Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 53


__ADS_3

Selepas pertengkaran hebat antara dirinya dan Askara tadi, Anin memilih mengurung diri di kamar merenungi apa yang terjadi hari ini.


Anin menyalakan ponselnya, terlihat dari lock screennya sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi Askara belum juga kembali selepas kepergiannya tadi siang.


Anin turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Lewat pantulan cermin di kamar mandi, Anin memperhatikan penampilannya yang terlihat kacau. Matanya yang memerah dengan wajah yang sembab karena terus menerus menangis, terlihat mengerikan.


Setelah membasuh wajahnya, Anin mengeringkannya dengan handuk,.


Lalu gadis itu memutuskan menuju ruang ganti, mengemasi barang-barangnya ke koper. Anin tidak ingin membuat Askara menunggu nantinya.


Saat sedang berkemas, bel resort berbunyi. Anin mengerutkan keningnya, tumben sekali Askara membunyikan bel, biasanya dia akan langsung masuk.


Anin akhirnya memutuskan untuk turun, tapi sebelum itu dia kembali memastikan penampilannya lewat cermin yang berada di ruang ganti.


Setidaknya penampilannya sudah terlihat lebih baik di bandingkan tadi.


Bel resort kembali berbunyi.


"Yaaa...tunggu sebentar" teriak Anin yang berjalan menuruni anak tangga.


Anin membuka pintu resort yang sama sekali tidak terkunci.


"Selamat sore nyonya Anin" sapa seorang pria.


Ternyata yang datang bukanlah Askara, melainkan pria yang menjemput Anin dan Askara di bandara saat pertama kali tiba di Bali, serta yang mengantar koper keduanya ke resort.


Anin menatap heran kehadiran pria di depannya "Sore pak, maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Anin.


"Sebelumnya perkenankan saya untuk memperkenalkan diri, saya pak Sam yang di tugaskan oleh tuan Askara menjemput Nyonya Anin menuju bandara" jelas pak Sam yang mendapat perintah dari Askara menjemput Anin di resort.


Alis Anin bertaut "Tapi suami saya belum pulang pak" ujar Anin.


"Sesuai dengan pesan tuan Askara, nyonya Anin akan pulang ke Jakarta seorang diri" ujar pak Sam.


Anin di buat terkejut dengan penyataan pak Sam.


"Tunggu..tunggu.. tapi kenapa saya harus pulang ke Jakarta sendirian, mana mas Askara?" tanya Anin bingung.


"Maaf nyonya, tapi untuk itu saya sendiri tidak tau. karena saya hanya di tugaskan oleh tuan Askara untuk menjemput Nyonya Anin dan menyampaikan pesan tadi, selebihnya tuan Askara tidak mengatakan apapun lagi nyonya" jelas pak Sam.


Anin terdiam, tidak banyak bertanya lagi.


Kini dia mengerti, Askara sepertinya masih sangat marah dan menghindari untuk bertemu dengannya.


"Baik pak, tunggu di sini sebentar. masih ada sisa barang yang belum saya kemas"


"Silahkan nyonya. jika sudah siap, beritahu saya agar membawa koper nyonya Anin ke bawah"


"Iyya pak"


Anin menutup kembali pintu resort, menetralkan perasaannya dengan menarik nafas dalam agar dia tidak merasa sedih. dia segera bergegas kembali ke atas untuk mengemasi sisa barangnya.


Dengan perasaan sedih, Anin memasukkan sisa pakaiannya ke dalam koper. Askara begitu tega padanya membiarkan dia pulang ke Jakarta seorang diri.


Sebelum benar-benar meninggalkan tempat ini, Anin menatap lekat kamar yang menjadi saksi bisu percintaan panasnya dengan Askara.


Di bawah cahaya yang temaram, Anin dapat melihat wajah Askara yang tersenyum lembut padanya saat mereka melakukan penyatuan.


Anin menyeka air mata yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


Tidak ingin berlama-lama, Anin menyeret kopernya keluar dari kamar tersebut.


Anin menuruni anak tangga, meninggalkan kopernya di ambang pintu kamar karena pak Sam yang akan mengambilnya.


"Pak saya minta tolong yah, kopernya ada di atas" ujar Anin pada pak Sam


"Baik nyonya" pak Sam segera ke atas untuk mengambil koper Anin.


Anin menatap sekeliling ruangan resort untuk yang terakhir kalinya. dia kira hubungannya dengan Askara akan membaik setelah ini. tapi kenyataan yang ada justru berbanding terbalik.


"Nyonya, kita berangkat sekarang?" tanya pak Sam membuat Anin tersentak.


"Iyya pak" balas Anin memaksakan senyumnya.


Dengan langkah berat, Anin meninggalkan resort dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan.


Apalagi saat Anin menatap pantai tempat mereka melakukan candle light dinner semalam.


Tempat di mana Askara berjanji untuk saling membahagiakan.


"Mari nyonya" pak Sam membukakan pintu mobil untuk Anin setelah memasukkan koper Anin ke bagasi.


"Terimakasih pak"


Pak Sam pun memasuki mobil, kemudian melaju meninggalkan resort.


Sejauh mobil melaju, Anin hanya menatap keluar jendela mobil dengan tatapan kosong.


Beberapa pertanyaan mencuak di kepalanya, di mana Askara sekarang? kenapa tega melakukan hal ini padanya yang sedang mengandung.


Lagi-lagi air mata Anin menetes, dia dengan cepat menyekanya. menghembuskan nafas kasar agar perasaannya membaik.


*****


Konsep bar dan restoran dengan area kolam renang yang terletak di tepi pantai. Bisa atau tidak berenang, tempat ini memang sedang marak di bali serta menjadi standar kekinian bagi anak muda zaman sekarang yang sedang liburan ke bali.


Menjelang sore seperti ini, banyak tamu yang datang mengincar pemandangan matahari terbenam. kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian renang, memperlihatkan lekuk tubuh mereka.


"Ngapain Lo nyusul gue ke sini?" tanya dokter Arga menyodorkan minuman untuk Askara. bukan alkohol ataupun sejenisnya, tapi hanya minuman biasa.


Tadinya dokter Arga cukup kaget melihat kedatangan Askara ke sini, karena menurut perkiraannya seharusnya sore ini Askara sudah kembali ke Jakarta bersama Anin.


"Gue berantem sama Anin" jawab Askara to the point.


Setelah membawa mobil tanpa arah, Askara memutuskan menyusul Arga ke tempat ini.


Satu alis dokter Arga terangkat "Berantem?, bukannya tadi kalian baik-baik aja?"


"Iyya, tapi itu sebelum ketemu sama mulut ember Lo" ujar Askara menahan kesal.


"Tunggu dulu..maksud Lo karena perkataan gue tadi? emangnya Anin tau cewek yang gue maksud?" tanya dokter Arga.


Askara mengangguk "Anin sepertinya uda lama tau soal Dalila, mungkin aja Mami gue yang cerita" ujar Askara terdengar putus asa.


Orang pertama yang Askara curigai adalah Maminya, karena cuma maminya yang berani mengungkit masa lalunya pada Anin.


"Terus, sekarang Anin di mana?"


"Mungkin udah berangkat ke bandara, gue udah nyuruh pak Sam buat jemput dia di resort" jelas Askara.


"Bego' ". hardik dokter Arga "Jadi Lo nyuruh Anin pulang duluan ke Jakarta sendirian?" tanya dokter Arga tak percaya.

__ADS_1


"Mau gimana lagi, gue rasanya belum siap ketemu sama dia. apalagi setelah perlakuan gue tadi, jujur gue nggak sengaja berlaku kasar sama Anin, gue terlalu emosi tadi" jelas Askara merasa frustasi.


Hatinya di penuhi rasa penyesalan sekarang.


Dokter Arga mengusap wajahnya kasar "Astaga Askara, gue masih nggak habis fikir sama Lo. kenapa sih sampai sekarang Lo masih belum bisa move on dari Dalila. dia itu jauh di negeri orang buat ngejer cita-citanya"


"Gue pun kalo jadi Anin akan merasa sakit hati, kalau tau perasaan suaminya masih tertinggal untuk cewek lain". lanjut dokter Arga.


"Untuk apa Anin sakit hati, pernikahan kita cuman untuk jangka setahun sampai anak itu lahir, jadi nggak mungkin Anin pake perasaan" ujar Askara.


"Yang kayak gini nih, yang nggak gue suka dari Lo. seorang Askara bisa dengan sukses membangun bisnis besar dengan kecerdasannya, tapi terlalu bodoh untuk mengerti dan peka terhadap perasaan wanita" ujar dokter Arga menohok.


"Maksud Lo apaan?, Lo ngatain gue?" ujar Askara tidak terima.


"Sekarang dengerin gue, perasaan marah Anin itu pasti beralasan. bukan hanya karena status dia sebagai istri Lo, tapi ada hal yang nggak Lo sadari, yaitu karena Anin mulai cinta sama Lo". jelas dokter Arga.


Askara terdiam mendengar penjelasan dokter Arga. apa Iyya Anin mulai jatuh cinta padanya?


"Tau apa Lo soal perasaan cewek, kalau Lo sendiri aja masih suka gonta-ganti pacar. itu kan secara nggak langsung Lo udah mainin perasaan mereka" ujar Askara merasa tidak percaya dengan statement dokter Arga.


Bagaimana bisa seorang playboy memberi nasehat tentang percintaan di saat kehidupan cintanya pun tidak jelas, begitu kira-kira fikir Askara.


"Yaelah... justru karena track record gue selama ini, makanya gue paham dan tau perasaan cewek-cewek. lagian lebih baik punya suami yang mantan playboy tapi tobat dari pada punya suami yang good attitude tapi akhirnya berubah brengsek, kaya Lo" sindir dokter Arga tertawa renyah.


Hanya dia yang berani membuat Askara kesal.


Askara memutar bola mata malas.


"Seharusnya Lo jangan jadi dokter umum, tapi jadi Arga Megantara spesialis masalah percintaan, itu lebih cocok buat Lo" ujar Askara membalas perkataan dokter Arga.


"Ya udah sih kalo Lo nggak percaya. tapi yang gue liat, cara natap Anin ke Lo itu beda. Penuh kehangatan, lagi pula Anin itu wanita yang baik menurut gue, yaa...termasuk tipe gue juga sih" seloroh dokter Arga membuat Askara menatapnya tajam.


"Berani Lo deketin istri gue, nih bagian Lo" tangan Askara terangkat, memperlihatkan kepalan tangannya pada Arga.


Dokter Arga refleks menjauhkan wajahnya.


"Wih, pawangnya Anin bikin ngeri boss" ujar dokter Arga bergidik ngeri, namun sedetik kemudian tertawa.


Askara menenggak minumannya, menatap lurus ke depan suasana beach club yang mulai rame.


"Gue mau cabut" ujar Askara setelah minumannya habis.


"Cepet amat, nggak sampai mabok dulu? di sini banyak yang bahenol pula" setan dalam diri Arga bangkit, berusaha menggoda Askara dengan tampan menyebalkannya.


"Enggak" jawab Askara cepat "Gue ada penerbangan nanti malam"


Askara tidak mungkin pulang ke Jakarta dalam keadaan mabuk.


"Ya udah hati-hati, salam yah buat Anin" ujar dokter Arga mengedipkan mata.


"Gue nggak bakalan nyampein salam Lo sama istri gue, yang ada Lo yang gue buat wassalam dari dunia ini kalau berani deketin istri gue" ancam Askara begitu posesif, entah kenapa dia merasa tidak suka jika Arga ingin mendekati Anin.


Ancaman Askara justru malah membuat dokter Arga terkekeh.


Askara sendiri tidak habis fikir melihat sikap Arga yang tidak pernah berubah, bisa-bisanya dia menjadi seorang dokter padahal julukan sang Casanova melekat erat pada dirinya selama ini.


Askara yakin, pasti ada salah satu pasien Arga yang berhasil menjadi korban mulut manis pria itu.


Masih semangat nggak sama cerita author?


Tapi kok like, komen, dan vote nya kendor?

__ADS_1


Bikin author semangat update dong readers.


__ADS_2