Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 65


__ADS_3

Setelah dokter Ziva melakukan observasi atas kondisi Anin, hari ini Anin sudah di perbolehkan untuk pulang.


Dengan catatan, Anin masih harus menggunakan kursi roda untuk beraktifitas.


Anin sudah berganti pakaian di bantu oleh Vivi yang pagi-pagi sekali sudah datang saat mendapat kabar Anin akan keluar dari rumah sakit.


"Sudah siap untuk pulang?" tanya Askara yang hanya mengenakan pakaian santainya.


"Siap mas, udah kangen banget sama rumah" ujar Anin dengan wajah senangnya.


"Vi, barang-barang Anin sudah siap? nggak ada yang ketinggalan?" tanya Askara.


"Udah, nggak ada yang ketinggalan kok. udah di masukin semua" ujar Vivi layaknya seorang asisten hari ini.


Tak lama sekretaris Dito datang.


Sama halnya dengan Askara. sekretaris Dito hanya mengenakan pakaian santai.


Celana jeans panjang di padukan dengan kaos.


Vivi sempat terpana melihat penampilan sekretaris Dito yang tampak berbeda hari ini, tanpa jas yang biasa melekat di tubuhnya.


Kebetulan hari ini memang hari libur, jadi Askara dan sekretaris Dito tidak masuk kantor.


"Tuan, mobil sudah siap" lapor sekretaris Dito.


"Baik, kau berangkat bersama Vivi. biar aku dengan Anin. kebetulan Vivi tidak membawa mobil hari ini" terang Askara membuat Vivi dan sekretaris Dito saling menatap.


"Gue bareng kalian aja" jawab Vivi cepat. dia tidak ingin satu mobil dengan sekretaris Dito.


"Memangnya kenapa? sekretaris Dito kosong kok" ujar Anin.


Vivi memasang wajah masam "Bukan begitu_


"Aku dan Anin jalan duluan" Askara memotong dengan cepat perkataan Vivi.


Mendorong kursi roda Anin menyusuri koridor rumah sakit.


Vivi mendengus kesal, niat hati ingin jauh dari sekretaris Dito, tapi ada saja kesempatan yang mengharuskan mereka kembali dekat.


Dengan menghentakkan kaki kesal, mau tidak mau Vivi ikut menyusul sekretaris Dito yang sudah berjalan meninggalkannya lebih dulu mengikuti Askara dan Anin.


Sepanjang perjalanan pulang. Anin tak hentinya tersenyum karena akhirnya dia bisa kembali pulang ka mansion setelah beberapa hari berada di rumah sakit.


Anin menurunkan sedikit jendela kaca mobil, membiarkan angin masuk menerpa wajahnya.


Askara hanya tersenyum kecil melihat tingkah Anin sembari kembali fokus menyetir.


Dua mobil yang sama-sama di kendarai oleh Askara dan juga sekretaris Dito, terlihat memasuki halaman mansion setelah menempuh perjalanan beberapa menit.


Sandra, bi Ratih, dan juga pak Hilman terlihat sudah menunggu di depan pintu mansion untuk menyambut kepulangan Anin dari rumah sakit.


Askara turun lebih dulu membukakan pintu untuk Anin.


"Pak, tolong ambilkan kursi roda Anin di bagasi mobil" titah Askara pada pak Hilman.

__ADS_1


"Baik tuan"


Askara membantu mengangkat tubuh Anin dan mendudukkannya di kursi roda.


"Welcome home sayang" sambut Sandra dengan wajah cerahnya. akhirnya Anin sudah kembali ke rumah.


"Selamat datang kembali di rumah non" sambut bi Ratih tak kalah senangnya.


"Terima kasih Mi, bi Ratih" balas Anin tersenyum.


"Ayo masuk, Mami sudah siapkan makanan yang banyak hari ini untuk menyambut kepulangan Anin" ajak Sandra.


"Dito, Vivi... ayo..kita makan sama-sama di dalam" tak lupa Sandra juga mengajak sekretaris Dito dan juga Vivi.


"Iyya Tante... makasih" balas Vivi dengan seulas senyum.


"Maaf nyonya besar, tapi sepertinya hari ini saya tidak bisa ikut bergabung. saya harus mengunjungi ibu saya" ucap Dito dengan sopan.


Sandra menatap Dito, begitupun dengan Askara. mereka mengerti kebiasaan Dito, bahwa sudah waktunya mengunjungi ibunya di saat libur seperti ini.


"Baiklah, aku mengerti. kalau begitu hati-hati, sampaikan salam ku pada ibumu" ujar Sandra.


"Terimakasih nyonya besar".


"Ya sudah, kita masuk yuk.. keburu makanannya dingin" ajak Sandra.


Askara mendorong kursi roda Anin memasuki mansion.


Vivi yang hendak ikut masuk, langkahnya jadi terhenti karena tangannya di cekal oleh sekretaris Dito.


"Apaan sih? lepasin". Vivi berusaha menyingkirkan tangan Dito.


Sekretaris Dito mengabaikan permintaan Vivi, terus menarik tangan gadis itu masuk ke dalam mobil.


"Dasar cowok sinting" hardik Vivi saat Dito menutup pintu mobil.


"Kau mau bawa aku ke mana hah?" tanya Vivi dengan nada marah saat Dito sudah masuk ke dalam mobil.


"Kau masih punya hutang padaku" ujar sekretaris Dito menyalakan mesin mobilnya.


"Hutang apaan?"


"Kau masih punya hutang saat di cafe, sekarang aku menagihnya"


Vivi terdiam, dia ingat waktu sekretaris Dito membantunya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya di cafe.


"Seharusnya kau mengatakan itu sejak tadi, tidak perlu menarikku seperti ini" gerutu Vivi.


Sekretaris Dito tidak menanggapi kekesalan Vivi, dia terus melajukan mobilnya menuju tempat tujuannya.


Di ruang makan, Anin mencari keberadaan Vivi yang tiba-tiba menghilang.


"Mas, Vivi mana?, kan harusnya ikut kita makan" tanya Anin.


Askara mengangkat bahunya "Aku tidak tau, mungkin pergi bersama Dito"

__ADS_1


"Masa Iyya sih, tapi mereka pergi ke mana?"


"Mungkin di ajak Dito menemui ibunya" balas Sandra menuangkan nasi di piring Askara.


"Tidak perlu fikirkan Vivi dan Dito. mereka itu sudah sama-sama dewasa. lebih baik kau makan, katanya kangen masakan rumah" ujar Askara.


"Benar kata Askara, lebih baik kau fokus pada kondisimu, makan yang banyak supaya calon cucu Mami makin kuat" timpal Sandra.


"Iyya Mi". meskipun cemas, namun Anin tidak banyak bertanya lagi.


Vivi pasti aman bersama sekretaris Dito.


Di dalam mobil yang terus berjalan, Vivi menyandarkan tubuhnya sambil melipat kedua tangannya dengan wajah kesal.


Dito bisa melihat dengan jelas, namun lebih memilih diam dan fokus menyetir.


"Sebenarnya kita mau ke mana sih?, kalo cuman pengen di traktir makan, kita bisa berhenti di restorant" gerutu Vivi, pasalnya sedari tadi mereka melewati beberapa restorant namun sekretaris Dito tak kunjung berhenti.


"Siapa bilang kita akan makan"


"Lalu? kalau tidak makan, kita mau ke mana?" kesal Vivi.


"Bertemu ibuku"


"Kenapa harus mengajakku?" Vivi tidak terima.


"Bisakah kau diam. kau mengangguku yang tengah fokus menyetir"


Vivi mencebikkan bibirnya. namun tetap mengikuti perintah sekretaris Dito untuk diam.


Mobil yang di kendarai sekretaris Dito semakin menjauh dari kota Jakarta.


Memasuki area pedesaan yang terletak di ujung ibu kota. tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta.


Vivi semakin di buat bingung, kemana sebenarnya sekretaris Dito membawanya.


"Turun, kita sudah sampai" ujar sekretaris Dito saat mobil berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana.


"Ini rumah siapa?" tanya Vivi saat turun dari mobil


"Milik orang tuaku" jawab Dito berdiri di samping Vivi.


Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari rumah tersebut menyambut kedatangan Dito dan juga Vivi.


"Nak Dito, baru sampai?" tanya wanita tersebut. dia adalah Rima, bibi' dari sekretaris Dito.


"Iyya Bi'" jawab Sekretaris Dito mencium punggung tangan Bi Rima.


Bi Rima menyadari kali ini Dito tidak datang sendiri. dia bersama wanita cantik yang terlihat sedikit bingung melihat interaksi mereka.


"Siapa gadis cantik ini, Dit?" tanya bi Rima penasaran.


Matanya tampak meneliti penampilan Vivi. sepertinya dia juga berasal dari kota terlihat dari pakaian yang di kenakan oleh Vivi.


"Dia pacar Dito, bi" ucap sekretaris Dito santai.

__ADS_1


Vivi yang mendengar pengakuan dari sekretaris Dito membulatkan mata terkejut. tanpa angin tanpa hujan, sekretaris Dito mengakuinya sebagai pacar di depan wanita yang belum Vivi kenal siapa.


__ADS_2