
Vivi baru saja selesai membantu menyuapi sarapan pagi Anin.
Sepanjang itu juga, Vivi menceritakan bagaimana keadaan di toko kue saat para pegawai termasuk Doni, Fika dan Ambar sudah mengetahui keadaan Anin yang sebenarnya.
Tadinya Anin merasa khawatir, tapi setelah mendengar penuturan Vivi, dia bisa sedikit bernafas lega karena semuanya tidak seperti yang di bayangkannya selama ini.
Terutama Ambar, Doni, dan Fika. mereka tidak mencemooh keadaannya. justru mereka tetap mensupport Anin.
"Lo diem di sini, gue mau ngambil ponsel dulu" ucap Vivi berjalan ke arah sofa untuk mengambil benda pipih tersebut.
Anin mengerutkan keningnya bingung. Vivi mau apa?
"Nah, sekarang Lo senyum manis, liat ke arah kamera sambil pegang mangkok bekas sarapan Lo" titah Vivi semakin membuat Anin kebingungan.
"Tunggu..tunggu... ini maksudnya apaan?" tanya Anin, dia tidak ingin di suruh tanpa alasan yang jelas.
Vivi berdecak kesal "Asal Lo tau, tadi laki Lo ngirim pesan ke gue untuk ngirim foto setiap aktifitas yang Lo lakuin, termasuk Lo udah makan apa belum? Lo udah minum obat apa belum? dan lain-lainnya" jelas Vivi dengan ekspresi gregetnya.
Dia sendiri tidak habis fikir saat Askara tiba-tiba mengirim pesan padanya. Namun mau tidak mau dia harus melakukannya.
Mulut Anin sedikit terbuka mendengar penjelasan Vivi, ternyata diam-diam Askara menjadikan Vivi sebagai mata-matanya.
"Ya udah deh" ucap Anin akhirnya.
"Fotonya yang bagus yah" ucap Anin, kemudian dia memasang senyum semanis mungkin saat Vivi mulai membidiknya.
"1..2..3...oke.. selesai" Vivi memberi aba-aba.
"Oke deh.. send" ujar Vivi mengirim foto tersebut pada Askara.
Vivi kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. dia teringat akan sesuatu, jadi menarik kursi untuk mendekat ke ranjang Anin.
"Nin, gue mau nanya sesuatu deh?"
"Nanya apa? muka Lo serius banget" ujar Anin menatap lekat wajah Vivi.
"Lo kenal cowok yang namanya Ken?" tanya Vivi.
Tubuh Anin mendadak kaku mendengar pertanyaan Vivi.
"Ken..?" ulang Anin, kira-kira Ken siapa yang di maksud oleh Vivi.
Vivi mengangguk.
"Kemarin waktu Lo di IGD, cowok yang bernama Ken juga ada di sana. katanya dia teman Lo dan kenalnya belum lama ini" terang Vivi.
Deg. Anin menelan salivanya kasar. jika benar Ken yang di maksud oleh Vivi adalah Ken yang dia kenal, itu artinya Ken juga sudah tau keadaannya.
__ADS_1
Perasaan Anin mendadak kalut.
"Apa Mas Askara juga bertemu dengan Ken kemarin?" tanya Anin dengan raut wajah yang entah, tidak bisa di jelaskan.
Vivi mengangguk "Bahkan mereka sempat bersitegang"
"Bersitegang?" ulang Anin.
"Iyya, Askara kayaknya nggak suka deh sama Ken"
Anin terdiam, pasalnya Askara tidak menyinggung sedikit pun tentang pertemuannya dengan Ken di rumah sakit ini padanya.
Sepertinya Askara memang sengaja menutupi ini semua darinya, fikir Anin dalam hati.
Anin refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sekarang Ken mungkin sudah tau alasan kenapa dia menolaknya .
"Nin.. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Vivi yang sama sekali tidak tau menau mengenai ken.
Anin tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita.
"Gue sama Ken belum lama kenal. tapi akhir-akhir ini kita cukup sering ketemu dalam sebuah kesempatan, apalagi waktu itu dia punya kerja sama gitulah sama kak Ambar buat promo toko kuenya, Ken itu seorang potografer" terang Anin.
Vivi mendengar dengan seksama.
Cerita demi cerita meluncur dari bibir mungil Anin, membuat Vivi tercengang mengetahui fakta bahwa Ken menaruh rasa pada Anin, bahkan sudah pernah menyatakan perasaannya.
Vivi sekarang paham, jadi itu alasan kenapa Askara begitu marah kala melihat Ken ikut hadir di rumah sakit kemarin.
"Gue sekarang jadi bingung Vi, pasti Ken kecewa banget".
"Yahh .. lebih baik kecewa di awal kan dari pada nantinya rasa dia ke Lo lebih dalam, nanti rasa sakitnya juga lebih dalam lagi"
Anin membenarkan ucapan Vivi, mau bagaimanapun Ken memang harus tau yang sebenarnya sedini mungkin.
Hanya saja, Anin merasa apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencanannya, di mana Ken harus tau keadaannya akibat insiden kemarin. padahal Anin sudah bertekad akan bicara langsung pada Ken.
Tapi sudahlah, mungkin ini memang sudah jalannya.
"Tapi Lo tau nggak sih, ternyata Ken itu adiknya dokter Ziva" ucap Vivi.
"Apa?" pekik Anin terkejut "Lo tau dari mana?" tanyanya tidak menyangka.
Satu lagi fakta yang membuatnya terkejut.
"Saat Lo masih di IGD" terang Vivi.
Anin semakin di buat tercengang, ternyata dunia rasanya sesempit ini.
__ADS_1
Di kantor.
Askara dan sekretaris Dito sedang melangsungkan meeting yang sempat tertunda kemarin karena Anin yang mengalami pendarahan.
Sekretaris Dito sedang menjelaskan point-point utama yang menjadi dasar kerjasama dengan Wira's Grup.
Saat meeting sedang berjalan, sebuah pesan masuk di ponselnya menarik perhatian Askara.
Dengan segera Askara meraih ponsel tersebut yang terletak di atas meja.
Senyum Askara terbit saat mendapat kiriman foto Anin yang baru saja selesai sarapan.
Istrinya itu tengah tersenyum manis ke arah kamera dengan menunjukkan mangkok bekas sarapannya yang habis tak tersisa.
Rasanya Askara ingin segera cepat-cepat pulang dan menuju rumah sakit tempat Anin berada.
"Tuan...?" panggil sekretaris Dito namun tidak di tanggapi, Askara malah tersenyum dan fokus ke layar ponselnya.
"Tuan Askara?" panggil sekretaris Dito sedikit lebih keras, membuat Askara tersadar dan buru-buru meletakkan ponselnya.
"Hemm... sampai di mana Dito?" Askara menanyakan sampai di mana pembahasan mereka.
"Tuan tinggal menandatangani kontrak karena pak Andre sudah setuju dengan semua prosedur kerjasama dengan perusahaan kita" jelas sekretaris Dito.
"Baiklah" Askara segera membubuhkan tanda tangannya di atas kertas berisi kontrak kerjasama mereka.
"Senang bisa bekerja sama dengan tuan Askara" ujar pak Andre seraya berdiri dari duduknya, bersiap-siap untuk pamit.
Keduanya berjabat tangan, tanda meeting sudah berakhir.
"Kalau begitu saya pamit" ujar pak Andre.
Askara hanya mengangguk dengan wajah datarnya.
"Mari saya antar keluar pak" ujar sekretaris Dito mempersilahkan pak Andre berjalan lebih dulu.
Selepas kepergian sekretaris Dito untuk mengantar pak Andre keluar, Askara duduk kembali di kursinya.
Kembali membuka ponselnya dan mengamati wajah Anin. sampai sekarang dia masih bingung dengan perasaannya.
Perasaan nyaman berada di dekat Anin mampu membuat hatinya menghangat dan melupakan sejenak kenangan tentang Dalila. yang bahkan selama dua tahun ini tidak pernah terlepas barang sehari saja untuk memikirkan wanita itu.
Sekretaris Dito kembali masuk ke dalam ruangan setelah mengantar pak Andre.
"Tuan, kita harus segera berangkat ke lokasi proyek pembangunan mall" ujar sekretaris Dito.
"Siapkan aku mobil, aku ingin menyetir sendiri. kau tidak perlu menyupiriku karena selepas dari lokasi proyek, aku ingin langsung menuju ke rumah sakit" titahnya pada Dito.
__ADS_1
"Baik tuan" Dito segera meninggalkan ruangan tersebut untuk menyiapkan mobil sesuai dengan permintaan Askara.