Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 80


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Anin sudah bangun dan membersihkan diri setelah semalam melakukan kegiatan panas bersama Askara.


Jika biasanya Anin akan bangun telat setelah bercinta dengan Askara, namun kali ini tidak, itu karena Askara hanya melakukannya satu ronde. dia tidak ingin membuat Anin kelelahan apalagi mereka melakukannya pertama kali selepas Anin mengalami pendarahan.


Anin menatap pantulan dirinya di depan cermin, menutupi bekas kissmark yang memerah di sekitar lehernya menggunakan foundation. lanjut menyapukan bedak tipis-tipis ke wajahnya tak lupa juga memakai liptint.


"Perfect". seru Anin menatap dirinya sendiri dengan senyum mengembang.


Selesai berdandan, Anin berdiri mendekat ke arah tempat tidur. di atas sana Askara masih tertidur pulas dengan posisi tengkurap tanpa mengenakan baju alias telanjang dada.


"Mas, ayo bangun.. udah pagi". Anin menyentuh lengan Askara mengguncang lembut tubuh suaminya agar terbangun.


Askara hanya bergerak sebentar, namun semakin menenggelamkan wajahnya ke bantal.


Anin berdecak kesal. "Mas..ayo bangun nanti telat loh ke kantornya". Anin sedikit berteriak tepat di telinga Askara.


Askara refleks menutup telinganya menggunakan bantal satunya lagi.


"Berisik Nin". kesal Askara membalik tubuhnya berubah telentang.


Askara menatap wajah Anin yang terlihat tak kalah kesal.


"Ayo cepat mandi, nanti Mas Askara terlambat ke kantor". perintah Anin menarik tangan suaminya agar turun dari tempat tidur.


"Iyya sayang...Iyya". pasrah Askara.


Mau tidak mau Askara turun dari tempat tidur. namun sebelum menuju kamar mandi, Askara mencium pipi Anin lalu kabur di sertai tawa ringannya.


"Ihh..Mas Askara". kesal Anin namun tapi detik berikutnya rasa kesalnya berganti senyum sambil memegangi pipinya.


Sambil menunggu Askara selesai mandi, Anin memutuskan untuk turun membantu bi Ratih menyiapkan sarapan.


"Pagi Non". sapa bi Ratih saat melihat Nyonya mudanya turun.


"Pagi juga Bi. Mia mana?". tanya Anin mencari keberadaan Mia.


"Ada di belakang Non, lagi beresin dapur".


"Ohh.. ada yang bisa Anin bantu nggak Bi?".


"Tidak ada Non,. kalopun ada, Bibi nggak bakalan izinin Non kerja". ujar Bi Ratih tersenyum, dia sudah di peringatan oleh Askara agar melarang Anin jika menawarkan bantuan.


Anin mendengus, pasti Askara sudah memperingatkan bi Ratih sebelumnya.


Karena Anin di larang untuk membantu bahkan sekedar menyiapkan sarapan pun tidak bisa, akhirnya wanita hamil itu memilih duduk sambil menunggu Askara turun.


Ting.. bel mansion berbunyi.


Bi Ratih yang mendengar suara bel berbunyi, hendak bergegas untuk membuka pintu namun di tahan oleh Anin.


"Biar Anin yang buka Bi. jangan sampai untuk membuka pintu juga di larang". gerutu Anin yang masih kesal di larang ini itu.


"Baik Non". pasrah bi Ratih, dia tidak sanggup berdebat dengan seorang ibu hamil yang kondisi emosinya sangat labil.


Anin berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya melewati ruang utama. jarak dari ruang makan dengan pintu utama mansion memang cukup jauh, bisa di bayangkan kan betapa luasnya mansion Askara.


Suara bel kembali berdering membuat Anin berdecak kesal.


"Ckk...nggak sabaran benget sih, lagi pula siapa yang pagi-pagi begini sudah datang bertamu". gerutu Anin karena orang di luar sana yang belum dia ketahui siapa menekan bel berkali-kali.

__ADS_1


Anin sempat melirik jam di dinding masih jam 7 pagi, sepertinya itu bukan sekretaris Dito. karena biasanya tangan kanan suaminya itu akan datang jam 8 pagi dan juga biasanya langsung masuk tanpa harus menekan bel.


Tangan Anin meraih gagang pintu berukuran besar tersebut kemudian membuka pintu.


Kening Anin berkerut saat melihat seorang wanita dengan rambut bergelombang sebatas punggung berdiri dengan posisi membelakanginya.


Merasa seseorang membuka pintu, Dalila berbalik badan.


Deg. Anin membeku sempurna di tempatnya, saat melihat wajah wanita yang berdiri di depannya.


Jantung Anin berdetak lebih kencang. dia meneliti penampilan wanita tersebut dari bawah sampai atas berhenti tepat di wajah cantik yang tengah tersenyum manis kepadanya.


Anin mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap apa yang di lihatnya sekarang adalah sebuah kekeliruan. Meskipun Anin belum pernah bertemu sebelumnya tapi dengan melihat foto di album waktu itu, Anin sangat yakin bahwa wanita yang begitu cantik ini adalah Dalila, sahabat sekaligus cinta pertama Askara.


Dalila memasang senyum manisnya saat yang membuka pintu adalah seorang wanita cantik dengan perut yang membuncit.


Di yakini Dalila wanita di depannya ini adalah istri Askara. terlihat dari perutnya yang sudah membesar dengan usianya yang masih tergolong sangat muda, sesuai dengan ciri-ciri yang di ceritakan Askara kemarin. jika saja wanita di depannya ini sedang tidak mengandung, justru lebih terlihat seperti adik Askara.


"Hemmm.." Dalila berdehem karena Anin begitu lama memandanginya.


Anin mengerjap tersadar dari keterkejutan hebatnya, dalam fikirannya bertanya-tanya kenapa Dalila bisa ada di sini, kapan wanita itu kembali dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. terlebih kini Anin merasa khawatir, dengan kembalinya Dalila dia takut Askara akan berpaling darinya.


"I-iyya..maaf, kalau boleh tau anda siapa yah?". meskipun Anin sudah tau jawaban pertanyaannya, tapi ini adalah bentuk basa-basinya sebelum mempersilahkan Dalila masuk.


Dalila mengulurkan tangannya "Kenalkan, aku Dalila Ajeng Nelson, panggil aja Dalila. aku sahabat Askara yang baru kembali dari Jerman". Dalila memperkenalkan diri dengan begitu lancar disertai senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya. bahkan Anin sebagai seorang perempuan mengakui kecantikan Dalila hampir sempurna.


Badan tinggi langsing bak model, kulit putih bersih serta di tunjang oleh wajah blasterannya membuat Anin merasa iri dan insecure seketika.


Dengan ragu Anin meraih uluran tangan Dalila. "A-aku Embun Anindira, panggil aja Anin". Anin membalas memperkenalkan diri dengan begitu gugup.


"Namamu cantik, secantik orangnya". puji Dalila tidak bohong. Dalila tipe wanita yang cepat berbaur karena sifat periang dan humblenya.


Askara yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya mencari keberadaan istrinya sampai ke pintu utama karena kata Bi Ratih Anin sedang menerima tamu di sana.


"Siapa, Nin?". tanya Askara sesampainya di pintu utama.


"Mas". Anin berbalik menatap Askara.


Betapa terkejutnya Askara saat melihat siapa yang datang ke mansionnya pagi-pagi begini.


Anin bisa melihat raut wajah tegang Askara namun pria itu berusaha untuk menutupinya.


"Dalila?". gumam Askara berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Hai". sapa Dalila dengan senyum mengembang.


"Kau sedang apa di sini?". tanya Askara dengan wajah yang entah, sulit di jelaskan.


"Nggak di suruh masuk dulu nih? masa tamu di biarin berdiri di luar". mengabaikan pertanyaan Askara, Dalila justru memasang wajah cemberut yang lebih tepatnya di tujukan untuk Askara.


"Eh, maaf. silahkan masuk kak". Anin mempersilahkan Dalila masuk dan di sambut dengan senyum manis oleh wanita cantik itu.


Dua wanita beda usia itu berjalan bersama memasuki mansion meninggalkan Askara yang masih berdiri di ambang pintu.


Anin membawa Dalila masuk bukan ke ruang tamu melainkan menuju meja makan. terlihat di belakang sana Askara sudah menyusul mereka setelah menetralkan rasa terkejutnya karena kedatangan Dalila ke mansion.


"Tamunya siapa Non?". tanya di Ratih belum melihat kehadiran Dalila.


"Bi Ratih.. ya ampun, Dalila kangen banget sama bibi". Dalila menghambur memeluk wanita paruh baya yang tengah menghidangkan makanan di atas meja. Dalila sangat dekat dengan bi Ratih karena dia yang mengurus segala keperluan Dalila sewaktu tinggal di mansion ini.

__ADS_1


Bi Ratih sama terkejutnya melihat Dalila yang setaunya melanjutkan kuliah di Jerman kini berdiri di hadapannya.


"Non Dalila?". seru Bi Ratih tak percaya. "Ini betulan Non Dalila? Non kapan pulang?".


"Baru kemarin Bi. Bibi apa kabar?".


"Sehat Non, seperti yang Non lihat". balas bi Ratih tersenyum.


Semua gerak gerik Dalila tak lepas dari pengamatan Anin. di mana wanita yang seumuran dengan Askara itu begitu hangat pada semua orang termasuk bi Ratih yang notabene hanyalah seorang asisten rumah tangga.


Berbeda dengan Askara, sedari tadi dia memperhatikan Anin yang terus menatap interaksi antara Dalila dan bi Ratih.


"Hemm..sebaiknya kita sarapan. aku harus buru-buru ke kantor". Askara memecah suasana yang terlihat akward terlebih bagi Anin.


"Oh ya ampun apa aku menggangu acara sarapan kalian?". tanya Dalila dengan raut wajah tidak enak.


"Tidak sama sekali kak, atau sekalian saja ikut sarapan bersama kami. bi Ratih masak cukup banyak pagi ini". Anin menawari Dalila untuk ikut bergabung sarapan bersama mereka.


"Kebetulan banget, aku belum sarapan sebelum berangkat ke sini. aku takut Askara sudah berangkat kerja lebih dulu jadinya aku buru-buru kemari".


Perkataan Dalila membuat kening Anin berkerut.


"Kalau begitu ikut sarapan bersama kami saja kak". ujar Anin.


"Memangnya boleh?". tanya Dalila melirik Askara yang berdiri dengan wajah datar di samping Anin.


"Yaa jelas boleh kak, ayo". Anin berusaha menyingkirkan fikiran negatifnya. kini Askara adalah miliknya dan hubungan mereka juga sudah semakin baik, jadi tidak mungkin Askara akan goyah.


Ketiganya duduk di meja makan dengan Askara yang seperti biasa duduk di kursi yang biasa di tempati. sedangkan Anin dan Dalila duduk dengan posisi berseberangan.


Anin dengan telaten menuangkan makanan ke atas piring Askara yang tak luput dari penglihatan Dalila.


"Ayo kak, Makan". ujar Anin pada Dalila setelah menuangkan sarapan ke piring Askara.


"Iyya, terimakasih".


"Kalian berdua terlihat sudah saling mengenal". ujar Askara melihat interaksi Dalila dan Anin.


"Kita berdua berkenalan di depan tadi". sahut Dalila.


"Iyya Mas". Anin ikut menimpali.


Askara mengangguk kecil, tidak ingin bertanya lagi karena ingin segera menyelesaikan sarapannya.


Ketiganya makan dalam suasana yang cukup canggung terlebih bagi Anin.


"Oh Iyya Askara". Dalila buka suara setelah beberapa menit suasana hening.


"Hemm.. kenapa?". tanya Askara dengan wajah datarnya.


"Sebenarnya tujuanku ke sini untuk mengembalikan ini". Dalila meletakkan paperbag berukuran kecil di atas meja makan.


Askara mengerutkan kening.


"Apa ini?". tanyanya.


"Ya ampun kau lupa? ini jam tanganmu yang kau lupakan kemarin di apartemenku". celetuk Dalila yang sukses membuat Anin mematung di tempatnya.


Jengjengjeng... hayo Askara kira-kira mau bilang apa habis ini sama Anin.

__ADS_1


__ADS_2