Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 28


__ADS_3

"Pak Askara marah pada Mami?" tanya Anin hati-hati, Askara sedari tadi hanya diam.


Keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Namun Askara hanya diam sedari tadi, Anin dapat merasakan atmosfer berbeda dari Askara.


Anin berfikir sepertinya Askara memang tidak suka pergi berdua dengannya.


"Pak Askara tidak suka menemaniku cek kandungan?" tanya Anin lagi, namun masih tidak ada jawaban dari Askara.


Anin menghela nafas.


"Aku turun di sini saja, biar nanti aku naik taxi ke rumah sakit" ujar Anin karena merasa tidak nyaman.


Perkataan Anin membuat Askara menatapnya tajam.


"Tidak perlu" jawab Askara ketus.


Anin terdiam, dia tidak membuka suara lagi sampai mobil yang di kendarai Askara memasuki sebuah gedung rumah sakit.


Askara turun dari mobil kemudian disusul oleh Anin.


Kacamata hitam yang selalu berada di dalam mobilnya kini bertengger di hidung mancung Askara, dia sengaja mengenakannya agar orang-orang tidak terlalu mengenalinya, maklum seorang Askara pengusaha yang sukses pasti sudah biasa wara-wiri di media dan juga majalah-majalah bisnis.


Askara berjalan lebih dulu memasuki rumah sakit, Anin hanya mengikuti Askara dari belakang.


Kaki Askara berhenti tepat di depan bagian pendaftaran dan administrasi. Anin berdiri tepat di samping Askara


"Hemm.." Askara berdehem keras pada seorang perawat.


Perawat tersebut sempat terpesona dengan ketampanan Askara.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya perawat tersebut gugup, melirik sebentar pada Anin yang berdiri di samping Askara.


"Saya ingin bertemu dengan dokter Ziva" ucap Askara datar.


"Sudah buat janji sebelumnya pak?" tanya perawat tersebut


"Hemm..atas nama Nyonya Embun Anindira" jawab Askara yang memang sebelumnya sudah di beritahu oleh Sandra bahwa dia sudah membuat janji atas nama Anin.


"Bapak dan ibu silahkan silahkan ikuti saya" perawat tersebut berjalan lebih dulu, Askara dan Anin mengikutinya dari belakang.


Perawat perempuan itu berhenti tepat di depan ruangan dokter Ziva.


"Ini ruangan dokter Ziva, bapak dan ibu bisa langsung masuk. Kalau begitu saya pamit dulu" ucap perawat tersebut.


"Terimakasih sudah mengantar" ucap Anin tersenyum.


Selepas kepergian perawat tadi, Askara menyuruh Anin untuk masuk "Masuklah" titahnya.


"Pak Askara tidak ikut masuk?" tanya Anin.


"Aku akan menunggu di luar" jawaban Askara sontak membuat hati Anin kecewa.


Namun Anin tidak ingin memaksa, tangannya terangkat di udara untuk mengetuk pintu.


"Masuk" jawab seseorang dari dalam ruangan saat Anin selesai mengetuk pintu.

__ADS_1


Anin memutar handle pintu dengan perasaan gugup.


Pintu ruangan terbuka menampilkan seorang wanita cantik dengan jubah putih khas dokter yang melekat di tubuhnya.


"Hai.. kau pasti Anin?" tanyanya ramah saat melihat Anin berdiri di ambang pintu.


Anin agak kaget karena tidak membayangkan dokter kandungan yang akan memeriksanya bisa seramah ini di pertemuan pertamanya.


"Iyya dok" jawab Anin tersenyum.


Sejenak Anin memperhatikan wajah dokter Ziva, dia merasa dokter Ziva mirip dengan seseorang, dia merasa familiar dengan wajahnya, tapi siapa? Namun rasa penasaran Anin buyar saat dokter Ziva mempersilahkannya duduk.


"Duduklah" Dokter Ziva mempersilahkan anin duduk pada kursi didepannya.


"Nyonya Sandra sudah memberitahuku bahwa menantunya hari ini akan datang memeriksakan kandungannya. ternyata kau lebih cantik daripada di foto yang Nyonya Sandra kirim" ungkap dokter Ziva membandingkan foto yang di kirim Sandra dengan aslinya.


Mata Anin membulat, dari mana Mami Sandra mendapatkan fotonya.


"Kau datang sendiri?" tanya dokter Ziva karena Anin masuk ke ruangan seorang diri.


"Tidak, aku bersama suamiku, Askara" jawab Anin.


"Kenapa tidak mengajaknya masuk, apa dia tidak ingin melihat perkembangan calon anaknya?" tanya dokter Ziva.


"Dia sedang..._" ucapan Anin terhenti


"Aku di sini" ucap Askara tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.


Dokter Ziva tersenyum melihat Askara untuk yang pertama kalinya.


Anin menyukai dokter Ziva meski ini pertemuan pertama mereka. tidak hanya cantik tapi juga sangat ramah. semua pasiennya pasti senang memeriksakan kandungannya pada dokter Ziva.


"Terimakasih dok atas pujiannya" balas Anin.


"Pemeriksaannya bisa kita mulai" dokter Ziva berdiri dari duduknya "Anin, berbaringlah di sini" titah dokter Ziva agar Anin berbaring di atas brankar karena akan melakukan USG terlebih dahulu.


Anin mengikuti arahan dokter Ziva dan membaringkan tubuhnya di atas brankar.


"Pak Askara, mendekatkah agar bisa melihat calon anaknya lebih jelas" perintah dokter Ziva karena Askara berdiri agak jauh dari posisi Anin.


Mau tidak mau Askara mendekat.


Dokter Ziva menarik selimut untuk menutupi setengah tubuh Anin.


"Maaf yah" ujar dokter Ziva saat menyingkap dress yang Anin gunakan untuk mengoleskan cairan bening berupa jel pada perut Anin.


Anin meringis malu saat kulit perut putihnya terekspose didepan Askara.


Sedangkan Askara, dia sudah memalingkan wajahnya.


Dokter Ziva mulai menempelkan sebuah alat pada perut Anin yang sedikit mulai membuncit, alat tersebut terhubung pada layar monitor.


"Lihatlah" tunjuk dokter Ziva pada layar.


Mata Anin memperhatikan dengan seksama layar di depannya, begitupun dengan Askara.

__ADS_1


"Apa yang berukuran kecil itu adalah bayiku?" tanya Anin saat melihat layar monitor.


Dokter Ziva tersenyum "Betul, perkembangannya sangat bagus, ukurannya juga sesuai dengan usia kandungan yang sudah menginjak usia 11 Minggu" jelas dokter Ziva.


Mata Askara tak lepas dari layar monitor yang menampilkan calon anaknya yang masih berukuran sangat kecil, Anin dapat melihat sepertinya Askara mulai tertarik.


"Apa jenis kelaminnya sudah terlihat?" kali ini Askara yang bertanya penasaran, ada dorongan dalam dirinya untuk mengetahui jenis kelamin calon anaknya.


"Umumnya di usia kandungan seperti ibu Anin, alat kelamin sudah mulai terbentuk namun belum berkembang secara sempurna sehingga kita belum bisa melihat dengan jelas jenis kelaminnya. Mungkin di pemeriksaan selanjutnya kita bisa mengetahuinya" jelas dokter Ziva.


Askara merasa sedikit kecewa, padahal saat pertama kali melihat calon anaknya di layar entah kenapa dia jadi begitu bersemangat.


"Kalian ingin mendengar detak jantungnya?" tanya dokter Ziva.


"Mau Dok" jawab Anin bersemangat.


Dokter Ziva kemudian mengarahkan alatnya untuk mencari letak jantung bayi dalam perut Anin.


Dan..deg..deg. deg .deg..deg.


Hati Anin terasa hangat, Air matanya lolos begitu saja saat untuk yang pertama kalinya dia dapat mendengar dengan jelas detak jantung calon anaknya.


Perasaan Anin bahagia bercampur haru.


Begitupun dengan Askara, hatinya merasa bergetar saat untuk yang pertama kalinya dia dapat mendengar detak jantung makhluk kecil yang meringkuk dalam rahim Anin.


Perasaan Askara saat ini sulit di jabarkan. ia merasa bahagia, bahkan kekesalannya terhadap Mami nya yang sedari tadi memenuhi fikirannya kini menguap begitu saja.


"Semuanya sangat bagus, hanya saran saya, Bu Anin harus banyak-banyak istirahat karena di usia kandungan yang masih muda seperti ini masih sangat rawan. banyak makan buah dan sayur, pola makannya harus teratur dan tentunya makanannya harus di perhatikan nilai gizi, dan juga kebersihannya" jelas dokter Ziva memberikan wejangan untuk Anin selama hamil.


"Baik Dok, semuanya akan saya perhatikan" jawab Anin.


"Dok, apa boleh foto hasil USG tadi di cetak?" tanya Askara tiba-tiba membuat Anin menatapnya dalam.


Dokter Ziva tersenyum "Tentu boleh pak, memang kebanyakan orang tua baru pasti sangat excited melihat perkembangan anak mereka"


Sambil menunggu Dokter Ziva mencetak hasil pemeriksaan Anin, keduanya kembali duduk di kursi tepat di depan meja dokter Ziva.


"Ini hasilnya" dokter Ziva memberikan selembar kertas kecil pada Askara, berisi gambar janin dari Anin.


"Terimakasih dok" ucap Askara mengambil foto hasil pemeriksaan Anin.


Anin di buat tertegun dengan sikap Askara hari ini, semoga saja ini awal yang baik agar Askara bisa lebih dekat dan mulai menyadari kehadiran janin yang di kandungnya.


"Oh Iyya, ibu Anin apa sejauh ini ada keluhan?" tanya dokter Ziva.


Anin terdiam sebentar, dia tidak mungkin mengatakan pada dokter Ziva bahwa perutnya bawahnya sering sekali merasa kram. Jangan sampai Askara melarangnya untuk bekerja lagi.


"Tidak ada Dok" jawab Anin berbohong.


"Syukurlah kalau begitu. Dan satu lagi saya sudah menyiapkan vitamin, suplemen penambah makan serta suplemen penambah darah yang harus ibu Anin minum secara teratur" jelas dokter Ziva memberikan paperbag berukuran kecil berisi obat-obat yang tadi di sebutkannya.


Anin mengambil paperbag yang dokter Ziva berikan.


"Aku sangat berterimakasih hari ini pada dokter Ziva, kalau begitu aku dan Askara pamit dulu" ucap Anin tersenyum, ia dan Askara bersiap-siap keluar dari ruangan tersebut karena pemeriksaannya sudah selesai.

__ADS_1


__ADS_2