Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 127


__ADS_3

"Aku fikir mas Askara tidak akan ke kantor". ujar Anin sambil membantu memakaikan jas kantor ke tubuh atletis suaminya itu.


Setelah mengobrol cukup lama dengan papi Argio beserta Mami Sandra tadi, Anin berfikir bahwa Askara tidak akan kembali ke kantor karena sudah menjelang siang.


"Tadinya aku memang berencana tidak akan ke kantor, tapi ada hal urgent yang harus aku selesaikan sayang". Askara mengelus lembut pipi Anin. "Kenapa cemberut, sih?". Askara menarik gemas hidung mancung Anin".


"Aku maunya mas Askara di rumah saja, tidak pergi ke mana-mana". pinta Anin dengan sorot mata redupnya.


Askara mengerti keinginan Anin saat ini tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, apalagi ini memang mendesak.


"Maafkan aku sayang, tapi sebagai gantinya aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu, jadi bersiaplah nanti malam, dandan yang cantik ". ungkap Askara sebagai imbalan karena tidak bisa menuruti keinginan Anin untuk tidak berangkat ke kantor.


"Sesuatu?, apa itu mas?". tanya Anin penasaran.


"Kalau aku beritahu sekarang itu bukan kejutan namanya".


"Ya sudah, terserah mas saja. tapi pulangnya jangan sampe telat yah". peringat Anin.


"Iyya sayang, nanti aku akan suruh Dito untuk mengirim gaun untukmu. dan kau harus dandan yang cantik untukku malam ini".


"Memangnya selama ini aku kurang cantik yah, Mas?". tanya Anin memasang wajah cemberut.


"Ibu dari anak-anakku adalah wanita tercantik di dunia ini". ungkap Askara membuat pipi Anin bersemu merah.

__ADS_1


"Mas Askara gombal, belajar dari mana sih?". gemas Anin memukul pelan dada Askara.


"Bakat terpendam". Askara terkekeh memikirkan dirinya yang sering mengeluarkan gombalan tak terduga jika sudah bersama Anin.


Askara melirik jam rolex berharga ratusan juta yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Aku harus berangkat sayang, setengah jam lagi meeting di mulai. jangan melakukan aktivitas berat dan sampai bertemu nanti malam". pamit Askara mengecup kening Anin cukup lama.


"Hati-hati, Mas". ujar Anin menatap punggung Askara yang mulai menghilang di balik pintu kamar.


Sementara itu, Dalila baru saja keluar dari ruang ganti setelah melakukan pemotretan untuk sebuah majalah fashion.


Dalila tidak langsung pulang, dia berhenti di depan ruangan pemotretan seperti sedang menunggu seseorang.


Pintu ruang pemotretan terbuka, orang yang Dalila tunggu akhirnya keluar.


"Dalila?, sedang apa kau di sini?, bukannya sesi pemotretan mu sudah selesai?". tanya Ken dengan kening berkerut.


"Ada hal yang mau aku bicarakan, hanya berdua". ujar Dalila.


Satu alis Ken terangkat, namun karena penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh Dalila, Ken akhirnya mengajak wanita itu ke ruangannya.


"Katakan apa yang ingin kau bicarakan, aku tidak punya cukup banyak waktu karena aku masih ada pemotretan setelah ini". tutur Ken bukan bermaksud mendesak, tapi memang waktunya tidak banyak.


Dalila mengangguk paham, "Aku juga tidak akan lama, jadi aku akan bicara langsung pada intinya". Dalila tampak terdiam sebentar. "Aku tau bahwa kau menyukai Anin, jadi bisakah kita membuat kesepakatan?".

__ADS_1


Ken tampak tertegun dengan ucapan Dalila, "Maksudmu?".


"Kau tidak pandai menyembunyikan perasaanmu sendiri Ken, semua jelas terlihat bagaimana kau memandang Anin. meskipun aku baru mengenalmu, tapi aku bisa melihat bahwa Anin punya tempat spesial di hatimu". jelas Dalila


"Lalu?". tanya Ken singkat.


"Aku ingin kau terus mendekati Anin, kalau perlu rebut dia dari Askara". ujar Dalila dengan wajah datarnya. rasa egois serta rasa ingin memiliki terhadap Askara membuatnya menjadi orang serakah.


Ken kembali di buat tertegun dengan permintaan tidak masuk akan dari Dalila.


"Kau gila, hah?".


"Ini bukan kegilaan, Ken. tapi ini mengenai sebuah perasaan. aku mencintai Askara dan kau juga mencintai Anin. kita berdua akan sama-sama akan untung nanti". Dalila mencoba untuk membuat kesepakatan dengan Ken dengan memaksa pria itu untuk kembali mendekati Anin.


"Tapi Anin dan Askara saling mencintai". balas Ken lebih bisa berfikir realistis. "Mungkin kau berfikir aku akan setuju dengan permintaan konyolmu, kau justru salah Dalila. aku memang mencintai Anin, tapi kewarasan ku masih bisa aku kendalikan. satu hal yang perlu kau tau Dalila, tidak selamanya mencintai itu harus berbalas di cintai apalagi sampai memaksakan untuk memiliki. dan prinsipku selama orang yang aku cintai bahagia bersama dengan pilihannya, maka tidak ada alasan untuk aku menghancurkan kebahagiannya


Dalila tertawa sarkas, "Itu karena kau yang tidak mau berjuang untuk mendapatkan Anin, Ken".


"Perjuanganku akan masuk akal jika posisi Anin belum menjadi istri orang. dan seharusnya kau bisa berlapang dada sepertiku, dengan merasa bahagia melihat Askara akhirnya bahagia bersama Anin. bukankah dulu kau yang menyia-nyiakan Askara?". tanya Ken membuat Dalila terdiam menahan kesal karena kini Ken balik menyerangnya.


Karena tidak ada jawaban dari Dalila, Ken memilih melangkah pergi meninggalkan wanita itu. namun baru beberapa langkah, Dalila kembali bersuara.


"Tapi bagaimana kalau aku bisa membuat mereka berpisah?". tanya Dalila berhasil menghentikan langkah Ken.

__ADS_1


Pria itu lantas berbalik menatap wajah Dalila lekat-lekat. "Walaupun nantinya kau berhasil mendapatkan Askara, rasa yang dia punya mungkin tidak lagi sebesar dulu atau bahkan mungkin sudah tidak ada sama sekali. dan yang akan kau dapatkan hanyalah sebuah rasa sakit karena mencintai tapi tidak di cintai". balas Ken telak lalu meninggalkan Dalila yang terlihat menahan amarah karena ucapannya.


__ADS_2