
Anin baru saja menerima kiriman paket sesuai yang sudah di janjikan oleh Askara sebelum berangkat ke kantor tadi.
Bersama dengan rasa penasarannya, Anin melangkah menuju ruang tengah untuk membuka apa isi dari kotak tersebut.
"Apa itu, sayang?". tanya Mami Sandra melihat kotak berukuran cukup besar yang baru saja Anin letakkan di atas meja.
"Kiriman dari Mas Askara, Mi. Anin juga belum tau isinya apa soalnya baru mau di buka". balas Anin.
Mami Sandra yang memang punya sifat kepo akut ikut duduk di samping Anin, "Ayo buka, Nin. Mami penasaran mau liat isinya apaan".
Anin pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena ternyata Mami Sandra jauh lebih penasaran dari pada dirinya.
Tangan Anin bergerak melepas pita berwarna pink yang mengikat sekaligus menjadi hiasan dari box tersebut.
Mata Anin membulat dengan mulut yang sedikit terbuka saat melihat isi kotak yang di kirim oleh suaminya.
Ternyata Askara mengiriminya sebuah dress yang begitu cantik. Anin mengambil dan membaca kartu yang berada di atas lipatan baju tersebut.
*Aku tidak sabar ingin melihat betapa cantiknya istriku mengenakan gaun ini nanti malam. i love you Embun Anindira.
Tertanda, Suami tampanmu
Pipi Anin sukses bersemu merah saat membaca pesan yang tertulis di kartu tersebut.
Mami Sandra yang benar-benar kepo ikut mengintip isi tulisan di kartu yang berada di tangan Anin.
"Cie yang nanti malam mau jalan keluar". goda Mami Sandra saat tau bahwa gaun tersebut akan Anin kenakan untuk nanti malam.
"Memangnya mau kemana sih, Nin?."
"Anin juga belum tau, Mi. kata Mas Askara ini kejutan jadi dia nggak ngasih tau Anin mau ke mana dan akan ada acara apa".
__ADS_1
Mami Sandra mengangguk paham, "Kalau begitu Mami akan panggil pihak salon untuk datang ke sini untuk membuatmu rileks sebelum acara nanti malam. pokoknya malam ini kau akan terlihat sangat cantik seperti pesan Askara di kartu".
Kali ini yang terlihat lebih antusias adalah Mami Sandra sedangkan Anin hanya pasrah menerima semua apa yang akan di lakukan oleh ibu mertuanya itu.
***
Dalila berjalan memasuki gedung perusahaan Askara dengan langkah yang cukup tergesa-gesa, hingga mengharuskannya berkali-kali memperbaiki letak tas yang menyampir di bahunya karena melorot.
"Di mana Askara?". tanya Dalila saat tak sengaja berpapasan dengan sekretaris Dito.
"Tuan Askara tidak bisa di ganggu, dia sedang menyelesaikan pekerjaannya karena ingin pulang cepat. di tambah lagi tuan Askara sedang sibuk mempersiapkan kejutan untuk nona Anin nanti malam". tutur sekretaris Dito karena Askara sudah berpesan untuk tidak membiarkan satu orang pun mengganggu nya hari ini agar pekerjaannya selesai tepat waktu dan bisa menjemput Anin.
"Aku tidak peduli, biarkan aku menemuinya Dito". Dalila bersikeras untuk menemui Askara namun di halangi oleh sekretaris Dito.
"Anda tidak bisa seenaknya nona, jika anda menemui tuan Askara, dia pasti akan marah padamu. lebih baik nona Dalila pulang saja".
"Kau dengar aku sama sekali tidak peduli". Dalila mendorong sekretaris Dito yang menghalangi jalannya sejak tadi.
"Nona Dalila". panggil Sekretaris Dito namun percuma karena Dalila sudah berlari memasuki lift.
Benar yang di katakan oleh Sekretaris Dito, bahwa Askara memang benar-benar sibuk, terlihat dari tumpukan berkas-berkas yang berada di atas mejanya. bahkan penampilan Askara tidak se-rapi biasanya. jas kantor berada di atas sofa yang sepertinya di lempar asal , dasi yang sudah melonggar serta kemeja yang di gulung sebatas siku.
"Ada apa lagi kau kembali Dito, bukankah aku sudah mengatakan dengan jelas bahwa aku tidak ingin di ganggu". ujar Askara tapi matanya tetap fokus membaca berkas-berkas yang ada di depannya.
"Kenapa memangnya kalau aku mengganggu". ujar Dalila menatap datar Askara.
Gerakan tangan Askara terhenti, dia mengangkat kepalanya karena bukan suara sekretaris Dito yang dia dengar, melainkan suara Dalila.
"Siapa yang membiarkanmu masuk?". jika biasanya Askara akan menyambut Dalila dengan senang hati, justru kini pria itu merasa biasa saja melihat kehadiran Dalila bahkan dia tidak ingin bertemu.
"Itu tidak penting karena nyatanya aku tetap di sini meskipun kau melarangku untuk masuk".
__ADS_1
"Aku sedang tidak punya banyak waktu Dalila, jika ada yang ingin kau sampaikan lain hari saja. aku harus pulang lebih cepat". bahkan kini Askara menolak untuk berbicara dengan Dalila dan itu membuat wanita itu merasa semakin sakit, pria yang dulu begitu menggilai nya dan memandanginya dengan penuh cinta tak lagi merasa senang dengan kehadirannya.
"Karena kau sedang menyiapkan kejutan untuk Anin?". tanya Dalila dengan sorot mata redup.
Askara menghela nafas panjang lalu beranjak dari kursinya untuk mendekati Dalila.
"Sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak bertemu karena aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi antara aku dan Anin. aku ingin menjaga perasaan Anin agar tidak lagi terluka, apalagi dia akan segera melahirkan, bisakah kau mengerti itu Dalila?".
"Kau tidak mengerti perasaanku Askara, aku tentu tidak bisa melakukan hal itu. kenapa sekarang kau berubah padahal dulunya duniamu hanya berporos padaku Askara". Dalila menangis tersedu-sedu.
"Kau jahat Askara, kau jahat". Dalila memukul dada bidang Askara berkali-kali untuk meluapkan rasa kekecewaannya.
Askara menggenggam tangan Dalila agar wanita itu berhenti memukulinya. "Lihat aku, Dalila". titah Askara.
Dalila menuruti perintah Askara dan kini keduanya saling bertatapan. mulut Dalila masih bungkam karena menunggu Askara melanjutkan perkataannya.
"Mungkin dulunya kau adalah satu-satunya orang yang berhasil menempati hatiku, berhasil menarik perhatianku, dan kau benar dulunya duniaku hanya berpusat padamu, tapi itu dulu Dalila. sekarang rasa itu sudah hilang dan berganti, aku mencintai Anin dan tidak mungkin mengkhianati nya. jadi aku mohon hiduplah dengan kenyataan itu Dalila, aku yakin banyak pria di luar sana yang jauh lebih baik dariku". tutur Askara meskipun dia sendiri berat mengatakan hal tersebut tapi tidak ada cara lain untuk menyadarkan Dalila.
"Tapi yang aku mau cuma kamu Askara". ujar Dalila menahan sesak di dadanya.
Askara menggeleng karena apa yang Dalila inginkan yakni dirinya sudah tidak mungkin lagi.
"Kau berhak bahagia Dalila, tapi tidak dengan aku".
"Enggak Askara, sampai kapanpun hanya kau yang menjadi pemilik hati aku. aku tidak peduli menjadi wanita yang serakah ataupun egois, ceraikan Anin dan kembali bersamaku, aku yakin perasaanmu masih sama seperti dulu". Dalila semakin menggila.
"Terima kenyataan Dalila". teriak Askara geram, "Kalau kau masih ingin aku anggap sebagai seorang teman maka kau harus bisa menghormati keputusanku". lanjut Askara dengan emosi yang meluap-luap.
Tubuh Dalila bergetar karena Askara baru saja berteriak dan membentaknya.
"Kau jahat Askara, kau jahat". racau Dalila menatap Askara dengan tatapan terluka sekaligus kecewa.
__ADS_1
Dalila perlahan mundur, berbalik lalu berlari meninggalkan ruangan Askara.
Askara menjambak rambutnya frustasi. "Sial". umpat Askara melihat Dalila yang pergi dengan tatapan penuh luka.