Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 111


__ADS_3

Anin akhirnya pulang setelah sebulan lamanya berada di rumah ibunya. dan kini keduanya sudah sampai di mansion.


Sebelumnya, Askara mengabari maminya bahwa Anin sama sekali belum tau kalau maminya itu sudah pulang. sontak saja hal itu membuat mami Sandra begitu bersemangat untuk memberi Anin kejutan atas kepulangannya.


"Kenapa pake acara tutup mata segala sih, Mas?." keluh Anin karena Askara menutup matanya saat akan memasuki mansion.


"Nurut aja deh, sayang". ujar Askara sambil melambaikan tangannya di depan wajah Anin untuk mengetes apakah Anin masih bisa melihat atau tidak.


"Jalannya pelan-pelan yah". Askara menuntun Anin memasuki mansion.


Sedangkan di dalam mansion, Mami Sandra sudah berdiri tak sabar menunggu kedatangan Anin. dan dari pintu utama, Mami Sandra bisa melihat menantunya memasuki mansion di bantu oleh Askara.


Mami Sandra tersenyum senang saat melihat perut Anin yang sudah semakin membesar di banding sebelum dia berangkat ke Inggris.


"Oke, stop!". Anin berhenti sesuai aba-aba dari Askara.


Askara lalu membuka kain yang menutupi kedua mata Anin.


Anin menetralkan netranya sebentar karena penglihatannya masih sedikit buram akibat di tutup dengan kain tadi. dan setelah itu, Anin dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang berdiri di depannya.


"M-mami Sandra?". seru Anin tak percaya. "Ini beneran Mami?". tanya Anin konyol.


Mami Sandra mengangguk sambil tersenyum lalu merentangkan tangannya, spontan saja Anin langsung menghambur ke dalam pelukan mertuanya itu.


"Mami kapan pulang?." tanya Anin, air matanya bahkan sudah jatuh saking rindunya pada mertuanya itu. "Aku sangat merindukan, Mami".


"Mami juga sayang sangat merindukanmu". balas Mami Sandra yang sengaja berangkat lebih dulu meninggalkan Papi Argio yang rencananya akan menyusul minggu depan.


"Mami kenapa tidak mengabariku kalau sudah pulang?". Rajuk Anin.

__ADS_1


"Awalnya Mami ingin mengabarimu sayang, tapi anak bodoh itu yang melarang Mami". sindir Mami Sandra pada Askara yang berdiri di belakang Anin.


"Anak bodoh? maksudnya Mas Askara?". tanya Anin memastikan.


"Memangnya siapa lagi?, Mami hanya punya satu anak, tapi sayang sekali bodohnya sudah sangat kelewatan". ujar Mami Sandra menggebu-gebu.


"Mami, stop it". peringat Askara karena melihat wajah kebingungan Anin. dia tidak ingin Maminya mengungkit masalah kedatangan Dalila kemarin ke mansion.


"Ini sebenarnya ada apa sih, Mi?, apa Mas Askara ngelakuin sesuatu yang nggak aku tau?". selidik Anin menatap wajah Askara dan Mami Sandra secara bergantian.


Mami Sandra terdiam, dia tidak mungkin memberi tahu kedatangan Dalila kemarin ke mansion. bukan bermaksud untuk menutupinya dari Anin, tapi alangkah lebih baiknya jika Anin tidak perlu tau, demi menjaga ke stabilan emosi menantunya itu.


"Ah, tidak ada sayang. Mami kadang hanya kesal dengan Askara yang terlalu memporsir tenaganya untuk bekerja, kau lihat sendiri kan, sekarang dia tampak lebih kurus". Alibi Mami Sandra.


Anin percaya saja dan ikut setuju dengan apa yang di katakan oleh Mami Sandra.


"Perutmu sudah semakin besar, makin terlihat lucu". Mami Sandra mengalihkan pembicaraan. "Sudah berapa bulan, sayang?."


"Benarkah?, Mami jadi pengen pegang deh". Mami Sandra tak kalah antusiasnya. "Kita ngobrol di ruang tengah yah, sayang". ajak Mami Sandra, ingin melepas kangen dengan menantu kesayangannya.


"Iyya, Mi". ujar Anin.


Dua wanita berbeda usia itu lantas meninggalkan Askara begitu saja, bahkan seolah menganggap keberadaan Askara tidak ada karena tidak di ajak sama sekali oleh Maminya.


Askara mendesis. "Dasar!". kesalnya namun juga senang saat bisa melihat Anin kembali tersenyum karena sepanjang perjalanan pulang tadi, Anin hanya memasang wajah sedih dan murung akibat tidak tega meninggalkan Bu Risa sendirian.


******


Askara memutuskan untuk bersantai di kamarnya sembari mengecek email yang masuk ke dalam ponselnya. tetap saja, defenisi santai Askara tidak pernah jauh dari pekerjaan.

__ADS_1


Fokus Askara terhenti saat sebuah panggilan masuk dari Dalila tertera di layar ponselnya. buru-buru Askara mengangkatnya.


Wajah Askara berubah tegang saat mendengar perkataan Dalila di ujung telfon.


"Kau tunggu aku di sana". setelah mengatakan hal itu sambungan telfon terputus, Askara bangkit dari sofa lalu menyambar kunci mobilnya dan melangkah terburu-buru meninggalkan kamarnya.


Anin dan Mami Sandra yang masih asik mengobrol di ruang tengah mengerutkan kening heran saat melihat Askara berjalan menuju pintu utama dengan langkah tergesa-gesa.


"Askara, kau mau ke mana?". tanya Mami Sandra saat melihat raut wajah khawatir dari Askara


"Maaf Mi, Anin. aku ada urusan sebentar". Askara hanya menjawab seadanya karena buru-buru.


"Mas". panggil Anin namun Askara tidak mendengarkannya.


"Mau kemana anak itu?". gumam Mami Sandra.


"Mi, aku mau nyusul Mas Askara". Anin berdiri dari duduknya, perasaanya jadi tidak enak karena tidak biasanya Askara sekhawatir itu.


"Tapi sayang_".


Ucapan Mami Sandra terpotong karena Anin sudah meninggalkannya.


"Askara sebenarnya kenapa, sih?". kesal Mami Sandra, dia juga tidak bisa tinggal diam lalu bergegas menghubungi nomor sekretaris Dito.


Anin berjalan keluar mencari pak Hilman untuk menyusul mobil Askara.


"Pak, susul mobil Mas Askara, yah". titah Anin yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Baik, Non". ujar pak Hilman lalu bergegas masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Anin berkali-kali menelfon nomor Askara tapi tidak di angkat sama sekali.


__ADS_2