
Asap rokok terlihat mengebul di dalam ruang kerja Askara yang bernuansa serba hitam tersebut. cahaya lampu dengan sinar redup memperlihatkan siluet Askara yang tengah duduk di atas kursi kerjanya.
Askara sedang banyak fikiran, kepalanya di penuhi oleh pengakuan Dalila yang ternyata mencintainya. bayangan wanita itu memeluknya dengan erat sambil terisak karena kenyataan yang tidak memungkinkan mereka untuk bersama lagi kembali berputar di kepalanya.
Dan, tentang bagaimana perasaan Askara setelah mendengar pengakuan Dalila? pria itu bingung, bingung dengan perasaannya sendiri saat ini. Askara di sulitkan dengan dua pilihan yang begitu rumit antara Anin dan Dalila.
Jika di tanya, apakah rasa cinta itu masih ada di hati Askara untuk Dalila? jawabannya mungkin Iyya. tapi jika di tanya lagi soal perasaannya pada Anin, Askara juga tidak ingin melepaskan Anin dari kehidupannya. jika dulu dia akan dengan senang hati menceraikan Anin, sekarang keadaanya sudah berbeda, Anin berarti untuknya.
"Arrgghh...sial". Askara menggebrak meja dengan kepalan tangan yang begitu kuat hingga buku-buku tangannya terlihat memutih.
Askara merasa di permainkan oleh keadaan. dulu saat dirinya mati-matian mengejar Dalila, wanita itu justru bergeming dan malah meninggalkannya dan kini saat dirinya menemukan cinta yang baru pada diri Anin, Dalila datang dan hadir kembali dengan pernyataan yang membuat kepalanya serasa ingin pecah.
Askara mematikan rokok yang masih tersisa setengah itu ke atas asbak. menghabiskan berbatang-batang rokok rasanya tidak akan mengurangi beban fikirannya. pria itu berdiri dari kursinya melangkahkan kakinya keluar meninggalkan ruangan dengan cahaya minim tersebut.
Bercinta dengan Anin mungkin bisa menenangkan fikirannya yang kacau sekarang. dengan langkah lebar, Askara langsung menuju kamarnya di mana Anin berada.
Anin sendiri belum bisa tidur sama sekali. jadi dia memutuskan untuk menonton drakor lewat ponselnya. umur Anin masih sangat muda, meskipun saat ini sedang mengandung dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, tapi kesukaannya pada pria-pria berkulit putih dari negara ginseng tersebut tak pernah berubah.
Saat ini Anin sedang menonton secara diam-diam. dia menggunakan kesempatan saat Askara sedang berada di ruang kerjanya karena biasanya suaminya itu akan menghabiskan waktu ber jam-jam di sana. bukan apanya, Askara pernah memberinya ultimatum secara tegas untuk tidak lagi menonton drama Korea apalagi mengoleksi foto mereka di ponselnya.
Anin teringat waktu ponselnya tak sengaja tertinggal di mobil Askara saat dia masih bekerja di toko kue, Askara berhasil mengotak-atik ponselnya yang tidak terkunci sama sekali, dan yang membuat Anin kesal setengah mati adalah, semua koleksi foto oppa-oppanya di hapus tak tersisa oleh Askara. menyebalkan sekali.
"Kau belum tidur?". suara bariton Askara mengagetkan Anin. wanita itu refleks mematikan ponselnya dan menyembunyikannya di balik bantal.
Anin terkejut melihat Askara yang tiba-tiba sudah berada di kamar. sejak kapan pria itu masuk? apa dirinya yang terlalu fokus menonton hingga tidak menyadari Askara masuk ke dalam kamar.
"A-aku belum mengantuk". jawab Anin gugup, satu tangannya masih setia berada di balik bantal menyembunyikan ponselnya.
Mata Askara tampak menyipit memperhatikan gerak-gerik Anin yang terlihat mencurigakan.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau sembunyikan?". mata Askara jatuh pada satu tangan Anin yang berada di belakang bantalnya.
"Tidak ada". Anin mengangkat kedua tangannya memperlihatkan pada Askara bahwa tidak ada yang di sembunyikan.
Askara masih tidak percaya, pria itu berjalan mendekat ke arah tempat tidur kemudian ikut bergabung ke atas. jantung Anin berdetak tak karuan, takut Askara akan memergokinya.
Satu tangan Askara dengan cepat menyelinap di balik bantal tempat Anin menyembunyikan ponselnya
"Ternyata kau masih sering menonton mereka,heh?". tanya Askara tajam, mengangkat ponsel Anin ke udara.
Anin meneguk salivanya susah payah. "I-itu.. anu.. itu karena aku tidak bisa tidur".
Askara tampak menyeringai membuat Anin bergidik ngeri. "Jadi kau tidak bisa tidur?". tanya Askara dengan senyum nakalnya.
Anin langsung mengangguk polos meskipun dia bingung dengan arti senyuman Askara.
Askara langsung melempar ponsel Anin ke sofa namun karena jarak sofa cukup jauh dari tempat tidur, membuat lemparan Askara meleset hingga ponsel Anin jatuh tepat di atas lantai.
"Mas, apa yang kau lakukan? ponselku bisa rusak". protes Anin dengan sorot mata tajamnya. bukan bisa rusak, pasti sekarang ponselnya sudah benar-benar rusak karena Askara melemparnya tidak pakai otak.
"Buang ponsel bututmu itu. besok Dito akan membelikan yang baru untukmu dan yang pastinya lebih mahal dan keluaran terbaru". Ujar Askara tanpa dosa, tangannya sudah menjelajah ke mana-mana ke bagian tubuh sensitif Anin.
"Mas, hentikan". tahan Anin karena Askara meremas ***********.
"Kau tidak bisa tidur kan? jadi lebih baik kita menjenguk Askara junior di dalam sana". seringai Askara mulai melucuti kancing piyama Anin.
"Aku tidak mau melakukannya, kau sudah merusak ponselku". Anin masih kesal dengan sikap Askara yang seenaknya saja. Anin bukannya tidak senang jika di belikan barang-barang mahal oleh Askara, tapi dia adalah tipe orang yang begitu menghargai barang-barang yang dia beli dari hasil jerih payahnya sendiri.
Askara mendengus kesal karena penolakan Anin. "Oke. aku minta maaf, tapi bagaimanapun aku akan tetap mengganti ponselmu yang sudah rusak itu. tapi tolong, jangan tolak aku. aku sangat menginginkanmu malam ini". tatapan mata Askara terlihat penuh harap.
__ADS_1
Anin memutar bola mata malas. Askara selalu saja punya banyak cara untuk membuat dirinya tidak tega.
Askara hendak mencium bibir Anin, tapi wanita itu dengan cepat menahannya sambil menutup hidungnya.
"Kenapa lagi?". tanya Askara frustasi karena Anin selalu menahannya.
"Mas Askara bau asap rokok. sudah aku bilang kan, jangan merokok lagi". ujar Anin dengan suara sengaunya karena dia masih menutup hidungnya.
Askara menghela nafas kasar, ada-ada saja halangannya untuk menjenguk Askara junior.
"Sana sikat gigi dulu. Mas Askara bau tau nggak".
Askara menggeram kesal, mau tidak mau dia beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi untuk menyikat gigi sesuai perintah Anin.
"Kau jangan ke mana-mana". peringat Askara menghentikan langkahnya sejenak lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi.
Selepas kepergian Askara ke kamar mandi. Anin turun dari tempat tidur mengecek ponselnya yang di tadi di lempar oleh Askara.
Anin menatap nanar layar ponselnya yang hancur tak berbentuk karena benturan keras akibat lemparan Askara yang tidak main-main.
"Dasar arogan". gerutu Anin memasukkan ponselnya yang sudah rusak ke dalam laci nakas.
Tak lama Askara keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang membuat Anin meneguk salivanya susah payah. rambut Askara yang sedikit basah, mungkin sengaja pria itu basahi saat di dalam kamar mandi tadi semakin menambah kadar ketampanan suaminya itu.
"Lihat, bahkan sekarang tatapanmu yang berkata seolah menginginkanku". Ujar Askara menangkap basah Anin yang menatapnya tak berkedip.
"Mana ada?". Anin mengelak sambil memalingkan wajahnya.
Askara naik ke tempat tidur. "Kau tidak usah malu untuk mengakuinya, Anin. karena tanpa kau minta pun, aku akan memberikannya dengan senang hati".
__ADS_1
Askara mendorong pelan tubuh Anin hingga kini posisinya berada tepat di atas tubuhnya. Anin menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi geli saat Askara mulai menelusuri leher jenjangnya.
Malam ini, keduanya akan melewati malam panas yang begitu panjang dan menguras tenaga tentunya. cahaya temaram menampilkan siluet dua insan yang sedang bergulat melakukan penyatuan untuk mengejar kenikmatan masing-masing.