
Anin berjalan perlahan menyusuri lahan luas dengan hamparan rerumputan yang terlihat mulai meninggi. sorot mata wanita yang sedang mengandung tersebut penuh dengan rasa kecewa.
Kata-kata serta sikap Askara terlihat begitu jelas di matanya, bahwa suaminya itu masih begitu mencintai Dalila.
Anin duduk di atas rerumputan yang sudah mengering, tidak peduli bajunya akan kotor. dia kembali ke tempat itu lagi dengan luka yang sama dari orang yang sama pula.
Di tempat tersebut Anin bebas untuk menangis meluapkan segala rasa kecewa di hatinya tanpa takut di lihat oleh banyak orang.
"Ternyata rasanya sesakit ini". Anin tak pernah mengira bahwa mencintai Askara akan menyisakan rasa luka yang begitu mendalam.
Punggung Anin berguncang hebat, menangis begitu pilu di temani semilir angin sore. dia berharap rasa sedihnya terbawa pergi bersama angin yang berhembus.
Saat Anin larut dalam kesedihannya, dia tidak menyadari bahwa seseorang berdiri di dekatnya, memperhatikannya sedari tadi.
"Kenapa kita selalu bertemu di tempat ini dalam keadaan yang sama?, bukankah ini seperti Dejavu?." tanya orang tersebut yang tak lain adalah Ken. berdiri tepat di samping Anin yang sedang menenggelamkan kepala dalam lipatan kedua tangannya.
Anin mengangkat kepalanya saat mendengar suara seseorang yang begitu familiar di telinganya.
"Ken?". gumam Anin buru-buru menghapus air matanya. "Sedang apa kau di sini?". tanya Anin tanpa menatap wajah Ken.
"Pertanyaan itu aku rasa lebih tepat untukmu. sedang apa seorang ibu hamil di tempat seperti ini." ujar Ken duduk di samping Anin.
"Aku sudah pernah bilang, bahwa aku suka tempat ini". ungkap Anin.
"Biar aku tebak, kau suka tempat ini karena hanya di sini kau bisa menangis tanpa di lihat oleh orang-orang, kan?". tebak Ken mantap hamparan rerumputan yang tumbuh liar dan mulai tinggi.
Anin diam tak menjawab karena tebakan Ken benar.
"Apa semua ini karena Askara, lagi?." Ken memberanikan diri untuk bertanya. "Seharusnya dia ada di sini supaya aku bisa menghajarnya". canda Ken tapi jika benar Anin menangis karena Askara, dia tentu tidak segan-segan untuk melakukan hal tersebut.
Ken melirik Anin lewat ekor matanya, wanita itu tidak bergeming sama sekali bahkan merespon pertanyaannya pun tidak.
__ADS_1
"Aku akan pergi jika kau merasa tidak nyaman". ujar Ken karena merasa Anin butuh waktu untuk sendiri. pria itu hendak berdiri tapi Anin menahannya.
"Kau di sini saja, Ken". ujar Anin membuat Ken kembali duduk. "Aku hanya sedang berfikir, andai saja aku tidak jatuh cinta sedalam ini pada Askara mungkin saja rasanya juga tidak akan sesakit ini". lirih Anin mengingat pertengkarannya dengan Askara di rumah sakit tadi.
"Sesering apapun aku mengatakan bahwa aku kuat, tapi ternyata sakitnya lebih dari yang aku bayangkan". Anin kembali terisak, dia tidak peduli bahwa ada Ken di sampingnya. "Rasanya aku ingin menyerah saja".
Tangan Ken terangkat ke udara ingin rasanya memeluk Anin saat ini juga, tapi dia urung melakukan hal itu karena takut membuat Anin tidak nyaman.
"Persahabatan yang terjalin antara seorang laki-laki dan perempuan ujian terberatnya adalah perasaan". ujar Ken spontan, membuat Anin menatapnya lekat-lekat.
"Apa maksudmu, Ken?". tanya Anin karena seolah-olah Ken banyak tau tentang apa dia alami saat ini.
"Itu adalah situasi yang terjadi antara Askara dan Dalila sekarang". ungkap Ken.
"Bagaimana bisa kau tau soal itu?". Anin menatap tak percaya.
"Aku hanya menebak, kau jangan terlalu tegang". Ken tertawa melihat wajah kepo dari Anin.
"Berhenti tertawa, Ken". tegur Anin kesal.
Ken memegangi perutnya sambil menutup rapat kedua mulutnya, berusaha untuk tidak tertawa lagi. "Sorry..sorry.. aku tidak terlalu suka dengan pembicaraan yang serius dan wajahmu tadi sangatlah lucu". ujar Ken berusaha meredam tawanya.
"Tau ah, aku sedang serius tapi kau malah bercanda". Anin masih saja merajuk.
"Baiklah, aku akan serius". raut wajah Ken kini berubah serius. "Aku sebenarnya tidak tau bahkan tidak mau tau masa lalu antara Askara dan Dalila seperti apa, tapi aku sadar bahwa ada kau di antara mereka yang mungkin bisa terluka kapan saja. oleh karena itu, aku menjadi khawatir dan ingin melindungimu lebih dekat lagi, Nin. tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapa. dan melihatmu kembali terluka hari ini karena Askara, aku cuma mau bilang tolong pertimbangkan lagi perasaanku padamu, Nin". ungkap Ken membuat Anin mengerjapkan matanya berkali-kali.
Bibir Anin terkatup rapat tidak tau harus menjawab apa.
"Kau tidak perlu menjawabnya, aku hanya ingin kau tau bahwa perasaanku untukmu masih ada dan masih tersimpan di tempat terdalam di hatiku. jadi, kapanpun kau merasa lelah dan ingin menyerah dengan Askara, hati ini selalu siap untuk menerimamu, karena kau adalah pemiliknya".
Anin diam terpaku, kedua bibirnya rasanya sangat sulit untuk terbuka. bukannya tidak menghargai perasaan Ken, tapi lebih tepatnya dia tidak punya jawaban yang tepat dan takut akan membuat Ken tersinggung nantinya.
__ADS_1
Lama keduanya diam larut dalam fikiran masing-masing hingga tanpa sadar matahari perlahan kembali peraduan.
Ken mendongak menatap langit yang terlihat mendung dan sepertinya hujan akan turun.
"Kau tidak ingin pulang?, biar aku antar". tawar Ken karena sebentar lagi hari berubah gelap, di tambah langit yang terlihat mendung.
"Kau duluan saja, Ken. aku masih mau di sini". Anin belum mau beranjak dari tempatnya.
"Tapi, Nin. sebentar lagi hujan akan turun. angin juga mulai terasa dingin". Ken merasakan dingin menusuk kulitnya padahal dia mengenakan jaket.
"Aku mau sendiri, Ken. please!". pinta Anin dengan mata sendunya.
Ken tidak bisa memaksa lagi. namun sebelum pergi meninggalkan Anin, dia melepas jaket yang melekat di tubuhnya.
"Setidaknya jangan tolak ini". Ken memasangkan jaketnya ke tubuh Anin. "Kau jangan sampai sakit". ujar Ken tulus.
Setelah mengatakan itu, Ken berdiri lalu beranjak meninggalkan Anin sendirian.
"Terimakasih, Ken". gumam Anin saat Ken sudah mulai menjauh.
Tak lama, tetes demi tetes air hujan jatuh membasahi apa saja yang ada di bumi, termasuk Anin yang masih duduk sambil kembali menangis, terlihat dari kedua bahunya yang bergetar.
Di bawah derasnya hujan, Anin menangis sekencang-kencangnya. air matanya tersamarkan bersama dengan air hujan yang membasahi pipinya.
Ken yang tidak benar-benar pergi meninggalkan Anin, mencengkram stir menahan emosi saat melihat Anin membiarkan tubuhnya basah di guyur air hujan padahal wanita itu sedang hamil.
Karena tidak bisa menahan diri, Ken memutuskan untuk keluar dari mobilnya. tapi baru beberapa langkah, dia melihat Anin mulai meninggalkan tempat itu.
Pakaian Ken sudah basah kuyup tapi pria itu tidak peduli. dia terus memperhatikan Anin dari jarak yang cukup jauh sampai wanita itu terlihat menyetop sebuah taksi dan pergi dari tempat tersebut.
"Askara, sialan!". Maki Ken karena gara-gara Askara, Anin jadi seperti sekarang.
__ADS_1
Ken lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya, dia mengikuti taksi yang di gunakan oleh Anin dan memastikan wanita itu pulang dengan selamat.