
"Letakkan album foto itu" ujar Askara dengan suara beratnya.
Anin tersentak kaget mendengar suara Askara yang sedang berdiri tidak jauh di belakangnya dengan sorot mata tajam.
"Mas...kau kapan sampai?" tanya Anin dengan perasaan gugup, tapi juga merasa senang melihat kehadiran suaminya.
Askara tidak menjawab pertanyaan Anin, justru wajahnya terlihat tidak senang.
"Kenapa kau lancang sekali membuka barang-barangku?" tanya Askara dingin.
Anin menatap album foto di tangannya.
"Mas, aku tidak sengaja menemukan album foto ini. tadinya aku sedang mencari charger ponsel karena chargerku tertinggal di resort" Anin berusaha menjelaskan.
Askara merampas kasar album foto di tangan Anin membuat wanita itu terkejut.
"Kau tidak punya hak untuk membuka barang-barang pribadiku" tekan Askara pada ucapannya.
Anin menatap mata Askara "Kenapa mas? aku ini istri sah mu. aku juga berhak tau semuanya" ucap Anin lirih.
"Lalu setelah kau tau semuanya, apa yang akan kau lakukan? menyuruhku untuk melupakan semua perasaanku pada Dalila? jangan pernah harap hal itu akan terjadi, Anin" ucap Askara pedas.
"Mas, aku ini istrimu. tolong hargai sedikit saja perasaanku" ucap Anin dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kau ingin di hargai sebagai seorang istri, maka jangan pernah mencoba mengatur perasaanku" balas Askara sengit.
"Sejak awal aku sudah memberitahumu untuk menjaga batasanmu, tapi sepertinya semua perkataanku memang tidak pernah kau dengarkan".
"Tadinya aku ingin meminta maaf padamu atas perlakuanku, tapi sepertinya ini memang pantas kau dapatkan karena sikapmu yang terlalu lancang" ujar Askara meninggalkan Anin yang terpaku setelah mendengar ucapannya.
Tubuh Askara hilang setelah pintu kamar tertutup.
Kaki Anin terasa lemas, dia berusaha menopang tubuhnya dengan berpegang pada sisi meja.
Pandangannya kosong lurus ke depan dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Kata-kata yang keluar dari mulut Askara selalu saja berhasil membuat dadanya sesak.
Askara memasuki sebuah kamar yang dulunya selalu di tempati oleh Dalila saat tinggal di mansion tersebut.
Malam ini dia tidak ingin tidur sekamar dengan Anin, menghindari pertengkaran yang bisa menyayat luka lebih dalam di hati istrinya itu.
Setiap Askara mengakhiri pertengkaran mereka, selalu ada rasa bersalah muncul di hatinya karena telah melukai Anin dengan kata-katanya. Padahal selama ini Askara tidak pernah peduli sedikitpun dengan perasaan Anin.
Askara menatap album foto di tangannya, benda yang menjadi pemicu pertengkarannya dengan Anin.
Tidak ada niat untuk membuka kembali album tersebut, Askara justru memasukkannya ke dalam laci nakas yang berada di dekat tempat tidur.
Askara membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan fikiran yang berkecamuk.
Dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang sekarang di rasakannya. terlalu sulit untuk di mengerti bahkan oleh dirinya sendiri.
Di dalam kamar, Anin berbaring dengan posisi miring menjadikan satu lengannya sebagai penopang.
Rasanya dia ingin menyerah sekarang juga, logikanya memaksa untuk pergi dari hidup Askara namun hatinya yang terlanjur mencintai, menahannya untuk terus tinggal di sisi Askara.
"Sampai kapan kita akan terus seperti ini, mas?" gumam Anin di sertai deraian air mata.
Bukan hanya fisiknya yang lelah, hatinya lebih-lebih karena terus di hantam oleh kata-kata menyakitkan.
Mata Anin mulai memberat, dia lelah. namun sebelum benar-benar masuk ke dalam alam mimpinya, Anin berharap saat hari esok menyambut, hubungannya dan Askara kembali membaik.
****
Matahari sudah menunjukkan wujudnya dari arah timur, cahayanya yang masuk dari celah jendela kamar membuat tidur Anin terusik.
__ADS_1
Mau tidak mau Anin membuka matanya, padahal rasanya dia masih sangat mengantuk.
"Ya ampun, ini jam berapa?" pekik Anin buru-buru bangun dari tempat tidur.
"Aku bisa telat ke tempat kerja" paniknya
"Akhh... perutku" Anin kembali merasakan sakit di perut bawahnya. Namun kali ini dia berusaha menahannya. buru-buru melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.
Seperti biasa, sebelum berangkat kerja. Anin harus menggunakan korset untuk menutupi kehamilannya yang sudah mulai membesar.
Anin mengeratkan korset tersebut cukup ketat, saking ketatnya, bahkan membuat dirinya sendiri kesulitan untuk bernafas, tapi Anin harus terbiasa.
Sekitar 20 menit berada di dalam ruang ganti, Anin keluar dengan langkah gontai. pagi ini badannya terasa tidak enak. entahlah, dia juga tidak mengerti ada apa dengan tubuhnya.
Tidak ingin terlalu memikirkan kondisinya, Anin duduk di depan meja rias, wajahnya memang terlihat sedikit pucat maka dari itu Anin mengambil liptint yang biasa di gunakannya kemudian di oleskan pada bibirnya.
Di rasa sudah cukup, Anin segera menyambar tasnya. tak lupa membawa ponsel dan juga vitaminnya.
Satu hal yang baru di sadari Anin, ternyata semalam Askara tidak kembali ke kamar.
Sudahlah, Anin tidak ingin memikirkannya. seiring waktu berjalan hubungannya pasti akan kembali membaik.
Anin segera turun untuk mengisi perutnya. berharap setelah sarapan tubuhnya berangsur membaik.
Dengan susah payah, Anin berjalan menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Dapat Anin lihat, di meja makan sudah ada Mami Sandra dan juga Askara yang sudah rapi dengan jas kantornya.
"Anin, kok baru turun sayang?" tanya Sandra setelah melihat kehadiran Anin.
Anin sebisa mungkin memaksakan untuk tersenyum "Iyya Mi, Anin baru bangun".
"Memangnya Askara nggak bangunin?" tanya Sandra kini beralih menatap Askara.
"Hemm" Askara hanya berdehem saat di tatap oleh Maminya.
"Aku cuman tidak ingin mengganggu tidur Anin yang terlihat sangat nyenyak" ujar Askara berbohong, padahal faktanya keduanya tidur di kamar terpisah.
"Oh ya sudah, sekarang kau duduk yah sayang. sarapan dulu" titah Sandra.
"Iyya, Mi"
Anin segera melangkah ke arah kursi yang biasa di tempatinya.
Semuanya kembali menikmati sarapan mereka. kecuali Anin, dia melirik Askara yang memasang wajah datar saat melihatnya turun tadi. Sepertinya Askara masih marah.
Anin sarapan dengan tidak berselera, makanannya pun terasa pahit di lidah dan tenggorokannya.
"Anin, kau baik-baik saja sayang?" tanya Sandra yang sadar akan sikap Anin.
"Aku baik-baik aja kok, Mi" balas Anin tersenyum.
"Wajahmu terlihat pucat sayang, dari tadi Mami juga perhatikan, makanmu sedikit sekali. kau sedang sakit?" tanya Sandra dengan tatapan khawatir.
Askara yang mendengar perkataan Maminya, ikut menatap wajah Anin yang memang terlihat pucat dan lesu, tidak seperti biasanya.
Apa Anin sedang sakit? batin Askara.
"Enggak kok Mi, memang selama hamil aku makannya kadang sesuai mood aja. kadang bisa banyak, kadang juga tiba-tiba tidak berselera seperti sekarang" jelas Anin
"Tapi kau yakin tidak papa?, kalau merasa tidak enak badan lebih baik kau tinggal di rumah saja" ucap Sandra.
"Aku yakin Mi, lagi pula hari ini toko sedang sibuk karena ada pesanan kue dalam jumlah yang cukup banyak untuk sebuah acara, jadi nggak mungkin kalau aku nambah cuti lagi, kasian nanti yang lain" jelas Anin.
Askara hanya diam mendengarkan penjelasan Anin, dia sama sekali tidak berniat untuk melarang karena masih marah pada Anin.
"Tapi kau harus ingat, jangan terlalu kecapean. kalau sudah tidak kuat, istirahat" peringat Sandra.
__ADS_1
"Iyya Mi" balas Anin.
Askara yang sudah selesai dengan sarapannya segera berdiri dari kursinya.
"Mi Askara berangkat dulu" ujar Askara.
"Kalian berdua nggak berangkat bareng?" tanya Sandra.
"Pagi ini aku ada meeting dan penandatangan kontrak, Anin biar di antar oleh pak Hilman". ujar Askara menatap Anin yang masih duduk di kursinya.
"Iyya Mi, biar nanti aku di antar sama pak Hilman, takut mas Askara telat nantinya kalau harus nganter aku toko kue dulu" ujar Anin menyetujui perkataan Askara.
"Baik kalau begitu, kau hati-hati" ujar Sandra.
"Mas..." seru Anin cepat saat Askara sudah melanjutkan langkahnya.
Satu alis Askara terangkat seolah bertanya 'Kenapa'.
Tangan Anin terulur, dia meraih tangan Askara kemudian mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati" ujar Anin tulus.
"Hemm" balas Askara singkat, lalu meninggalkan mansion.
Saat berada di dalam mobil, Askara justru semakin memikirkan keadaan Anin.
Ketika Anin memegang tangannya, Dia bisa merasakan dinginnya tangan Anin saat menyentuh kulitnya tadi. apa memang kondisi wanita itu sedang tidak sehat? apalagi wajahnya terlihat sangat pucat.
****
Suasana toko kue Ambar sedang terlihat ramai pengunjung. di tambah lagi dengan banyaknya pesanan kue, membuat semua pegawai sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tak terkecuali Anin.
"Anin, tolong bawa ini keluar yah?" ujar Doni memberikan satu nampan berisi potongan kue-kue yang baru saja selesai di oven.
"Baik kak" balas Anin berjalan keluar dengan nampan di tangannya.
Anin segera menyusun dengan rapi kue-kue tersebut ke dalam etalase.
Pintu toko terbuka menarik perhatian Anin. terlihat Vivi masuk dengan wajah cerahnya.
"Hallo Anin sayang" sapa Vivi dengan suara di buat seimut mungkin.
Anin memutar bola mata malas "Nggak usah sok manis, gue tau Lo mau nagih oleh-oleh kan?" ujar Anin sudah tau maksud Vivi.
Vivi hanya menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya "Tau ajah deh, Lo. Kalau gitu mana oleh-oleh gue". tagih Vivi.
"Etss...sabar dulu dong. sebelum gue kasih oleh-olehnya. sekarang mending Lo bantuin gue di dalam. pesanan kue lagi banyak banget, dan pengunjung lagi rame-ramenya" ujar Anin menaik turunkan alisnya.
Vivi mendengus "Ini sama aja dong kalau gue barter sama tenaga" ujarnya namun hanya berupa candaan.
"Ya udah.. ya udah...gue bantuin tapi..._" Vivi menggantung ucapannya, menampilkan senyum penuh maksudnya.
"Tapi apaan?" tanya Anin penasaran.
"Lo harus cerita gimana babymoon Lo sama Askara kemarin" ucap Vivi di sertai gelak tawa.
"Vi, suara Lo jangan kenceng-kenceng" peringat Anin melihat sekeliling takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. untung saja semua sedang sibuk.
"Maaf..maaf.. tapi gimana? mau nggak?" tanya Vivi.
Anin nampak berfikir "Iyya deh, tapi itu nanti. sekarang Lo masuk dan bantuin gue" ucap Anin pasrah.
"Oke Anin sayang" ucap Vivi girang, memasuki dapur bersama Anin.
**Next..?
__ADS_1
like, komen, dan vote dulu dong**