
Askara hanya bisa memandangi wajah pucat Anin yang terbaring lemah dengan selang infus menancap di tangan kanannya.
Berkali-kali Askara mencium punggung tangan Anin yang bebas dari selang infus.
"Maafkan aku" dua kata yang meluncur dari bibir Askara menggambarkan rasa penyesalannya pada Anin.
"Maafkan atas perlakuan ku selama ini" lanjut Askara dengan wajah sedihnya.
"Selama ini aku selalu berlaku kasar padamu, sering membentakmu bahkan tidak pernah peduli dengan perasaanmu".
"Aku bukan suami yang baik Anin, aku mohon bangunlah dan pukul aku sepuasmu atas segala perlakuan burukku" ujar Askara dengan suara tertahan.
Matanya sudah memerah menahan tangis. bayangan akan kehilangan Anin dan juga calon anaknya membuat Askara sadar bahwa mereka berarti di hidupnya.
"Maaf karena sejak awal aku meragukan kehadirannya" ujar Askara mengelus perut Anin yang berada di balik selimut.
"Sekarang aku sadar, aku takut kehilangan kalian. cepatlah buka matamu, dan lihat betapa kuatnya anak kita bertahan" Askara terus berbicara seolah Anin yang sedang terbaring itu bisa mendengar permintaan maafnya.
Pintu kamar rawat Anin terbuka, sekretaris Dito datang dengan membawa paperbag di tangannya.
Askara buru-buru menyeka ujung matanya lewat punggung tangan, dia tidak ingin terlihat sedang bersedih apalagi di depan Dito.
"Permisi tuan" ujar sekretaris Dito.
"Ada apa Dito?"
"Saya membawa makanan untuk tuan, sejak tadi tuan Askara belum makan dan ini sudah lewat dari jam makan siang" ujar sekretaris Dito.
"Letakkan saja di atas meja" perintah Askara yang masih setia di samping Anin.
"Baik tuan" jawab Sekretaris Dito berjalan meletakkan makanan tersebut di atas meja.
"Kau pulanglah, Dito " ujar Askara
"Saya masih ingin di sini menemani tuan Askara sampai nona Anin bangun, takutnya tuan Askara juga membutuhkan bantuan saya" ucap sekretaris Dito.
"Tidak perlu Dito, sekarang kau pulang ke mansion dan beri tahu Mami mengenai kondisi Anin. tapi ingat, beri tahu Mami pelan-pelan agar tidak terkejut, kau tau kan Mami punya riwayat jantung" ujar Askara.
"Baik tuan, ada lagi yang tuan Askara butuhkan sebelum saya pergi?" tanya sekretaris Dito.
"Suruh bi Ratih untuk menyiapkan baju ganti untukku dan juga Anin"
"Baik tuan, saya permisi"
"Hemm".
Sekretaris Dito kemudian meninggalkan ruang rawat Anin.
__ADS_1
Selepas kepergian sekretaris Dito, Askara kembali memandangi wajah Anin.
Tangan Askara terangkat menyingkirkan anak-anak rambut Anin yang terlihat berantakan.
****
Setelah pulang dari rumah sakit, Vivi memutuskan untuk kembali ke toko kue karena harus menjelaskan apa yang terjadi pada Anin sebelum semuanya berfikir yang macam-macam tentang Anin.
Kini Vivi sedang berada di dalam ruangan Ambar. dia duduk di kelilingi oleh Ambar, Doni, dan juga Fika. dia sudah seperti layaknya seorang terdakwa yang tengah di sidang.
"Vi, sekarang jelasin sama kakak, apa yang sebenarnya terjadi pada Anin" ujar Ambar menuntut penjelasan tentang kondisi Anin yang bisa hamil tanpa sepengetahuannya.
Ambar mengetahuinya dari cerita Doni selepas pulang dari rumah sakit.
Vivi menarik nafas dalam sebelum akhirnya dia menceritakan asal mula kejadian yang menimpa Anin hingga membuat gadis itu mengandung.
Ambar dan Fika merasa prihatin mendengar semua cerita Vivi , terlebih Doni yang kini merasa sangat bersalah karena secara tidak langsung, ini semua terjadi karena dirinya.
"Ini semua bukan salah kak Doni" ujar Vivi saat melihat Doni mendadak diam setelah mendengar semua ceritanya.
"Jelas ini salahku Vi, andai saja waktu itu aku tidak meminta Anin menggantikan ku, semua ini tidak akan terjadi" sesal Doni.
"Kak Doni jangan bicara seperti itu. Anin pasti akan merasa sedih kalau kak Doni menyalahkan diri kakak. kita tidak pernah tau kak apa yang akan terjadi pada hidup kita ke depannya, begitupun dengan Anin waktu itu" jelas Vivi.
"Anin sudah berbesar hati menerima keadaannya sekarang, karena Anin menganggap ini adalah jalan hidupnya yang di sudah di takdirkan" ujar Vivi tidak ingin Doni terus menerus merasa bersalah.
"Vivi benar Don, kau jangan membebani dirimu apalagi harus membebani Anin dengan rasa bersalahmu itu". Ujar Ambar agar Doni tidak terlalu menjadikannya beban.
"Aku setuju dengan kak Ambar, Lagi pula Anin dapat suaminya orang tajir kok, hehehe" ujar Vivi mencoba mencairkan suasana.
"Tajir belum tentu menjamin kebahagiaan kan?, lagi pula mereka menikah atas dasar terpaksa karena anak yang di kandung Anin" ujar Doni.
"Kak Doni jangan bicara seperti itu dong, kita harus do'ain Anin supaya bahagia sama pernikahannya. meskipun mereka awalnya dua orang asing yang tidak saling kenal lalu di satukan dalam pernikahan, tapi nantinya pasti akan tumbuh benih-benih cinta di antara mereka" ujar Fika yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, bagaimanapun Anin sudah seperti keluarga untuknya.
"Kakak bukannya mendoakan yang jelek-jelek, tapi kita berbicara fakta aja. bisa saja dia hanya menikahi Anin lalu meninggalkannya setelah anak itu lahir, kan banyak tuh di cerita-cerita sinetron" ujar Doni.
"Itu mah cuman fikiran kak Doni aja, kebanyakan nonton sinetron sih" ucap Vivi padahal dalam hati dia membenarkan semua dugaan Doni.
"Sudah..sudah.. kalian kenapa jadi bahas hal kayak ginian sih. mending balik kerja lagi, nanti setelah keadaan Anin membaik kita sama-sama jenguk dia di rumah sakit" Ambar mencoba menghentikan perdebatan antara Vivi, Doni, dan juga Fika.
"Iyya kak" jawab ketiganya kompak.
*****
Anin yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit, perlahan membuka matanya.
Langit-langit kamar rumah sakit menjadi hal pertama yang Anin lihat saat pertama kali membuka mata.
__ADS_1
Mata Anin melirik sekeliling ruangan tempatnya berada. ini bukanlah kamarnya.
"Maaf sekali lagi pak, sekretaris saya akan menjadwalkan kembali pertemuan kita" ujar Askara pada seseorang di balik sambungan telfon.
Suara itu, suara yang sangat Anin kenali.
"Mas..?" ujar Anin dengan suara lemahnya saat melihat punggung Askara, pria itu sedang berdiri di dekat jendela tengah berbicara dengan seseorang di balik telefon.
Askara yang baru saja selesai menerima telefon dari salah satu rekan bisnisnya, kini wajahnya berubah senang saat melihat Anin sudah sadar.
Askara segera mendekat ke arah ranjang tempat Anin terbaring.
"Anin.. kau sudah sadar?, ada yang sakit?" tanya Askara antusias.
"Aku haus, mas" ujar Anin dengan suara seraknya.
Dengan gerakan cepat, Askara segera meraih segelas air putih yang terletak di nakas dekat tempat tidur Anin.
"Biar aku bantu" ujar Askara menekan tombol di dekat tempat tidur Anin agar posisinya lebih tinggi hingga memudahkan Anin untuk minum dan tidak tersedak nantinya.
"Sudah cukup?" tanya Askara saat Anin menenggak setengah air di gelas menggunakan sedotan.
"Sudah mas, terimakasih" ujar Anin masih dengan suara lemas.
Askara kembali meletakkan air di tempat semula.
Anin menatap selang infus yang tertancap di tangan kanannya, dia mulai mengingat apa yang terjadi pada dirinya sehingga harus berakhir di tempat ini.
Perasaan Anin berubah gelisah "Mas, bagaimana kandunganku?, tidak terjadi apa-apa kan? tadi aku banyak keluar darah...hiks..hiks. hiks..ini salahku mas, tidak bisa menjaga dia dengan baik" racau Anin merasa takut kehilangan janinnya.
"Anin..Anin.. liat aku" ujar Askara menenangkan Anin.
"Anak kita baik-baik saja, okey... kau jangan khawatir. dokter Ziva bisa menangani semuanya dengan baik" ujar Askara menangkup wajah Anin.
Tatapan mata mereka beradu, perasaan Anin menghangat saat Askara menyebut kata 'Anak kita'.
"Mas Askara tidak bohong kan?" tanya Anin memastikan walau dengan air mata yang masih mengalir.
Askara mengangguk dan segera memeluk tubuh Anin "Anak kita anak yang kuat, Nin" ujar Askara dengan suara lembut. mengelus lembut rambut Anin.
Anin yang sudah terduduk di atas tempat tidurnya, semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Askara, seolah-olah takut Askara pergi meninggalkannya.
"Mas Askara jangan ke mana-mana" pinta Anin.
"Aku tidak akan ke mana-mana, aku akan tetap di sini bersamamu" ujar Askara mencium pucuk kepala Anin. Memberi ketenangan untuk istrinya.
**Hay guyss.. author baru update lagi nih.
__ADS_1
maklum kemarin hari netasnya author , Alhamdulillah banyak ngasih suprise.
Sekarang kita back ke cerita author lagi yah**..