Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 94


__ADS_3

"Gimana keadaan Lo, Nin?". tanya Vivi yang saat ini sedang berada di mansion untuk melihat keadaan Anin setelah kejadian semalam di mana Askara meninggalkannya di pesta begitu saja.


Setelah mata kuliahnya selesai, Vivi langsung melajukan mobilnya menuju mansion setelah sebelumnya sudah memberi kabar terlebih dahulu pada Anin.


"Gue baik, seperti yang Lo lihat". jawab Anin tenang seolah semalam tidak terjadi apa-apa.


"Bukan fisik Lo, tapi hati Lo". ujar Vivi.


Anin terdiam sebentar, bisa di bilang keadaan hatinya tidaklah baik tapi sebisa mungkin dia menguatkan hatinya agar tidak terlihat rapuh di depan orang-orang yang khawatir terhadap dirinya.


"Baik, nggak ada yang perlu di khawatirkan". Balas Anin seraya tersenyum.


"Senyum Lo itu fake tau nggak". Vivi bisa melihat bibir Anin tersenyum tapi tatapan matanya tidak mengatakan hal yang sama. "Lo mungkin bisa bohongin orang lain, bohongin diri Lo sendiri, tapi tidak dengan gue, Nin".


Raut wajah Anin berubah datar, percuma saja berpura-pura memasang wajah ceria jika akhirnya Vivi tidaklah mudah di kelabui.


"Kalau Lo tau kenapa pake nanya?, pertanyaan Lo justru bikin gue makin kesulitan". Anin mencebikkan bibirnya.


"Ya gue pengen tau aja karena yang gue liat sikap Lo lempeng-lempeng aja kayak nggak terjadi apa-apa semalam. apa Lo nggak marah sama Askara?".


"Tadinya gue marah, kecewa apalagi. tapi pagi ini bi Ratih ngasih gue wejangan kalo rumah tangga itu pasti banyak pasang surutnya terlebih rumahtangga baru kayak gue, pasti ada aja rintangannya tapi gue bertekad untuk bisa lewatin itu semua, jadi gue memutuskan kali ini untuk berdamai dengan rasa kecewa di hati gue". terang Anin.


Vivi menghela nafasnya. "Berdamai boleh, Nin. tapi Lo juga harus tegas sama Askara, jangan biarin dia lebih mentingin Dalila nanti daripada Lo sendiri".


"Hemm.. Iyya gue tau Vi, tapi kali gue capek untuk sekedar ribut atau adu mulut sama Askara".


Vivi mendengus. "Ya udah deh terserah Lo, ini rumah tangga Lo sama Askara gue nggak punya hak banyak untuk ikut campur terlalu jauh, tapi kalo Lo nanti butuh bantuan gue jangan sungkan-sungkan buat bilang ke gue".


"Iyya, nggak sabaran banget sih buat di susahin". tawa Anin.


"Sialan, Lo". umpat Vivi tapi tak benar-benar marah.


"Keluar yuk, Vi". celetuk Anin tiba-tiba.


"Keluar kemana?".


"Kemana aja, gue bosan di mansion terus".


"Emang Askara ngijinin?".


"Tunggu, coba gue telfon dulu".


Anin meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu menekan tombol panggil pada nomor Askara. lama Anin menunggu tapi Askara tidak menjawab.


Percobaan kedua pun sama, sampai pada panggilan ke lima pun Askara masih tidak mengangkat telfonnya.


"Gimana?". tanya Vivi.


"Kayaknya Askara sibuk deh". ujar Anin saat lima panggilannya tak di angkat. "Gue chat aja kali yah, nanti juga pasti di baca". Anin memutuskan untuk mengirim pesan saja.


Anin selesai mengetik pesan dan langsung mengirimnya pada Askara.


"Nanti kalo Askara marah gimana?". khawatir Vivi.


"Nggak bakalan. makanya kita cepetan, kalo udah terlanjur di luar terus Askara marah kan nggak mungkin balik juga, jadi biarin aja".


"Emang mau kemana sih? kasi jelas dulu. gue nggak mau yah ngikutin mood Lo yang kadang nggak jelas itu".


Anin nampak berfikir. "Mmm.. kita belanja aja yuk, pakaian gue udah banyak yang nggak muat. Lo nggak liat perut gue udah makin gede?". ujar Anin teringat bahwa sudah banyak pakaiannya yang sempit karena perutnya makin membesar.


"Ya udah, ayo berangkat". pasrah Vivi akhirnya. bukannya dia tidak mau menemani Anin. hanya saja Vivi takut Askara marah karena keluar bersama Anin.


"Tunggu dulu, gue ambil tas dulu".


Vivi akhirnya menunggu Anin kembali ke atas untuk mengambil tas nya. lalu setelah itu keduanya berangkat ke salah satu mall terbesar di Jakarta.


****


Askara baru saja selesai meeting dan kini dia sudah kembali ke dalam ruangannya, duduk di atas kursi kebesarannya sembari melonggarkan dasinya karena merasa sesak dengan aktivitas yang begitu padat dari pagi hingga siang ini.

__ADS_1


Saat meeting tadi, Askara sempat melihat ada panggilan dan pesan masuk dari Anin serta Dalila. baru saja Askara akan membuka dan mengecek pesan dari Anin tapi pintu ruangannya terbuka membuat Askara mengurungkan niatnya dan memasukan kembali ponselnya lalu fokusnya beralih pada siapa yang baru saja datang.


"Hai CEO super sibuk". sapa Dalila langsung mendaratkan bokongnya pada sofa yang tak jauh dari meja Askara.


"Kau di sini?". tanya Askara yan masih duduk di atas kursinya dengan satu alis terangkat.


"Kalau kau liat aku duduk di sini, berarti aku ada sini". ujar Dalila menjawab pertanyaan konyol Askara.


Askara mendengus pelan. "Maksudku kenapa kau bisa ada di sini?".


"Aku sudah menelfonmu berkali-kali tapi tidak kau angkat". Dalila menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Yah, Askara juga bisa melihat ada beberapa panggilan masuk dari Dalila.


"Aku baru selesai meeting, kenapa memangnya? apa yang membawa sampai kemari?".


"Berarti kau sudah tidak sibuk, kan?". tanya Dalila tanpa menjawab pertanyannya.


"Cepat katakan, Dalila. apa tujuanmu kemari?".


"Temani aku keluar, please". Dalila menyatukan kedua tangannya memohon dengan wajah memelas yang selalu dia tujukan pada Askara dulu jika menginginkan sesuatu.


Askara tersenyum kecil mengalihkan wajahnya melihat sikap Dalila.


"Kenapa kau tersenyum? apa ada yang lucu?". tanya Dalila kesal.


Askara bangkit dari kursinya. "Kau mau keluar ke mana?. tanyanya duduk di sofa seberang Dalila.


"Aku ingin belanja. kau tau sendiri aku baru kembali dari luar negeri dan temanku tidak banyak di sini. hanya Grace yang biasa menemaniku tapi kali ini dia sibuk mengurus keberangkatannya ke Singapore nanti malam. Terang Dalila dengan wajah merengut. jika di fikir kembali, dia dulu menyesal membatasi pertemanannya, alhasil sekarang dia kesusahan sendiri mencari teman jalan, lagi-lagi Askara yang harus dia kandang paksa.


Askara memijit pelipisnya, pasalnya dia adalah orang yang paling tidak suka menemani wanita berbelanja, membosankan, fikirnya.


"Kau tidak mau?". tanya Dalila karena melihat wajah ogah-ogahan dari Askara. "Ya sudah, aku pergi sendiri saja, lanjutkan saja pekerjaanmu". Dalila tersenyum tapi tatapan matanya terlihat kecewa membuat Askara tidak tega.


"Ya sudah, ayo kita berangkat". putus Askara seketika membuat wajah murung Dalila berganti senyum cerah, secerah langit siang ini.


Sementara itu, Anin dan Vivi sudah sampai di mall sekitar 10 menit yang lalu. mereka memasuki salah satu toko pakaian dengan brand ternama. lebih tepatnya Vivi yang menarik Anin masuk. yang tadinya, Anin yang ingin berbelanja, justru kini Vivi yang berubah antusias. Dasar!, cibir Anin dalam hati.


"Yang ini cantik, tapi yang ini juga lucu. Lo ambil dua-duanya aja, Nin". ujar Vivi memegang dua dress hamil.


Anin memutar bola mata malas. "Satu aja, ini kan modelnya sama warnanya doang yang beda".


"Ya udah deh, Lo ambil yang ini aja". saran Vivi pada dress hamil berwarna biru.


"Sebenarnya yang mau make gue atau Lo sih?". tanya Anin kesal karena Vivi yang mengjatuhkan pilihan.


Vivi menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Ya udah deh, terserah Lo mau pilih yang mana". jawabnya.


"Gue ambil yang Lo pilih aja, tapi selebihnya gue yang milih sendiri".


"Iyya nyonya Askara". ujar Vivi menahan rasa geregetnya. "Sabar Vi, Lo lagi ngadepin ibu hamil". gumam Vivi seraya mengelus dadanya.


Anin dan Vivi kembali melanjutkan acara berbelanja mereka dengan memasuki beberapa toko dengan berbagai merk ternama tentunya. Vivi bahkan sempat kaget tadi, saat Anin membayar belanjaannya dengan mengeluarkan blackcard pemberian Askara. meskipun Anin sempat ragu untuk membelanjakannya, tapi dia berfikir realistis, dia adalah istri Askara lagi pula tabungan pribadinya sudah mulai menipis karena di gunakan untuk menanggung keperluan ibunya di kampung. mengingat ibunya, Anin jadi ingin tau kabar wanita itu.


Askara dan Dalila juga sudah berada di mall, terlihat wajah datar Askara yang lengannya di gandeng posesif oleh Dalila memasuki sebuah toko baju.


Dan di waktu yang bersamaan, Anin dan Vivi berjalan keluar dari toko yang sama yang di masuki oleh Askara dan Dalila saat ini.


Dan... Deg


Keduanya bertemu tanpa sengaja.


Anin sempat terpaku. lebih tepatnya mereka semua, karena ini adalah pertemuan yang tak di sangka-sangka. terlebih Anin dan Askara. jika Anin berfikir Askara saat ini berada di kantor, berbeda dengan Askara yang mengira Anin saat ini sedang berada di mansion.


"Mas Askara?". gumam Anin di sela-sela keterkejutannya, begitupun dengan Vivi yang berada di sampingnya.


"Anin". pun sama dengan Askara, pria itu tak kalah terkejut melihat Anin bisa berada di mall.


Mata Anin turun pada tangan Dalila yang menggandeng posesif lengan suaminya. menyadari tatapan Anin, Dalila dengan segera melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bermaksud___". ucapan Dalila terpotong karena ucapan Askara.


"Sedang apa kau di sini?". tanya Askara dengan sorot mata tajam, bagaimana bisa Anin pergi tanpa seizinnya.


"Mas Askara sendiri?". tanya Anin balik dengan wajah datarnya.


"Maaf sebelumnya Anin, aku yang memaksa Askara untuk menemaniku berbelanja. aku tidak punya teman dekat di sini selain Grace tapi dia sedang sibuk, tolong jangan salah paham". Dalila dengan cepat buka suara.


Anin memasang wajah datarnya, namun matanya tak lepas dari wajah Askara. "Kenapa harus suamiku?". tanyanya dingin membuat Dalila terpaku.


"Maksudku kenapa harus Mas Askara". ulang Anin dengan senyum mengembang yang justru terlihat lain di mata Askara. Wajah Anin yang tadinya memandang datar tiba-tiba tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. ada apa ini? fikir Askara.


Dalila terdiam karena pertanyaan Anin seolah mengintimidasinya.


"Kau sendiri kenapa bisa ada di sini, Anin? kenapa kau keluar rumah tanpa izin dariku". Askara menyela dengan cepat.


Anin menatap wajah Askara intens. "Siapa bilang aku tidak izin, Mas?. aku sudah menghubungimu berkali-kali dan juga sudah mengirim pesan. Tadinya aku kira kau memang benar-benar sibuk sampai tidak bisa menjawab dan membalas pesanku". Sarkas Anin menatap Askara dan Dalila bergantian, tidak ada emosi di perkataan Anin. wanita itu berkata dengan tenang tapi mampu membuat Askara terpaku.


Benar, tadi Askara sempat melihat ada pesan masuk dan juga beberapa panggilan tak terjawab dari Anin, tapi karena kedatangan Dalila tadi membuat Askara tidak jadi mengecek ponselnya.


"Maaf, aku tidak sempat membuka ponselku". balas Askara.


Anin mengangguk-angguk. "Tidak papa, Mas. aku tau kau sangat sibuk". lagi-lagi Anin sengaja menekankan kata terakhirnya membuat Askara merasa sedang di sindir oleh Anin.


"Oh Iyya karena Mas Askara ada di sini, aku sekalian mau pamit. sampai ketemu di mansion. Dalila maaf yah, aku harus pulang duluan". pamit Anin dengan sorot mata yang entah, Askara sendiri tidak bisa mengartikannya.


"Ayo,Vi". ajak Anin


"Ah..Iyya". Vivi terkesiap karena sedari tadi dia terpaku melihat sikap Anin yang biasa-biasa saja di depan Askara dan Dalila. jika saja dirinya yang berada di posisi Anin, makan Vivi akan memberi pelajaran pada Dalila, terlepas dari statusnya sebagai sahabat Askara. wanita macam apa yang mengajak suami orang lain menemaninya berbelanja, alasan saja jika dia bilang tidak punya teman.


Askara sama sekali tidak bergeming, bahkan saat Anin sudah melewati tubuhnya, pria itu tidak berniat menahan istrinya sama sekali.


"Sana kejar, Askara". suruh Dalila karena Askara hanya diam bahkan saat punggung Anin sudah menjauh.


"Tidak perlu, nanti juga kita akan bertemu di mansion".


Dalila menepuk jidatnya mendengar jawaban Askara. "Astaga, kau ini pria macam apa hah? nanti kalau Anin salah paham bagaimana? kau tidak lihat tatapan Anin padaku tadi?".


"Aku lihat, tapi sudah terlanjur juga". Bagi Askara mengejar Anin saat ini hanya akan memperumit masalah. jadi pria itu memutuskan untuk bicara saat tiba di mansion.


"Kau benar-benar tidak peka, Askara". gumam Dalila saat punggung Askara mulai menjauh meninggalkannya.


Anin menutup pintu mobil Vivi hingga menimbulkan suara dentuman cukup keras. wanita itu memejamkan mata sejenak dengan tangan yang mengcekram kuat kursi mobil. saat di dalam mall tadi, Anin dengan sekuat tenaga menopang tubuhnya agar tetap berdiri kuat, menahan sesak di dadanya agar matanya tak berair saat melihat Dalila bergelayut mesra di lengan Askara.


Anin berbicara dengan tenang namun sekuat tenaga dia menahan suaranya agar tidak bergetar, memasang senyum terbaiknya padahal hatinya sendiri tengah menahan sakit.


"Lo nggak papa?". tanya Vivi khawatir.


"Lo liat sendiri kan, Vi?. Mas Askara sama sekali nggak nyusul gue. dia sama sekali nggak ngejar gue bahkan sekedar ngejelasin ini salah paham pun enggak. Mas Askara nggak ngelakuin itu, Vi". Anin terisak sambil menunduk mengingat bagaimana Askara hanya diam mematung saat melihat dirinya pergi.


Vivi menarik Anin dalam pelukannya, rasanya juga tadi Vivi menonjok wajah tampan Askara karena sama sekali tak bergeming melihat Anin pergi.


"Lo yang tenang yah. jangan terlalu di pikirin, kasian anak Lo nanti".


Anin menghentikan isakannya, jika menyangkut anaknya, wanita itu dengan cepat akan mengontrol emosinya.


"Maafin gue, Vi. gue udah banyak ngerepotin Lo". ujar Anin merasa tidak enak.


"Lo nggak pernah ngerepotin gue sama sekali, Nin". balas Vivi.


"Makasih yah".


"Hemm".


"Kita langsung pulang aja yah? gue capek" ujar Anin. "Lebih tepatnya hati gue". lanjut Anin dalam hati.


Vivi menuruti perkataan Anin dan segera menghidupkan mesin mobilnya kemudian meninggalkan basement mall.


Anin kembali diam sambil menatap jalanan lewat jendela kaca mobil. ingatannya kembali melayang pada Askara dan Dalila. sebelumnya, Askara sendiri adalah orang yang susah di ajak untuk berbelanja, tapi dengan Dalila, pria itu justru terlihat melakukannya dengan sepenuh hati tanpa ada rasa terpaksa di wajahnya.

__ADS_1


Jangan tanya lagi perasaan Anin saat itu, dia sakit dan juga kecewa. tapi tadi dia bisa menutupinya dengan begitu baik hingga membuat Anin berfikir apakah mulai sekarang dia abaikan saja jika Askara bersama Dalila? dia ingin melihat Askara merasa frustasi saat dirinya tidak merespon sebagaimana yang seharusnya. contohnya tadi, mungkin Askara kira dia akan marah tapi justru dia bersikap begitu tenang. dan yah, Anin bisa lihat bahwa Askara cukup kaget melihat sikapnya tadi.


Mulai sekarang Anin akan masa bodoh, bukan semata-mata karena tidak peduli. tapi dia ingin melihat sefrustasi apa Askara saat dirinya sudah tidak lagi menunjukkan kepeduliaannya terlebih lagi menunjukkan rasa cemburunya saat melihat pria itu bersama Dalila. Anin akan melakukan itu, seperti apa yang dia lakukan di dalam mall tadi.


__ADS_2