Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 91


__ADS_3

Anin menyingkirkan sejenak segala rasa sesak di dadanya saat melihat kedekatan Askara dan juga Dalila siang tadi di butik Tante Sarah.


Saat ini Anin sedang duduk di depan cermin besar , wajah cantiknya sedang di poles make up oleh seorang MUA yang di datangkan khusus oleh Askara ke mansion untuk mendandaninya.


"Tanpa riasan tebal, Nyonya muda sudah terlihat sangat cantik". puji sang MUA yang bernama Jane.


Anin tersenyum simpul mendengar pujian Jane.


"Terimakasih kak Jane". ujar Anin, keduanya sempat saling berkenalan tadi.


Dan Jane sendiri merasa sedikit terkejut mengetahui istri Askara masih sangatlah muda. di tambah lagi sikap Anin yang ramah dan lemah lembut membuat Jane membuang jauh fikiran negatifnya tentang sosok istri Askara saat sedang dalam perjalanan menuju mansion.


Yah, tadi Jane sempat membayangkan seperti apa sombongnya sosok istri Askara yang merupakan istri seorang pengusaha sukses, ternama, dan juga memiliki kekayaan berlimpah. namun saat bertemu dengan Anin, Jane langsung menyukai wanita yang sedang mengandung tersebut. semua sifat buruk yang di bayangkan oleh Jane sama sekali tidak terdapat dalam diri Anin.


Anin menatap pantulan dirinya dalam cermin. sungguh hasil karya dari tangan Jane bisa menyulap dirinya yang biasa saja menjadi begitu cantik malam ini.


Perasaan gugup tiba-tiba melandanya. sebentar lagi dia akan bertemu dengan banyak orang dan mereka semua bukanlah orang biasa, melainkan para kolega bisnis Askara.


Anin meremas gaun merah yang di kenakannya. bayangan akan suasana pesta nanti memenuhi fikirannya. Anin bahkan sampai tidak sadar menarik nafas berkali-kali untuk menetralkan rasa gugupnya.


"Apa kau gugup?". tanya Jane yang sedang merapikan rambut Anin.


"Iyya kak". jawab Anin jujur.


Jane tersenyum dari balik pantulan cermin.


"Itu hal yang wajar, tapi jangan terlalu di jadikan beban fikiran. Bersikaplah setenang mungkin dan nikmati pestanya". Jane menenangkan.


"Terimakasih sarannya kak Jane". ujar Anin yang di balas senyuman oleh Jane.


Pintu kamar tamu terbuka di mana Anin sedang di rias oleh Jane.


Mia berjalan memasuki ruangan.


"Apa Nona Anin sudah selesai?". tanya Mia berdiri tidak jauh dari Anin.


"Kau datang di waktu yang tepat". ujar Jane. "Nyonya muda sudah selesai". lanjutnya.


"Tuan Askara sudah menunggu di luar". lapor Mia.


"Baiklah. katakan bahwa aku akan segera keluar". balas Anin.


Mia meninggalkan ruangan tersebut.


Anin menarik nafas dalam menetralkan rasa gugupnya. setelah Jane mengatakan bahwa semuanya sudah selesai, Anin bangkit dari kursinya untuk menemui Askara yang sudah menunggunya di luar.


Suara ketukan high heels yang bertemu dengan lantai keramik menarik atensi Askara.


Pria itu menatap takjub penampilan Anin yang terlihat nyaris sempurna malam ini. Anin sungguh cantik di balut gaun merah panjang, perutnya yang menyembul semakin terlihat seksi di mata Askara.


"You're so beatiful". Puji Askara dengan mata yang menatap lekat penampilan Anin.


"Kau serius mas?". tanya Anin memastikan.


"Aku serius sayang, kau nyaris sempurna malam ini". Askara mendekat dan merangkul pinggang Anin lalu mencium bahu putih mulus Anin yang tereksspose.


"Mas, aku geli". Anin bergerak tidak nyaman karena aksi Askara.


Askara terkekeh melihat semburat merah di wajah Anin.


"Bisa kita berangkat sekarang?". tanya Askara memberi kode pada Anin untuk menggandeng lengannya.


"Aku siap Mas". jawab Anin mantap sembari tersenyum.


Keduanya pun segera berangkat ke hotel milik keluarga besar Askara.


Sepanjang perjalanan, Anin terus meremas tangannya yang entah kenapa berkeringat dingin. dia tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak apalagi ini adalah kolega bisnis Askara.


"Kau gugup?". tanya Askara meraih tangan Anin yang terasa dingin.


"Hemm..sedikit". balas Anin tidak ingin membuat Askara cemas.


"Kau tidak perlu khawatir, ingatlah selalu ucapanku". Askara menenangkan Anin.


Askara dan Anin akhirnya sampai di depan hotel berbintang lima tempat pesta di gelar.


Askara membantu Anin turun, bersamaan dengan itu mobil sekretaris Dito juga baru sampai.


Anin tidak percaya dengan apa yang dia lihat, sosok yang bgitu di kenalnya keluar dari mobil sekretaris Dito.


"Vivi". seru Anin tidak percaya. akhirnya ada juga orang yang dia kenal datang di pesta ini. setidaknya Anin merasa sedikit lebih tenang.


"Selamat malam tuan". Sekretaris Dito membungkuk penuh hormat pada Askara. Vivi tersenyum kaku pada Askara yang di gandeng paksa ke pesta malam ini oleh sekretaris Dito.


Vivi menatap Anin lewat tatapan mata yang seolah berkata tolongin gue namun Anin tidak mengerti. Vivi sebenarnya menolak datang ke pesta malam ini. tapi setelah mengutarakan maksud di gelarnya acara malam ini, mau tidak mau Vivi mengiyakan ajakan sekretaris Dito. Dia tau, pasti Anin akan merasa cemas saat orang-orang sebentar lagi akan mengetahui siapa dirinya.


Askara sendiri sebenarnya penasaran dengan hubungan sekretaris pribadi sekaligus tangan kanannya tersebut dengan vivi yang notabene adalah sahabat istrinya. tapi Askara bukan tipe orang yang akan menanyakan langsung apalagi mencampuri urusan orang lain.


"Ayo kita masuk". Suara Askara menginterupsi ketiganya. Anin bahkan belum sempat mengobrol dengan Vivi.


Askara menyerahkan lengannya untuk di gandeng oleh Anin. dan dengan senang hati Anin menyambut.

__ADS_1


Askara dan Anin memasuki pelataran hotel di susul oleh Sekretaris Dito dan juga Vivi di belakangnya.


"Gaun sialan". gumam Vivi kesal menendang gaun panjang yang dia kenakan karena mempersulit langkahnya.


Vivi yang sehari-hari selalu mengenakan celana jeans dan kaos harus di paksa oleh Dito untuk memakai gaun panjang nan formal.


Sekretaris Dito berjalan tanpa membantu Vivi yang tampak kesusahan.


"Ckk.. Pacar sialan, nggak peka banget sih". gerutu Vivi sedikit mengangkat gaunnya ke atas untuk mempermudah langkahnya.


Tatapan mata seluruh tamu undangan terpusat pada dua pasangan yang baru saja memasuki ruangan tempat di mana pesta sedang berlangsung.


Anin berusaha menahan diri untuk tidak terjatuh, karena kini kakinya benar-benar terasa lemas tak bertulang saat puluhan pasang mata menyoroti dirinya, terlebih dia datang dan di gandeng oleh seorang Askara, sang empunya pesta.


Suara bisik-bisik mulai terdengar sampai ke telinga Anin, namun dia berusaha keras untuk terus memasang senyum manisnya karena Askara yang juga terus menguatkannya di sampingnya.


Sekretaris Dito mengarahkan Askara dan juga Anin untuk langsung naik ke panggung untuk menjawab tuntas tatapan penasaran para tamu undangannya.


Anin terus bergelayut di lengan kokoh Askara, bahkan saat keduanya sampai di atas panggung.


"Selamat malam semuanya". Suara bariton Askara menggema mengisi seluruh penjuru ruangan membuat para tamu undangan memusatkan perhatian mereka pada Askara dan juga Anin yang berada di atas panggung.


"Pertama saya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah berkenan hadir dalam acara pesta grand opening mall terbaru yang baru saja di bangun oleh Wira's grup. Bukan hanya itu, malam ini adalah malam yang sangat spesial. bisa kalian lihat wanita cantik yang saat ini berdiri tepat di samping saya, dia adalah istri saya, Embun Anindira. dan saat ini dia sedang mengandung buah hati kami, mohon do'anya untuk kelancaran persalinan calon anak kami nanti, penerus Wira's grup". Askara mengakhiri pidato singkatnya lalu menatap Anin yang berada di sampingnya.


"Sudah merasa lebih baik?". tanya Askara lembut pada Anin.


"Iyya, Mas". balas Anin.


Setelah itu, suara riuh memenuhi ruangan, banyak dari mereka yang bertanya-tanya. kapan CEO tampan itu menikah? dari keluarga mana istri seorang Askara? kira-kira sudah berapa bulan usia kandungan istri dari Askara? dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.


Kilatan flash dari kamera cukup mengejutkan Anin. setelah pengakuan Askara tadi, para pemburu berita berbondong-bondong mengarahkan kamera mereka pada dua manusia yang sedang menjadi trending pembicaraan saat ini.


"Kau tidak perlu takut, cukup tersenyum manis". bisik Askara lembut tepat di telinga Anin agar istrinya itu tidak panik.


Berbeda dengan Askara dan Anin yang sedang menjadi pusat perhatian orang-orang yang hadir.


Sedangkan di bawah sana, di barisan para tamu undangan.


Ada dua orang yang sedang menahan sesak berdiri tidak jauh dari panggung. Dalila menyaksikan tepat saat di mana Askara memperkenalkan Anin di depan semua para tamu undangan sebagai istrinya, wajah Askara terlihat begitu bahagia takkala meminta do'a untuk kelancaran persalinan Anin. sedangkan Ken, yang berdiri di samping Dalila hanya menatap datar wajah Anin yang tengah tersenyum bahagia di atas sana, setelah lama tidak bertemu dengan Anin, kini pria itu harus di suguhi pemandangan yang membuat hatinya terasa perih.


Yah, Dalila datang bersama dengan Ken. Pria itu sama sekali tidak tau jika pesta yang akan dia hadiri adalah pesta yang di gelar oleh Askara.


Askara dan Anin turun dari panggung, beberapa kolega bisnis Askara menyapa Askara dan juga Anin untuk sekedar mengucapkan selamat atas pernikahan serta kehamilan Anin.


Meskipun tidak sedikit dari mereka yang ingin bertanya kapan tepatnya CEO yang begitu di gandrungi banyak wanita itu menikah, tapi tidak ada yang berani bertanya karena mereka tau seperti apa sifat dan watak Askara yang begitu menjaga privasinya.


Anin tidak membuka suara melainkan hanya terus memasang senyumnya, sesekali hanya menanggapi jika ada yang ada memberinya selamat.


Sekretaris Dito juga sudah ikut bergabung bersama mereka.


"Mas, boleh aku keliling sebentar bersama Vivi?". tanya Anin berbisik karena Askara yang sedang berbincang dengan beberapa tamunya.


"Hemm.. tapi kau harus tetap hati-hati". posesif Askara.


"Iyya, Mas".


Setelah mendapat persetujuan dari Askara, Anin menjauh bersama Vivi mencari tempat yang tidak terlalu ramai.


"Kok Lo bisa ada di sini?". tanya Anin menatap penampilan Vivi yang menggunakan dress berwarna merah, senada dengan dress yang dia kenakan.


"Lo jangan ngeliatin gue kayak gitu". Vivi risih karena Anin menatapnya dari bawah sampai atas.


"Sumpah Vi, malam ini Lo cantik banget". puji Anin karena baru kali ini melihat Vivi memakai gaun panjang.


Vivi memasang wajah congkaknya. "Lo nggak bohong kan?". tanya nya memastikan, pasalnya Dito mengatakan bahwa penampilannya jelek dan itu membuat Vivi sangat kesal dan urung datang ke pesta, tapi karena mengingat Anin adalah sahabatnya, dia jadi kembali memaksakan diri.


"Gue nggak bohong, Vi". ujar Anin.


Vivi beralih menatap penampilan Anin.


"Lo juga cantik banget malam ini, Nin. makin bohay lagi". goda Vivi karena tubuh Anin makin terlihat semok.


"Gue gendutan yah, Vi?". meskipun Vivi tidak mengatakan bahwa dirinya gemuk, tapi Anin selalu merasa parno, takut Askara akan berpaling karena tubuhnya yang makin berisi.


"Gemuk sama bohay itu beda, Nin. Lo malahan keliatan makin seksi". Vivi mengedipkan matanya semakin gencar menggoda Anin.


"Apaan sih Vi, berhenti menggoda gue". kesal Anin.


"Hai, boleh gabung nggak?". interupsi seseorang membuat Anin dan Vivi kompak menatap orang tersebut.


"Ken?". seru Anin dan Vivi bersamaan.


"Kompak banget". Ken terkekeh melihat wajah terkejut dua wanita di depannya.


"Kau kenapa bisa ada di sini?". tanya Anin terkejut melihat kehadiran Ken.


"Aku datang bersama dengan teman kerjaku. kebetulan dia butuh teman ke pesta, jadilah aku yang jomblo ini yang nemenin". ujar Ken membuat Anin merasa tidak enak saat Ken menyebutkan dirinya masih jomblo.


"Terus teman kamu mana?". tanya Vivi.


"Dia sedang menghampiri sang empunya pesta, maksud aku suami Anin". balas Ken menatap wajah Anin, ada kerinduan di dalam hatinya saat bisa bertemu dengan Anin setelah pertemuan terakhir mereka di rumah sakit waktu itu.

__ADS_1


Anin penasaran, siapa sebenarnya teman yang di maksud oleh Ken dan kenapa bisa kenal dengan Askara.


"Kau apa kabar?". tanya Ken penuh kerinduan pada Anin.


"Aku baik. kau sendiri?". tanya Anin balik.


"Aku juga baik. Oh iyya, selamat yah".


Anin menatap bingung Ken yang tiba-tiba memberinya selamat.


"Thanks". meskipun Anin tidak tau Ken memberinya selamat untuk apa, tapi dia tetap membalas tanpa bertanya lebih lanjut lagi.


"Tenyata kalian di sini". seru Dalila datang bersama Askara. wanita itu menggandeng posesif lengan Askara.


Anin, Ken, serta Vivi menatap kedatangan Dalila dan Askara.


Vivi menatap wanita cantik yang menggandeng tangan Askara sembari meneliti wajahnya. apa dia wanita yang bernama Dalila? tanya Vivi dalam hati. karena ciri-cirinya persis seperti yang Anin pernah ceritakan padanya.


Jika Anin menatap tangan Dalila yang melingkar posesif di lengan suaminya, berbeda dengan Ken dan Askara yang justru keduanya sedang melempar tatapan permusuhan, lebih tepatnya Askara.


"Sedang apa kau di sini?". desis Askara tajam menarik kerah kemeja Ken yang di balut jas berwarna biru dongker tersebut.


"Askara".


"Mas Askara". seru Dalila dan juga Anin secara bersamaan.


Dalila melepas cekalan tangan Askara pada kemeja Ken.


Ken merapikan pakaiannya yang agak kusut karena Askara.


"Kau tidak papa Ken?". tanya Anin dengan raut wajah tidak enak.


"Aku baik-baik saja, Nin. kau tidak perlu khawatir". balas Ken tersenyum sinis namun matanya tak lepas dari Askara yang terlihat sedang menahan emosi.


"Kurang ajar". emosi Askara membuncah, dia hendak melayangkan tinju di wajah Ken namun Dalila dengan cepat menahan.


"Kau ini apa-apaan hah?, kau gila? Ken ini temanku". bentak Dalila karena sikap Askara yang tiba-tiba ingin menghajar Ken.


Askara tersenyum sinis saat Dalila menyebut Ken sebagai temannya.


"Teman? jadi dia teman yang kau maksud dan dengan lancangnya kau membawa dia ke pestaku, Dalila?". tanya Askara tajam.


Pertanyaan Vivi akhirnya terjawab saat Askara menyebutkan nama Dalila. jadi benar, wanita yang saat ini ada di depannya adalah Dalila. Sahabat sekaligus cinta masa lalu Askara.


"Mas, sabar. jangan sampai para tamu undangan melihat sikap mas Askara yang seperti ini". peringat Anin, untung saja posisi mereka cukup jauh dari keramaian pesta.


"Anin benar Askara. kendalikan dirimu. sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Ken?". tanya Dalila penasaran, dia tidak tau kenapa Askara bisa kenal dengan Ken, bahkan Askara sampai sangat membenci pria itu.


"Jauhi pria ini, Dalila". titah Askara tegas menunjuk wajah Ken.


"Kenapa aku mesti menjauhi Ken, sedangkan aku sendiri tidak tau apa alasan kenapa kau menyuruhku untuk melakukan itu". Dalila menolak dengan tegas, pasalnya dia sendiri bingung kenapa Askara bersikap seperti sekarang.


"Aku bilang jauhi pria ini berarti kau harus melakukannya". bentak Askara.


"Aku tidak mau, alasanmu sungguh tidak logis, Askara". ujar Dalila berani, meskipun hatinya sedikit tercubit saat Askara membentaknya.


"Kau sudah berani membantahku, kalau begitu ikut aku". Askara menarik tangan Dalila menjauh dari keramaian. pria itu tidak menyadari tatapan Anin yang berubah kecewa saat melihat dirinya membawa Dalila meninggalkan kerumunan.


"Lepaskan aku, Askara". Dalila berusaha melepaskan diri dari cengkraman Askara. namun nihil, tenaga lelaki itu sangat kuat. hingga akhirnya mereka menghilang dari keramaian pesta.


Hati Anin mencolos merasakan sesak saat melihat suaminya justru menarik tangan wanita lain menjauh dari pesta. Askara bahkan sampai melupakan dirinya. hati Anin kembali seperti di hantam benda tumpul tak kasat mata karena perlakuan Askara pada Dalila.


Kenapa Askara begitu marah saat tau orang yang di bawa Dalila ke pesta adalah Ken. apa itu artinya, Askara memang benar-benar belum melupakan perasaannya pada wanita itu?.


"Anin, Lo nggak papa?". Vivi dengan sigap menangkap tubuh Anin yang hampir kehilangan keseimbangan.


"Bawa gue pulang, Vi". ujar Anin berusaha menahan untuk tidak menangis di sini.


"Biar aku antar". tawar Ken menyadari tatapan terluka Anin saat melihat Askara membawa pergi Dalila tadi. dia sendiri cukup bingung dengan situsi sekarang, terlebih hubungan antara Dalila dan juga Askara.


Anin tidak menjawab, dia tidak peduli sekarang siapa yang akan mengantarnya pulang. hatinya sakit melihat Askara pergi bersama Dalila dan yang dia butuhkan sekarang adalah menangis seorang diri di dalam kamarnya.


Dengan di bantu oleh Vivi, Anin meninggalkan pesta yang masih berlangsung. setelah sebelumnya, Vivi memberitahu sekretaris Dito kejadian singkat antara Askara dan juga Ken. jadilah sekretaris Dito menghandle pesta sampai selesai dan akan menemui Vivi nanti di mansion Askara.


Gaun Anin



Gaun Dalila



Gaun Vivi.



Yang di atas itu adalah gambaran gaun yang di kenakan Anin, Dalila, dan juga Vivi. ingat! bukan visual.


Yuhuu ... maafin author yang baru up lagi yah.


gimana part ini? seru nggak?.

__ADS_1


jangan lupa vote, komen, dan like nya yah.


__ADS_2