
Bisa merasakan menggendong dan mencium wajah Jendra adalah hal yang sudah Anin tunggu-tunggu selama hampir satu bulan ini. perjuangan Anin yang harus bolak-balik ke rumah sakit membawakan stok ASI untuk Jendra selama masih berada di rumah sakit akhirnya tidak perlu dia lakukan lagi.
Di temani Bu Risa, Mami Sandra, dan juga Vivi, hari ini Anin menjemput Jendra yang sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah karena keadaannya sudah stabil dan tidak perlu berada di dalam tabung inkubator bayi lagi.
Raut wajah bahagia terus terpancar di wajah cantik Anin. bagaimana tidak, moment di mana ia bisa mendekap Jendra dalam pelukannya akhirnya terwujud hari ini. wanita itu tak henti-hentinya menghujani pipi Jendra yang semakin gembul dengan ciuman lembut karena merasa begitu gemas pada sang putra.
"Anin, sekarang kita pulang ya sayang. Jendra pasti sudah kangen rumah". ujar Mami Sandra mendekat dan membelai pipi gembul Jendra yang tengah terlelap dalam gendongan Anin.
"Pulang ke rumah?, maksud Mami..?" Anin ingin memperjelas 'rumah' yang di maksud oleh Mami Sandra.
"Ke mansion, kamu mau kan sayang?". bujuk Mami Sandra.
Mendengar kata mansion, Anin langsung mengeratkan pelukannya pada Jendra, "Anin tidak mau pulang ke mansion, Mi. sekeras apapun Mami memaksa, Anin tidak akan pernah pulang ke rumah itu lagi".
Anin masih kekeh pada keputusannya, sekeras apapun Mami Sandra ataupun Askara memaksanya untuk pulang, dia tidak akan pernah merubah keputusannya.
__ADS_1
"Anin coba fikirkan nasib anakmu ke depannya sayang, Mami hanya khawatir dengan Jendra apalagi dia baru keluar dari rumah sakit. semua kebutuhanmu sudah tersedia di mansion, bahkan Mami sudah menyiapkan dokter anak khusus untuk Jendra jika nantinya terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. jadi Mami mohon turunkan egomu sedikit dan kembalilah ke mansion". Mami Sandra masih berusaha membujuk Anin
"Maaf Mi, tapi Anin tetap tidak bisa kembali ke mansion, dan terimakasih sebelumnya untuk semua yang sudah mami lakukan untuk Anin dan juga Jendra, Anin akan selalu menghargai Mami tapi tidak untuk kembali lagi ke mansion". putus Anin.
"Tapi, sayang___".
"Bu Sandra, tolong kasi Anin waktu". potong bu Risa karena dia tidak ingin membuat Anin tertekan apalagi dia tau betul bagaimana kondisi seorang ibu baru yang psikisnya belum stabil. Bu Risa hanya tidak ingin hal ini membebani fikiran Anin dan berdampak pada kesehatan mentalnya.
"Pelan-pelan saya akan bicara pada Anin, tapi kita tidak boleh terus menerus memaksa Anin apalagi sampai menekannya".
Mami Sandra terdiam sejenak, dia sadar perbuatannya tadi bisa membahayakan kondisi mental Anin, "Maafkan saya Bu Risa, saya hanya ingin yang terbaik untuk Anin dan juga Jendra".
Mami Sandra mengangguk paham, beralih mengelus pelan lengan Anin. "Mami tidak akan memaksa kamu lagi. tapi kalau kamu butuh sesuatu jangan pernah sungkan untuk bicara sama Mami".
"Iyya, Mi terimakasih".
__ADS_1
"Semuanya sudah siap kan?, bisa kita pulang sekarang?". ujar Vivi memecah ketegangan agar tak lebih berlanjut lagi.
Anin mengangguk sebagai jawaban, tanpa menunggu lama lagi mereka semua beranjak meninggalkan rumah sakit. Mami Sandra sengaja meminta Anin untuk satu mobil dengannya agar bisa lebih lama bersama Jendra dan tentunya Mami Sandra tidak akan membuka pembahasan apapun lagi mengenai Askara atau kembali membujuk Anin agar pulang ke mansion. seperti kata Bu Risa, ia akan memberi waktu kepada Anin agar menantunya itu merasa lebih tenang dan berharap keputusan Anin untuk berpisah dari Askara bisa berubah dan kembali memperbaiki rumahtangga mereka.
Sementara itu, Askara kembali dengan kesibukannya di kantor yang sempat dia tinggalkan beberapa Minggu lamanya. bahkan seminggu terakhir ini dia harus bolak balik keluar negeri untuk mengurus cabang perusahaannya yang bermasalah. dan karena hal inilah yang membuat Askara kesulitan untuk bertemu dengan Anin, lebih tepatnya dia hanya bisa melihat Anin dari jauh.
"Tuan, nona Anin sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya setelah menjemput tuan muda Jendra, apa tuan tidak ingin menemui mereka secara langsung?". tanya Dito yang saat ini tengah berada di dalam ruangan Askara.
Askara menghentikan gerakan tangannya yang tengah menyibak berkas-berkas lalu dia letakkan kembali ke atas meja.
"Tidak Dito, untuk saat ini aku tidak ingin mengganggu Anin apalagi muncul di hadapannya. lebih baik kami seperti ini dulu, aku hanya sedang mengulur waktu agar Anin bisa berubah fikiran, cukup melihat mereka dari jauh dan memastikan mereka baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup untukku saat ini". meskipun Askara merasa sangat tersiksa dan ingin menemui Anin secara langsung seperti yang di katakan oleh Dito tadi, tapi dia tidak ingin gegabah saat ini. meskipun kini keduanya tengah membentang jarak, setidaknya Anin masih berstatus istrinya dan itu artinya Askara masih punya hak penuh atas Anin. Askara memilih meredam egonya untuk tidak menemui Anin agar wanita itu tidak kembali mengungkit perpisahan di antara mereka, karena sampai kapanpun Askara tidak akan pernah menceraikan Anin.
"Nanti malam tolong temui Anin dan pastikan dia dan Jendra aman". titahnya pada sekretaris Dito.
"Baik tuan".
__ADS_1
Askara mengusap wajahnya kasar, bohong jika dia baik-baik saja saat ini. rasa rindu yang sudah membuncah begitu ingin dia lepaskan dengan memeluk Anin tidak peduli walau dia akan di tolak nantinya, tapi sampai detik ini dia masih menahan diri untuk tidak muncul di hadapan Anin. semuanya Askara lakukan agar Anin masih berada di sisinya tapi sampai kapan dia harus seperti ini terus. Askara harus mencari waktu yang tepat untuk menemui Anin.
To be continue