
Beberapa kali Askara terlihat memijat pangkal hidungnya untuk tetap mempertahankan fokusnya pada berkas-berkas di depannya. tidak di pungkiri bahwa kondisi tubuhnya sedang tidak baik saat ini karena kekurangan waktu istirahat.
Askara juga kehilangan beberapa berat badannya serta penampilannya terlihat lusuh tak terawat. jangankan untuk merawat diri, bahkan mempunyai waktu untuk makan saja rasanya sangat susah.
Sekretaris Dito yang khawatir dengan keadaan Askara datang membawa sarapan karena beberapa waktu terakhir ini pola makan Askara sangat kacau.
"Tuan, saya membawa sarapan untuk anda". ujar sekretaris Dito meletakkan makanan yang dia pesan atas inisiatifnya sendiri.
"Letakkan saja di atas meja". sahut Askara tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di tangannya.
"Sebaiknya tuan langsung makan, mumpung makanannya juga masih hangat".
"Nanti saja, aku harus menyelesaikan pekerjaanku Dito, aku ingin ke rumah sakit siang ini". ya, Askara akan coba memberanikan diri untuk menemui Anin, dia tidak bisa membiarkan masalahnya terus berlarut-larut seperti ini.
"Tapi tuan, beberapa waktu terakhir ini pola makan tuan Askara tidak teratur. jangan sampai nanti kondisi tuan jadi drop".
"Aku masih kuat, Dito. jangan berfikir bahwa aku ini pria yang lemah, aku akan baik-baik saja kau tidak perlu khawatir".
"Baik-baik apanya tuan?, apa tuan pernah berdiri di depan cermin dan memperhatikan dengan seksama penampilan tuan Askara?, tubuh tuan Askara terlihat semakin kurus dan tak terurus, lalu apa itu yang bisa di katakan baik-baik saja? aku mohon tuan, tolong kali ini dengarkan aku". sekretaris Dito menunjukkan rasa pedulinya pada Askara karena prihatin melihat kondisi pria itu. bahkan sekretaris Dito yang terkenal dingin dan cuek justru baru saja mengomeli Askara untuk yang pertama kalinya.
Askara langsung meletakkan berkas di tangannya dan menatap wajah sekretaris Dito dengan kesal, "Sejak kapan kau berubah jadi bawel seperti ini?".
Sekretaris Dito langsung menunduk meminta maaf, "Saya hanya tidak ingin tuan Askara jatuh sakit, selama ini tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu memperbaiki hubungan tuan Askara dan nona Anin, jadi hanya perhatian ini yang bisa saya berikan".
Askara menghela nafas panjang, "Kalau begitu bawa ke sini makanannya". Askara akhirnya menerima sarapan yang di bawa oleh sekretaris Dito.
Dengan gerak cepat, sekretaris Dito membawa makanannya ke meja Askara.
"Sekarang makanannya sudah aku terima kan?, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu". titah Askara.
"Baik tuan". sekretaris Dito pun meninggalkan ruangan Askara.
*****
Dengan langkah lebar di sertai senyum yang terus terbit di bibirnya, Ken berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan sebuah bucket bunga di tangannya. niatnya hari ini dia akan menjenguk Anin.
Saat berada di dalam lift, Ken sempat memperbaiki penampilannya dan menatap dirinya lewat pantulan dinding lift. dalam hati Ken memuji penampilannya yang terlihat sempurna siang ini.
Pintu lift terbuka menandakan Ken sudah sampai di lantai tempat ruang rawat Anin.
Samar-samar Ken mendengar suara gelak tawa dari dalam ruangan Anin. pria itu pun perlahan menggeser pintu membuat sang empunya kamar menghentikan tawanya.
"H-hai, Nin". sapa Ken cukup canggung karena kedatangan dirinya, Anin jadi menghentikan tawanya, "Aku ganggu ya?". tanya Ken tidak enak.
__ADS_1
Anin dan Vivi saling pandang, "Engga kok, Ken. kamu ngga ganggu sama sekali". balas Anin.
Ken pun berjalan mendekat dan langsung menyerahkan kepada Anin bucket bunga yang di bawanya.
"Buat kamu, maaf baru bisa jenguk sekarang, pekerjaan aku cukup padat kemarin dan aku baru balik dari luar kota hari ini". ujar Ken masih memegang bunga tersebut karena Anin belum juga menerimanya.
"Untuk aku?". tanya Anin memastikan, wajahnya memperlihatkan ekspresi kebingungan.
Ken mengangguk sebagai jawaban.
Anin lalu menerima bunga tersebut untuk menghargai Ken meskipun sebenarnya dia agak canggung mengingat Ken pernah menaruh hati padanya. Anin tidak enak hati menolak karena pria itu langsung datang ke rumah sakit padahal baru pulang dari luar kota.
"Thanks, ya Ken". ujar Anin tersenyum.
"Oh ya, bagaimana keadaanmu?". tanya Ken basa-basi.
"Sudah lebih baik, mungkin besok sudah bisa pulang". tutur Anin yang sudah dua Minggu lamanya di rawat di rumah sakit.
Ken menghembuskan nafas lega, "Syukurlah, aku senang mendengarnya".
"Lalu bayimu bagaimana?". tanyanya lagi.
"Jendra kemungkinan masih harus tinggal". ungkap Anin.
"Makasih, Ken".
"Anin, sepertinya gue ngga bisa nganter Lo keliling taman deh, gue barusan dapat kabar dari grup kelas kalau hari ini ada kuliah, Lo ngga papa kan?". ujar Vivi yang tiba-tiba mendapat kabar bahwa ada kelas mendadak siang ini.
"Gue ngga papa kok, Lo hati-hati ya bawa mobilnya". ujar Anin harus mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan ke taman rumah sakit.
"Gue tinggal dulu ya. Ken, gue titip Anin ya". Vivi pun langsung bergegas menyisakan Anin dan Ken di ruangan tersebut.
"Kamu beneran mau keluar jalan-jalan?". tanya Ken selepas kepergian Vivi.
"Hemm, tadinya sih mau. cuman Vivi tiba-tiba ada kelas jadinya batal deh".
"Biar aku aja yang anter, gimana?". tawar Ken membuat Anin membulatkan matanya.
"Eh nggak usah, Ken. aku ngga mau ngerepotin kamu". tolak Anin tidak ingin terjebak dalam suasana canggung dengan jalan berdua bersama Ken.
"Sama sekali ngga ngerepotin kok, mumpung hari ini aku juga lagi free. dari pada kamu tinggal di kamar sendirian terus jadi bosan".
Anin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Udah, ayo". paksa Ken lagi dan mau tidak mau di setujui oleh Anin.
"Ya udah deh". setuju Anin akhirnya.
Anin pun perlahan turun dari tempat tidurnya, Ken hendak meraih tangan Anin untuk membantu wanita itu duduk ke kursi roda tapi di tolak oleh Anin dengan alasan dia bisa sendiri, jadilah Ken hanya membantu memegangi infus Anin. bagaimanapun Anin masih berstatus istri sah dari Askara, jadi dia sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan pria lain.
"Sudah siap?". tanya Ken memastikan setelah Anin duduk di atas kursi rodanya dan di balas anggukan oleh Anin.
Tepat saat Anin dan Ken akan memasuki lift, pintu lift juga terbuka dan betapa terkejutnya mereka melihat siapa yang muncul dari balik pintu lift, terutama Anin.
Pria yang beberapa hari terakhir ini dia hindari berdiri di dalam lift, begitupun dengan Askara terkejut melihat keberadaan Anin apalagi istrinya itu bersama dengan Ken.
Jika Anin melayangkan tatapan kebencian padanya, berbeda dengan Askara yang memancarkan kerinduan teramat dalam pada Anin.
"Anin". Askara berjalan mendekati Anin.
"Jangan mendekat!". sergah Anin dengan cepat, kilatan amarah terpancar di jelas di kedua matanya.
"Anin, aku ini suami mu". ujar Askara terdengar putus asa, Anin tidak mungkin benar-benar melupakannya seperti yang di katakan dokter Arga kan?.
"Kau bukan suamiku, aku sama sekali tidak mengenalmu. Ken, bawa aku balik ke kamarku". titah Anin pada Ken yang masih belum mengerti dengan situasi di hadapannya.
"Cepat Ken!". teriak Anin dengan air mata yang sudah luruh karena Ken sama sekali tidak mendengarkan perintahnya.
"I-iyya". Ken pun menurut, dia terjebak dalam situasi yang menurutnya membingungkan. pasalnya Ken belum mengetahui apa-apa tentang kondisi Anin pasca kecelakaan. apalagi Anin tadi sempat mengatakan bahwa dia tidak mengenal Askara.
Askara dengan cepat menahan tangan Ken yang mendorong kursi roda Anin.
"Mau kau bawa ke mana istriku?". tanya Askara menatap tajam Ken.
"Kau tidak dengar tadi, hah?, Anin tidak mengenalmu, jadi lebih baik kau pergi dari sini agar Anin bisa tenang". balas Ken melihat kondisi Anin yang mendadak seperti orang yang ketakutan.
Askara melepas paksa kedua tangan Ken dari kursi roda Anin, "Kau tidak punya hak untuk ikut campur di dalam urusan rumah tanggaku. jangan jadi parasit di sini yang mengambil keuntungan dari hubunganku dengan Anin yang sedang tidak baik". tekan Askara mendorong bahu Ken, pria itu sangat tidak menyukai kehadiran Ken yang di anggap akan mencari kesempatan di tengah retaknya hubungan rumah tangganya dengan Anin.
"Ken, bawa orang ini pergi, aku mohon". Anin terus memohon pada Ken agar membawa Askara pergi.
"Aku tidak akan membiarkan pria itu mendekati mu Anin, aku ini suamimu, aku ayah dari anakmu Anin". teriak Askara frustasi karena terus menerus menerima penolakan dari Anin.
Anin refleks menutup telinganya mendengar teriakan Askara, air matanya semakin tidak bisa di bendung.
"Kau jangan membentak Anin, sialan". geram Ken menarik kerah kemeja kantor Askara.
Askara menyingkirkan tangan Ken dari pakaiannya, "Pergi dari sini sebelum aku menghajar mu". peringat Askara
__ADS_1
Askara lalu mengambil alih mendorong kursi roda Anin dan membawa istrinya itu kembali ke kamar rawatnya. tidak peduli bahwa Anin terus meminta agar Askara berhenti bahkan istrinya itu terus memanggil nama Ken. bagaimana perasaan Askara tidak hancur saat ini, jika istri yang sangat di cintainya justru meneriakkan nama pria lain tepat di depan matanya.