Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 144


__ADS_3

Askara pun akhirnya menuruti perintah Mami Sandra untuk ke rumah sakit dan mengobati lukanya.


Dokter Arga dengan telaten menyingkirkan serpihan-serpihan kaca yang menancap di tangan Askara. seolah sudah mati rasa, Askara sama sekali tidak bergeming ataupun merasakan sakit sedikit pun. beda halnya dengan Mami Sandra yang sudah memalingkan wajah karena merasa takut.


"Lo sama sekali ngga berfikiran panjang buat nyakitin diri sendiri". ujar dokter Arga mulai menyiram cairan pembersih luka untuk menghindari infeksi ataupun pertumbuhan bakteri pada luka Askara.


"Ini bahaya buat Lo sendiri, Askara". lanjutnya


Askara sama sekali tidak membalas perkataan dokter Arga, yang terdengar hanyalah helaan nafas dari pria itu.


"Apa luka Askara cukup parah?". tanya Mami Sandra sudah berani menatap ke arah Askara yang lukanya mulai di balut perban oleh dokter Arga.


"Memang ada beberapa luka yang cukup dalam akibat terkena serpihan kaca , tapi Tante Sandra tidak perlu khawatir. karena saat ini sepertinya ada luka yang lebih menyakitkan bagi Askara". ujar dokter Arga yang langsung di mengerti oleh Mami Sandra.


"Lo udah selesai, kan?". tanya Askara setelah dokter Arga membereskan semua peralatan medisnya, "Gue mau cabut".


Aksara turun dari ranjang tapi langsung di tahan oleh Dokter Arga.

__ADS_1


"Lo mau kemana?, kembali berbaring". titah dokter Arga.


"Lepas, gue mau pulang". Askara menepis tangan dokter Arga menggunakan satu tangannya.


"Baring gue bilang". tekan dokter Arga.


Dengan terpaksa Askara pun menurut karena kondisi badannya juga tidak memungkinkan untuk melawan.


Dokter Arga mengeluarkan cairan infus yang kemudian dia gantung di sisi ranjang Askara.


"Lo mau ngapain?". tanya Askara kembali bangun dari tidurnya.


"Lo mau apain gue, hah?". sungut Askara menatap tajam dokter Arga.


Dokter Arga mengenal nafas lelah, "Gue mau infus, Lo. memangnya Lo ngga liat apa, penampilan Lo itu udah kayak mayat hidup. bikin orang lain jadi takut liat kondisi Lo". ujar dokter Arga dengan santainya. pria itu lalu menarik tangan Askara untuk mencari vena atau pembuluh darah Askara.


Apa yang baru saja di sampaikan oleh dokter Arga ikut di setujui oleh Mami Sandra, Askara memang terlihat sangat kurang istirahat, badannya juga jadi semakin kurus dengan wajah yang pucat seperti tidak ada darah yang mengalir.

__ADS_1


"Ngga, gue ngga mau. gue sama sekali ngga butuh____ aaahkkk, sakit bego' ". maki Askara setelah jarum infus sukses menancap di tangannya. padahal sewaktu tangannya di obati tadi, Askara seolah-olah mati rasa tapi saat tangannya di tusuk jarum infus, pria itu langsung berteriak.


Dokter Arga tersenyum puas setelah berhasil menancapkan jarum infus di tangan Askara.


"Lebih baik Lo istirahat dulu di sini, badan Lo bukan robot yang bisa Lo paksa kerja, begadang, dan ngga Lo kasi makan". tutur dokter Arga menyuntikkan obat ke dalam cairan infus Askara.


Menunggu beberapa saat, Askara sudah tidak menjawab lagi, pria itu berbaring di atas brankar sambil menutup mata menggunakan satu lengannya.


"Arga, ada apa dengan Askara?". tanya Mami Sandra karena Askara sama sekali sudah tidak menanggapi ucapan dokter Arga.


"Tante Sandra tidak perlu khawatir, Askara hanya tertidur, saya sengaja memberi obat tidur dosis rendah agar dia bisa istirahat di sini. jika badannya yang lemah terus di paksakan, maka kondisinya akan lebih parah nantinya". ungkap dokter Arga sengaja membuat Askara tertidur agar bisa mengistirahatkan tubuhnya dan memulihkan tenaganya.


Mami Sandra menghela nafas lega, "Terimakasih nak Arga, akhirnya Askara bisa istirahat juga. Tante benar-benar khawatir melihat kondisinya belakangan ini. Tante sampai kehabisan kata menasehati Askara agar istirahat yang cukup, tapi anak itu selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja".


"Tante Sandra tidak perlu berterimakasih, di luar dari tugasku sebagai dokter keluarga, Askara juga adalah temanku. dan melihat kondisinya sekarang, Askara pasti melalui banyak hal sulit akhir-akhir ini".


"Kau benar, tapi ini adalah resiko dari apa yang sudah dia lakukan. Tante hanya bisa berharap Askara bisa melewati semuanya dengan caranya sendiri". ujar Mami Sandra menatap lekat-lekat wajah pucat Askara.

__ADS_1


"Tante titip Askara ya, tante mau ke kamar Anin dulu".


"Baik, Tante".


__ADS_2