Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 142


__ADS_3

Askara langsung membawa Anin kembali ke kamarnya dan mengunci pintu agar tidak ada yang bisa masuk, termasuk Ken.


"Kau mau apa?". tanya Anin dengan kilatan amarah di matanya.


"Kau tidak benar-benar lupa denganku, Nin. kau bohong jika mengatakan bahwa kau lupa denganku, kau hanya berusaha untuk melupakan aku, bukan?". tanya Askara terdengar putus asa.


"Tolong jangan lakukan itu, Anin. aku minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat, tolong maafkan aku". ujarnya begitu tulus.


"Keluar dari sini". usir Anin enggan menatap mata Askara. dia tidak ingin terbuai oleh tatapan memelas dari pria itu.


"Aku tidak akan keluar sebelum kau memaafkan ku. semuanya bisa kita bicarakan baik-baik". Askara tetap pada pendiriannya.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, kau sudah memperjelas hubungan kita seperti apa sejak kau bermalam di apartemen Dalila". ujar Anin akhirnya membenarkan bahwa dia benar-benar tidak lupa dengan Askara.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Nin, tolong beri aku kesempatan". Askara ingin meraih kedua tangan Anin tapi buru-buru wanita itu menarik tangannya.


"Jangan pernah sentuh aku". tekan Anin menatap tajam Askara, "Sudah aku bilang kan, aku tidak butuh penjelasan apapun lagi. tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan di dalam hubungan ini". Anin menyeka air matanya, menyiapkan diri untuk keputusan yang sudah dia fikirkan matang-matang selama ini.


"A-apa maksudmu, Nin". perasaan Askara mulai tidak enak, apalagi Anin terlihat akan menyampaikan sesuatu yang penting.

__ADS_1


Anin memberanikan diri menatap manik mata Askara.


"Mari kita akhiri hubungan ini, ceraikan aku, mas". pinta Anin langsung membuat Askara terpaku.


Bak di sambar petir di siang bolong, Askara berdiri mematung mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Anin. penyataan yang keluar dari mulut istrinya itu bagaikan hantaman benda keras yang tiba-tiba datang dari arah yang tidak dia duga.


"K-kau jangan bercanda, Nin". tatapan Askara mendadak kosong, dia masih berusaha mencerna perkataan Anin.


"Aku tidak bercanda, Mas. bukankah sejak awal ini adalah bagian dari perjanjian kita sebelum menikah?, rumah tangga ini akan berakhir setelah Jendra lahir, dan sekarang keinginanmu bisa terwujud, tidak akan ada lagi yang menjadi penghalang untuk kau kembali pada Dalila. aku akan berbesar merelakanmu untuk Dalila, tapi sebelum itu tolong ceraikan aku, biarkan aku hidup tenang bersama Jendra. biarkan aku melanjutkan hidupku dengan Jendra tanpa bayang-bayangmu lagi".


"TIDAK AKAN ADA PERCERAIAN , ANIN". emosi Askara berada di puncaknya, dadanya naik turun mendengar Anin akan pergi meninggalkannya dan membawa Jendra.


"Beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus semua kesalahanku". pinta Askara terisak.


Anin menggeleng dengan cepat kemudian mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Aku sudah memberimu banyak kesempatan selama ini, Mas. berkali-kali aku memaafkan setiap kesalahan yang kau perbuat dan berharap kau bisa berubah tapi nyatanya apa?, kau bahkan kembali menyakiti aku berkali-kali lipat dari sebelumnya. hati aku tidak terbuat dari baja yang akan tahan dengan semua pengkhianatan yang kau berikan, kali ini aku benar-benar menyerah, Mas". Anin terisak karena teringat kembali moment terakhir dia mendapati Askara di apartemen Dalila.


"Aku sama sekali tidak mencintai Dalila, aku hanya mencintai kamu, Nin. tolong percaya padaku". bantah Askara karena hanya Anin lah yang dia cintai selama ini dan bukannya Dalila.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak tau mana perkataan yang keluar dari mulutmu yang harus aku percaya, mas. karena selama ini aku sudah memberikan semua kepercayaanku padamu tapi berakhir selalu kau khianati". Kali ini tidak ingin luluh lagi, dia harus membentengi dirinya sendiri agar tak kembali terbuai dengan kata-kata manis Askara.


"Aku rasa semuanya sudah jelas, tolong keluar dari sini, dan____". Anin menjeda perkataannya sebentar, "Aku tunggu gugatan cerai darimu". pungkas Anin tak terbantahkan lagi.


Askara menggeleng sebagai tanda penolakan, "Tidak, Anin. aku tidak pernah pergi dari sini sebelum kau menarik semua kata-katamu". tutur Askara.


"Pergi dari sini atau aku akan melukai diriku sendiri". ancam Anin akan mencabut selang infus yang tertancap di tangannya.


"Tolong jangan seperti ini, Anin. kita bisa bicarakan semuanya baik-baik". lirih Askara dengan air mata membasahi pipinya.


"Aku bilang pergi dari sini, pergiiiiii". Anin sudah bersiap akan menarik infus dari tangannya.


Askara yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan Anin dengan berat hati menuruti kemauan dari istrinya itu.


"Baiklah, aku akan pergi tapi jangan pernah berharap bahwa aku akan menceraikanmu, sampai kapanpun surat gugatan tidak akan pernah sampai di tanganmu". tegas Askara sebelum meninggalkan Anin.


Dengan langkah gontai, Askara berjalan keluar dari ruang rawat Anin. saat Askara benar-benar sudah pergi, barulah Anin menangis sejadi-jadinya.


Selama ini dia mengukir nama Askara terlalu dalam di hatinya hingga saat dia berusaha untuk menghapus Askara dari hidupnya, Anin harus ikut menyakiti dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2