.
"Mami mau bicara apa?" Askara buka suara saat sudah duduk di sofa.
"Mami ingin kalian berdua berangkat untuk babymoon sekalian kalian bulan madu" seru Sandra begitu antusias.
"Uhukk..uhukk..uhuk.." Anin yang tengah meminum susunya menjadi tersedak mendengar ucapan Sandra.
Sedangkan Askara dia sukses di buat terkejut oleh perkataan Maminya.
"Anin kau tidak papa?" Sandra menepuk-nepuk pelan punggung Anin karena batuknya belum juga mereda.
"Anin baik-baik aja kok Mi" jawab Anin setelah batuknya reda namun tidak dengan keterkejutannya.
Apa katanya? babymoon sekalian bulan madu? ya Tuhan, Mami Sandra idenya ada-ada saja.
"Bagaimana Askara, kau setuju dengan ide Mami?" tanya Sandra meminta pendapat Askara.
Anin melirik Askara yang mendapat pertanyaan dari Mami Sandra. Anin menunggu jawaban apa yang akan di berikan Askara.
"Aku sibuk, pekerjaan di kantor menumpuk" jawab Askara menolak.
Antara lega dan sedih saat Anin mendengar jawaban Askara.
Anin lega karena setidaknya dia tidak harus terjebak dalam kondisi yang canggung jika hanya pergi berdua dengan Askara, dia juga belum siap jika Askara meminta hak nya sebagai seorang suami nanti meskipun sebenarnya Askara sudah mengambil kesuciannya tapi itu karena sebuah insiden. tapi di satu sisi, Anin juga sedih karena ternyata Askara menolak untuk pergi bersamanya.
Perasaan Anin campur aduk kali ini.
"Kau itu selalu memikirkan pekerjaan, tinggalkan pekerjaanmu kali ini. serahkan semuanya pada Dito" ujar Sandra terdengar marah.
"Mi, Dito itu sekretaris sedangkan aku CEO perusahan. jadi jika aku meninggalkan kantor beberapa hari pasti keadaannya akan berbeda" jawab Askara terus mencari alasan agar tidak pergi berdua dengan Anin.
"Kau bahkan pernah meninggalkan perusahaan selama setahun dan siapa yang mengurus semua kekacauan di kantor? itu semua Dito yang mengurusnya". ujar Sandra mengungkit kembali masa-masa frustasi Askara saat di tinggal Dalila.
Skakmat.
Perkataan Sandra sukses membuat Askara terdiam dan mengingat kembali satu tahun masa kelam dalam hidupnya.
"Mami tidak perlu ungkit masa-masa itu" ujar Askara dingin.
__ADS_1
Anin bisa melihat dengan jelas raut wajah Askara yang menegang menahan marah. Anin tau, pasti Askara sedang mengingat saat di mana Dalila meninggalkannya.
Sepertinya perasaan itu masih tersimpan dengan baik di hati Askara. lagi-lagi Anin merasakan cemburu. Bahkan fisik Dalila tidak berada di sini tapi pengaruhnya masih sangat besar bagi Askara.
"Mami tidak mau tau, kalian berdua harus berangkat babymoon" putus Sandra tidak ingin di bantah.
"Mi..." seru Anin pelan "Mungkin lain kali saja. Mas Askara kan sudah bilang kalau dia lagi sibuk di kantor. lagi pula Anin juga kerja" Dengan hati-hati Anin memberi pengertian pada Sandra, Anin menyadari jika Askara sebenarnya tidak ingin pergi berdua dengannya.
Sandra menatap Anin dan Askara secara bergantian "Kalian berdua ternyata tidak sayang Mami". Sandra menatap tajam Askara yang duduk di depannya.
"Bukan begitu Mi, kita berdua sayang Mami apalagi Mas Askara. hanya saja kita berdua sedang sibuk jadi mungkin rencananya lain waktu saja" jawab Anin dengan cepat menepis pemikiran Sandra.
"Kalian berdua tidak perlu membuat alasan lagi, pokonya Mami kecewa, terutama pada kau Askara" marah Sandra yang tatapannya masih tertuju pada Askara.
Askara menatap mata Maminya yang menyiratkan kesedihan, dia paling tidak bisa jika melihat Maminya sedih.
"Oke...Mami atur saja, terserah. Askara mau tidur". ujar Askara kesal, dia kemudian berdiri dari duduknya meninggalkan Anin dan juga Maminya.
Jawaban Askara membuat Anin membulatkan matanya.
Askara mengiyakan permintaan Mami Sandra. jadi mereka akan benar-benar pergi berbulan madu layaknya pasangan yang saling mencintai?
Anin menatap kepergian Askara "Mas.." ujar Anin hendak berdiri menyusul Askara ke kamar.
"Tidak perlu di kejar, Askara memang begitu" ujar Sandra yang kini wajahnya berubah senang.
"Tapi Mi..."
"Sekarang sisa kau, Askara sudah setuju jadi kosongkan jadwalmu untuk berangkat bersama Askara. dua hari lagi kalian akan pergi". lagi-lagi Anin di buat terkejut, sepertinya mami Sandra sudah merencanakan ini jauh-jauh hari.
"Apa tidak terlalu cepat Mi?" tanya Anin belum siap karena dia tidak tau harus menggunakan alasan apa untuk meminta libur.
"Lebih cepat lebih baik kan" jawab Sandra.
"I....iiyaaa Mi" balas Anin ragu.
"Sekarang kamu kembali ke kamarmu istirahat, Mami juga sudah mengantuk" perintah Sandra yang di angguki oleh Anin.
Anin pun segera meninggalkan Sandra dan menaiki tangga menuju kamar Askara.
Anin berjalan memasuki kamar tidur, Askara sudah berbaring di atas di ranjang dengan memainkan ponselnya.
"Mas Askara kenapa mengiyakan permintaan Mami?" tanya Anin pasalnya ini adalah perjalanan yang hanya melibatkan mereka berdua.
Askara mengangkat wajahnya dari ponsel dan beralih menatap Anin.
"Bukannya itu yang Mami mau?, lagi pula menolak pun percuma" jawab Askara.
Anin diam, benar kata Askara. Mami Sandra tidak terima penolakan jadi percuma juga jika menolak.
"Matikan lampu, aku mau tidur" ujar Askara tidak ingin berdebat lagi.
"Kalau begitu selamat malam" ujar Anin, dia melangkah menuju sofa.
"Kau mau kemana?" tanya Askara saat Anin berjalan ke arah sofa yang biasa Anin tempati tidur.
"Mau tidur" jawab Anin, dia akan kembali tidur di sofa. kemarin dia tidur seranjang dengan Askara karena dia yang tertidur di balkon.
"Tidur di atas, sekalian kita latihan babymoonnya" ujar Askara menggoda Anin dengan tatapan jahil. Moodnya untuk menggoda Anin seketika muncul.
Anin membuka mata sempurna "Aku tidak mau, aku akan tetap tidur di sofa".
"Aku bilang tidur di atas" tekan Askara "Ohh..atau kau minta di gendong ke atas kasur?" tanya askara memicing, dia sudah menyibak selimutnya hendak berdiri.
"Mas Askara mau apa. diam di situ aku bisa naik sendiri" Anik buru-buru menaiki ranjang mengisi kasur kosong di samping Askara.
Anin meletakkan guling di tengah- tengah sebagai pembatas "Mas Askara jangan lewati batas ini" peringat Anin.
"Aku tidak janji, seseorang tidak sepenuhnya sadar kan saat tidur" balas Askara tersenyum jahil.
Benar juga, batin Anin.
"Aku tidak mau tau, pokoknya jangan lewati batas ini" peringat Anin kembali.
"Padahal aku sudah pernah melihat semuanya" gumam Askara membaringkan tubuhnya.
"Mas Askara bilang apa?" hardik Anin karena tidak mendengarnya terlalu jelas.
"Aku tidak bilang apa-apa" elak Askara.
"Ingat!" Anin kembali menekankan, dia ikut membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Askara.
Like
__ADS_1
komen
vote