
Anin sedang dalam perjalanan menuju alamat butik yang kirimkan oleh Askara tadi. sepanjang perjalanan menuju butik, Anin tak hentinya memikirkan pesta yang akan berlangsung beberapa jam lagi. itu artinya sebentar lagi orang-orang akan tau siapa dirinya.
Lamunan Anin berakhir saat mobil yang membawanya sampai tepat di depan butik besar dan ternama.
"Kita sudah sampai Non". ujar pak Hilman mematikan mesin mobil.
"Iyya pak". balas Anin tersenyum.
Seorang pegawai keamanan toko membukakan pintu mobil Anin. Di parkiran yang sama, terlihat mobil Askara sudah berjejer dengan beberapa mobil lainnya. Askara pasti sudah menunggu di dalam.
"Mari Nona". ujar pegawai tersebut mengarahkan Anin memasuki toko, yang di ikuti Anin di belakangnya.
Pegawai pria tersebut hanya mengantar Anin sampai di depan pintu karena kini di ambil alih oleh seorang pegawai perempuan yang mengenakan seragam rapi menyambut Anin dengan ramah.
"Dengan Nona Anin?". tanya pegawai tersebut.
"Iyya betul". balas Anin ramah.
"Mari ikuti saya Nona, tuan Askara sudah menunggu di atas". pegawai tersebut berjalan lebih dulu menaiki lantai 2 tempat di mana Askara sudah menunggu.
"Baik". Anin mengikuti langkah pegawai tersebut.
Mata Anin sempat melihat-lihat isi butik tempatnya berada sekarang. banyak gaun pengantin, jas, gaun pesta dan gaun jenis lainnya yang menggantung rapi di tempatnya masing-masing.
Anin yakin harga gaun di tempat ini berharga fantastis.
"Tuan Askara menunggu anda di dalam nona". pegawai tersebut berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan.
"kalau begitu saya pamit turun kembali Nona". lanjutnya.
"Terima kasih". Anin tersenyum ramah sebelum pegawai tersebut meninggalkannya.
Anin membuka pintu ruangan tersebut. terlihat di dalam ruangan Askara sedang berbicara dengan seorang wanita yang kira-kira sepantaran dengan Mami Sandra.
Askara menghentikan sejenak obrolannya dengan Tante Sarah, sang pemilik butik. Askara berdiri dari duduknya di ikuti oleh Tante Sarah yang menatap hangat kedatangan Anin yang sebelumnya sudah di bicarakan oleh Askara.
"Sayang, kau sudah datang?". tanya Askara menghampiri Anin yang masih berdiri di tempatnya.
"Iyya Mas". balas Anin kemudian tersenyum pada Tante Sarah yang juga menatapnya dengan senyum simpul.
Askara menarik pinggang Anin menuntunnya berjalan ke arah sofa yang di duduki nya tadi.
"Jadi ini istrimu, Askara?". tanya Tante Sarah saat melihat Anin dari jarak yang lebih dekat.
__ADS_1
"Iyya Tante, ini istriku". Askara memperkenalkan Anin dengan bangga di depan Tante Sarah.
"Cantik sekali, kau memang pandai memilih pasangan". puji Tante Sarah.
Anin menjadi tersipu mendengar pujian dari Tante Sarah..
"Terimakasih". balas Anin tersenyum.
"Oh Iyya perkenalkan, aku Sarah. kau bisa memanggilku Tante Sarah seperti Askara memanggilku. Aku adalah sahabat Sandra, Mami Askara sekaligus mertuamu". Sarah mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya pada Anin.
Anin menyambut dengan senang hati uluran tangan Tante Sarah, "Aku Anin, senang bisa bertemu dengan Tante Sarah".
Sarah kembali tersenyum, di lihat dari wajahnya Anin sepertinya wanita yang lembut, cocok untuk Askara yang punya sikap keras kepala.
"Ayo silahkan duduk". Sarah mempersilahkan Anin untuk mengisi sofa yang tadi di duduki oleh Askara dan dirinya.
"Perutmu lucu sekali, sudah berapa bulan?" tanya Tante Sarah mengajak Anin mengobrol sebentar sebelum mereka fitting baju yang sudah di pesan oleh Askara.
"Sudah 4 bulan Tante, sebentar lagi memasuki usia 5 bulan". balas Anin.
"Wah, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. sehat-sehat yah sampai lahiran".
"Amin. terimakasih doanya Tante".
"Oh Iyya, kalian tunggu di sini sebentar". Tante Sarah berdiri dari duduknya mengambil sebuah kotak berukuran cukup besar yang terletak di sebuah meja yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Tante Sarah membawa dan meletakkan kotak tersebut ke atas meja sofa yang di duduki Anin saat ini.
"Apa ini Tante?". tanya Anin bingung menatap Tante Sarah dan Askara bergantian.
"Bukalah". ujar Askara.
Anin menuruti perkataan Askara lalu membuka kotak berwarna coklat tersebut.
Sebuah gaun berwarna merah terlipat rapi di dalam kotak tersebut.
"Mas..?". gumam Anin menatap suaminya.
"Kau pasti tau kan tujuanku mengajakmu ke sini? Ya karena ini, aku sudah mempersiapkan gaun yang akan kau pakai malam ini. aku ingin kau terlihat yang paling bersinar di antara para tamu yang datang, karena kau adalah istri seorang Askara Wira". terang Askara menatap lekat wajah Anin.
Mendengar perkataan Askara membuat hatinya berdesir merasakan getaran yang mampu membuatnya merasakan bahagia berkali-kali lipat.
"Askara benar Anin. bahkan gaun ini sudah Askara siapkan jauh-jauh hari sebelum acara ini dan dia sendiri yang request desain gaun khusus untuk ibu hamil tanpa mengurangi tingkat kecantikan dari orang yang memakai gaun ini, dan itu hanya untuk kamu. romantis sekali bukan? selama Tante kenal dengan Askara, baru kali ini dia memperlakukan seorang wanita begitu istimewa." Tante Sarah menimpali.
__ADS_1
Lagi-lagi Anin di buat tidak percaya mendengar penjelasan Tante Sarah. apa katanya tadi? dia adalah wanita pertama yang di perlakukan istimewa oleh Askara?. jadi, apa itu artinya bahkan Dalila yang merupakan cinta pertama Askara belum pernah merasakan posisi seperti dirinya sekarang ini. jika itu benar, maka Anin patut merasa sangat bahagia sekarang.
"Sekarang kau coba yah gaunnya, takut ada yang kurang atau bahkan ingin di tambah". ujar Tante Sarah menarik atensi Anin.
"Iyya Tante".
"Mas tunggu sebentar yah". ujar Anin bersiap ke ruang ganti yang ada di dalam ruangan.
"Hemm". singkat Askara.
Anin mengikuti Tante Sarah ke ruang ganti, karena memang untuk memakai gaun tersebut butuh bantuan satu orang.
Sambil menunggu Anin fitting gaun, Askara memainkan ponselnya untuk sekedar mengusir rasa bosan.
Sreekk.. suara tirai di buka.
Askara mengangkat kepalanya saat menyadari Anin sudah selesai. Istrinya itu sudah berdiri di depannya dengan memakai gaun pilihannya.
Askara terpaku menatap penampilan Anin dalam balutan gaun merah panjang hasil desain pilihannya. kulit Anin yang putih bersih begitu kontras dengan gaun merah yang melekat di tubuhya. tanpa polesan make up saja Anin sudah secantik ini, apalagi jika nanti seorang MUA profesional yang di pekerjakannya menangani Anin untuk pesta nanti malam, pasti akan membuat semua orang yang melihat Anin merasa terpukau.
"Bagaimana Mas?." tanya Anin meminta pendapat Askara. Anin sedikit ragu dengan penampilannya, pasalnya Askara hanya menatapnya dalam diam.
"Cantik, sangat cantik". ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Askara tanpa paksaan karena terlihat begitu alamiah.
Askara sadar ucapannya pasti akan memberikan dampak yang besar bagi Anin. tapi memang kata-kata itulah yang pantas menggambarkan penampilan Anin saat ini.
Anin tersenyum simpul mendengar pujian dari suaminya.
"Kan benar.!". seru Tante Sarah yang berdiri di samping Anin.
"Apa Tante bilang, Askara pasti akan suka melihat penampilanmu. kau memang sangat cantik Anin". Tante Sarah ikut memuji penampilan Anin. apalagi saat di dalam ruang ganti tadi, Anin sempat merasa ragu gaun ini akan membuatnya terlihat cantik atau tidak khususnya di mata Askara.
"Iyya Tante, terimakasih karena ini sangat sempurna untuk Anin". Anin sangat senang dan merasa beruntung di pertemukan dengan orang-orang baik yang berada di kehidupan Askara.
"Sama-sama sayang. sekarang kita ganti lagi yah bajunya. kasian nanti kalau kau terlalu capek". Tante Sarah mengajak kembali Anin untuk kembali ke dalam ruang ganti.
Askara kembali duduk di kursinya setelah tubuh Anin hilang di balik gorden yang menjadi penghalang ruang ganti. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Askara menatap ke arah pintu, dia cukup terkejut melihat kehadiran seseorang di sana.
"Dalila?" gumam Askara melihat kehadiran Dalila di butik Tante Sarah.
Apa yah yang kira-kira selanjutnya terjadi?"
mau lanjut? vote, like, dan komen dulu dong.
__ADS_1