Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 150


__ADS_3

Askara meremas dengan kuat ponsel yang berada dalam genggamannya hingga urat-urat tangannya terlihat menonjol, pria itu benar-benar tidak bisa menahan gejolak amarah yang bergemuruh di dadanya setelah melihat foto-foto kebersamaan Anin dengan Ken yang di kirim oleh salah satu pengawal pribadinya yang bertugas menjaga Jendra di rumah sakit.


Ya, orang yang memotret Anin secara diam-diam adalah orang suruhan Askara. Askara geram dan marah melihat betapa cantiknya Anin tersenyum dan tertawa lepas ketika bersama dengan Ken, bahkan keduanya juga menjenguk Jendra bersama-sama. hal yang seharusnya di rasakan oleh Askara sekarang, tapi justru Ken yang merebut posisi itu.


Pranggg!


Ponsel seharga puluhan juta tersebut berubah hancur tak berbentuk dalam sepersekian detik setelah Askara melemparnya kuat-kuat hingga mengenai tembok kamarnya.


Mami Sandra memekik kaget karena kejadian itu bersamaan dengan dirinya yang masuk ke dalam kamar Askara untuk membawakan putranya itu makan siang.


"Askara!, apa-apaan kau ha?". Mami Sandra buru-buru meletakkan nampan yang dia bawa kemudian menahan tangan Askara yang ingin kembali melepas selang infus yang menancap di tangannya. sesuai dengan permintaan Askara kemarin, dokter Arga datang ke mansion atas panggilan Mami Sandra untuk memberi Askara perawatan kembali.


"Aku mau ketemu Anin, mi". Askara ngotot dan menyingkirkan tangan Maminya secara paksa dari selang infusnya.


"Jangan gila!, Mami tidak akan pernah membiarkan kau kemana-mana sebelum kau sembuh".

__ADS_1


"Mami jangan larang Askara, sekarang Anin sedang bersama Ken, mereka jalan berdua sedangkan aku hanya duduk diam sambil menonton apa yang mereka lakukan?, Askara tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi Mi".


"Lalu kau mau apa?, justru Anin akan semakin membenci sikapmu yang seperti ini. kalau kau ingin mendapatkan Anin kembali maka jangan bersikap arogan dan memaksa. apa yang kau lihat belum tentu seperti itu kejadiannya, Mami tau betul Anin itu wanita seperti apa. dia tidak mungkin seperti kau yang bermain api di belakang".


"Mami sekarang menyalahkan aku? lalu kalau aku katakan bahwa apa yang terjadi antara aku dan Dalila juga tidak seperti yang Mami sangkakan selama ini, apa Mami akan percaya?". balas Askara sengit.


"Justru itu yang harus kau buktikan pada Anin, kalau kau menganggap bahwa apa yang terjadi adalah kesalahpahaman, maka seharusnya kau berfikir dan mencari cara untuk menyelesaikan semuanya dan bukannya malah bersikap meledak-ledak seperti ini".


"Maaf Mi, tapi kali ini Askara tidak akan membiarkan Anin jalan bersama Ken. Anin itu masih istri sah Askara". tanpa fikir panjang Askara menarik jarum infus yang menancap pada punggung tangannya.


"Mami!". seru Askara terkejut karena Maminya begitu nekat.


"Satu langkah saja kau berani keluar dari kamar ini, maka lebih baik Mami mengakhiri hidup di depanmu. percuma Mami selalu ada sisimu, percuma Mami mati-matian memberi kau semangat jika pada akhirnya kau tidak pernah menuruti perkataan Mami. kau tidak pernah tau rasa khawatir dan cemas dari seorang ibu melihat putra satu-satunya hidup tapi tak lebih dari seperti mayat hidup". Mami Sandra meracau meluapkan segala kemarahannya pada Askara. wanita paruhbaya itu tidak ingin melihat Askara berada di ambang kematian untuk yang kedua kalinya dalam persoalan yang sama yaitu karena cintanya.


"Mi, Askara mohon jangan bertindak gegabah". Askara mendekat, tapi Mami Sandra justru mundur selangkah.

__ADS_1


"Berjanji pada Mami Askara, kau akan menuruti permintaan Mami. Mami hanya ingin kau istirahat hingga sembuh, setelah itu terserah kau akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Anin kembali, Mami sama sekali tidak akan melarangmu tapi Mami mohon untuk kali ini, dengarkan Mami nak".


Mami Sandra tidak bermaksud menekan Askara tapi rasa trauma wanita itu pada kondisi Askara beberapa tahun lalu saat di tinggal oleh Dalila membuatnya merasa Dejavu dan kali ini dia sangat takut karena merasa benar-benar akan kehilangan Askara. apalagi hanya Askara satu-satunya putra yang dia miliki.


Askara mengalah pada egonya, selama ini Mami Sandra sudah banyak berkorban untuknya tapi dia sendiri sama sekali tidak pernah memikirkan bahwa Maminya akan punya rasa takut sebesar ini akan kehilangan dirinya.


"Okey, Askara akan menuruti kemauan Mami, tapi tolong singkirkan pecahan kaca itu dari tangan Mami". Askara membujuk Maminya agar menghentikan aksinya.


"Kau janji sama Mami?".


"Iyya, Askara janji Mi".


Mami Sandra pun menyingkirkan pecahan kaca dari tangannya, kemudian langsung memeluk sang putra.


"Maafkan Mami, tapi ini semua demi kebaikanmu". soalnya dalam pelukan Askara.

__ADS_1


"Askara yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat Mami khawatir selama ini".


__ADS_2