
Sesampainya di mansion, Askara langsung menuju kamarnya namun tidak menemukan keberadaan Anin. Tempat tidur pun masih rapi tanda tidak tersentuh sama sekali padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. kemana Anin pergi? biasanya wanita itu sudah tidur jam segini.
Askara mulai panik dengan mencari Anin ke seluruh penjuru kamar, termasuk kamar mandi dan juga ruang ganti, tapi hasilnya tetap sama Anin tidak ada di mana-mana.
"Anin". Askara kembali turun sambil terus meneriakkan nama Anin.
Askara membuka satu per satu ruangan yang ada di mansion, termasuk ruang kerjanya lalu beralih ke kamar tamu, dan Anin tetap tidak ada.
"Sial". umpat Askara. "Anin, kau di mana?". Askara terus melangkahkan kakinya ke arah dapur.
Hanya ada Mia dan juga bi Ratih yang baru saja selesai beberes.
"Selamat malam, tuan. apa tuan perlu sesuatu?". Mia yang melihat kehadiran Askara bertanya apa pria itu butuh sesuatu hingga masuk sampai ke dapur.
"Mia, di mana Anin? kenapa aku tidak menemukannya di mana-mana?". tanya Askara tanpa menjawab pertanyaan Mia.
Mia dan Bi Ratih saling pandang, heran mendengar pertanyaan Askara.
"Saya kira tuan Askara sudah tau". ujar Bi Ratih membuat Askara menaikkan satu alisnya.
"Tau soal apa, bi?".
"Non Anin ke Bandung tadi sore bareng non Vivi. katanya, ibu non Anin masuk rumah sakit, terus non Anin sendiri yang bilang kalau tuan Askara sudah tau dan akan menyusul nanti". terang bi Ratih membuat Askara terdiam sebentar.
Ada rasa emosi yang membuncah di hati Askara saat tau Anin ke Bandung tanpa mengabarinya bahkan berbohong pada orang-orang bahwa dia sudah tau. tangan Askara terkepal kemudian meninggalkan Mia dan Bi Ratih tanpa sepatah kata.
Askara kembali naik ke kamarnya, satu yang harus dia cek yaitu pakaian Anin, dan benar saja, Anin membawa cukup banyak pakaiannya. apa Anin akan tinggal di sana lebih lama? atau wanita itu berniat meninggalkannya karena marah atas perlakuannya di rumah sakit tadi.
"Arrgh... bodoh..bodoh.. kau tidak boleh pergi meninggalkanku, Anin". Askara mulai ketakutan dengan segala fikiran negatifnya sendiri.
Askara mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi sekretaris Dito.
"Siapkan pesawat untukku sekarang juga, aku akan ke Bandung menyusul Anin, dan jangan lupa cari alamat rumah sakit tempat ibu Anin di rawat". tanpa menunggu jawaban dari sekretaris Dito, Askara mematikan ponselnya.
****
Setelah membersihkan diri dan makan malam bersama Vivi. Anin duduk di ruang tengah sambil memandangi foto keluarganya. ada potret Ayah, Ibu, dan serta dirinya di dalam frame berukuran 10R itu. sungguh keluarga yang harmonis kala melihat senyum ibu serta ayahnya yang mengembang di dalam foto tersebut.
__ADS_1
Anin mengusap gambar wajah ayah dan ibunya secara bergantian, tanpa sadar air matanya mulai jatuh kembali. di dalam rumah yang berukuran tidak terlalu luas itu, Anin menghabiskan waktu kecilnya dan tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya. tapi itu dulu, sekarang hidupnya rasanya hampa saat Risa tidak lagi mau melihat wajahnya.
"Nin, ini gue buatin susu buat, Lo". ujar Vivi yang datang dari arah dapur setelah membuat susu hamil untuk Anin.
"Ya, ampun Nin. Lo kenapa?". Vivi buru-buru meletakkan susu buatannya ke atas meja saat melihat Anin menangis sambil memeluk bingkai foto.
Vivi mendekap tubuh Anin yang bergetar hebat. "Lo kenapa, hemm?". tanya Vivi lembut.
"Gue bukan anak yang baik seperti yang ayah selalu bilang dulu, Vi. Gue udah bikin malu keluarga, bikin ibu sampai masuk rumah sakit. andai ayah masih hidup, dia juga pasti bakalan kecewa sama gue, Vi. anak yang selalu dia banggakan berharap akan mengangkat derajat keluarga, justru mengecewakannya". lirih Anin sambil terus memeluk foto keluarganya.
"Lo jangan ngomong kayak gitu, Nin. Lo akan tetap jadi anak terbaik ayah Lubis. dia juga pasti tau apa yang selama ini Lo alami. justru Lo adalah anaknya yang paling kuat karena bisa menjalani semuanya dengan ikhlas. Andaikan ayah Lubis masih hidup, dia pasti akan bangga sama putrinya yang begitu kuat ini, gue yakin itu". hibur Vivi menenangkan Anin.
Anin semakin terisak. "Tetep aja Vi, masa depan gue sekarang udah nggak jelas. kuliah gue udah stop, kehidupan rumah tangga gue pun nggak jelas ke depannya bakalan kayak gimana. kenapa cobaan gue rasanya terlalu berat, Vi".
"Nin, liat gue". Vivi menangkup wajah Anin dengan kedua tangannya. "Lo nggak akan pernah sendiri buat jalanin hidup Lo ke depannya. ada gue, masih ada kak Ambar, kak Doni juga dan yang lainnya untuk bantuin Lo. kita nggak akan pernah ninggalin Lo sendiri. masa depan Lo belum berhenti sampai di sini, Nin. Lo jangan pernah ngerasa putus asa saat orang-orang di sekitar Lo masih punya rasa peduli terhadap Lo, janji sama gue untuk selalu kuat, Nin". ujar Vivi membuat Anin kembali sadar bahwa masih begitu banyak orang yang peduli terhadap dirinya.
"Maafin gue, Vi. gue udah ngerasa putus asa banget sampai-sampai gue lupa kalo masih banyak orang yang begitu peduli sama gue. thanks yah". ujar Anin serasa tersenyum meskipun air matanya masih mengalir di pipinya.
"Sekarang Lo harus berhenti untuk sedih, kasian bayi Lo nanti". Vivi mengusap perut Anin. " Iyya kan sayangnya onty, kamu pasti capek kan dengerin mama kamu nangis terus". Vivi mendekatkan wajahnya ke arah perut Anin sambil berbicara menirukan suara anak kecil, mengajak bayi di dalam perut Anin mengobrol.
Anin terkekeh melihat tingkah Vivi. "Lo ada-ada aja, deh".
"Sialan, Lo". Anin memukul lengan Vivi tapi tidak kencang.
"Ya udah, sekarang Lo minum susunya dulu. abis itu Lo istirahat. besok baru kita kita ke rumah sakit lagi".
"Semoga hati ibu udah mulai sedikit melunak yah, Vi". harap Anin.
"Gue yakin Nin, ibu Lo pasti bakalan maafin Lo. dia cuman butuh waktu aja untuk nerima semua ini, perlahan dia pasti akan mengerti, Lo jangan patah semangat".
"Thanks yah, Vi. Lo emang sahabat terbaik gue".
"Hemm.. kalo gue nggak baik, udah dari lama gue minta imbalan apalagi suami Lo tajir melintir". ceplos Vivi membuat Anin kembali mengingat Askara. kira-kira sedang apa suaminya itu di rumah sakit? apa dia benar-benar akan menemani Dalila sepanjang malam?.
"Nin.. kok Lo ngelamun?".
Anin tersentak. "Eh.. enggak kok. gue cuman ngerasa capek aja seharian ini. kalau gitu gue duluan ke kamar yah, Vi. Lo jangan tidur larut malam". peringat Anin.
__ADS_1
"Iyya, tapi Lo nggak mau aktifin nomor Lo, Nin?, ponsel Lo kan udah ganti yang baru". tanya Vivi karena Anin sudah menerima ponsel pemberian Askara. tadi sore saat mengantar Anin ke mansion, Mia memberikan ponsel yang di bawa oleh sekretaris Dito padanya, tapi karena insiden Dalila tadi pagi, sekretaris Dito meninggalkannya begitu saja di sofa tanpa sempat memberikannya pada Anin, karena harus membawa Dalila ke rumah sakit.
"Enggak. besok aja". jawab Anin singkat, dia sama sekali tidak ingin mengaktifkan nomornya karena tau Askara pasti akan menghubunginya. itupun jika memang Askara mengingatnya karena pasti suaminya itu sibuk dengan Dalila.
Vivi tidak bertanya lagi karena Anin sudah masuk ke kamarnya.
Selepas kepergian Anin ke kamar, ponsel Vivi berdering, sebuah panggilan masuk dari sekretaris Dito. Vivi melihat ke arah kamar sebentar, sepertinya Anin sudah tidur. Vivi memutuskan untuk keluar ke teras rumah untuk menerima telefon dari sekretaris Dito.
"Ha___". ucapan Vivi terpotong
"Nona Vivi di mana sekarang?". tanya sekretaris Dito to the point', memotong perkataan Vivi.
Vivi menjauhkan ponselnya sebentar sambil mendelik kesal. "Aku kan sudah bilang, tidak usah bicara formal jika sedang berdua". ujar Vivi setelah mendekatkan ponselnya kembali ke telinga.
"Tuan Askara sedang berada di Bandung, tolong kirim alamat rumah nona Anin sekarang juga".
"Apa?". pekik Vivi tidak percaya sambil menutup mulutnya takut Anin mendengarnya berteriak. "Kau gila hah? kenapa Askara bisa ada di sini?".
"Cepat katakan, Nona. kami tidak punya banyak waktu". desak sekretaris Dito.
Vivi memutar bola mata malas. "Meskipun aku memberitahumu sekarang, tetap saja kau dan Askara tidak bisa kemari. ini sudah tengah malam, dan Anin sudah istirahat. fisik dan batin Anin lelah karena bos mu yang brengsek itu". Vivi masih sempat-sempatnya memaki Askara lewat telfon.
"Kalau begitu saya tunggu alamatnya, Nona Vivi. selamat malam". sekretaris Dito mematikan sambungan telfon secara sepihak.
Vivi menatap jengkel layar ponselnya karena Sekretaris Dito mematikannya telfonnya begitu saja. "Benar-benar menyebalkan. Tuan dan sekretaris nya sama-sama sinting, suka seenaknya". kesal Vivi namun tak urung mengetik alamat rumah Anin lalu mengirimnya pada sekretaris Dito.
"Bagaimana Dito? kau sudah dapat alamat rumah Anin?". tanya Askara yang bersender di samping mobilnya. saat ini mereka sedang berada di depan gedung rumah sakit tempat ibu Anin di rawat.
Askara dan sekretaris Dito langsung menuju rumah sakit tempat ibu Anin di rawat setelah sampai di Bandung, tapi atas inisiatif sekretaris Dito mereka tidak langsung masuk karena sudah tengah malam, tidak ada seorang pembesuk yang akan di izinkan masuk jika mengunjungi pasien tengah malam begini, jadilah sekretaris Dito menelfon Vivi untuk menanyakan keberadaan Anin yang ternyata sudah berada di rumahnya.
"Iyya tuan, barusan nona Vivi mengirim alamatnya. Nona Anin berada di rumahnya dan sudah tidur, tuan. lebih baik kita mencari hotel terdekat di sini untuk bermalam, sepertinya bukan keputusan yang tepat jika kita memaksa mendatangi rumah nona Anin larut malam begini. kata nona Vivi tafi di telfon, nona Anin lelah fisik dan juga batin". sekretaris Dito sengaja mengatakan dua kalimat terakhirnya dengan sedikit penekanan.
"Kenapa menatapku seperti itu? sudah berani kau sekarang?". cercah Askara karena dia tau sekretaris Dito tengah menyindirnya.
Sekretaris Dito menundukkan kepalanya. "Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu".
"Sudahlah, sekarang kita cari hotel. aku ingin istirahat, aku capek". ujar Askara memasuki mobil lebih dulu.
__ADS_1
"Anda saja merasa capek, tuan. apalagi nona Anin". gumam sekretaris Dito kemudian ikut menyusul Askara masuk ke dalam mobil.