
Sepanjang malam Askara tidak bergeser sedikit pun dari sisi Anin, tangan Anin pun tidak pernah terlepas dari genggaman nya. bahkan Askara rela tidur dengan tidak nyaman demi menemani Anin.
"Tuan.. tuan Askara". sekretaris Dito menyentuh pundak Askara yang tertidur dengan posisi duduk tepat di sisi ranjang Anin, bermaksud untuk membangunkannya.
Askara pun terbangun dari tidurnya, menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal karena tidur dalam posisi duduk semalaman.
"Ada apa, Dito?". tanya Askara dengan suara seraknya.
"Tuan lebih baik sarapan dulu, sejak kemarin belum ada satu pun makanan yang masuk ke dalam perut tuan".
"Aku tidak nafsu makan, Dito".
"Tapi tuan harus tetap makan, kalau sampai kondisi tuan drop, siapa yang akan berada di sisi nona Anin".
Mendengar perkataan sekretaris Dito, membuat Askara kembali menatap wajah damai Anin.
"Kenapa sampai pagi ini Anin belum juga bangun, Dit?, apa Anin semarah itu sama aku?." Askara menundukkan kepalanya sedih.
"Saya yakin sebentar lagi nona Anin akan bangun, lebih baik tuan sarapan dulu".
"Lalu siapa yang akan menjaga Anin__".
"Biar Mami yang menjaga Anin". Mami Sandra datang bersama dengan Vivi.
"Mami". seru Askara dengan suara lemahnya.
"Setelah sarapan sekalian ganti juga pakaianmu, kalau kau ingin tetap berada di sisi Anin setidaknya kau juga harus memperhatikan kesehatanmu". tutur Mami Sandra meletakkan paper bag ke atas meja yang berisi pakaian ganti untuk Askara.
Bagaimanapun Mami Sandra juga merasa kasihan akan kondisi putranya yang terlihat begitu lusuh, apalagi sejak kemarin Askara belum makan, bahkan membasahi tenggorokan nya dengan air pun tidak sama sekali.
__ADS_1
"Ayo tuan". ajak Sekretaris Dito menuju kantin rumah sakit.
"Askara titip Anin sebentar, Mi". Askara berdiri dari tempat duduknya, tidak di pungkiri bahwa sejak semalam perutnya merasa keroncongan tapi tidak ada niatannya untuk makan apalagi jika melihat kondisi Anin.
Selepas kepergian Askara, Mami Sandra menempati kursi yang di duduki oleh Askara tadi.
Menyentuh pelan tangan menantunya yang bebas dari selang infus.
"Anin". panggil Mami Sandra lembut. tapi baru menyebutkan nama Anin saja, tiba-tiba tenggorokan Mami Sandra sudah merasa tercekat.
"Kamu kapan bangun, sayang?". padahal Mami Sandra berjanji untuk tidak menangis di depan Anin, tapi itu tidak bisa dia lakukan. "Anakmu membutuhkan kamu, Nin".
Mami Sandra tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi. melihat itu, Vivi langsung mengelus lembut punggung Mami Sandra.
"Anin, ini gue Vivi. Lo jangan kelamaan ya tidurnya. kasian anak Lo butuh Lo, Nin". sama hal nya dengan Mami Sandra, Vivi juga tidak bisa membendung air matanya.
"Lo pernah janji kan, bakalan selalu jadi sahabat gue sampai tua nanti. Lo juga pernah janji bakalan nganter gue ke pelaminan kalo gue nikah nanti, Nin. Lo nggak akan ingkar janji kan?". hati Vivi remuk mengingat kenangan demi kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan nya sejak pertama dia kenal dengan Anin. hanya Anin yang mau bertahan di sisinya sebagai seorang teman, hanya Anin yang selalu ada di sampingnya dan mengulurkan tangannya saat dia jatuh. Anin begitu berharga untuk Vivi.
"Vi, kamu sudah hubungi ibu Anin?". tanya Mami Sandra baru teringat akan hal itu. karena saking paniknya kemarin, dia sampai lupa menghubungi ibu Anin.
Vivi mengangguk, "Sudah tant, kemungkinan siang ini bu Risa akan sampai di Jakarta".
"Tante ngga tau harus bilang apa sama ibu Anin nantinya, Vi. pasti dia sangat syok dan kecewa melihat kondisi Anin, Tante merasa bersalah sekali karena tidak bisa menjaga Anin".
"Bagi Anin, Tante Sandra adalah ibu mertua terbaik dan Anin sangat bersyukur memiliki Tante Sandra di dalam hidupnya. dan semua ini juga bukan salah Tante, melainkan salah Askara. maaf kalau Vivi lancang mengatakan itu".
"Tidak papa sayang, apa yang kamu katakan itu memang benar. bahkan Tante sendiri pun masih sangat marah pada Askara". Mami Sandra tidak akan pernah memberikan pembelaan atas apa yang sudah di lakukan oleh Askara meskipun berstatus anak kandungnya.
Kedatangan Ken menarik atensi Mami Sandra dan juga Vivi. Ken ingin melihat secara langsung kondisi Anin pasca operasi karena semalam dirinya hanya bisa melihat Anin dari celah pintu karena keberadaan Askara di sisi wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Anin?". tanya Ken pada Vivi.
"Anin belum siuman sampai sekarang". balas Vivi.
Ken menatap Anin yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, hatinya merasa sakit melihat wanita yang di cintainya harus menanggung akibat dari perbuatan Askara.
"Sedang apa kau di sini?". tanya Askara tidak suka begitu masuk ke ruangan Anin dan melihat kehadiran Ken, "Sudah aku katakan untuk jauhi Anin, tapi kenapa kau masih berani muncul?".
"Askara!". tegur mami Sandra, "Kau tidak seharusnya berbicara seperti itu".
"Mami tidak perlu membelanya, asal mami tau dia itu mencintai Anin dan sampai sekarang dia belum bisa melupakan Anin. kedatangannya ke sini tidak lain hanya untuk menarik perhatian orang-orang bahwa dia peduli pada Anin, basi tau nggak". Askara menatap tajam Ken, ketakutannya akan perkataan Ken tempo hari bahwa dia akan merebut Anin darinya adalah salah satu hal yang memicu emosinya saat ini.
"Apa kau takut dengan perkataan ku tempo hari?". tebak Ken membuat Askara terdiam.
"Aku sama sekali tidak takut". ucap Askara lantang tapi matanya tidak bisa berbohong.
"Kalau begitu kau tidak perlu khawatir, selama Anin masih mau hidup bersamamu maka aku tidak akan pernah melewati batas. tapi mungkin setelah Anin siuman nanti dia akan memilih untuk tidak hidup bersama dengan pria brengsek sepertimu". perkataan Ken sukses memicu emosi Askara.
"Apa kau bilang, hah?". Askara hendak melayangkan pukulan ke wajah Ken tapi di tahan oleh sekretaris Dito.
"Hentikan Askara!". bentak Mami Sandra. "Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal tidak penting seperti itu. jika kalian berdua ingin bertengkar, maka silahkan keluar dari ruangan ini. Anin butuh ketenangan". usir Mami Sandra dengan nafas memburu.
"Jika ada yang harus pergi, maka dia orang yang harus keluar dari ruangan ini". tunjuk Askara geram tepat di depan wajah Ken.
Karena tidak ingin membuat suasana semakin kacau, Ken akhirnya memilih keluar dari ruangan Anin setelah sebelumnya meminta maaf pada Mami Sandra atas ketidaknyamanan yang terjadi karena kedatangan nya.
"Seharusnya kau bisa lebih dewasa sedikit Askara. jangan sedikit-sedikit mudah terpancing emosi". ujar Mami Sandra memperingatkan Askara selepas kepergian Ken.
Askara tidak menjawab ucapan Maminya. dia hanya langsung menyambar paper bag berisi pakaian gantinya dan menuju kamar mandi. dia ingin membersihkan tubuh serta mendinginkan kepalanya yang terasa panas karena kedatangan Ken.
__ADS_1
Sampai kapanpun dia tidak pernah melepaskan Anin untuk orang lain, apalagi untuk Ken.
"Tidak!, Anin tidak boleh dan tidak akan pernah bisa pergi dari hidupku". monolog Askara di bawah guyuran shower.