Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 77


__ADS_3

Ting.. suara pintu lift terbuka.


Sekretaris Dito semakin merasa tegang karena itu artinya mereka sudah sampai di lantai tempat di mana ruangan Askara berada.


"Mari Nona". sekretaris Dito memberi instruksi pada Dalila agar mengikutinya dari belakang untuk menuju ke ruangan Askara.


Dalila tidak membuka suara, namun tetap mengikuti sekretaris Dito dari belakang.


Langkah kaki sekretaris Dito berhenti tepat di depan ruangan Askara.


"Maaf Nona, tapi tunggulah di sini. saya akan memberitahu tuan Askara terlebih dahulu kedatangan Nona Dalila". ujar sekretaris Dito tidak mungkin langsung mempersilahkan Dalila masuk.


"Baiklah". balas Dalila mengerti prosedur pekerjaan sekretaris Dito. meskipun dia sahabat Askara tapi ini adalah pertemuan pertama mereka setelah dirinya kembali dari Jerman yang pasti membuat Askara terkejut akan kedatangannya.


Sekretaris Dito masuk ke dalam ruangan Askara setelah mengetuk pintu dan mendapat persetujuan dari sang empunya.


"Permisi tuan". ujar sekretaris Dito berdiri tidak jauh dari meja kerja Askara.


"Ada apa Dito?". tanya Askara tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di depannya.


"Ada yang ingin bertemu dengan tuan". ucap sekretaris Dito dengan wajah entah, sulit di jelaskan.


"Siapa? kalau tidak ada janji lebih baik katakan bahwa aku tidak bisa. pekerjaanku sedang banyak hari ini". terang Askara.


"Tapi tuan_".


Dengan cepat Askara memotong.


"Kau mulai berani membantahku?". tanya Askara dingin namun wajahnya masih setia pada berkas di depannya.


"Baik tuan saya akan men_". belum habis perkataan sekretaris Dito, Dalila sudah lebih dulu masuk.


"Apa kau sesibuk itu untuk di temui?". Tanya Dalila muncul dari balik punggung sekretaris Dito.


Pintu ruangan yang sedikit terbuka membuat Dalila bisa mendengar pembicaraan mereka, di mana Askara menolak untuk bertemu.


Deg.


Suara itu, suara yang sangat amat Askara kenali.

__ADS_1


Askara mengangkat wajahnya dari berkas yang sedari tadi lebih menarik perhatiannya itu.


Tubuh Askara membeku, sampai tak terasa berkas-berkas yang di pegangnya terlepas dari tangannya. Mata Askara terkunci menatap wanita yang tengah berdiri di depannya.


"Lila?". gumam Askara menatap tak percaya wanita cantik yang sedang berdiri di depannya.


Dalila menyungginkan senyum manis yang selalu mampu menghipnotis Askara selama ini.


"Iyya ini aku". sahut Dalila melipat kedua tangannya di dada. memasang wajah cemberut karena Askara menolak bertemu dengannya, meskipun bukan sepenuhnya salah Askara karena pria itu tidak tau bahwa dirinya lah yang ingin bertemu.


"K-kau kenapa bisa ada di sini?". Askara terkejut bukan main, namun ada rasa bahagia di dalam hatinya melihat Dalila nyata berdiri di depannya.


"Sekretaris Dito, tolong tinggalkan kami berdua". bukan Askara yang memerintah, melainkan Dalila. dia ingin bicara berdua dengan Askara.


"Baik Nona." sekretaris Dito pun pamit undur diri dari ruangan tersebut.


Askara yang sudah menguasai dirinya dari rasa terkejut kini berdiri dari kursi kebesarannya.


"Aku merindukanmu". Dalila langsung menghambur memeluk Askara untuk menyalurkan rasa rindunya pada sahabatnya itu.


Askara mendadak mematung saat Dalila tiba-tiba memeluknya. berbanding terbalik dengan wajah cerah Dalila, Askara justru hanya memasang wajah datarnya.


"Kau kapan kembali?". tanya Askara dengan suara lembutnya. dia tidak menampik ada banyak kerinduan bersarang di hatinya yang ingin dia lepaskan.


Dalila lebih dulu mengurai pelukan mereka. meskipun terlihat wajah Askara seperti tidak rela.


"Aku baru sampai hari ini, dan kau tau apa yang membawaku sampai ke sini?".


"Apa?". tanya Askara tapi matanya tak lepas meneliti wajah cantik Dalila.


"Kau sudah menikah tanpa memberiku kabar, kau jahat sekali". Dalila berkata sambil memukul pelan dada Askara untuk meluapkan kekesalannya.


Askara cukup terkejut dari mana Dalila tau berita itu, namun detik berikutnya dia tersadar dan yakin bahwa Dalila pasti mendapatkan berita itu dari media sosial yang sedang ramai membicarakan soal siapa sosok istrinya.


"Kau duduk dulu baru kita bicara". Askara membimbing Dalila untuk duduk di sofa.


"Jadi?." Tanya Dalila singkat yang di mengerti oleh Askara.


Dengan menghela nafas panjang, Askara menceritakan semua yang terjadi padanya setelah Dalila pergi meninggalkannya. di mana dia mabuk dan mendatangi apartemen Dalila hingga insiden itu terjadi di sana.

__ADS_1


Raut wajah Dalila tampak jelas berubah saat mendengar cerita demi cerita yang meluncur dari bibir sensual Askara.


"Aku sungguh tidak percaya kau melakukan itu, Askara". ujar Dalila saat Askara selesai menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikit pun, termasuk kesepakatan di awal pernikahan yang kini sudah di tiadakan oleh Askara.


"Awalnya aku juga sulit untuk menerima, tapi lambat laun aku sudah bisa membuka diri dan menerima semuanya". jelas Askara membayangkan wajah Anin.


"Lalu di mana dia sekarang? maksudku istrimu". tanya Dalila.


"Dia sedang di mansion, dia harus banyak istirahat karna beberapa waktu yang lalu dia sempat mengalami pendarahan". jelas Askara dengan wajah sedihnya.


Dalila menutup mulut tak percaya. "Ya ampun, kau harus menjaganya lebih baik lagi". Dalila sadar dari raut wajah Askara, tersirat rasa kepedulian yang besar terhadap istrinya.


Askara hanya mengangguk kecil.


"Kenapa kau baru kembali sekarang?" Askara menatap dalam wajah Dalila. melupakan pembicaraan mereka tentang kejadian yang menimpanya.


"Karena studiku baru selesai". jawab Dalila.


"Andai waktu itu kau tidak meninggalkanku, pasti ini semua tidak akan terjadi. aku tidak akan menghancurkan hidup seorang wanita lain". ujar Askara tertunduk.


"Hei..kau jangan bicara seperti itu. semua yang terjadi pasti sudah atas kehendak Tuhan, kau hanya cukup menjalani semuanya dengan baik untuk menebus rasa bersalahmu pada istrimu". nasehat Dalila.


Jujur di dalam hati kecilnya, Dalila juga merasa sedikit tidak rela setelah mengetahui kabar jika Askara sudah menikah bahkan istrinya tengah mengandung. selama berada di Jerman, Dalila baru menyadari betapa hampa dan sepinya hari-hari yang dia jalani tanpa Askara.


Tapi Dalila bukan wanita yang egois, dulu dia yang menolak Askara hingga membuat pria itu melakukan kesalahan hingga merebut kehormatan seorang wanita.


Dalila lebih memilih memendam perasaannya sekarang, dia tidak mungkin membuat Askara sakit hati untuk yang kedua kalinya apalagi jika harus menempatkan Askara dengan pilihan yang sulit hanya karena dirinya mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.


Mungkin ini saatnya Dalila merelakan Askara, karena selama ini dialah yang menyia-nyiakan perasaan Askara.


"Aku merindukanmu, Dalila". ujar Askara menatap lekat mata teduh Dalila.


"Aku juga merindukanmu,.... sahabatku". Dalila sengaja menjeda perkataan terakhirnya untuk menegaskan hubungan mereka hanya sebatas itu. karena Dalila tau Askara dulu sangat memujanya.


Askara tersenyum kecut mendengar perkataan Dalila. dia berfikir sampai kapan pun Dalila hanya akan menganggapnya sebagai seorang sahabat.


Kedatangan Dalila hari ini, membuat rasa itu muncul kembali di hati Askara. rasa yang sepenuhnya belum pergi bahkan memang tidak pernah pergi dari hatinya.


Askara bahkan bisa melupakan bayangan Anin dari fikirannya saat bersama Dalila seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2