Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 31


__ADS_3

Setelah semalam terjadi kecanggungan antara dirinya dengan Askara, Anin memutuskan tidur lebih dulu semalam.


Dan kini, pagi-pagi sekali Anin sudah bangun lebih dulu dan mempersiapkan segala keperluan Askara yang hari ini sudah mulai masuk kantor.


Anin bertekad bahwa selama dia masih terikat dalam ikatan pernikahan dengan Askara, dia akan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Pak Askara, bangun. ini sudah pagi" Anin mencoba membangunkan Askara namun pria itu hanya bergerak sebentar lalu tidur kembali.


"Pak Askara.. bangun..Nanti bapak telat ke kantor" kali ini Anin mengguncang tubuh Askara sedikit keras agar pria itu bangun dari tidurnya.


Namun di luar dugaan Anin, Askara justru menarik tangannya hingga tubuhnya berada dalam pelukan Askara.


Anin mengerjapkan matanya, tubuhnya benar-benar berada di dalam kungkungan tangan besar Askara.


Debaran jantung Anin berpacu dua kali lipat. bahkan Anin dengan jelas bisa mendengar detak jantungnya karena heningnya suasana kamar.


Walau sedang tertidur namun tidak bisa di pungkiri, wajah Askara sangatlah tampan apalagi di lihatnya dari jarak sedekat ini.


Askara semakin mengeratkan pelukannya membuat Anin merasa sesak.


"Pak Askara, tolong lepaskan. aku tidak bisa bernafas" Anin bergerak ingin melepaskan diri karena dirinya seperti akan kehabisan pasokan oksigen.


Askara melenguh karena tidurnya terganggu, padahal dia sudah merasa sangat nyaman tadinya.


Anin mendongak saat Askara mulai melonggarkan pelukannya.


Sepersekian detik mata keduanya bertemu. Askara buru-buru melepas pelukannya dari tubuh Anin.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Askara marah, kesadarannya mulai terkumpul. Kenapa Anin tiba-tiba berada dalam pelukannya.


Anin menegakkan tubuhya.


"Pak Askara yang tiba-tiba menarik tanganku saat aku membangunkan Pak Askara" jelas Anin agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Aku melakukan itu? tidak mungkin" elaknya.


"Mana ada maling yang mau mengaku" Sindir Anin membalas perkataan Askara tempo hari.


Askara mendengus "Kau pasti sengaja kan melakukan itu" tuduhnya.


"Aku mana mungkin melakukan itu, lihat saja tadi. kan pak Askara yang memelukku".


Askara memicingkan matanya "Lalu kenapa kau tidak berusaha melepaskan diri, bilang saja kalau merasa nyaman"


"Sudahlah, percuma berdebat dengan pak Askara, tetap saja pasti aku yang di salahkan" jengah Anin.


Askara menyibak selimutnya, dia ingin segera mandi mendinginkan kepalanya karena berdebat dengan Anin di pagi hari.


"Minggir" titah Askara ketus.


"Pak Askara mau kemana?" tanya Anin.


"Mau mandi, kenapa? mau ikut?" dengus Askara membuat Anin membulatkan matanya.


Anin menggeleng dengan cepat.


"Tidak mau. aku cuman mau bilang kalau air untuk pak Askara mandi sudah aku siapkan"


Askara menaikkan sebelah alisnya "Kau menyiapkannya untukku?" tanyanya.


"Hemm, mulai hari ini aku akan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri, sepenuhnya". jawab Anin.


Askara mendekatkan wajahnya.


"kau yakin sepenuhnya?" tanya Askara dengan senyum jahil di bibirnya.


Anin tersadar akan ucapannya, Askara pasti salah paham "Maksudku, menyiapkan semua kebutuhan pak Askara seperti pakaian, makan, mandi, dan kebutuhan lainnya" jawab Anin cepat memundurkan wajahnya.

__ADS_1


"Termasuk kebutuhan yang itu?" Ujar Askara menaikkan sebelah alisnya, kini ia semakin gencar menggoda Anin yang mulai terlihat salah tingkah.


"Aaa...ku tidak mengerti maksud pak Askara. cepatlah mandi, aku juga sudah menyiapkan pakaian kantor pak Askara, aku tunggu pak Askara di bawah untuk sarapan" ujar Anin cepat-cepat meninggalkan kamar. jantungnya berdetak tidak karuan sekarang.


Askara tersenyum menatap punggung Anin yang telah menghilang di balik pintu kamar. rasanya sangat menyenangkan menggoda gadis polos tersebut apalagi jika Anin sudah mulai salah tingkah.


Askara memasuki kamar mandi dengan perasaan senang.


Anin sudah berada di meja makan. terlihat Bi Ratih muncul dari arah dapur membawa makanan untuk sarapan pagi.


"Biar Anin bantu bi" ujar Anin berdiri dari duduknya, mengambil alih makanan di tangan bi Ratih.


"Duh non Anin , nggak usah repot-repot bantuin bibi, non tinggal duduk aja" seru Bi Ratih tidak enak pasalnya Anin selalu saja ingin membantunya apalagi jika urusan di dapur.


"Nggak papa bi, lagian Anin juga nggak lagi ngapa-ngapain, kasian bi Ratih bawa makanan sebanyak ini sendirian".


"Non Anin memangnya tidak kerja?" tanya bi Ratih.


"Kerja kok Bi, habis sarapan nanti Anin langsung berangkat tapi kerjanya cuman setengah hari jadi Anin mungkin pulangnya siang kalo nggak ada urusan lain"


"Lagian kenapa sih non masih mau kerja, kan tuan Askara punya banyak uang yang nggak bakalan habis tujuh turunan" ungkap bi Ratih tidak habis fikir dengan jalan fikiran Anin, jika wanita lain yang berada di posisi Anin pasti setiap hari waktunya akan di habiskan dengan shopping dan perawatan mahal.


Anin tersenyum sambil menata piring di atas meja "Anin rasanya bosan aja bi, di rumah nggak ngapa-ngapain, lagian di kampung masih ada ibu yang harus Anin bantu biayai hidupnya setelah ayah Anin meninggal" ungkap Anin.


Bi Ratih tercengang mengetahui fakta kalo ayah Anin sudah meninggal.


"Maaf bibi tidak tau kalo ayah non Anin sudah meninggal" sesal bi Ratih.


"Nggak apa-apa Bi, kan Anin memang belum pernah cerita" jawab Anin tersenyum, tanpa terasa sarapan sudah siap tersaji di atas meja saking asiknya mengobrol.


"Kalau begitu bibi pamit ke belakang yah non" pamit bi Ratih, tugasnya sudah selesai karena di bantu Anin juga.


"Bibi jangan lupa sarapan juga yah" pesan Anin, bi Ratih mengangguk tersenyum kemudian meninggalkan meja makan.


Anin ingin naik ke kamar untuk mengecek Askara, namun pria itu ternyata sudah berjalan menuruni anak tangga.


"Katanya kau akan melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri, sepenuhnya" Askara sengaja menekan kata terakhirnya untuk menggoda Anin.


Anin mencebikkan bibirnya, kenapa Askara selalu saja punya cara membuatnya malu sekaligus kesal.


"Berikan dasinya" pinta Anin.


Askara menyerahkan dasinya pada Anin.


Anin mendekat dengan perasaan gugup.


Tangannya mulai memasang dasi tersebut di leher Askara dengan cekatan.


Askara dapat merasakan bau parfum cherry yang biasa di pakai Anin, bahkan sampo Anin di kamar mandinya pun semuanya berbau cherry, sepertinya gadis ini memang menyukai wangi tersebut.


Debaran jantung Anin kembali berpacu, begitupun dengan Askara. sedari tadi berusaha menahan nafas karena jantungnya berdetak tidak karuan.


"Selesai" ujar Anin saat dasi Askara sudah terpasang dengan rapi di leher kemejanya.


Tanpa keduanya sadari, dari jarak yang tidak terlalu jauh, Sandra tengah menahan senyum melihat Anin yang memasangkan dasi untuk Askara.


Sandra yang berniat untuk sarapan pagi, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Askara meminta Anin untuk memasangkan dasinya. buru-buru Sandra mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan moment langkah tersebut. sungguh pemandangan pagi yang indah bagi Sandra.


Sandra pun ikut bergabung sarapan bersama keduanya dengan memasang ekspresi biasa saja seperti tidak melihat kejadian tadi agar Anin dan Askara tidak curiga.


"Wah, kalian berdua sudah pada rapi" ujar Sandra mengambil duduk.


"Selamat pagi Mi" sapa Anin dengan seulas senyum.


"Pagi juga sayang" balas Sandra.


"Mami mau sarapan apa? roti atau nasi goreng? biar Anin ambilkan"

__ADS_1


"Tidak perlu sayang, biar Mami yang ambil sendiri" larang Sandra saat Anin sudah berdiri hendak menyajikan makan untuknya.


"Kau duduk saja dan habiskan sarapanmu, Mami bisa mengurus dirinya sendiri" seloroh Askara menyendokkan nasi ke mulutnya.


Sandra tersenyum penuh arti saat Askara mulai memberikan perhatian pada Anin.


"Kau dengar Anin, suamimu mulai posesif" ujar Sandra pada Anin.


Anin hanya tersenyum kaku dan melanjutkan makannya kembali.


"Aku sudah kenyang" ujar Anin menyudahi sarapannya, nasi di piringnya bahkan belum habis.


"Loh, sarapannya belum habis Nin" ujar Sandra.


"Anin kurang berselera makan Mi, tapi ini aja udah cukup kok, Anin udah ngerasa kenyang".


Askara menatap Anin tajam "Habiskan makananmu" tekan Askara.


"Tapi aku sudah kenyang" ujar Anin pelan.


"Terserah, tapi hari ini kau tidak usah berangkat kerja" ancam Askara santai.


Mata Anin membola mendengar ancaman Askara " Baiklah, akan aku habiskan" pasrahnya.


Anin menyendokkan sisa sarapannya dengan perasaan berat karna memang perutnya sudah terasa kenyang padahal baru terisi sekitar lima sendok masuk ke mulutnya.


Tapi daripada hari ini dia tidak boleh bekerja oleh Askara, dengan terpaksa Anin memilih menghabiskan sarapannya yang kini tinggal satu sendok.


Ah, akhirnya habis juga.


Anin segera menenggak habis air minumnya agar nasinya berangsur turun.


Askara menatap Anin dengan senyum tipis, sangat tipis bahkan tidak di sadari oleh Anin dan juga Sandra.


Jangan tanya bagaimana perasaan Sandra saat ini, dia merasa sangat senang karena Askara yang mulai perhatian pada Anin. jika tidak ingat umur, rasanya Sandra ingin berjingkrak-jingkrak sekarang.


Bersamaan dengan selesainya sarapan Anin dan juga Askara, sekretaris Dito juga baru saja masuk dengan setelan jasnya.


"Selamat pagi Nyonya besar, tuan Askara, dan juga nona Anin".


"Pagi Dito" balas sandra


"Pagi juga sekretaris Dito" balas Anin.


"Mobil sudah siap tuan" ujarnya pada Askara.


"Baiklah, kau tunggulah di luar"


"Baik tuan" Sekretaris Dito meninggalkan ketiganya dan menunggu Askara di luar.


"Mi Askara berangkat" pamit Askara pada Sandra.


Sedangkan Anin hanya diam di tempatnya.


"Kenapa kau diam saja, kau lupa perjanjian kita kemarin?" tanya Askara kembali mengingatkan Anin bahwa mulai hari ini mereka akan selalu berangkat bersama.


"Aku masih ingat" jawab Anin.


"Kalau begitu kenapa masih diam, ikut aku" tukas Askara berjalan lebih dulu.


Anin bergesar dari tempatnya "Mi, Anin pamit dulu yah" ujarnya menyalami tangan Sandra.


"Kau hati-hati yah sayang, ingat jangan terlalu capek dan jangan lupa makan tepat waktu" peringat Sandra.


"Iyya Mi, Anin pasti ingat semua pesan Mami"


"Ya sudah, sana susul Askara sebelum dia marah".

__ADS_1


Anin mengangguk, kemudian berjalan menyusul Askara keluar.


__ADS_2