Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 140


__ADS_3

Semenjak kejadian saat dirinya di usir oleh Anin dari ruang rawatnya. Askara hanya bisa melihat Anin saat istrinya itu terlelap.


Seperti yang di lakukannya saat ini, Askara akan mengunjungi ruang rawat Anin secara diam-diam selepas dirinya pulang dari kantor. kesibukannya mengurus perusahaan juga menjadi salah satu alasan kenapa dia jarang menjenguk Anin di siang hari. dan dia pun tau Anin pasti tidak akan menerima kehadirannya jika dia datang secara langsung di hadapan istrinya itu.


Askara menarik pelan kursi ke sisi ranjang Anin, tatapan kerinduan yang begitu dalam terpancar dari matanya yang terlihat lelah karena kurang tidur.


Di genggamnya dengan lembut tangan Anin seperti yang di lakukannya di malam-malam sebelumnya.


"Aku minta maaf, Nin". kata-kata itu menjadi awal pembicaraan Askara yang mungkin tidak akan di balas oleh Anin karena istrinya itu sudah terlelap.


"Jika ada kata lebih dari kata maaf untuk bisa menggambarkan rasa penyesalanku, maka aku akan mengatakan itu secara berulang-ulang agar kau mau memaafkanmu". ujar Askara dengan suara tercekat, rasanya dia benar-benar tersiksa oleh keadaan.


"Aku sangat mencintaimu, Anin. aku mencintaimu dan juga Jendra. aku tidak ingin kehilangan kalian berdua". sesak, dada Askara langsung terasa sesak mengingat jika harus berpisah dari anaknya.


"Kau boleh membenci dan menghindari aku, tapi tolong jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku, karena aku tidak pernah bisa tanpamu, Nin".


Askara menyeka sudut matanya yang berair, dia tidak bisa berlama-lama berada di dekat Anin karena takut mengganggu waktu istirahat istrinya itu.


Bagi Askara cukup dengan melihat wajah Anin yang terlelap damai, itu sudah mengobati rasa rindunya.


Sebelum beranjak dari ruang rawat Anin, Askara mencium kening wanita yang begitu di cintainya itu cukup lama karena hanya itu kesempatan yang dia miliki sekarang. Askara membenarkan letak selimut Anin dan melirik Vivi yang juga sudah terlelap di atas tempat tidur yang tersedia di dalam ruangan Anin.


Tepat saat Askara keluar, Anin membuka matanya dan tak sengaja menangkap siluet tubuh dari pria itu.


"Apa itu Askara?". gumam Anin meraba keningnya, tidurnya terganggu karena dia merasa seperti ada seseorang yang mencium keningnya. tapi Anin sendiri ragu apakah itu nyata atau itu hanyalah mimpinya.

__ADS_1


Tapi Anin merasa itu sangat nyata, bahkan dia bisa mencium wangi parfum yang biasa Askara pakai sehari-hari.


"Tidak, itu tidak mungkin Askara", buru-buru Anin menepis fikirannya.


Askara yang saat ini masih mengenakan jas kantornya berjalan menuju ruangan bayi tempat di mana Jendra berada. tanpa banyak yang tahu, selama ini Askara selalu tidur di rumah sakit tapi di depan ruangan bayinya, dan pria itu akan pulang pagi-pagi sekali.


"Tuan akan tidur di sini lagi?". tanya salah satu perawat yang baru saja memeriksa keadaan Jendra. dia mengenali Askara karena setiap malam pria itu tidur menemani bayinya.


"Bagaimana keadaan anakku, sus?". tanya Askara tanpa menjawab pertanyaan perawat tersebut.


"Keadaannya semakin membaik tuan, apalagi setelah mendapatkan ASI dari nyonya Anin". ujar perawat, beberapa hari yang lalu ASI Anin akhirnya keluar meskipun awalnya masih sedikit.


Askara mengangguk mendengar penuturan perawat tersebut. dia lalu duduk di kursi panjang yang beberapa hari terakhir ini menjadi tempat tidurnya. meskipun sangat tidak nyaman dan terkadang badannya terasa remuk saat bangun tidur, tapi Askara sama sekali tidak masalah.


Setiap paginya setelah menghabiskan sarapannya, Anin akan melakukan rutinitas barunya yaitu pumping ASI untuk stok Jendra. karena belum bisa menyusui Jendra secara langsung, membuat Anin harus menampung sumber kehidupan bayinya itu di dalam botol yang sudah di sediakan oleh Mami Sandra sebelumnya.


Awalnya Anin sempat merasa stres karena ASI nya hanya keluar sedikit, tapi setelah di tenangkan oleh Mami Sandra dan di beri suplemen pelancar ASI, kini justru Anin yang di buat kewalahan karena setiap dua jam sekali dia harus pumping agar payudara nya tidak nyeri.


"Udah pumpingnya, Nin?". tanya Vivi yang baru balik dari kantin rumah sakit.


"Udah, tuh". Anin menunjuk beberapa botol yang berhasil dia pumping pagi ini.


"Kita ke ruangan Jendra sekarang, ya. gue udah kangen banget". cengir Anin yang setiap saat selalu merindukan bayinya itu.


"Ya udah, ayo". seperti biasa Vivi akan membantu mendorong kursi roda Anin.

__ADS_1


Sebenarnya semalam Vivi mengetahui kedatangan Askara ke ruang rawat Anin. dirinya benar-benar belum terlelap sehingga mendengar dengan jelas semua yang di katakan oleh Askara. tapi Vivi tidak ingin menyinggung ataupun membicarakan tentang Askara di depan Anin. bahkan Mami Sandra dan Bu Risa juga sama sekali tidak pernah menyebut nama Askara di depan Anin selepas di mana Askara di usir oleh Anin dari ruang rawatnya.


Kedatangan Anin di sambut ramah oleh perawat yang bertugas menjaga Jendra.


"Selamat pagi, sus?". sapa Anin dengan senyum mengembang.


"Pagi nyonya Anin, bawa stok ASI yah?". tebak perawat tersebut.


"Iyya sus, tolong di kasi ke Jendra ya. dia pasti sudah lapar". Anin memberikan botol susu berisi ASI hasil pumpingnya.


"Oh ya, sus. apa Jendra rewel semalam?". tanya Anin sembari memperhatikan Jendra meminum ASI nya.


"Jendra tidak pernah rewel nyonya, apalagi setiap malam selalu di jaga sama Papanya". ungkap perawat tersebut.


Kening Anin berkerut, "Papa?". tanya Anin menatap wajah Vivi yang juga sama bingungnya.


"Iyya nyonya, setiap malam suami nyonya Anin selalu tidur di depan ruangan Jendra. suami nyonya Anin perhatian banget ya, bahkan dia langsung menjaga Jendra tanpa sempat mengganti pakaian kantornya". lanjut perawat itu lagi.


Anin terdiam cukup lama, jantungnya berpacu dengan cepat. apa kata perawat tadi?, Askara selalu menemani Jendra setiap malam?, apa itu artinya semalam dia benar-benar tidak bermimpi melainkan Askara benar-benar datang ke ruang rawatnya.


"Nyonya Anin beruntung ya punya suami seperhatian itu". celetuk perawat tersebut yang mengira bahwa hubungan rumah tangga Anin dan Askara begitu harmonis.


"Iyya, sus". Anin memaksakan senyumnya kepada perawat tersebut.


Anin berfikir bahwa semua yang di lakukan oleh Askara adalah sebuah bentuk penebusan rasa bersalah atas apa yang telah di lakukan pria itu padanya, dan bukan karena benar-benar mencintai dirinya ataupun Jendra. dia tidak boleh luluh hanya karena mendengar cerita dari perawat rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2