Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 19


__ADS_3

Di luar apartement, Vivi tengah mondar-mandir menunggu Anin keluar.


Dia ingin sekali masuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.


Dito bersandar pada tembok, memperhatikan Vivi berjalan kesana kemari.


"Tidak bisakah kau diam?, kepalaku pusing melihatmu berjalan kesana kemari" hardik Dito.


Langkah Vivi terhenti "Tidak usah di lihat kalo begitu" cebiknya


"Aku punya mata, dan kau berada di depanku bagaimana bisa aku tidak melihatmu" ujar Dito mau kalah.


"Kalau begitu masuk dan periksa keadaan Anin, kenapa sampai sekarang dia belum keluar dan memberiku kabar, apa jangan-jangan Anin kenapa-napa di dalam. omegaddd" panik Vivi dengan segala fikiran negatifnya.


"Tuan Askara dan Nyonya besar tidak akan macam-macam pada nona Anin, buang jauh-jauh fikiran negatifmu itu"


Dito menyentil keras jidat Vivi.


Vivi mengadu kesakitan.


"Aww... sakit anjrit" kesal Vivi mengelus jidatnya yang memerah.


"Lebih baik kau ikut aku" Dito menarik tangan Vivi untuk meninggalkan apartement.


Vivi menatap kaget tangannya yang di tarik Dito.


"Eh apa-apaan ini, lepasin nggak" Vivi berusaha memberontak


."Jangan nyari kesempatan megang-megang tangan Gue yah, nanti Gue laporin karena tindakan tidak menyenangkan" ancam Vivi.


Dito menulikan telinga, pegangannya justru semakin erat.


"Lo mau bawa gue kemana sih"


Vivi tidak berhenti bersuara.


Mereka sampai di basement.


"Masuk" Perintah Dito setelah membukakan pintu mobil.


"Nggak mau" tolak Vivi.


Dia tidak tau akan di bawa kemana.


Dito tidak bisa menunggu lama, mendorong tubuh Vivi masuk ke mobil secara ke paksa.


Dito bergegas ikut masuk ke mobil saat Vivi sudah duduk di jok penumpang dengan wajah kesal.


Dito menyunggingkan senyum.


"Lo mau bawa Gue ke mana sih?" gerutu Anin dengan wajah di tekuk.


Dito menatap Vivi dalam, mendekat lebih dekat.


Terdiam, Vivi merasa gugup. jarak Dito semakin dekat.


"Lo..Lo mau apa?" Vivi terbata, jantungnya seperti di pompa.


Vivi refleks memejamkan mata.


Bau parfum Dito menyeruak ke dalam Indra penciumannya.


ceklek..


Mata Vivi terbuka.


"Aku sedang memasang seatbelt, kenapa kau menutup matamu?" tanya Dito polos.


Blush..


Wajah Vivi memerah, bodoh. dia merutuki dirinya.


Kenapa dia harus refleks menutup mata, memangnya Dito akan melakukan apa?


"Bukan apa-apa" Vivi sebisa mungkin bersikap cuek dan biasa saja.


Padahal debaran jantungnya sudah tidak karuan.


Dengan susah payah Vivi mengendalikan debaran jantungnya.


Mobil sudah melaju keluar meninggalkan gedung apartement Askara.


"Sebenarnya Lo mau bawa Gue ke mana hah?" tanya Vivi saat mobil yang mereka kendarai sudah bergabung dengan kendaraan lainnya.


"Aku lapar" Singkat Dito tanpa menoleh.


"Whaaaat" pekik Vivi


"Trus apa hubungannya dengan Lo nyeret dan bawa Gue pergi dari apartement Askara "


"Temani aku makan" jawab Dito.


"Nggak ! Gue nggak laper, sekarang bawa Gue balik ke apartement Askara. Anin pasti nyariin gue" pinta Vivi


"Terserah kalo kamu mau turun di sini" jawab Dito entang ingin menepikan mobilnya.


Vivi membulatkan mata, dia tidak mau di turunkan di tengah jalan.

__ADS_1


Akhirnya dia pun mengalah.


"Oke gue temenin" putus Vivi dengan berat hati.


Dito tersenyum tipis, melajukan mobil menuju tempat makan favoritnya.


****


Sandra memasuki kamar Askara, putranya itu baru saja selesai mandi.


Askara menatap datar kedatangan Mami nya.


"Mau apa Mami ke kamar Askara" tanyanya.


"Mami mami bicara sama kamu"


Sandra duduk di tepi ranjang Askara.


"Kemarilah, sudah lama Mami tidak bicara berdua denganmu"


Semenjak Askara pindah ke Indonesia dan meneruskan perusahaan Papinya, Sandra merindukan moment ibu dan anak.


Askara mendekat, duduk di samping Mami nya.


"Kenapa kau seperti tidak suka jika kembali ke mansion bersama Anin dan juga Mami ?" tanya Sandra penasaran.


Askara terdiam, terlalu banyak kenangan di mansion itu.


"Mami pasti tau alasannya" jawab Askara.


Sandra terlihat menghela nafas.


"Kau masih memikirkan wanita itu?, Sadarlah nak, Dia sudah pergi bersama cita-citanya. sedang kau sampai sekarang masih stuck di tempatmu dan mengharapkan dia kembali. Mami tidak suka itu"


Kali ini Sandra harus tegas pada Askara "Lupakan dia"


Putranya itu butuh arahannya agar tidak berlarut-larut memikirkan orang yang tidak seharusnya dia fikirkan.


"Aku tidak bisa Mi"


"Bukan tidak bisa, tapi kau belum mencobanya. Lihat Anin, dia gadis yang cantik, sederhana dan sepertinya juga wanita yang lembut, apa kau tidak bisa menyadari itu? Mami tau hubungan kalian terjadi karena sebuah kesalahan tapi sekarang Anin itu tanggungjawabmu apalagi dia mengandung anakmu. Mami mohon jangan kekanak-kanakan seperti ini Askara".


Tercetak jelas sebuah harapan di mata Sandra untuk hubungan Askara dan Anin.


Askara merenungkan perkataan Mami nya.


"Mami baru mengenal Anin, kita belum tau dia sepenuhnya. Dia orang baru dalam kehidupan Askara" ucap Askara frustasi.


Sandra perlu meluruskan pemikiran Askara pada Anin.


"Kau betul, Anin memang orang baru yang masuk dalam kehidupan keluarga kita. tapi Mami mencoba menerima Anin sebagai menantu Mami untuk kami saling mengenal, maka kau cobalah menerima Anin sebagai istrimu dan kenal dia lebih jauh lagi. kau tidak boleh lupa nak, Anin sekarang berada di sini semua itu karena kesalahanmu".


Askara mencerna semua perkataan Maminya.


Selama ini dia memang membangun tembok tinggi.


Toh, pernikahan mereka juga pada akhirnya akan berakhir.


Askara tetap pada pendiriannya. dia hanya harus banyak bersabar sampai hari itu tiba.


"Aku bisa memutuskan apa yang terbaik untuk untuk hidupku Mi" ucap Askara


Dia tidak berani menatap wajah sedih Maminya.


"Selama ini Mami membesarkanmu, memberikanmu perhatian penuh, mendukung setiap keputusanmu dan Mami tidak pernah meminta balasan apapun, namun kali ini Mami memohon sebagai seorang ibu, tolong pikirkan baik-baik perkataan Mami, karena setiap apa yang kamu perbuat semua ada penyesalannya nanti Nak".


Sandra beranjak dari duduknya "Bersiaplah, sebentar lagi kita akan pindah ke mansion" ucapnya meninggalkan Askara yang terdiam.


"Arrghhh..sial" umpat Askara selepas kepergian Sandra dari kamarnya.


"Kenapa harus ada Anin dalam hidupku" Askara menyesali apa yang pernah terjadi antara dia dan Anin.


Andai saja malam itu tidak pernah terjadi, Askara pasti sudah menyusul wanita pujaannya ke Jerman.


Sandra mencari keberadaan Anin di kamarnya.


Gadis itu tidak ada.


Bau masakan menyeruak ke dalam hidung Sandra, sepertinya Anin sedang berada di dapur.


Apa Anin yang memasak? Sandra pun melangkah ke dapur.


"Kau memasak?" tanya Sandra takjub melihat Anin sudah menyajikan beberapa jenis makanan di meja.


Anin tersenyum melihat kehadiran mertuanya.


"Iyya Mi, Mami duduklah. Aku mau mengambil sisa masakan di dapur " jawabnya.


Anin ingin kembali ke dapur namun di tahan oleh Sandra.


"Tidak perlu, kau duduklah. biar Mami yang mengambilnya"


"Tapi Mi_


"Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak bekerja apalagi kau sudah memasak makanan sebanyak ini, jadi biar Mami yang ambil sisa makanannya" ujar Sandra.


Mau tidak mau Anin menurut saja.

__ADS_1


"Oh Iyya Nin" Sandra berbalik menatap Anin


"Ada apa Mi?" Anin berdiri dari duduknya.


"Kau panggillah Askara di kamarnya, kita makan bersama-sama"


Ragu, takut Askara menolak ajakannya.


Anin pernah memasak makanan untuk Askara namun hanya berakhir di tempat sampah.


Sandra tau Anin ragu.


"Cepatlah, keburu makanannya dingin" ujar Sandra lembut.


Anin mengangguk meninggalkan dapur.


Kakinya berdiri sudah berdiri di ambang pintu kamar Askara.


Anin mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.


Namun pintu kamar Askara tiba-tiba terbuka.


Anin terkesiap, Askara sudah berdiri di depannya dengan wajah dingin.


"Minggir" perintah Askara datar.


"Pak Askara mau kemana?" tanya Anin masih berdiri di ambang pintu .


Askara sudah rapi dengan pakaian casualnya.


"Bukan urusanmu, minggirlah".


"Aku di minta Mami Sandra mengajak pak Askara makan malam"


Askara mendengus " Aku ada urusan, jadi akan makan malam di luar"


"Tapi aku masak banyak malam ini" Anin masih berusaha menahan Askara.


"Memang siapa yang menyuruhmu melakukannya?" tanya Askara tidak suka.


Hati Anin berdenyut, kenapa Askara selalu saja mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.


"Tapi Mami Sandra sudah menunggu di meja makan"


"Kau tidak mendengar? aku sedang ada urusan, minggir" Kali ini Askara berkata cukup keras.


Askara mendorong tubuh Anin sedikit keras karena menghalangi jalannya.


Badan Anin terhuyung.


Untungnya tidak sampai jatuh.


"Askara apa yang kau lakukan" Bentak Sandra yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Sandra sengaja menyusul Anin karena sudah terlalu lama.


Askara hanya memasang wajah datarnya.


"Kau mau kemana hah?" tanya Sandra marah.


"Aku ada urusan di luar" jawabnya


"Kau tidak boleh pergi kemana-mana, Anin sudah memasak untukmu"


Askara tersenyum sinis "Aku tidak memintanya" jawabnya enteng.


Sandra benar-benar tidak habis fikir, Askara bersikap sangat acuh pada Anin.


"Kauuuu_ " Sandra sudah sangat geram


"Mi, sudah yah jangan marah marah. Anin tidak papa, biarkan pak Askara pergi mungkin dia ada urusan yang sangat penting" ujar Anin menenangkan mertuanya.


Anin tidak ingin terjadi keributan antara ibu dan anak jadi dia berusaha untuk mendinginkan suasana.


Padahal dia sendiri berharap Askara bisa makan malam bersamanya.


"Mami dengar sendiri kan?, dia juga tidak keberatan" ucap Askara.


Sandra menatap marah serta kecewa pada Askara.


"Aku pergi".


Askara meninggalkan dua wanita yang sama-sama merasa kecewa dengan tindakannya.


Sandra beralih pada Anin yang menatap sedih kepergian Askara.


"kau tidak papa sayang?" Sandra meneliti tubuh Anin yang sempat di dorong oleh Askara tadi.


Anin berusaha tersenyum, dia merasa sedikit lebih baik karena setidaknya Mami Sandra bisa menerimanya.


"Aku baik-baik saja Mi" jawabnya.


Sandra tersenyum lega.


"Maafkan perlakuan Askara yah" Sandra merasa tidak enak.


"Anin maafin kok Mi" jawab Anin

__ADS_1


"Kalau begitu kita makan berdua saja yah, jangan pikirkan Askara, oke?" Sandra berusaha menghibur menantunya.


Anin mengangguk, keduanya pun berjalan menuju meja makan.


__ADS_2