Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 12


__ADS_3

Sepanjang jalannya meeting, Askara sesekali tersenyum tipis menatap layar tab nya.


Moodnya pagi ini dalam keadaan sangat baik.


Dito yang duduk tidak jauh dari Askara tidak melepas perhatian dari bossnya itu.


Tidak biasanya Askara bersikap aneh seperti ini.


Aneh ujar Dito dalam hati.


Apa terjadi sesuatu antara Askara dan Anin semalam? tebak Dito.


Berangkat dari apartement pun sikap Askara sudah aneh di mata Dito. sepertinya memang benar terjadi sesuatu antara Anin dan Askara.


Jika benar, Dito ikut senang. semoga hubungan mereka bisa lebih dekat sebelum 'Dia' kembali.


Hari ini adalah sejarah, Askara mengakhiri meeting dengan senyum. meski sekilas cukup membuat orang yang berada di dalam ruangan terperangah.


Jika biasanya mereka melihat Askara dengan wajah dinginnya, namun hari ini sangat berbeda.


"Tuan, apa saya boleh bertanya?" ujar Dito, sedari tadi mulutnya sudah gatal ingin bertanya.


Keduanya sedang berada di lift khusus petinggi perusahaan.


"Apa?" jawab Askara melonggarkan sedikit dasinya.


Mengingat tentang dasi, Askara kembali tersenyum.


"Hari ini tuan tampak berbeda"


"Berbeda?, berbeda seperti apa maksudmu Dito?"


"Tuan selalu tersenyum di sela-sela meeting tadi, itu adalah hal yang bahkan tidak pernah terjadi sebelumnya" ucap Dito yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan Askara dan pemandangan tadi adalah hal yang baru terjadi.


Askara sosok yang selalu serius jika sudah berhubungan dengan kerjaan.


Sosok dingin dan arogant adalah dua hal yang melekat pada dirinya.


"Apa kau memperhatikanku?" telisik Askara


"Bukan begitu tuan, tapi jika boleh jujur sikap tuan tadi terlihat jelas bahkan di mata klien kita". sepanjang jalannya meeting Dito dapat mendengar suara bisik-bisik di dalam ruangan meeting, mereka kompak mempertanyakan perubahan sikap sang CEO.


"Biarkan saja" ujar Aksara tidak peduli.


Keduanya berjalan keluar dari lift, Askara memasuki ruangannya, begitupun dengan Dito.


Anin menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja dapur, tengah serius memperhatikan tangan cekatan Mia memotong berbagi jenis sayur yang akan di masak.


Tiba-tiba Anin ingin makan sup iga, alhasil Dia menyuruh Mia untuk membuatnya dan ternyata Mia juga pandai dalam hal memasak.


Tadinya Anin ingin ikut membantu, namun langsung di tolak oleh Mia yang hanya menyuruh Anin duduk manis tanpa melakukan apapun.


Selepas kepergian Askara tadi, Mia juga datang ke apartemennya. Orang yang di maksud oleh Askara yang akan membantu keperluannya hari ini.


Mia juga asisten yang di tugaskan untuk mengemas barang-barangnya di kost tempo hari dan juga orang yang katanya mengganti pakaiannya semalam.


Tadinya Anin berfikir jika orang yang akan di kirim Askara adalah wanita yang sudah berumur seperti asisten rumah tangga kebanyakan.


Ternyata Mia hanya lebih tua dua tahun darinya membuat obrolan mereka nyambung. dengan kehadiran Mia setidaknya Anin tidak merasa kesepian di apartement.

__ADS_1


"Jadi benar, kau yang mengganti pakaianku semalam?" Terhitung sudah tiga kali Anin menanyakan hal ini pada Mia.


Mia yang tengah memotong wortel menghentikan aktivitasnya, beralih menatap Anin dengan senyum geli "Nona tidak percaya padaku? sudah tiga kali nona menanyakan ini" Mia kembali melanjutkan memotong wortelnyam


"Mmm...bukan begitu" Anin tidak enak "Kau tau sendiri kan aku dalam keadaan pingsan jadi bisa saja pak Askara yang_"


"Yang mengganti baju nona Anin?" lanjut Mia memotong ucapan Anin.


"Heheh" Cengir Anin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Mia menggelengkan kepalanya baru kali ini melihat pasangan suami istri yang masih canggung satu sama lain.


"Memangnya kenapa jika tuan Askara yang melakukannya, toh Dia kan suami sah nona Anin"


Anin tampak gelalapan "Bukan begitu" mencoba mencari alasan "Aku hanya masih merasa malu karena kita masih pengantin baru jadi aku belum terbiasa"


"Tapi jika melakukan itu tidak malu kan?" Goda Mia yang sebenarnya tidak tau seperti apa pernikahan gadis mungil di depannya ini.


Anin menatap cengo, Dia cukup paham arah pembicaraan Mia.


"Apaan sih, sudahlah. lanjutkan saja acara memasakmu" segera Anin mengakhiri pembicaraan absurd mereka.


Mia tertawa kecil, semburat merah nampak jelas di wajah putih Anin.


Andai Mia tau, jauh di dalam lubuk hati Anin merasa sedih. pernikahannya tidaklah semenarik yang mungkin di bayangkan Mia.


Lama mereka mengobrol berbagi macam hal, sup iga request khusus Anin ternyata sudah masak.


Mia mengambil mangkok dan menyajikannya untuk Anin "Silahkan di cicipi nona" ucapnya sambil meletakkan semangkok sup iga panas di depan Anin.


Mata Anin berbinar menatap sup iga dengan asap yang masih mengebul "Hummm...wanginya enak sekali Mia"


"Makanlah sepuas Nona"


Mia menatap heran "Nona Anin kenapa?"


"Kau tau, ini adalah salah satu kebiasaanku"


"Kebiasaan?"


Anin mengangguk "iyya... saat aku memakan makanan yang rasanya sangat enak aku refleks akan melakukan hal seperti ini" kembali menirukan gerakan kepala ke kanan dan ke kiri.


"Ada-ada saja Nona ini" Mia tersenyum geli


"Itu artinya masakanmu sangat enak Mia" Puji Anin menaikkan dua jempol tangannya.


Mia yang mendapatkan pujian dari seorang nyonya Askara merasa sangat senang "Suatu kehormatan bagi saya mendapatkan pujian dari Nona Anin".


"Lain kali kau harus memasak untukku lagi Mia"


"Dengan senang hati Nona" ucap Mia tulus.


Anin kembali melanjutkan makanannya dan menghabiskan satu mangkok sup iga buatan Mia.


Hari sudah menjelang petang, Mia sudah pamit pulang pada Anin beberapa menit yang lalu.


Kini tinggal Anin seorang diri, Askara pun belum pulang dari kantor.


Anin duduk di tepi ranjang kamar Askara, matanya menatap setiap sudut kamar bernuansa abu-abu tersebut.

__ADS_1


"Ternyata kamar ini sangat luas" Gumam Anin yang sudah berjalan mengelilingi setiap bagian kamar Askara.


Namun ada satu ruangan yang menarik perhatian Anin, rasa penasarannya menuntun kakinya untuk melihat lebih dekat.


Kaki Anin berhenti di depan sebuah pintu kayu bercat hitam. lokasi pintu tersebut berada di samping rak buku besar milik Askara.


Anin memutar knop pintu, ternyata tidak terkunci.


Gelap, itu yang Anin dapati saat pertama kali memasuki ruangan tersebut.


Bermodal senter di handphone nya Anin mencoba mencari keberadaan saklar lampu.


Dan lampu menyala.


Cahaya temaram menghiasi ruangan bercat abu-abu tersebut, sepertinya Askara memang menyukai warna itu.


Ruangan itu ternyata tidak lebih dari ruangan kerja, hanya saja ukurannya lebih kecil dari ruang kerja Askara yang berada di luar kamar.


Tapi satu hal yang menarik, terdapat banyak foto-foto kecil Askara dan seorang gadis kecil.


mungkin ini adiknya pak Askara sangka Anin dalam hati.


Anin tersenyum kecil melihat betapa lucunya Askara kecil.


"Apa jagoan Mama juga akan selucu Papahnya sewaktu kecil?" ucap Anin tersenyum meraba perutnya.


"Eh..tapi Mama kan belum tau kamu cowok apa cewek" lanjut Anin lagi merasa geli sendiri dengan ucapannya.


Anin meletakkan foto kecil Askara kembali ke meja tempat semula, Dia tiba-tiba teringat perkataan Askara pagi tadi agar tidak menggeser sedikit pun letak barang-barangnya.


Kaki Anin kembali berkeliling, terdapat berbagai buku-buku tentang bisnis yang begitu tebal. Anin tidak bisa membayangkan jika Askara membacanya sampai habis. Anin yang notabene malas membaca hanya akan membuka buku jika menyangkut mata kuliahnya.


Anin baru saja akan menyudahi kegiatan berkeliling ya, tapi netra hitamnya menangkap sebuah pintu lagi.


Alis Anin bertaut


"Ada pintu lagi di dalam ruangan?" tanyanya entah pada siapa. Mendapati pintu tersebut, kenapa Anin merasa Askara ini adalah sosok yang misterius.


Anin mendekat memutar knop pintu, lagi-lagi tidak terkunci.


Pintu terbuka, Anin melangkah perlahan. ukuran ruangan ini lebih kecil dari ruangan yang pertama.


Banyak lukisan dengan berbagai jenis menggantung rapi pada dinding berwarna biru langit tersebut, Anin menyadari warna ruangan ini berbeda sendiri dari pada ruangan lainnya.


Ternyata sisi lain Askara yang baru Anin ketahui bahwa pria dingin tersebut pandai melukis.


Terdapat berbagai jenis cat, kuas dan juga kanvas di dalam ruangan ini.


Namun ada satu lukisan yang masih berada di atas dudukan kanvas dan di tutupi kain putih.


Anin penasaran, tangannya mengudara untuk membuka kain yang menutupi lukisan.


Dan, ternyata...itu adalah lukisan seorang wanita.


Rambut panjang berwarna coklat legam, bola mata coklat hazel, hidung mancung, wajah blasteran, serta bibir ranum yang tengah tersenyum manis.


Apakah visual wanita dalam lukisan ini sungguh nyata adanya? fikir Anin, Dia begitu cantik walau hanya di gambarkan di atas kanvas.


Mata Anin kembali meneliti, Pada bagian ujung kanan bawah terdapat tulisan kecil, Anin mendekat bibir kecilnya bergumam "Dalila Ajeng Nelson"

__ADS_1


Tanpa Anin sadari, seseorang berdiri tidak jauh di belakang tubuhnya, tengah mengepalkan kedua tangannya.


"Apa yang kau lakukan di sini" Ucap suara bariton tersebut mengagetkan Anin.


__ADS_2