
Setelah mengantar Dalila pulang ke apartemennya, Askara tidak kembali lagi ke kantor tetapi langsung pulang ke mansion. fikirannya tidak tenang memikirkan Anin terus-menerus.
Langkah lebar Askara memasuki mansion yang selalu terlihat sepi karena memang dia tidak memperkerjakan banyak orang, Askara lebih memilih mendatangkan orang jika keseluruhan mansion perlu di bersihkan, lalu setelah itu mereka akan pergi. begitulah Askara, dia tidak terlalu suka jika terlalu banyak yang tinggal di mansion.
Anin baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri bertepatan dengan Askara yang masuk ke dalam kamar.
"Kau sudah pulang?". tanya Anin dengan senyum mengembang yang lagi-lagi membuat Askara terheran-heran.
"I-iyya". balas Askara gugup.
Di perjalanan tadi, dia sudah membayangkan bagaimana sikap Anin saat bertemu dengan dirinya di mansion nanti, Anin pasti akan menatapnya datar atau bahkan marah dan menuntut penjelasan, tapi apa ini? justru kebalikannya, Anin malah menyambutnya dengan senyum mengembang.
"Kenapa Mas Askara pulang lebih cepat?". tanya Anin yang sedang memilih pakaian yang akan dia kenakan.
"Jarak apartement Dalila dari rumah dan kantor itu lebih dekat ke rumah, jadi aku memutuskan untuk pulang saja. lagi pula hari sudah sore". balas Askara.
"Ohh.. jadi Mas Askara habis antar Dalila?, syukurlah kalau begitu, kasian dia kan tidak punya teman dekat di sini". lagi-lagi Anin kembali berhasil menyindir Askara.
Askara meneguk salivanya susah payah, kenapa Anin mendadak menyeramkan akhir-akhir ini? kata-katanya juga selalu berhasil membuat dirinya kelimpungan.
"Aku mau ganti baju dulu, Mas Askara kalau mau mandi tunggu sebentar, nanti aku siapkan airnya".
"Tunggu, Nin". Askara mencekal pergelangan tangan Anin.
"Aku minta maaf soal tadi. aku sama sekali tidak bermaksud untuk bohong atau apapun itu. jujur aku sama sekali belum sempat melihat pesan yang kau kirim karena Dalila tiba-tiba datang dan mengajakku keluar, kalau tau aku pasti akan___".
"Akan apa, Mas?". potong Anin dengan cepat. "Andai Mas Askara baca pesan aku tadi, Mas pasti akan ajak Dalila ke tempat lain? dan dengan begitu kita tidak akan bertemu. tapi justru aku bersyukur karena kau tidak jadi membaca pesan yang aku kirim, Mas. Tuhan malah mempertemukan kita tadi". ujar Anin setenang mungkin, bahkan wajahnya dapat di bilang terlampau santai.
"Kenapa perkataanmu seolah-olah menuduh aku sedang kepergok berselingkuh?". tanya Askara karena yang dia tangkap dari perkataan Anin adalah dia bagaikan seorang suami yang sedang kepergok selingkuh.
"Jadi Mas Askara ngerasa sedang lagi kepergok selingkuh? begitukah?". selidik Anin dengan senyum kecilnya.
Askara mengusap wajahnya kasar, Anin selalu saja punya jawaban untuk menyerangnya balik.
"Apa yang sedang kau katakan, Anin ? siapa yang sedang berselingkuh?. aku berkata seperti itu karena perkataanmu sendiri tadi, kau tau betul hubungan aku dengan Dalila seperti apa". Askara berusaha menjelaskan.
"Tentu Mas, aku tentu tahu seperti apa hubungan kau dengan Dalila. orang-orang terdekat kalian juga tahu betul seperti apa hubungan kalian. kali ini aku tidak salah bicara kan, mas?".
"Kenapa kau setenang ini, Anin? apa kau tidak marah atau cemburu melihatku dekat Dalila?".
Anin menghembuskan nafas pelan. "Lalu aku harus berekspresi bagaimana, Mas?. apa aku harus marah dan melarang kalian bertemu? justru Karana aku tau Mas, kau tidak akan bisa untuk tidak bertemu dengan Dalila maka percuma aku melakukan semua itu, buang-buang tenaga saja. dan satu lagi, kalau mas berharap aku akan cemburu dan semacamnya, mungkin itu tidak akan terjadi selagi kau masih ingat statusmu sebagai seorang suami, jadi kau tentu tau Mas, seperti apa batas wajar dan tidaknya kedekatan kalian". pungkas Anin membuat Askara terdiam.
Anin melangkah meninggalkan Askara yang masih terdiam selepas perkataannya. Anin sendiri merasa heran dengan sikapnya akhir-akhir ini yang begitu berani dan terang-terangan menyindir Askara. mungkin karena bawaan hormon kehamilannya, tapi Anin justru bersyukur akan hal itu, jadi dengan mudah dia bisa menjalankan misinya mengacuhkan Askara untuk tau seberapa gilanya pria itu jika di abaikan oleh dirinya.
*****
__ADS_1
Saat ini sekretaris Dito sedang berada di apartement Vivi karena gadis itu menelfonnya dan menyuruhnya untuk segera kemari, jadilah sekretaris Dito langsung menuju apartement Vivi dengan pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya. Saat Vivi menelfon tadi, dirinya baru saja akan meninggalkan kantor.
Sekretaris Dito sendiri tidak tau maksud Vivi menyuruhnya datang ke apartement karena gadis itu tidak menyebutkan alasannya.
Vivi datang dari arah pantry dengan beberapa makanan ringan dan dua botol minuman kaleng dingin.
"Sorry, aku cuman punya makanan ini di dapur, lupa belanja tadi karena langsung antar Anin pulang". terang Vivi setelah meletakkan hidangan alakadarnya ke atas meja.
"Hemm". singkat Dito membuat Vivi masih membiasakan diri dengan sikap dingin kekasihnya itu.
Yah, Vivi memutuskan untuk mencoba menerima dan menjalani hubungan bersama sekretaris Dito, dengan satu syarat mereka harus merahasiakannya dulu terutama dari Anin dan Askara. bukan apanya, Vivi tipe wanita yang cukup susah untuk percaya laki-laki, jadi dia lebih memilih untuk menutup kisah asmaranya bahkan dari kedua orang tuanya sekalipun, sampai pada batas yang tidak di tentukan.
"Jadi? apa yang ingin kau bicarakan?". tanya sekretaris Dito to the point'.
Vivi mendesis. "Basa-basi dulu kek".
Karena terlalu mendalami pekerjaannya sebagai seorang sekretaris, Dito menjadi pribadi yang tidak suka berbasa-basi.
"Di dalam dunia kerjaku tidak ada yang nama-namanya basa-basi. semua harus langsung pada intinya".
Vivi memukul bahu sekretaris Dito dengan kencang. "Hei.. bisakah kau bedakan antara waktu bekerja dan tidak?, Oh tuhan, kalau begini terus aku bisa mati berdiri karena sikap kakumu itu".
"Jaga omonganmu, Vi". peringat sekretaris Dito.
"Habisnya kau sendiri tidak bisa membedakan kapan waktu bekerja dan kapan waktu santai". omel Vivi.
"Hemm". singkat Vivi yang masih kesal.
Keduanya diam sebentar lalu akhirnya Vivi kembali buka suara.
"Aku ingin bertanya soal Askara dan Dalila. menurut kau sendiri seperti apa hubungan mereka sekarang. maksudku Askara sendiri bagaimana, karena yang aku dengar dulu Askara begitu mencintai Dalila dan sekarang wanita itu kembali lagi. aku hanya ingin tau menurut penglihatanmu karena kau adalah orang yang hampir setiap hari bersama Askara". Vivi rasanya masih ingin terus menggali informasi tentang Askara dan Dalila jadi dia menyuruh Dito ke apartementnya.
"Kenapa kau jadi ingin tau soal tuan Askara dan nona Dalila? apa sekarang kekepoanmu tertuju pada mereka?". tanya sekretaris Dito.
Vivi menghembuskan nafas kasar. "Bisakah kau bicara santai saja? tidak usah menyebutkan tuan dan nona, panggil pake nama saja Dito, sekarang kau sedang tidak bekerja".
"Aku tidak terbiasa". ujar sekretaris Dito.
"Kalau begitu cukup Askara yang kau sebut dengan embel-embel tuan, tidak perlu sebut Nona Dalila karena aku tidak suka wanita itu". Vivi terang-terangan menyuarakan ketidaksukaannya pada Dalila.
"Kenapa kau tidak suka pada Nona___ eh maksudku Dalila? ". ralat sekretaris Dito cepat karena sudah di hujani tatapan tajam oleh Vivi.
Vivi melipat tangannya di depan dada. "Ya aku nggak suka aja".
"Harus ada alasan Vi, kenapa kau tidak menyukai seseorang.
__ADS_1
"Aku tidak suka karena dia hadir di tengah-tengah rumah tangga Anin dan Askara yang sudah mulai terlihat harmonis". terang Vivi.
"Tapi Nona__ maksudku Dalila adalah sahabat Tuan Askara, tidak mungkin menghancurkan hubungan Nona Anin dan tuan Askara. dan juga, dulu yang suka pada Dalila itu adalah tuan Askara, bukan malah sebaliknya".
Vivi menatap tajam sekretaris Dito. "Jadi sekarang kau membela wanita itu? dasar kalian para pria tua, kalian berdua sama saja. sama-sama tidak pernah mengerti perasaan wanita". geram Vivi.
Sekretaris Dito meneguk salivanya susah payah, wajah Vivi begitu menyeramkan sekarang.
"B-bukan begitu maksudku, hanya saja posisi tuan Askara juga pasti sulit karena sejak kecil Dalila adalah orang yang paling dekat dengannya, di tambah Dalila sudah tidak punya siapa-siapa di sini, jadi tidak mungkin dia menyuruh Dalila untuk menjauhinya". jelas sekretaris Dito hati-hati, takut perkataannya ada yang salah dan membuat Vivi kembali marah.
Vivi nampak berfikir tapi tetap saja rasa kesalnya terhadap Askara dan Dalila sulit di hilangkan.
"Alasan itu bisa aku terima jika posisi Askara belum menikah, tapi kali ini dia sudah punya Anin, jadi sudah seharusnya dia tau batasan wajar dan tidaknya seperti apa. tapi justru yang aku lihat Askara lebih memprioritaskan Dalila dari pada Anin, buktinya saat di pesta kemarin, Askara meninggalkan Anin tanpa sepatah katapun".
Sekretaris Dito terdiam seakan ikut setuju dengan perkataan Vivi kali ini. Dia juga dapat melihat dengan jelas sorotan mata Askara seperti masih menyisakan rasa untuk Dalila. sorot mata yang masih tetap sama, belum berubah sama sekali.
"Kenapa kau diam?". tanya Vivi membuat sekretaris Dito tersentak.
"Aku hanya sedang memikirkan perkataanmu, tapi aku sendiri sulit menebak tuan Askara. dia terlalu dingin untuk di dekati hingga tidak mudah untuk tau apa yang dia rasakan. berekspresi saja tuan Askara tidak pernah melakukan itu". jelas sekretaris Dito.
"Kau sedang membicarakan Askara atau sedang membicarakan dirimu sendiri? asal kau tau, kalian itu tidak ada bedanya, sama-sama dingin, kaku, gila kerja tapi satu hal yang tidak boleh sama, jangan pernah bersikap brengsek seperti Askara, kalau sampai itu terjadi aku akan membuat kau menyesal". ancam Vivi tidak main-main.
Sekretaris Dito langsung menenggak minumannya, suhu tubuhnya tiba-tiba terasa panas karena ancaman Vivi.
"Kau sudah selesai kan?, aku harus pulang". sekretaris Dito ingin segera mengganti pakaian kantor yang masih melekat di tubuh kekarnya.
"Kenapa buru-buru sekali?". ada perasaan tidak rela di hati Vivi.
"Aku ingin mandi, badanku lengket karena seharian bekerja".
"Mandi di sini saja". ujar Vivi dengan senyum nakalnya.
Sekretaris Dito menatap wajah Vivi intens, pria itu lalu memajukan wajahnya membuat Vivi merasa gugup dan perlahan mundur.
"K-kau mau apa?". tanya Vivi gugup.
Sekretaris Dito tidak menjawab, wajahnya semakin dia dekatkan membuat Vivi menutup matanya.
Oh my God, apa ini waktunya aku akan kehilangan ciuman pertamaku?. batin Vivi.
Vivi sudah sangat gugup.
"Buang jauh fikiran nakalmu, belajar dulu bikin proposal yang benar baru bisa mendapatkan ciumanku". bisik sekretaris Dito tepat di telinga Vivi.
Vivi langsung melotot sempurna , apa yang sedang dia fikirkan? dia mengira Dito akan menciumnya. betapa malunya dia sekarang.
__ADS_1
"K-kau bisa pergi sekarang, a-aku mau ke kamar". gugup Vivi, namun bukannya ke kamar justru dia melangkah ke arah dapur saking gugupnya, kemudian kembali di sadari oleh gadis itu bahwa dia salah arah, jadilah Vivi berlari masuk ke dalam kamarnya karena merasa sangat malu.
Sekretaris Dito tersenyum kecil melihat tingkah lucu Vivi yang tengah salah tingkah.