Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 99


__ADS_3

Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan kondisi Dalila. kenapa bukan kau saja yang berada di dalam sana.


Perkataan Askara terus terngiang-ngiang di telinga Anin. bagaimana bisa perkataan menyakitkan itu keluar dari mulut seorang pria yang merupakan suami yang sangat di cintainya hanya karena seorang wanita yang berstatus sebagai sahabatnya.


Rasa sakit dan kecewa begitu mendominasi perasaan Anin saat ini. dirinya bagaikan sebuah figuran di dalam kehidupan Askara dan Dalila. Jika saja bisa memutar waktu kembali, Anin tidak pernah ingin mengenal Askara di dalam hidupnya.


Hidup dengan pria yang masih terjebak di dalam bayang-bayang masa lalunya hanya akan menyisakan luka yang tidak akan ada habisnya. haruskah ia menyerah dan merelakan Askara untuk Dalila dan hidup menjauh dengan anak yang ia kandung.


Hanya dengan membayangkannya saja, Anin di buat tak sanggup. apalagi dia tidak punya pekerjaan tetap sekarang. setidaknya jika dia berniat pergi dari hidup Askara, dia harus punya banyak tabungan untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Anin tidak ingin hidup dari bayang-bayang Askara, termasuk nafkah yang di berikan oleh Askara, Anin akan berniat mengembalikannya jika memang keadaan memaksanya untuk menyerah.


Vivi yang mencari Anin kemana-mana akhirnya menemukan sahabatnya itu duduk di taman seorang diri. Vivi perlahan mendekat, posisi Anin yang duduk membelakanginya membuat Vivi dapat melihat dengan jelas punggung wanita itu bergetar, Anin sedang menangis.


Vivi menarik nafas untuk menenangkan dirinya dari rasa emosi karena perbuatan Askara.


"Anin". panggil Vivi membuat Anin buru-buru menyeka air matanya.


"Vi.. Lo ngapain di sini?". Anin menggeser tubuhnya agar Vivi bisa duduk.


Vivi ikut duduk di samping Anin.


"Gue ke sini buat Lo, Nin. maaf gue sedikit telat". sesal Vivi. jika saja dirinya datang tepat waktu, sudah di pastikan mulut Askara akan berdarah-darah karena terkena bogemannya.


"Lo nggak perlu minta maaf. justru gue yang harusnya bilang kayak gitu. setiap gue ada masalah, Lo selalu terlibat. gue bisanya cuman nyusahin yah, Vi". ujar Anin tersenyum getir.


"Nin, Lo jangan pernah bilang kayak gitu. selama kita temenan, Lo sama sekali nggak pernah nyusahin gue. justru gue yang selama ini banyak terimakasih sama Lo, selama kita sekolah dulu, Lo yang selalu dengan senang hati ngajarin gue banyak hal". terang Vivi ikut sakit hati saat Anin merasa dirinya adalah beban.


"Hanya orang-orang brengsek dan nggak bersyukur, yang nganggep Lo itu nyusahin". geram Vivi yang saat ini mengingat wajah Askara.


"Oh iyya, bagaimana keadaan Dalila? apa dia sudah sadar?". tanya Anin ingin tahu, bagaimanapun dia merasa bersalah pada wanita itu. terakhir Anin dengar bahwa wanita itu baik-baik saja, tapi Anin ingin tahu apa Dalila sudah sadar atau belum.


"Ngapain sih, Nin, Lo masih nanyain keadaan dia. Askara bicara nggak ngotak itu semua karena wanita itu". sewot Vivi tidak suka Anin menanyakan keadaan Dalila.


"Gue tau Vi. tapi keadaan Dalila saat ini juga secara nggak langsung karena gue. meskipun gue nggak tau kalo dia punya alergi tapi perantaranya karena gue".


Vivi menghela nafas berat, Anin masih begitu baik meskipun orang lain sudah berbuat seenaknya pada dirinya.


Anin menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya. "Gue mau liat keadaan Dalila sebentar, Vi. gue mau minta maaf". ujar Anin seraya berdiri dari duduknya.


"Lo nggak perlu ngelakuin ini, Nin. di sana ada Askara, bagaimana kalo suami bejat Lo itu nyakitin Lo lewat kata-katanya lagi".


Anin menguatkan diri. "Gue nggak peduli Vi. yang jelas gue udah mastiin keadaan Dalila, setelah itu baru gue mau pulang".


"Tapi, Nin__".


Percuma saja Vivi melarang, karena kini Anin sudah pergi menjauh meninggalkannya seorang diri di taman. Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Anin, Vivi segera ikut menyusul.


Langkah kaki Anin berhenti tepat di depan pintu tempat Dalila di periksa tadi. kondisi pintu yang setengah terbuka membuat Anin bisa melihat dan mendengar suara Askara di dalam sana.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu?". tanya Askara yang duduk di samping ranjang Dalila.


"Aku baik-baik saja, Askara. tidak ada yang perlu di khawatirkan". ujar Dalila yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit.


Terlihat Askara meraih tangan Dalila yang bebas dari selang infus. "Kau membuatku khawatir".


Perasaan Dalila campur aduk. jika Askara terus memberinya perhatian seperti ini, maka sulit bagi dirinya untuk merelakan pria itu.


Mata Anin kembali memanas melihat Askara menggenggam erat tangan Dalila. segitu perhatiannya Askara pada Dalila hingga mengabaikan dirinya.


Anin hendak meninggalkan tempat tersebut, tapi perkataan Dalila membuatnya menghentikan langkahnya.


"Jangan tinggalin aku Askara, tolong temani aku di sini". ujar Dalila terang-terangan karena dirinya tak sengaja melihat kehadiran Anin di ambang pintu. Askara tentu tidak menyadari kehadiran Anin, karena pria posisi pria itu duduk membelakangi pintu tempat Anin berdiri.


"Aku tidak akan ke mana-mana". balas Askara.


"Tapi bagaimana dengan, Anin?". tanya Dalila yang tatapannya kini bertubrukan dengan Anin yang masih berada di ambang pintu.


Anin tau Dalila menyadari kehadirannya, itulah kenapa wanita itu sengaja bertanya demikian pada Askara. Anin masih berdiri di tempatnya, dia ingin mendengar apa jawaban Askara saat Dalila bertanya mengenai dirinya.


"Aku bisa menyuruh Mia untuk menemani Anin, lagi pula ada Vivi juga. yang terpenting sekarang adalah kau harus segera pulih". jawaban Askara berhasil menohok hati Anin. rasa sakitnya bertambah berkali-kali lipat saat Dalila dengan lancangnya memeluk Askara sambil menatapnya dengan tatapan datar.


Cukup! hati Anin sekarang rasanya di remas kuat melihat pemandangan di depannya. tenyata keputusannya datang ke ruangan Dalila untuk meminta maaf adalah sebuah keputusan yang salah.


Anin melangkah pergi dari sana, bersamaan dengan suara teriakan Vivi yang terus meneriakkan namanya di belakang sana.


"Ada apa lagi, Vi". bentak Anin karena suasana hatinya sedang kacau sekarang.


Vivi menyadari bahwa Anin baru saja habis menangis, lagi. tapi dia harus menyampaikan berita penting yang baru saja dia terima.


"Ponsel Lo kenapa nggak bisa di hubungi?". tanya Vivi.


"Rusak". singkat Anin.


Vivi memijit pelipisnya sebelum mengatakan berita yang mungkin akan kembali membuat Anin sedih.


"Gue mau nyampein sesuatu, tapi Lo jangan kaget". ujar Vivi membuat Anin menatapnya intens.


"Lo mau ngomong apa, Vi. jangan bikin gue khawatir gini". desak Anin, hubungannya dengan Askara saja sudah cukup membuatnya sesak, kini di tambah Vivi yang bicara tidak jelas.


"Ibu Lo masuk rumah sakit". papar Vivi membuat Tubun Anin menegang.


"Apa? Lo nggak lagi bercanda kan, Vi.". Anin tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Vivi menggeleng. "Gue nggak mungkin bercanda soal beginian, Nin. tadi bude Yuni nelfon gue pake nomor ibu Lo. katanya nomor Lo nggak bisa di hubungi makanya dia nelfon ke nomor gue. katanya jantung ibu Lo kumat saat denger berita Lo udah nikah, Nin". terang Vivi dengan wajah seriusnya.


Tubuh Anin mendadak terasa lemas, badannya hampir luruh ke lantai jika saja Vivi tidak sigap menahannya. ujian datang sungguh bertubi-tubi menghantam dirinya. belum selesai permasalahan rumahtangganya dengan Askara, kini Anin harus mendengar ibunya masuk rumah sakit karena dirinya.

__ADS_1


"Anin, gue mohon Lo harus kuat". Vivi sudah tidak bisa membendung air matanya, betapa dia merasa sakit melihat Anin harus di uji bertubi-tubi seperti ini.


"Gue harus ke Bandung, Vi. hari ini juga gue harus liat keadaan ibu gue". ujar Anin hendak bergegas pergi.


"Gue ikut, Nin. kita pergi sama-sama".


"Enggak, Vi. jangan ninggalin kuliah Lo demi gue". tolak Anin tidak ingin merepotkan Vivi terus menerus.


"Gue akan marah kalo Lo nolak tawaran gue, Nin. berarti Lo udah nggak nganggep gue sebagai sahabat Lo".


Anin tampak menimbang, dia tidak punya banyak waktu dan akhirnya mengiyakan tawaran Vivi.


"Iyya, Lo boleh ikut. tapi antar gue ke mansion dulu untuk ambil beberapa baju ganti". ujar Anin melupakan sejenak permasalahannya dengan Askara, dia sangat mengkhawatirkan ibunya sekarang.


"Oke".


Anin dan Vivi kemudian bergegas meninggalkan rumah sakit.


Sesampainya di mansion, Anin langsung menuju kamarnya. mengeluarkan koper yang berukuran tidak terlalu besar dan memasukkan beberapa lembar bajunya. tak lupa, Anin juga membawa vitamin dan suplemen lainnya yang di berikan oleh dokter Ziva.


Anin menyeret kopernya menuruti anak tangga, Mia dan Bi Ratih sudah berada di ruang tengah karena mendengar kabar bahwa Anin akan pergi untuk sementara waktu.


"Non Anin sebenarnya mau ke mana?". tanya bi Ratih dengan raut wajah sedih saat mendengar Anin mau pergi.


"Anin mau pulang ke kampung dulu, Bi. di Bandung, ibu Anin masuk rumah sakit". ujar Anin tersenyum agar bi Ratih tidak terlalu khawatir.


"Kenapa tidak berangkat bareng tuan Askara, non".


Anin terdiam sebentar. bagaimana bisa dia berangkat bersama Askara, jika pria itu sendiri sudah berjanji pada Dalila akan menemani wanita itu di rumah sakit hingga sembuh.


Anin kembali tersenyum.


"Nanti Mas Askara nyusul kok, Bi. dia mau selesain pekerjaannya dulu". bohong Anin.


"Ya sudah, non. hati-hati di jalan yah".


"Iyya, Bi. jaga diri baik-baik yah. Mia, aku titip semua keperluan mas Askara sama kamu, yah". ujar Anin membuat kening Mia berkerut. pasalnya Anin mengatakan bahwa Askara akan menyusul, tapi kenapa justru dia di perintahkan oleh Anin untuk mengurus semua keperluan Askara.


"Iyya, Nona". meskipun sedikit bingung, tapi Mia menurut. dia tidak boleh kepo dengan urusan rumahtangga majikannya.


"Kita pamit yah, Bi, Mia".


"Iyya Non".


"Hati-hati Nona". ujar Mia


Anin menyeret kopernya meninggalkan mansion yang memberinya cukup banyak kenangan selama tinggal di sana bersama Askara. dia sengaja tidak mengabari Askara akan kepulangannya ke Bandung, selain karena masih sangat sakit hati akan sikap suaminya itu, ponselnya juga sedang rusak.

__ADS_1


Sepertinya kepergian Anin kali ini ke bandung, akan dia jadikan sebagai kesempatan untuk menjauh dari kehidupan Askara entah sampai kapan, dia sendiri pun tidak tahu. saat ini, Anin butuh ketenangan, dia juga ingin melihat seperti apa Askara tanpa dirinya untuk beberapa waktu ke depan. apakah pria itu akan mencarinya, atau justru Askara akan baik-baik saja tanpa dia di sisinya.


__ADS_2