
Dalam perjalanan pulang, Askara tak henti-hentinya menyunggingkan senyum tipisnya.
"Apa kau lapar?" tanya Askara pada Anin yang hanya duduk diam di sampingnya.
Anin menganggukkan kepalanya "Iyya"
"Kau ingin makan apa?" tanya Askara lagi, tidak biasanya dia seperti ini.
Anin menatap heran, ini bukan seperti Askara yang ia kenal sebulanan ini.
"Aku ingin makan ketoprak yang di pinggir jalan" mata Anin berbinar membayangkan nikmatnya bumbu ketoprak yang melimpah.
"Apa? ketoprak? tidak..tidak" tolak Askara cepat.
Anin menatap ajaib Askara "Kan tadi pak Askara sendiri yang bertanya aku mau makan apa, terus kenapa sekarang malah nggak jadi" heran Anin.
"Iyya, tapi ketoprak nggak masuk dalam list. Kamu nggak denger tadi dokter Ziva ngomong apa? pastikan makan makanan yang bergizi, aku mau kasih yang terbaik buat calon anak aku" ucap Askara tanpa sadar membuat Anin menatap Askara tak percaya.
"Calon anak?" tanya Anin menatap intens Askara, ada perasaan bahagia di hati Anin saat ini.
Askara merutuki mulutnya yang berucap seenaknya "Yaa..Ya itu memang anakku kan, kamu hamil gara-gara aku" jawab Askara gugup menatap lurus ke depan.
Anin berusaha menahan senyumnya, dia sadar bahwa sekarang Askara masih berusaha untuk menerima kehadirannya dan juga anak yang di kandungnya.
"Lalu kita akan makan di mana?" tanya Anin mengembalikan suasana agar tidak terlalu canggung buat Askara.
"Kau ikut saja, aku yang memilih tempatnya" jawab Askara fokus membelah jalanan ibu kota Jakarta.
Sekitar 20 menit berkendara, mobil Askara akhirnya sampai di sebuah restoran mewah yang terkenal akan makanan yang enak dengan harga yang mahal.
Bagi Askara itu tidak ada apa-apanya, bahkan jika harus membeli restorannya sekalipun, ia pun sanggup.
"Kita akan makan di sini?" tanya Anin yang sebelumnya tidak pernah makan di restoran semewah ini.
"Iyya, kenapa? kau tidak suka tempatnya?"
"Bukan, aku suka kok" jawab Anin cepat.
"Masuklah" titah Askara yang berjalan lebih dulu memasuki restoran.
Anin mengekori Askara dari belakang.
Askara memilih duduk di meja paling sudut yang terletak di lantai dua agar bisa melihat pemandangan keluar jendela.
"Silahkan menunya tuan" ucap seorang pelayan meletakkan buku menu berwarna hitam.
"Bawakan aku dua steak tenderloin kualitas premium dengan tingkat kematangan well done, dan jangan lupa sayurnya semuanya harus matang" pesan Askara detail pada pelayan pria tersebut.
Semuanya tak lepas dari perhatian Anin, apa Askara sengaja memesan makanan itu untuknya?.
"Baik tuan, silahkan untuk menunggu sebentar" pelayan tersebut meninggalkan meja Askara.
Tidak menunggu lama pesanan Askara pun datang.
"Permisi" ujar pelayan tersebut kemudian meletakkan pesanan Askara.
"Selamat menikmati tuan dan nyonya" pamit pelayan itu lagi.
Askara memotong steaknya menjadi beberapa bagian.
"Berikan punyamu" ucap Askara yang telah mengambil alih piring berisi steak punya Anin dan menukarnya dengan steak punyanya yang sudah Askara potong-potong menjadi beberapa bagian.
Anin tercekat mendapat perlakuan manis dari Askara, meski begitu dia merasa bahagia melihat perubahan sikap Askara.
"Makan, bukan malah
memandangiku" seloroh Askara karena Anin hanya menatapnya dan tak berniat menyentuh makanannya.
__ADS_1
Anin tersenyum malu "Terimakasih" ujar Anin karena Askara sudah mau memotong steak untuknya.
"Hemm" singkat Askara, keduanya makan dengan diam. Anin menikmati makanannya dengan perasaan sangat senang.
Saat keduanya sedang menikmati makanan.
"Askara" Sapa seorang perempuan berpakaian formal, seperti wanita kantoran.
Askara dan Anin mengalihkan perhatian mereka dan kini menatap perempuan tersebut. Askara hanya menatap diam, sedangkan Anin menatap perempuan tersebut dengan kening berkerut.
"Wah, ternyata benar ini kamu. akhirnya setelah sekian lama kita baru ketemu yah. terakhir kita bertemu pada saat merayakan kelulusan di Inggris". Perempuan tersebut berujar dengan senang. dia adalah Grace teman kuliah Askara waktu di Inggris.
"Kamu apa kabar?" tanyanya lagi.
"Baik" Singkat Askara.
Grace memperhatikan ternyata Askara tidak sendiri. Dia meneliti Anin dengan seksama membuat Anin bergerak tidak nyaman.
"Dia siapa?, pacarmu?" tanya Grace penasaran melihat Askara makan berdua dengan seorang perempuan yang masih sangat muda di restorant.
Askara terdiam, sebenarnya dia tidak suka melihat kehadiran Grace di sini, apalagi dia mempertanyakan siapa Anin.
Anin menatap Askara, menunggu jawaban apa yang akan Askara berikan pada perempuan tersebut.
"Dia sepupuku dari Inggris, anak saudara Mami ku"
Deg.
Anin merasakan nyeri di hatinya saat mendengar jawaban Askara yang mengakuinya sebagai sepupu.
Askara dapat melihat perasaan terluka di mata Anin. kedua tangannya mencengkram kuat garpu dan pisau menahan kesal karena kehadiran Grace.
Grace nampak agak kaget setelah mengetahui bahwa perempuan yang makan bersama Askara adalah sepupunya.
"Oh ya ampun..Hai.. Maaf karena sudah mengira kamu adalah pacar Askara. perkenalkan aku Grace, teman kuliah Askara sewaktu di Inggris" Grace mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Anin.
Anin menyambut tangan Grace dengan perasaan ragu "Aku Anin" ucap Anin memperkenalkan diri.
Anin hanya membalas dengan seulas senyum.
Kini Grace kembali beralih pada Askara yang sedari tadi hanya menatap diam perkenalan Grace dan juga Anin.
"Oh Iyya Askara, apa kau tau ? sebentar lagi Dalila akan pulang ke Indonesia" ungkap Grace semakin banyak bicara.
Mendengar nama Dalila, seketika hati Askara menghangat, wanita yang di tunggu-tunggunya.
"Benarkah?" tanya Askara dengan raut wajah senang, berbanding terbalik saat pertama kali Grace datang menghampiri meja mereka.
Dapat Anin lihat dengan jelas perubahan raut wajah Askara saat mendengar nama Dalila di sebut. nama itu terasa seperti sangat familiar bagi Anin.
Anin bertanya-tanya dalam hati. siapa Dalila dan apa hubungannya dengan Askara. apa dia adalah orang yang punya tempat spesial di hati Askara?
kenapa hati Anin terasa sakit jika membayangkan itu semua memang benar adanya.
"Dia tidak mengabarimu?" tanya Grace tidak percaya, karena selama mereka kuliah di Inggris, Grace tidak pernah melihat satu hari pun Askara jauh dari Dalila.
"Belum, sepertinya dia masih sibuk" Jawab Askara berbohong, padahal kenyataannya sudah satu tahun terakhir ini, dia sudah tidak berkomunikasi dengan perempuan itu.
"Aku yakin dia pasti sangat merindukanmu, apalagi selama ini kalian tidak pernah berpisah dalam kurung waktu selama ini" Grace berujar semakin semangat, tanpa dia sadari ada hati yang sedang berusaha menahan sesak.
"Mungkin dia ingin memberi kejutan"
"Benar juga, Kau kan orang yang sangat berarti buat Dalila" balas Grace setuju "Btw, aku harus balik lagi ke kantor. Jam makan siangku hampir selesai" Lanjut Grace menatap jam di pergelangan tangannya.
"Hem..hati-hati" balas Askara.
"Anin kapan-kapan kita ketemu lagi yah" ujarnya pada Anin.
__ADS_1
"Iyya" Balas Anin singkat.
Grace pun meninggalkan Askara dan Anin.
Selepas kepergian Grace.
"Aku permisi ke toilet dulu" Anin buru-buru berdiri dari duduknya bahkan sebelum Askara membuka suara.
Askara menatap perubahan sikap Anin yang tiba-tiba berubah dingin. apa gadis itu marah?
Saat ini Anin hanya ingin menenangkan diri sejenak. tiba-tiba rasa sakit menyeruak menghimpit rongga dadanya.
Anin memasuki salah satu kamar toilet, dia mendudukkan tubuhnya di atas closed. di akuinya saat ini dia mulai tertarik pada Askara. perasaan itu tanpa dia sadari tumbuh begitu cepat di luar perkiraannya.
Dari apa yang Anin dengar dari Grace tadi, sepertinya Askara dan wanita yang bernama Dalila itu punya hubungan yang sangat dekat. entahlah, padahal ini baru perkiraan Anin, tapi hatinya sudah merasa sesakit ini.
Tidak ingin berlama-lama, Anin segera merapikan penampilannya, takut Askara curiga.
Anin pun berjalan keluar dari toilet wanita, menghampiri Askara yang masih duduk di meja makan.
"Boleh kita pergi sekarang? aku sudah harus masuk kerja" ujar Anin yang mulai hari ini sudah bekerja paruh waktu lagi.
"Baiklah, aku juga sedang ada urusan dengan Dito" Askara berdiri dari duduknya.
Keduanya berjalan keluar dari restorant, Askara memutuskan untuk mengantar Anin ke tempat kerjanya terlebih dahulu.
Dalam perjalanan Anin hanya duduk diam menatap keluar jendela mobil. Fikirannya masih tentang siapa Dalila itu.
Askara melirik Anin dari ekor matanya, gadis ini sedari tadi hanya diam.
"Kenapa kau diam?" tanya Askara.
Anin menatap Askara "Memangnya aku harus bicara apa?" tanya Anin balik.
"Kau marah padaku karena jawabanku pada Grace tadi soal siapa kau?" tanya Askara menebak
Anin mengalihkan wajahnya kembali menatap keluar jalanan "Aku tidak marah, lagi pula jawaban pak Askara sudah seperti yang seharusnya" elak Anin, padahal hatinya terasa sakit saat mengatakan itu.
Bukan ini jawaban yang Askara ingin dengar, entah kenapa hatinya merasa Anin berbohong.
"Baguslah, kau dengan mudah mengerti" jawab Askara dingin.
Keduanya diam dengan fikiran masing-masing.
Askara bimbang, seharusnya dia senang mendengar jawaban Anin, apalagi setelah mendengar Grace mengatakan bahwa Dalila sebentar lagi akan pulang. seharusnya ini akan sangat mudah bagi Askara.
"Pak Askara, tolong berhenti di sini" seru Anin membuat Askara membawa mobilnya ke pinggir.
Mobil Askara sudah hampir sampai di toko kue Ambar.
"Kenapa?" bingung Askara.
"Aku turun di sini saja" ujar Anin "Aku hanya tidak ingin ada orang yang melihat pak Askara mengantarku" lanjut Anin membuat Askara terdiam.
Benar juga, Askara tidak ingin orang lain curiga.
Anin melepas seatbelt yang ia gunakan "Pak Askara hati-hati bawa mobilnya" pesan Anin, ia mengulurkan tangannya untuk salim pada Askara.
Askara menatap bingung tangan Anin yang terulur.
Karena terlalu lama Anin langsung menyambar tangan Askara dan menyalaminya.
"Aku pamit" Anin kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju toko kue yang jaraknya sekitar 100 meter dari tempat mobil Askara berhenti.
Askara menatap punggung Anin yang sudah berjalan menjauh. timbul rasa bersalah di hatinya. apa keputusannya menyembunyikan pernikahannya dengan Anin sudah benar?.
Mobil Askara kembali melaju, Dia harus bertemu Dito untuk membahas kerjaan.
__ADS_1
jangan lupa
Like, komen dan sarannya.