Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 21


__ADS_3

Anin akhirnya sampai di mansion keluarga Askara bersama Mami sandra.


Semenjak memasuki gerbang mansion mata Anin menatap tak berkedip betapa mewahnya desain dan besarnya bangunan tersebut.


Jika selama ini dia hanya membayangkan seperti apa mewahnya sebuah mansion, sekarang saat ini dia benar-benar tinggal di sana.


"Selamat datang di mansion keluarga Wira" ujar Sandra tersenyum pada Anin saat keduanya memasuki mansion.


"Terima kasih Mi" balas Anin tulus.


"Semoga kau betah tinggal di sini"


Anin hanya mengangguk, tidak tau harus jawab apa.


"Bi Ratih" Mami Sandra memanggil seseorang.


Tak lama datanglah seorang wanita yang sudah cukup berumur dari arah belakang.


"Iyya Nyonya besar" Wanita tua yang di panggil Bi Ratih tersebut mendekat dan memberi hormat pada Sandra dan juga Anin.


Anin membalas dengan seulas senyum kaku, tidak terbiasa di perlakukan seperti itu apalagi dengan orang yang umurnya jauh lebih tua darinya.


"Bi.. ini aku kenalkan Anin, istrinya Askara. mulai sekarang dia akan tinggal di sini, tolong layani dia sebaik mungkin karena dia sedang hamil" jelas Sandra membuat raut terkejut di wajah Bi Ratih.


"Istri?, sejak kapan Tuan Askara menikah Nyonya?"


"Dua bulan yang lalu, Bibi tau sendiri Askara orang yang tidak suka kehidupan pribadinya di ekspose" Sandra terpaksa berbohong, tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Saya ikut senang mendengarnya Nyonya besar" Bi Ratih tersenyum mendengar tuan muda yang selama ini di rawatnya sejak kecil sudah menikah bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Bi Ratih beralih menatap Anin yang terlihat sederhana.


"Selamat datang di mansion Nona Anin, perkenalkan saya Bi Ratih yang akan membantu mengurus semua kebutuhan nona selama tinggal di sini, dan selamat sekali lagi atas kehamilannya"


Semua di luar ekspektasi Anin, orang-orang terdekat Askara menerimanya dengan baik.


Kecuali, Askara sendiri.


Anin tersenyum getir jika membayangkannya.


"Terimakasih banyak Bi" balas Anin dengan seulas senyum.


"Bi, tolong bantu bawakan koper Anin ke kamar Askara yah" pinta Sandra pada Bi Ratih.


"Baik Nyonya besar" Bi Ratih pun berlalu lebih dulu membawa koper Anin menuju kamar Askara.


"Ayo Nin, kita ke atas. ke kamar Askara"


Mata Anin membulat "Kamar Askara?" tanyanya terkejut.


Bagaimana ini? apa dia akan sekamar dengan Askara.


"Iyya sayang, mulai sekarang kalian akan sekamar. Mami tidak Ingin melihat kalian tidur di kamar terpisah seperti di apartement" jelas Sandra, dia tidak ingin membuat orang-orang berfikiran aneh tentang hubungan Anin dan Askara


"Tapi Mi, bagaimana kalo pak Askara tidak suka sekamar denganku?" tanya Anin, tercetak jelas ketakutan di wajahnya.


Sandra membelai lembut rambut Anin


"Kau tidak perlu khawatir, lambat laun Askara akan menerimamu, Mami yakin itu" Sandra meyakinkan Anin, menyingkirkan kecemasan di hatinya.


Semoga saja hubungannya dengan Askara bisa lebih baik setelah mereka tinggal di mansion.


Sandra membawa Anin memasuki kamar Askara yang sudah setahun lebih tidak pernah di tempati karena Askara lebih memilih tinggal di apartementnya.


Meski begitu kamar tersebut selalu bersih dan rapi karena Bi Ratih seminggu 3 kali membersihkannya.


"Mulai sekarang kau akan tidur di sini, Mami tidak mau melihat kalian tidur dengan ranjang terpisah lagi" peringat Sandra pada Anin.


"Iyya Mi" balas Anin seadanya.


Anin memperhatikan seluruh penjuru kamar Askara, nuansanya tidak beda jauh dengan kamar Askara di apartement.


Dinding yang ber- cat abu-abu, hanya saja kamar ini dua kali lebih luas di bandingkan kamar di apartement.


"Anin kemarilah" panggil Sandra yang sudah lebih dulu berjalan memasuki sebuah ruangan khusus yang berada di dekat kamar mandi.


Anin mengikuti Sandra dari belakang.


Matanya kembali di manjakan dengan mewahnya desain walk ini closet bernuansa putih klasik.


Deretan koleksi sepatu mahal Askara berjejer rapi di lemari khusus.


Begitupun dengan setelan jas kantor, jam tangan, kacamata, serta dasi Askara berada masing-masing pada tempatnya yang sudah di khususkan.


Selain itu juga terdapat cermin berukuran cukup besar serta satu buah meja dan tempat duduk yang berada tepat di tengah ruangan.



(Anggap aja kayak gini yah)


Alis Anin berkerut melihat beberapa tas wanita dan juga deretan dress menggantung rapi.


Ini milik siapa, batinnya bertanya.


"Itu semua untukmu" ujar Sandra yang sudah berdiri di belakang Anin.


Anin terperanjat.


"Untukku?" tanya Anin memastikan.


Sandra mengangguk.


"Sekarang kau adalah bagian dari keluarga besar kami, jadi kau pantas menerima ini semua" jelas Sandra.


"Tapi Mi, semua ini terlalu mahal untukku. aku juga merasa tidak pantas memakai barang-barang mewah seperti ini" ujar Anin menatap deretan pakaian, sepatu, dan juga tas branded yang harganya bisa Anin pastikan sangatlah mahal.


Bagaimanapun Anin menyadari dari mana dia berasal.


Pakaian mahal serta barang branded lainnya yang berikan Sandra rasanya tidak cocok melekat di tubuhnya.

__ADS_1


"Siapa bilang kau tidak pantas menggunakan ini semua?, kau tidak sadar bahwa kau itu cantik? jangan memandang rendah dirimu sendiri sayang" nasehat Sandra supaya percaya diri dalam Anin bangkit.


Hati Anin berkedut mendengar perkataan Sandra, jika di satu sisi suaminya berusaha menolak kehadirannya justru Sandra menerimanya dengan tangan terbuka.


Mata Anin berkaca-kaca "Boleh aku memeluk Mami?" tanya Anin , semenjak hamil perasaannya sangat sensitif.


Sandra tersenyum mendengar permintaan Anin.


"Boleh sayang, sini" Sandra membuka kedua tangannya menyambut Anin.


Anin menghambur ke dalam pelukan Sandra, rasa rindunya terhadap ibunya di kampung terbayar dengan kehadiran Mami Sandra.


Sandra menepuk pelan punggung Anin "Kau jangan bersedih lagi, Mami akan selalu bersamamu. Bahkan jika Askara anak kandungku sendiri yang menyakitimu aku tidak akan segan-segan memberinya pelajaran"


Anin mengurai pelukan mereka, betapa beruntungnya bisa di terima oleh Mami Sandra.


"Aku justru berterimakasih, Mami mau menerimaku yang berasal dari keluarga biasa yang derajatnya sangat jauh dengan Mami. Awalnya aku berfikir Mami akan menolak dan mengusirku"


Anin menceritakan ketakutannya sebelum bertemu Sandra.


Sandra mengerti perasaan Anin "Kau jangan berfikiran seperti itu lagi, semua sama di mata sang pencipta. apa yang keluarga Mami punya semua hanya titipan"


"Andai saja pak Askara seperti Mami" ucap Anin keceplosan.


Sandra begitu baik dan punya sifat dermawan, tapi kenapa Askara justru bersifat dingin dan arogant.


"Askara sebenarnya anak yang baik, hanya saja semakin dewasa dia semakin menutup diri dari hal yang di anggapnya tidak penting. suatu saat nanti kau akan tau sifat lain dari suamimu itu"


Wajah Sandra berubah sendu mengingat perubahan sifat Askara.


Anin semakin tidak enak "Aku minta maaf sudah membuat mami sedih"


"No problem sayang, sekarang kita keluar yah. Kau tunggulah Askara pulang. Mami mau ke kamar istirahat"


Selepas kepergian Mami Sandra ke kamarnya, Anin duduk di atas ranjang besar Askara.


Seperti mimpi, Anin akan tidur sekamar dengan Askara.


Perasaan gugup tiba-tiba menghampirinya. Anin belum terbiasa sekamar dengan Askara.


Lama Anin menunggu kepulangan Askara tapi sampai jam menunjukkan pukul 11 malam, Askara belum juga pulang.


Hati Anin gusar, dia pun memutuskan untuk turun dan menunggu Askara di sofa ruang keluarga.


Anin memilih menyetel TV untuk mengusir rasa kantuknya.


Suara bel terdengar nyaring di susul dengan suara ketukan pintu seperti orang yang tidak sabaran, Anin yang tadinya mulai terkantuk seketika tersadar dan membuka matanya.


Dia pun berlari kecil untuk segera membuka pintu.


Pintu mansion terbuka. dan betapa terkejutnya Anin melihat tubuh Askara di bopong oleh para penjaga, bahkan Dito dan juga Vivi hadir di antara mereka.


Di tambah kondisi wajahnya yang penuh luka lebam serta darah yang sudah mulai mengering.


Kakinya terasa tak bertulang melihat parahnya luka Askara.


Apa yang terjadi sebenarnya?


"Astaga..Pak Askara" Pekik Anin mendapati wajah Askara sudah babak belur.


Air matanya bahkan sudah lolos, ada perasaan tidak tega melihat kondisi Askara yang memprihatinkan.


Vivi bergegas menopang tubuh Anin yang sepertinya akan limbung.


"Bawa tuan Askara masuk" perintah Dito pada para penjaga.


Sementara Vivi menenangkan Anin yang masih shock.


"Vi, pak Askara kenapa bisa seperti itu" tanya Anin dengan suara tercekat.


Vivi membawa tubuh Anin untuk masuk terlebih dahulu "Nanti gue jelasin yah, kita masuk dulu"


Sandra yang tadinya sudah ingin tidur merasa terganggu dengan suara gaduh dari arah ruang tengah. akhirnya dia memutuskan untuk mengecek.


"Ada apa ini?" tanya Sandra yang belum menyadari apa yang terjadi.


Detik berikutnya .


"Askaraaaaaa" teriak Sandra kaget setelah melihat kondisi Askara yang badannya sudah di papah oleh dua penjaga mansion.


"Dito..apa yang terjadi pada Askara hah?" tanya Sandra dengan raut wajah panik pada Dito.


"Tuan Askara terlibat pertengkaran di bar nyonya besar" jawab Dito.


"Ya ampun, anak ini. bawa Askara naik ke kamarnya" perintah Sandra, Dito dan penjaga pun bergegas membawa Askara ke kamarnya dengan menaiki lift mansion.


"Mana Anin?" Sandra mencari keberadaan Anin, dia melihat menantunya sudah di tuntun oleh wanita yang seumuran dengan Anin.


"Anin kau tidak papa sayang?" Sandra mendekati Anin, khawatir mengingat Anin sedang hamil, dia pasti shock melihat kondisi Askara.


Anin menangis "Mi, pak Askara" adunya.


"Askara akan baik-baik saja, sekarang kita kemarnya" Sandra berusaha menenangkan Anin dan mengajaknya untuk melihat kondisi Askara yang sudah di bawa ke kamarnya lebih dulu.


Tubuh Askara sudah berada di atas ranjang besarnya.


Kedua penjaga pun pamit dari kamar Askara.


Sandra dan Anin mendekati tubuh Askara yang terbaring di atas ranjang.


Vivi hanya berdiri melihat keadaan Askara yang memprihatinkan.


Apalagi Anin terlihat begitu khawatir.


Dito datang dengan kotak obat di tangannya.


"Biar aku saja" ucap Anin segera mengambil kotak obat di tangan sekretaris Dito.


Sandra sama khawatirnya dengan Anin, tapi dia bernafas lega sekarang ada Anin yang mengurus Askara.

__ADS_1


"Lebih baik kita tunggu di luar, biarkan Anin mengobati luka Askara terlebih dulu" ajak Sandra pada Dito dan juga Vivi, memberi Anin waktu untuk mengobati luka Askara.


Pintu kamar tertutup, tersisa Anin dan Askara yang masih belum sadarkan diri karena pengaruh alkohol, bisa jadi juga pria itu akan tidur sampai pagi.


Anin membuka kotak obat yang di bawa oleh Dito


Tangannya dengan telaten membersihkan luka di wajah Askara dengan gerakan selembut mungkin agar tidak mengganggu.


Tangan Anin mengambang di udara, setetes air matanya jatuh.


"Apa kau begini karena menghindari aku?" tanya Anin pada Askara yang tidak mungkin akan menjawab, suaranya bergetar menahan tangis.


"Kenapa? hiks. hiks..hiks" pertahanan Anin runtuh.


Kenapa Askara harus menyiksa dirinya sendiri seperti ini.


Anin sungguh merasa bersalah, karena kehadirannya justru menjadi beban baru di hidup Askara yang sebelumnya baik-baik saja bahkan nyaris sempurna.


Jika takdir tidak mempertemukan mereka pasti Askara tidak akan menjadi kacau seperti ini.


"Maafkan aku" ujar Anin pilu.


Sejujurnya dia pun ingin hidup dengan orang biasa yang derajatnya sama sepertinya.


Anin segera menghapus air matanya, luka Askara pun sudah bersih dari darah yang sudah mengering.


Meninggalkan Askara sebentar untuk turun menemui Vivi dan juga sekretaris Dito untuk menuntut penjelasan.


Tampak Sandra, Vivi dan juga sekretaris Dito tengah berbincang di ruang tengah.


Ketiganya menoleh ketika melihat kehadiran Anin.


"Bagaimana keadaan tuan Askara nona?" tanya sekretaris Dito pada Anin yang sudah duduk di samping Sandra.


"Aku sudah membersihkan lukanya, dan sepertinya pak Askara akan bangun saat pagi nanti" jawab Anin.


Anin menatap sekretaris Dito intens "Kenapa pak Askara bisa seperti ini? tanya Anin.


Vivi dan Dito saling menatap satu sama lain, sedangkan Sandra memilih diam karena Dito sudah menjelaskan kenapa Askara bisa bertengkar.


"Tuan Askara bertengkar dengan salah satu pengunjung bar karena kesalahpahaman, di tambah lagi pada saat itu tuan Askara dalam keadaan mabuk karena minum terlalu banyak " jelas Dito sesuai dengan informasi yang di berikan dokter Arga.


Anin menghela nafas berat, sepeti dugannya Askara pasti seperti ini karena dirinya, karena kehadirannya.


Anin merasa cukup mendengar penjelasan Dito.


"Terimakasih sudah mengantar pak Askara pulang, dan segera antar Vivi pulang ke apartementnya, ini sudah larut" ucapnya pada Dito.


Anin beralih pada Vivi.


"Vi, gue juga makasih banget sama Lo, Gue udah banyak ngerepotin"


Vivi menggeleng cepat "Lo sama sekali nggak pernah ngerepotin Gue Nin" Vivi tau suasana hati Anin seperti apa saat ini.


"Kalo gitu Gue sama sekretaris Dito balik dulu yah Nin" pamitnya pada Anin.


"Tante, Vivi balik yah" kemudian beralih pada Sandra.


"Kalian hati-hati, maaf sudah di buat repot oleh Askara"


"Tidak papa Tante" balas Vivi.


"Saya pamit nyonya besar" ucap Dito.


"Hati-hati dan Terimakasih Dit, kau selalu ada untuk Askara " Sandra menatap lama Dito yang dia anggap sudah seperti anak sendiri.


"Sudah tugas saya Nyonya besar" balas Dito kemudian dia meninggalkan mansion bersama Vivi.


Anin duduk diam termenung di atas sofa, fikirannya jauh menerawang ke depan.


"Anin" tubuh Anin tersentak saat mami Sandra memanggilnya.


"Eh iya, Mami butuh sesuatu?" tanya Anin yang tersadar dari lamunannya.


"Mami tidak butuh apapun sayang, naiklah ke kamarmu, temani Askara. lagi pula malam sudah larut"


Entah kenapa rasa kantuk Anin menguap entah kemana.


"Tapi Anin belum mengantuk Mi".


"Kau jangan begitu sayang, ingat kandunganmu juga butuh ibunya untuk istirahat".


Mengingat kandungannya Anin merasa bersalah dan merasa ibu yang egois.


"Maafkan aku Mi, ya sudah Anin ke kamar. Mami juga jangan lupa istirahat yah" pesan Anin pada ibu mertuanya.


Sandra mengangguk.


Anin segera menaiki lift menuju kamarnya. lebih tepatnya kamar Askara.


Anin kembali memasuki kamar


Askara terlihat damai dalam tidurnya meskipun wajahnya sudah babak belur.


Besok pasti Askara baru akan merasakan nyeri di wajahnya.


Anin melepas sepatu yang di kenakan Askara, menarik selimut tebal menutupi tubuh Askara sebatas perut.


Anin menarik kursi di samping dan duduk di samping ranjang Askara.


Mata Anin menatap lekat wajah damai Askara, suara dengkuran halus terdengar membuat Anin tersenyum kecil.


Dengan ragu Anin meraih tangan Askara yang berada di atas selimut.


Untuk yang pertama kalinya Anin menyentuh tangan Askara, dia hanya berani melakukan itu semua saat Askara sedang tidur.


"Maafkan aku, maaf telah menjadi beban untukmu" ucap Anin pelan.


Matanya sudah sayu karena rasa kantuk menghampirinya, Anin tanpa sadar tertidur memegang tangan Askara dengan posisi badan menelungkup di samping tubuh Askara.

__ADS_1


__ADS_2