
Anin mencoba melupakan kejadian kemarin malam saat sekretaris Dito menyambangi rumahnya atas perintah Askara. Anin lebih memilih menikmati perannya sebagai ibu baru dengan fokus memberikan semua yang terbaik untuk Jendra.
Pagi ini, Anin mengajak jendra mengobrol sambil melepas satu per satu kancing baju yang di kenakan oleh putranya itu
"Bunda buka bajunya dulu ya, sayang. pagi ini Jendra harus jemur supaya badannya sehat ya, nak". ujar Anin tersenyum menatap binar mata Jendra yang terlihat begitu bersih dan bening.
Anin hampir selesai melepas semua pakaian Jendra, tapi suara ketukan pintu dari luar membuat Anin mengehentikan gerakan tangannya.
"Iyya sebentar". teriak Anin dari dalam, "Bunda tinggal sebentar ya, nak". pamitnya pada Jendra yang dengan antengnya tidur di atas stroller bayi pemberian Vivi.
Anin bergegas menuju pintu utama, karena hanya tersisa dirinya dan juga Jendra di rumah jadilah dia yang harus membuka pintu. Bu Risa sedang pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan dapur yang sudah habis sedangkan Vivi sudah pamit pagi-pagi sekali karena ada kuliah pagi.
"Selamat pagi, Bu". sapa seorang pria yang umurnya terlihat lebih tua dari Anin saat pintu terbuka.
__ADS_1
"Pagi, kamu kurir yang saya telfon tadi ya?". tebak Anin langsung setelah memperhatikan seragam kerja pria tersebut yang berasal dari salah satu kantor pengiriman ekspres yang dia hubungi tadi pagi.
"Betul, Bu".
"Tunggu sebentar ya, paketnya saya ambil dulu". Anin lalu kembali melangkah masuk ke dalam rumah, menghampiri Jendra yang masih anteng di atas strollernya dan kebetulan paket yang dia maksud berada di atas meja dekat stroller Jendra.
Anin menatap amplop coklat berukuran besar yang kini berada di tangannya kemudian beralih menatap Jendra. Helaan nafas berat terdengar meluncur dari bibir Anin, ini adalah keputusan yang sudah dia pertimbangkan baik-baik.
"Tolong berkasnya di antar langsung ke alamat yang tertera ya, pak". ujar Anin menyerahkan amplop coklat tersebut.
"Siap, Bu. kalau begitu saya pamit dulu".
"Iyya".
__ADS_1
Suasana hati Anin mendadak gamang, kakinya masih setia berdiri di ambang pintu rumahnya. matanya memandangi punggung kurir yang mulai menjauh tapi pikirannya melayang entah kemana. tentang keputusan yang menurutnya terbaik, Anin ingin menyudahi semua penderitaannya selama ini dan ingin hidup dengan tenang bersama Jendra. bahkan Anin sudah memikirkan akan kembali ke Bandung, ke kota kelahirannya tempat di mana banyak kenangan masa kecilnya. Anin ingin hidup dengan kesederhanaan di sana bersama Jendra tapi setelah semua urusannya dan Askara benar-benar sudah selesai.
Anin kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, menguatkan fisik dan batinnya bahwa inilah jalan yang sudah di takdirkan dan harus dia tempuh.
Setelah menjemur Jendra kurang lebih 10 menit, Anin kembali masuk kerumah memandikan Jendra lalu menidurkannya, kebiasaan bayi sehabis mandi dan minum susu sudah pasti langsung tidur.
Saat Jendra sudah tertidur, Anin tidak lantas ikut bermalas-malasan, dia mencari apa yang saja yang bisa di kerjakan untuk sekedar mengusir rasa bosan apalagi Bu Risa belum pulang dari pasar, jadilah Anin memilih membereskan rumah dengan menata barang-barang yang mungkin bergeser sedikit dari tempatnya serta menyapu lantai yang belum sempat di sapu oleh Bu Risa tadi pagi.
Suara pintu di ketuk kembali terdengar dari luar, Anin lalu meletakkan sapu yang berada di tangannya dan berjalan untuk membuka pintu, sepertinya Bu Risa sudah pulang dari pasar.
Namun ternyata perkiraan Anin salah, saat yang dia harapkan pulang adalah Bu Risa, justru yang berdiri di depannya saat ini adalah orang yang paling tidak dia harapkan kehadirannya, justru kebencian sudah tertanam berakar-akar di hatinya pada wanita di depannya saat ini.
"Mau apa kau ke sini?". suara Anin terdengar ketus hingga dapat membuat wanita di hadapannya sadar bahwa kehadirannya sangat tidak di harapkan oleh Anin.
__ADS_1