Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 132


__ADS_3

"Dokter... suster..tolong siapapun itu, tolong teman saya". teriak Vivi sambil terus menangis dan meminta pertolongan setelah sampai di rumah sakit dengan Anin yang masih berada di atas gendongan Sekretaris Dito.


Tak lama akhirnya beberapa perawat rumah sakit datang dengan mendorong brankar.


Vivi tak henti-hentinya menangis sambil terus menggenggam erat tangan Anin yang terasa dingin. Melihat Anin yang berbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit dengan mata yang terpejam, membuat hatinya terasa hancur takut akan kehilangan Anin.


"Anin, jangan tinggalin gue..hiks..hiks.. Lo harus bertahan, Nin". Vivi terus berbicara seolah Anin bisa mendengarnya.


Ken yang baru saja mengantar dokter Ziva tak sengaja melihat Vivi dan juga sekretaris Dito, dan yang membuat Ken terkejut adalah saat dirinya melihat kondisi Anin yang sudah bersimbah darah.


"Vivi, ada apa ini?, apa yang terjadi dengan Anin?". tanya Ken dengan raut wajah cemas.


"Ken, Ken..Anin kecelakaan". tangis Vivi semakin pecah karena mengingat kembali bagaimana tubuh Anin yang terlempar karena tabrakan tersebut.


"Apa?". pekik Ken tak percaya, "Kenapa bisa, Vi?".


"Aku nggak punya waktu buat jelasin semuanya Ken". saat ini Vivi lebih fokus pada kondisi Anin.


"Kalian semua cukup sampai di sini". dokter Ziva menahan langkah Vivi yang hendak ikut masuk ke dalam ruang tindakan, "Dan tolong hubungi pihak keluarga".


"Kak". seru Ken dengan wajah khawatir nya.


"Kau tenang saja Ken, kakak akan lakukan yang terbaik". ujar dokter Ziva sebelum menutup pintu, dia tau bahwa adiknya pasti sangat khawatir melihat kondisi Anin.


Selepas pintu ruangan tertutup, Vivi kembali menangis dalam pelukan sekretaris Dito.

__ADS_1


"Anin pasti selamat kan, Dit?". lirih Vivi dengan tubuh bergetar, "Mereka pasti selamat, kan?". Vivi tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan Anin.


Sekretaris Dito mengelus lembut punggung Vivi.


"Nona Anin wanita yang kuat, dia pasti bisa bertahan dan melewati semuanya". Sekretaris Dito menenangkan sang kekasih, dia tau betul apa yang saat ini Vivi rasakan, karena Anin adalah salah satu orang yang paling berharga dalam hidupnya.


"Aku harus menghubungi nyonya Sandra, dia harus tau kondisi nona Anin".


Vivi melepas pelukannya sambil mengangguk. sekretaris Dito lalu menjauh beberapa meter dari Vivi dan Ken, selain menghubungi Mami Sandra, dia juga harus menghubungi Askara dan memberi tahu akan kondisi Anin.


"Vi, bisa jelasin apa yang sebenarnya terjadi?, kenapa Anin bisa kecelakaan?". tanya Ken selepas kepergian sekretaris Dito, dia tidak bisa membendung rasa penasaran nya.


Vivi mendudukkan tubuhnya yang masih terasa lemas karena syok, dan mengusap wajahnya yang sembab karena terus menerus menangis. bibirnya yang masih bergetar perlahan menceritakan kejadian hingga membuat Anin mengalami kecelakaan.


Sepanjang Vivi bercerita, kedua tangan Ken yang berada di atas kedua lututnya ikut terkepal karena merasa emosi.


Askara mendapati Vivi, sekretaris Dito, dan juga Ken di depan ruang tindakan. dia pun menghampiri ketiganya.


"Bagaimana keadaan Anin?". tanya Askara langsung pada Vivi dengan raut wajah panik, cemas, dan juga khawatir.


Melihat kehadiran Askara membuat Vivi langsung berdiri dari tempat duduknya. matanya menatap nyalang Askara.


'Plak' satu tamparan yang begitu keras mendarat dengan mulus di wajah tampan Askara. Dalila yang berada tepat di belakang Askara menutup mulutnya karena terkejut melihat Askara di tampar oleh Vivi.


Sedangkan sekretaris Dito, hanya bisa memejamkan matanya setelah melihat sang kekasih menampar Askara, sudah dia duga hal ini pasti akan terjadi.

__ADS_1


"Sekarang kau baru khawatir dengan keadaan Anin?, bukankah ini yang kau mau?, kau pernah bilang kan lebih baik Anin yang berbaring tidak berdaya menggantikan Dalila saat wanita itu masuk rumah sakit hanya karena mengalami alergi, kau ingat kan Askara? dan sekarang kau patut bersyukur karena apa yang harapkan akhirnya terwujud, di dalam sana Anin sedang bertaruh nyawa berjuang bersama anakmu, dan semua ini adalah berkat do'a yang keluar dari mulut brengsekmu itu". teriak Vivi memukuli dada Askara seperti orang kesetanan.


Askara hanya bisa pasrah membiarkan Vivi melakukan apapun terhadap dirinya.


"Aku tanya padamu Askara, apa selama ini kau sudah menjadi suami yang baik untuk Anin?, apa kau pernah sedikitpun peduli pada Anin, apa kau pernah mengerti perasaan Anin saat kau kembali mengecewakan nya?, aku tanya Askara apa kau pernah melakukan itu semua?". suara kemarahan Vivi memenuhi lorong rumah sakit, Vivi tidak lagi bisa membendung air matanya, rasa sedih dan juga amarahnya terhadap sikap Askara yang seenaknya pada Anin sudah tidak bisa dia tahan lagi.


"Kau pria paling brengsek yang pernah aku kenal, kau jahat, kau tidak pantas untuk Anin". Vivi terus menerus memukuli Askara yang hanya berdiri mematung dengan air mata yang berlinang.


"Maafkan aku". dua kata yang berhasil lolos dari mulut Askara malah membuat Vivi semakin geram.


"Maafmu tidak akan mengembalikan keadaan Anin, sialan". Vivi terus menarik kerah baju Askara sambil menangis.


Sekretaris Dito yang melihat Vivi semakin tidak terkendali, akhirnya menghentikan Vivi dengan menarik kedua tangan kekasihnya lalu menggenggamnya.


"Kendalikan emosimu". peringat sekretaris Dito.


Vivi yang masih di kuasai kabut amarah lalu menatap nyalang Dalila yang bersembunyi di balik punggung Askara.


"Kau.. berani sekali kau datang kemari". Vivi hendak menerjang Dalila namun kembali di tahan oleh Dito.


"Jaga sikapmu, ini rumah sakit. kau juga bisa dalam masalah jika melakukan pemukulan". tekan sekretaris Dito.


"Harga dirimu begitu rendah, Dalila. seharusnya kau sadar, tidak sepantasnya seorang wanita hadir dalam kehidupan seorang laki-laki yang sudah beristri. kau tidak lebih dari seorang cabe, cabe yang nyelip di hubungan orang lain, kau wanita yang menjijikan". ujar Vivi menatap tajam Dalila yang terdiam mendengar perkataannya.


"Lepaskan aku, Dito". Vivi menghentakkan tangannya hingga terlepas. dan kembali beralih pada Askara. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Anin dan juga anaknya, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu, Askara".

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Vivi beranjak dari sana karena ingin menenangkan dirinya. dan saat melewati Dalila, Vivi berhenti sejenak dan membisikkan sesuatu.


"Si paling berhak bahagia". sindir Vivi dengan wajah sinisnya, kemudian akhirnya benar-benar berlalu setelah berhasil membuat Dalila diam tak berkutik.


__ADS_2