Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 133


__ADS_3

Plak... Plak.. dua tamparan secara beruntung kembali mendarat di wajah tampan Askara. kali ini bukan Vivi pelakunya melainkan Mami dari Askara sendiri, yakni Mami Sandra.


Nafas Mami Sandra memburu terlihat dari dadanya yang naik turun menahan emosi yang bergejolak.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Anin?, kenapa Anin bisa seperti ini, Askara?". teriak Mami Sandra tidak jauh beda dengan apa yang di lakukan oleh Vivi beberapa saat yang lalu pada Askara.


"Maafkan aku, Mi". sesal Askara dengan wajah sembabnya. penampilannya jauh dari kata baik


"Maaf kau bilang?, Mami tidak butuh permintaan maafmu anak bodoh". Mami Sandra terus memukuli anaknya.


"Mami benar-benar kecewa padamu, Askara. apa kurangnya Anin selama ini sampai kau tega menyakitinya berkali-kali. apa yang akan Mami katakan pada ibu Anin mengenai keadaan anaknya, bagaimana hancurnya perasaan ibu Anin melihat anaknya terbaring tidak berdaya di dalam sana, apa yang sudah kau lakukan Askara?". perasaan Mami Sandra benar-benar hancur, bukan hanya karena dia begitu menyayangi Anin sebagai anaknya sendiri, tapi dia merasa menjadi ibu yang gagal dalam mendidik Askara.


Sekali lagi, Askara hanya pasrah menerima berbagai bentuk kemarahan dari Vivi dan kini dari Maminya sendiri.


Di tengah-tengah ketegangan yang terjadi, dokter Ziva keluar bersama dengan seorang perawat.


"Bagaimana keadaan menantuku, dok?". Mami Sandra langsung menghampiri dokter Ziva.


"Maaf saya harus mengatakan ini Nyonya Sandra, keadaan Anin kritis karena banyak kehilangan darah, di tambah air ketubannya juga semakin berkurang". tutur dokter Ziva membuat tubuh Mami Sandra seketika limbung.


"Mami".


"Tante"..


semua yang berada di sana ikut panik saat tubuh Mami Sandra hampir hilang keseimbangan setelah mendengar kondisi Anin.


"Jangan sentuh Mami, Askara". tolak Mami Sandra tidak ingin di sentuh oleh Askara, jadilah papi Argio yang mengambil alih memegangi tubuh istrinya itu.


"Anin harus secepatnya di operasi, tapi__". dokter Ziva menggantung perkataannya membuat semua yang sedang menunggu menatap dengan wajah cemas.


"Tapi apa dok?". tanya Askara setengah kesal.


"Kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan salah satu di antara mereka". dengan berat hati dokter Ziva harus mengatakan hal tersebut.


Bak di sambar petir di siang bolong, tubuh Askara langsung membeku, dadanya mendadak sesak dan air mata yang terasa terus berjatuhan membasahi pipinya. sedangkan Vivi yang berharap bisa mendengar kabar baik, kembali menangis tak kuat membayangkan jika Anin harus pergi meninggalkan nya.


Mami Sandra yang berada di dalam rangkulan Papi Argio, langsung berteriak histeris memanggil nama Anin.

__ADS_1


"Selamatkan menantuku, dok.. tolong selamatkan Anin". setelah itu Mami Sandra langsung hilang kesadaran.


"Mami.. Mi". papi Argio panik dan langsung mengangkat tubuh istrinya mencari ruangan yang kosong.


"Apa maksudmu, dok?, bagaimanapun caranya kau harus menyelamatkan anak dan juga istriku, selamatkan mereka berdua. kau ini seorang dokter dan tugasmu menyelamatkan nyawa istri dan anakku yang berada di dalam sana. jika kau tidak bisa menyelamatkan mereka maka berhenti saja menjadi dokter karena kau tidak kompeten". Askara hampir menggila dengan membentak dokter Ziva karena kemungkinan antara Anin dan anaknya, hanya salah satu di antara mereka yang bisa di selamatkan.


Ken yang sedari tadi hanya duduk diam menunggu perkembangan kondisi Anin, lantas berdiri karena tidak terima melihat kakaknya di bentak-bentak oleh Askara.


Bugh.. Ken tak segan-segan melayangkan pukulannya ke wajah Askara.


"Brengsek, beraninya kau membentak kakakku. apa kau tidak sadar bahwa apa terjadi pada Anin saat ini, semua itu karena ulahmu". kemarin-kemarin Ken masih bisa menahan diri, tapi kali ini Askara benar-benar kelewatan.


Askara balik memukul wajah Ken karena tidak terima atas perlakuan pria itu.


"Kau tidak punya hak untuk ikut campur dalam permasalahanku dengan Anin". geram Askara.


"Stop!". lerai Vivi muak dengan keadaan yang terjadi sekarang.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk kalian berdua bertengkar. Anin sedang bertaruh nyawa di dalam sana". geram Vivi menatap nyalang keduanya.


"Kak, tolong lakukan semua yang terbaik untuk Anin. tolong selamatkan Anin dan juga anaknya". baru kali dokter Ziva melihat adiknya memohon dengan sorot mata penuh harap, sebelumnya Ken sama sekali tidak pernah meminta apapun padanya dan itu membuat hatinya tersentuh dan bertekad untuk melakukan yang terbaik untuk Anin.


Andai saja Anin belum bersuami mungkin dokter Ziva akan sangat bahagia jika Ken bisa hidup bersama dengan wanita itu. tapi, saat ini adiknya benar-benar mengharapkannya untuk bisa menyelematkan wanita yang di cintainya meskipun tau bahwa cinta adiknya itu salah.


*****


Mami Sandra yang baru saja sadar beberapa saat yang lalu, terus berdoa untuk keselamatan Anin. termasuk juga Vivi yang terus menatap pintu ruang operasi dengan khawatir.


Sedangkan Askara, dirinya hanya bisa duduk termenung di atas lantai rumah sakit dengan kedua kaki di tekuk, wajahnya terus menunduk menyembunyikan air mata yang tak hentinya keluar.


"Askara". Dalila yang juga masih berada di rumah sakit mendekati Askara yang terlihat begitu hancur.


"Pergi dari sini". usir Askara tanpa mengangkat wajahnya.


"Tapi, Askara__"


"Aku bilang pergi dari sini". bentak Askara membuat Dalila terlonjak kaget.

__ADS_1


Sekretaris Dito yang melihat Askara tidak dalam keadaan baik, memberi isyarat pada Dalila untuk menuruti permintaan pria tersebut agar pergi dari sisi Askara.


"Tuan, minum dulu". sekretaris Dito ikut duduk di atas lantai dan menciptakan sedikit jarak dengan Askara.


"Anin dan anakku pasti selamat kan, Dit?". Askara tidak mengambil air yang di sodorkan oleh Sekretaris Dito, dan memilih melayangkan pertanyaan tersebut.


"Hemm.. Nona Anin adalah wanita yang kuat, dia pasti bisa bertahan". balas sekretaris Dito.


"Anin tidak akan mungkin pergi meninggalkanku kan?". tangis Askara pecah, dan itu terdengar sangat menyakitkan di telinga sekretaris Dito. selain karena jarang melihat Askara menangis, dia juga baru melihat Askara yang begitu kacau bahkan lebih kacau dari saat di tinggal Dalila dulu.


"Anin akan tetap berada di sisi tuan". selepas perkataan sekretaris Dito, Vivi datang dengan langkah tergesa-gesa dan mengabarkan bahwa operasi Anin baru saja selesai di laksanakan.


Mendengar kabar tersebut, Askara langsung bergegas berlari menuju ruang operasi. sesampainya di sana, langkah kaki Askara langsung terhenti saat melihat seorang perawat keluar dari ruang operasi mendorong tabung inkubator berisi bayi laki-laki mungil.


"A-apa ini cucuku?". tanya Mami Sandra dengan bibir bergetar di sertai air mata.


"Iyya nyonya". balas perawat tersebut.


"Pi, cucu kita akhirnya lahir".


"Iyya Mi, dia sangat tampan". Papi Argio juga tidak bisa membendung air matanya karena rasa harunya harus melihat cucunya lahir dalam keadaan seperti ini.


"Anakku, jagoan papa". Askara perlahan mendekati tabung inkubator tersebut. tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutnya saat ini selain rasa haru kebahagiaan melihat anaknya lahir ke dunia.


"Hai jagoan papa". sapa Askara dengan tubuh setengah membungkuk untuk melihat wajah anaknya dari dekat. melihat wajah anaknya untuk yang pertama kalinya, kini dia merasa makin bersalah dan merasa pria yang paling bejat karena telah menyakiti anak dan juga istrinya.


Semua yang berada di sana menangis haru melihat kehadiran malaikat kecil yang sudah lama di nantikan.


"Maaf, tuan dan nyonya, tapi kami harus segera membawa nya ke ruang bayi". ujar perawat.


Bayi Anin yang lahir prematur mengharuskan nya berada di dalam tabung inkubator. Anin yang mengalami ketuban pecah dini, serta kondisi bayi yang masih lemah dengan suhu tubuh yang terus menurun membuatnya harus berada di dalam sana.


"Biarkan saya ikut, sus". ujar Vivi , "Tante, aku titip Anin sebentar yah. segera kabari Vivi kalau ada perkembangan mengenai Anin".


"Iyya sayang".


Satu kekhawatiran Askara terlewat, bayinya lahir dengan selamat, dan sekarang kini giliran Anin yang masih berjuang di dalam sana setelah melahirkan bayi mereka.

__ADS_1



__ADS_2