
"Akhirnya selesai juga" ujar Anin melepas celemek yang menempel di tubuhnya.
Acara memasaknya di dapur sudah selesai. Anin memasak dua piring nasi goreng, simple dan tidak memakan waktu terlalu banyak, takut Askara keburu lapar nantinya.
Setelah membersihkan sisa-sisa bekas bahan makanan, Anin bergegas membawa dua piring nasi goreng tersebut ke pinggir kolam renang.
Kening Anin berkerut saat tidak menemukan Askara di bangku yang di tempatinya, yang ada hanya pakaian yang di kenakan Askara tadi.
"Mas, kau di mana?" teriak Anin mencari keberadaan Askara.
Tiba-tiba Askara muncul dari dalam kolam renang.
"Ya ampun mas, kok malah berenang sih?" ujar Anin melihat Askara muncul dari dalam air kolam renang.
"Abisnya gerah" ujar Askara.
"Sini naik dulu, makan siangnya sudah siap"
"Tunggu"
Askara segera beranjak naik dari dalam kolam. perutnya sudah sangat lapar karena berenang.
"Astagfirullah, mas" Anin refleks menutup mata saat melihat Askara hanya mengenakan boxer yang mengekspose perut kotak-kotak Askara.
"Kenapa?" tanya Askara bingung.
"Pake handuk dulu mas, itu aurat tau" ujar Anin masih menutup matanya dengan kedua tangannya.
Askara menatap ke bawah boxer yang dia kenakan.
"Liat aja, kan udah muhrim" ujar Askara.
"Enggak mau, memangnya mas mau makan dalam keadaan seperti itu?, aku tidak nyaman liatnya" ujar Anin, padahal mereka sudah suami istri tapi dia masih belum terbiasa.
Dari pada berdebat, Askara akhirnya mengalah.
"Ya udah, aku ambil handuk dulu" ujar Askara melangkah memasuki kamar untuk mengambil handuk.
Anin mengintip dari sela-sela jarinya, Askara sudah tidak ada.
Tak lama Askara kembali ke pinggir kolam dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Ini mas makan siangnya, aku cuman masak nasi goreng soalnya takut mas keburu laper, nggak papa kan?" tanya Anin.
"It's oke" Askara tidak masalah, karena memang dia sedang lapar.
Askara memakan masakan Anin dengan lahap, menghabiskannya tanpa sisa.
"Aku lanjut berenang lagi" ujar Askara setelah menghabiskan makanannya.
"Iyya, aku mau ke dapur dulu nyuci piring bekas makannya".
Anin beranjak ke dapur, sedangkan Askara kembali menyegarkan diri dengan melompat ke dalam kolam renang karena dengan perut yang sudah kenyang.
Setelah mencuci piring kotor bekas makan siangnya dengan Askara, Anin memutuskan untuk rebahan di atas tempat tidur karena pinggangnya terasa pegal.
"Nak, kamu harus ikut happy yah di dalam perut Mamah, terimakasih sudah kuat sejauh ini". Anin mengelus perutnya, mengajak janinnya berbicara.
"Nggak terasa yah, kamu udah tumbuh segede ini di perut Mamah". lanjut Anin melihat perutnya yang mulai membuncit.
Anin mengulas senyum, dia memperhatikan Askara dari dalam kamar. dalam hati Anin selalu berdoa semoga akhirnya nanti tidak ada perceraian di antara mereka.
Dering ponsel Anin yang berada di dalam tas, membuyarkan lamunannya.
Anin segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Ternyata itu adalah panggilan video call dari Vivi. Anin segera mengangkat panggilan tersebut.
"Aniiiiiiiinnn" teriak Vivi dengan suara cemprengnya saat panggilan video call tersambung.
"Berisik, Vi" tegur Anin.
"Sombong amat yang lagi babymoon di Bali" hardik Vivi dari balik sambungan video call.
"Apaan sih, tumben video call? kangen?" tanya Anin.
"Enggak, gue nggak kangen sama Lo. gue cuman mau liat resort yang Lo tempati" ujar Vivi yang melakukan panggilan video call hanya ingin melihat suasana resort yang Anin tempati.
Anin mencebikkan bibirnya, merasa kesal mendengar jawaban Vivi.
"Nih, puas-puasin Lo liatnya" Anin membalik kamera sehingga bisa menunjukkan keadaan resort yang di tempatinya sekarang pada Vivi.
"Gila, mewah banget Nin. suami Lo tajir bener" seloroh Vivi.
"Lo kan juga tajir, ngapain muji Askara" ujar Anin tidak habis fikir.
"Yaelah, gue mah nggak ada apa-apanya kali".
Anin memutar bola mata malas.
"Lo lagi di mana sih?" tanya Anin mendengar suara rame dari tempat Vivi.
"Ini, gue lagi di cafe. biasa lagi ngerjain tugas deadline" keluh Vivi
"Kebiasaan banget" cibir Anin, entah kenapa dia kangen kuliah, kangen ngerjain tugas bareng Vivi.
"Laki Lo mana Nin, kok nggak keliatan?" tanya Vivi tidak melihat kehadiran Askara saat Anin menunjukkan isi resort.
"Mas Askara lagi di luar, berenang".
"Oh, lagi pemanasan?" tanya Vivi penuh maksud.
Alis Anin bertaut " Pemanasan? pemanasan apa maksud Lo" tanya Anin tidak mengerti.
"Yaaa, pemanasan buat nanti malam lah. buat nengokin calon baby, hahaha" seloroh Vivi tertawa cekikikan.
"Apaan sih, otak Lo itu yah isinya hal ngeres semua" ujar Anin.
__ADS_1
"Biarin"
"Anin" tiba-tiba Askara memanggil Anin dari luar kolam.
"Iyya, Mas" sahut Anin.
"Vi, udah dulu yah. Mas Askara manggil" ujar Anin akan mengakhiri panggilan video call.
"Tuh kan, apa gue bilang. belum apa-apa udah manggil aja tuh laki Lo" Vivi semakin gencar menggoda Anin.
"Gak jelas banget sih Lo, udah yah gue matiin, bye". Anin segera mematikan sambungan video call dengan cepat, dari pada Vivi terus menerus menggodanya.
Setelah selesai dengan Vivi, Anin segera keluar kamar menghampiri Askara.
"Iyya mas, ada apa?"
"Lama banget" ujar Askara.
"Itu, tadi Vivi nelfon. Mas butuh sesuatu?" tanya Anin.
"Ambilkan aku handuk" pinta Askara menunjuk handuk yang tergelatak di kursi panjang pinggir kolam.
"Tunggu, aku ambilin". Anin meraih handuk tersebut
"Nih". jongkok Anin menyodorkan handuk tersebut pada Askara.
Namun bukannya meraih handuk di tangan Anin, Askara justru menarik tangan Anin sehingga tubuh gadis itu ikut masuk ke dalam kolam.
"Aaaaaaakhhhhhh" pekik Anin kaget.
"Hahaha" Askara tertawa melihat tubuh Anin yang ikut basah.
"Mas tolong...aku nggak bisa berenang" teriak Anin berusaha naik ke permukaan.
Tubuh Askara menegang melihat anin tampak kesusahan.
"Aniiiiiiin" teriak Askara panik, menghampiri Anin dan meraih tubuh gadis itu.
"Anin..kau tidak papa?" Askara semakin panik saat tubuh Anin terasa lemas.
"Maafkan aku, aku tidak tau kalau kau tidak bisa berenang" sesal Askara dengan wajah bersalahnya.
"Anin, liat aku" Askara berusaha menyadarkan Anin.
Namun tanpa di duga, Anin justru tertawa terbahak-bahak.
"Bwhahahahahahaah, muka kamu lucu banget mas" ujar Anin yang berusaha menahan tawanya sejak tadi.
Askara tergelak, ternyata Anin mengerjainya.
"Jadi, kau mengerjaiku?" tanya Askara tidak percaya.
"Hahahaha, habisnya Mas Askara duluan yang usil"
Seketika wajah Askara yang tadinya khawatir berubah menjadi kesal.
"Jadi, kau bisa berenang?" lagi-lagi Askara tidak habis fikir.
"Terus kenapa kau melakukan hal seperti itu tadi, kau membuatku khawatir" gerutu Askara dengan tingkah Anin.
Anin menahan senyum "Jadi, mas Askara khawatir?"
Askara sadar akan ucapannya "Aku hanya takut Mami akan mengamuk padaku jika terjadi sesuatu padamu" jawab Askara cepat, dia terlalu gengsi untuk mengakui.
"Yakin karena Mami?" tanya Anin lagi.
"Yakinlah".
"Gengsi banget sih, tinggal bilang Iyya susah banget" ujar Anin memercikkan air ke wajah Askara membuat pria itu kesal dan tidak terima.
"Anin" seru Askara "Awas kau yah" Askara membalas memercikkan air ke wajah Anin membuat gadis itu bukannya kesal malah tertawa.
"Aku bales kamu, Mas" ujar Anin
Keduanya akhirnya saling bermain-main air di kolam renang hingga tak sadar hari sudah sore.
*****
Langit Bali sudah berganti dengan bintang-bintang dan juga bulan, itu artinya hari sudah malam.
Anin baru saja selesai membersihkan diri setelah basah-basahan di kolam tadi bersama Askara.
Dengan masih menggunakan jubah mandi, Anin membuka kopernya yang semuanya di siapkan oleh Sandra kemarin.
Mata Anin membulat sempurna setelah membuka koper tersebut.
Semua pakaian yang ada di dalam kopernya berisi pakaian kurang bahan menurut Anin, bahkan terdapat beberapa lingerie yang khas dengan sebutan pakaian dinas malam seorang istri.
"Baju apaan ini, ya ampun tembus pandang banget" Anin mengangkat lingerie tersebut dan bergidik ngeri melihat betapa tipis dan menerawang pakaian tersebut.
Tangan Anin kembali mengecek kopernya, barang kali ada pakaian yang bisa dia gunakan. namun hasilnya nihil.
Pantas saja, Mami Sandra ngotot ingin mengemasi koper ini untuknya, ternyata semuanya berisi pakaian yang bisa mengundang hasrat lelaki.
Anin berfikir keras, lalu dia harus mengenakan apa.
Saat Anin sedang bergulat dengan fikirannya di dalam ruang ganti, Askara yang berada di luar kamar sedang berbicara dengan Dito via sambungan telefon mengenai keadaan perusahaan hari ini.
"Aku percayakan semuanya sama kamu Dit, kalau ada masalah di kantor hubungi aku secepatnya" ujar Askara sebelum menutup telfonnya.
"Baik, tuan" jawab Dito di ujung telefon.
Askara kemudian mengakhiri panggilannya saat melihat Anin keluar dari ruang ganti.
Alis Askara berkerut, melihat Anin keluar masih dengan menggunakan jubah mandi.
"Kenapa kau belum ganti pakaian?" tanya Askara.
__ADS_1
Anin berdiri dengan gelisah "Mas, boleh kita ke toko pakaian terdekat di sini?" tanya Anin gugup.
"Toko pakaian?, memangnya kenapa pakaianmu?"
Anin semakin gugup saat Askara bertanya seperti itu "Anu mas, itu.. pakaiannya kurang bahan semua" ujar Anin pelan.
"Maksudnya?" tanya Askara dengan alis terangkat.
"Yaa pokoknya aku nggak nyaman mas memakainya".
"Ini sudah malam Anin, besok saja. kau pakai saja yang ada" ujar Askara.
"Tapi mas_"
"Aku ingin mengerjakan beberapa kerjaan dulu, kau kembalilah masuk dan ganti pakaianmu" ujar Askara memotong perkataan Anin.
Askara duduk di atas tempat tidur dengan memangku laptop yang memang sengaja dia bawa.
Sedangkan Anin, mau tidak mau dia kembali ke dalam ruang ganti lagi.
Dengan mengumupulkan keberanian, Anin memutar handle pintu dan keluar dengan menggunakan lingerie kimono berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan warna kulitnya, setidaknya Anin merasa tertolong dengan dengan luaran dari lingerie tersebut.
Askara yang tengah fokus menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba perhatiannya jatuh pada Anin yang baru saja keluar dan berdiri dengan gusar di ambang pintu ruang ganti.
Glek, Askara menelan salivanya begitu kasar.
Anin tampak begitu menggoda dengan lingerie merah tipis yang melekat di tubuhnya.
Sesuatu di bawah sana sudah menegang, hawa panas tiba-tiba menyerang Askara.
Anin merasa semakin tidak nyaman karena Askara menatapnya begitu intens.
"Aaa...kuu mau ganti pakaiannya saja" ujar Anin sangat gugup, dia ingin kembali ke dalam.
"Tidak perlu" tahan Askara cepat, dia sudah menutup laptopnya.
Askara berdiri dari tempat tidur, berjalan mendekat ke arah Anin.
"Mas, kau mau apa?" tanya Anin takut, dia perlahan mundur namun tubuhnya menubruk pintu.
Askara tidak menjawab, dia justru semakin mendekat.
"Mas" ujar Anin karena Askara semakin mendekat.
"Kau tanya aku mau apa?, aku mau ini" ujar Askara lembut, dia sudah ******* bibir Anin. Askara sudah tidak bisa menahan diri lagi. penampilan Anin kali ini membuat Askara ingin meledakkan apa yang sudah susah payah di tahannya selama ini.
Tubuh Anin menegang, nafasnya tercekat dengan mata membulat sempurna saat bibir keduanya menyatu.
Askara terus menerobos bibir Anin agar gadis itu membuka mulut dan memberinya akses.
Anin sangat pasif karena baru kali pertama dia merasakan hal semacam ini.
Askara memberi gigitan kecil pada bibir Anin agar gadis itu mau membuka mulut. dan yah, Askara berhasil.
Anin merasa sudah kehabisan nafas karena Askara terus menyerangnya.
"Hossh..hossh..Mas, aku tidak bisa bernafas" ujar Anin mendorong pelan tubuh Askara untuk meraup oksigen.
"Maaf" balas Askara namun sorot matanya menyiratkan sesuatu.
Begitupun dengan Anin, entah mengapa dia menikmati permainan Askara.
"Aku menginginkamu" ujar Askara dengan suara yang sudah berat, dia mengangkat tubuh Anin ke atas tempat tidur.
Jantung Anin berdetak lebih kencang dari biasanya, apakah malam ini sudah waktunya dia memberikan hak Askara?
Askara menindih tubuh Anin, tangannya melepas luaran dari lingerie yang di kenakan oleh Anin.
Tubuhnya semakin menegang saat aset Anin terpampang nyata di depan matanya.
Askara menelusuri leher putih Anin dengan penuh gairah, membuat Anin melenguh merasakan sensasi yang luar biasa.
"Mas" ujar Anin dengan suara parau.
Askara terus melanjutkan permainannya, dia semakin bersemangat saat Anin tidak memberikan penolakan sama sekali.
Askara melepas tali bra yang Anin gunakan, membuat kedua buah dada Anin yang semakin berisi kerena kehamilannya, kini terlihat jelas.
Anin menggelinjang hebat saat Askara menggigit kecil buah dadanya. Askara menelusuri setiap bagian sensitif dari tubuh Anin, bahkan kini leher putih Anin sudah penuh dengan bekas merah.
"Mas, apa kita harus melakukan ini?" tanya Anin di tengah- tengah kegiatan panas Askara.
"Aku menginginkamu sekarang Anin, bolehkah?" tanya Askara dengan suara tercekat, hasrat dalam dirinya ingin segera di tuntaskan.
Anin nampak berfikir, jujur dia pun tidak bisa menolak permainan Askara yang membuat dirinya merasakan sensasi berbeda. Namun ingatannya kembali akan kejadian di mana Askara merenggut paksa kesuciannya.
"Mas, aku takut" ujar Anin
"Apa yang kau takutkan?" tanya Askara dengan suara lembut.
"Kau mengingat kejadian di apartemen waktu itu?" lanjut Askara mengerti kegundahan Anin.
Anin mengangguk lemah.
"Anin, lihat aku. aku akan melakukannya dengan selembut mungkin dan tidak akan menyakitimu"
Anin menatap mata Askara, berusaha mencari kebohongan di mata pria itu namun Askara ternyata berkata jujur.
Perlahan Anin mengangguk lemah, yang artinya dia setuju untuk memberikan hak Askara. Anin juga berharap semoga ini awal yang baik untuk hubungan rumah tangganya.
Melihat Anin mengangguk setuju, binar bahagia terpancar dari mata Askara. tanpa menunggu lama lagi, Askara melanjutkan permainannya yang sempat tertunda.
Kini seluruh penjuru kamar di isi dengan suara ******* dari aktivitas panas Askara dan juga Anin. Dan langit Bali malam ini menjadi saksi bisu kembalinya penyatuan antara keduanya.
Spesial part
**Yeaaay..akhirnya es batu mencair di tahap unboxing yaa readers. hahaha
__ADS_1
Masih mau lanjut part berikutnya?
like,komen, dan vote dulu dong karya author**.