Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 75


__ADS_3

Pagi ini, seperti biasa Anin kembali melakukan tugasnya sebagai seorang istri. mulai dari menyiapkan pakaian dan semua keperluan Askara sebelum berangkat ke kantor.


Meskipun Askara sudah melarang Anin untuk melakukan itu semua namun Anin tetap bersikukuh untuk melayani setiap kebutuhan Askara, kecuali membantu bi Ratih memasak di dapur, Askara melarang keras hal itu.


"Mas, mulai hari ini aku sudah tidak mau memakai kursi roda lagi". ujar Anin yang sedang memasang dasi Askara.


"Kenapa?". tanya Askara menaikkan satu alisnya.


"Aku sudah merasa lebih baik, lagi pula gerakku terbatas jika harus menggunakan kursi roda kemana-mana". protes Anin dengan wajah merengut.


"Tapi Nin, ada Mia yang bisa membantumu ke mana-mana. dia aku bayar mahal memang untuk mengurusmu".


Anin menghembuskan nafas kasar.


"Kasihan Mia, dia seperti mengurus majikannya yang sedang lumpuh". celetuk Anin berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Askara.


"Jangan bicara seperti itu". ujar Askara marah.


"Faktanya memang begitu kan Mas, orang di luar sana yang tidak tau keadaanku yang sebenarnya pasti akan mengira aku ini cacat".


Askara yang tidak ingin membuat Anin sedih menarik pinggang istrinya itu hingga perut buncit Anin menempel sempurna di perut Askara.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat. kau jangan beraktifitas berlebihan, jangan terlalu lama berdiri apalagi sampai berjalan naik turun tangga, gunakan lift yang ada". peringat Askara


Anin tersenyum sumringah, akhirnya dia bisa bebas tanpa menggunakan kursi roda lagi.


"Hari ini kau tidak ingin ikut ke kantor? aku takut kau akan datang tiba-tiba lagi seperti kemarin" ujar Askara saat dasinya sudah terpasang rapi.


"Sepertinya tidak mas, hari ini Vivi ingin berkunjung ke mansion. katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan".


Askara hanya mengangguk kecil.


"Jika kau butuh sesuatu bilang pada Mia, atau hubungi aku".


"Iyya, mas".


"Kalau begitu aku berangkat".


"Mas tidak sarapan dulu?". tanya Anin.


"Pagi ini kebetulan ada pertemuan di sebuah restoran. jadi sekalian aku sarapan di sana saja bersama Dito". jelas Askara.


Anin mengangguk paham. "Mas, hati-hati yah".


"Hemm,.. kau jaga diri baik-baik. ingat pesanku tadi".


"Iyya mas".


Sebelum benar-benar pergi, Askara sedikit membungkuk dan mengelus lembut perut Anin.


"Hallo jagoan Papi, jangan nakal di perut Mami yah, Papi mau berangkat kerja dulu. jaga Mami baik-baik". Askara seolah sedang mengajak calon anaknya mengobrol.

__ADS_1


Anin tersenyum bahagia, pemandangan yang baru saja di lihatnya adalah yang pertama kalinya terjadi di mana Askara dengan sikap kebapaannya mengajak calon anak mereka mengobrol.


Mata Anin bahkan sudah memerah menahan air mata haru sekaligus bahagia.


Askara berdiri menatap Anin yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa hemm?". Suara lembut Askara membuat Anin tak kuasa untuk tidak memeluk suaminya itu.


"Aku hanya merasa senang mas, apa yang selama ini menjadi do'aku akhirnya terkabul". Anin berucap sambil memeluk erat tubuh Askara.


"Sudah yah, jangan sedih lagi. fikirkan kandungan mu juga". dengan lembut Askara menghapus air mata Anin.


Anin mengangguk bahagia. "Maaf Mas".


"Oh Iyya aku lupa memberi tahu, tadi Mami mengirimiku pesan. dia sudah sampai di Inggris dan meminta mu untuk menghubunginya, katanya ponsel mu tidak aktif". terang Askara.


Anin yang tadinya sedih, menjadi lebih baik karena mendengar bahwa Mami Sandra sudah sampai di Inggris dengan selamat.


"Ah Iyya Mas, aku lupa. semalam setelah mengabari Vivi hp ku kehabisan daya". ujar Anin.


"Ya sudah, sekarang kau hubungi Mami. dia pasti sudah menunggu".


"Baik mas".


"Aku berangkat" Askara mencium kening Anin kemudian meninggalkan kamar.


Setelah bertukar kabar dengan Mami Sandra yang berada di inggris, kini Anin duduk di ruang tengah menunggu kedatangan Vivi ke mansion.


"Suruh masuk aja Bi".


"Baik, non". Bi Ratih kembali berjalan keluar untuk mempersilahkan Vivi masuk.


Terlihat Vivi masuk di ikuti bi Ratih di belakangnya.


"Saya pamit ke dapur dulu Non, mau buat minum untuk non Anin dan juga non Vivi ". ujar Bi Ratih.


"Iyya Bi, makasih yah".


Bi Ratih pun berlalu menuju dapur.


"Ya ampun, nyonya Askara makin cantik aja". goda Vivi melihat penampilan Anin yang makin segar dan cantik.


"Apaan sih Lo, ayo duduk". Anin menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah di ikuti oleh Vivi.


"Nih, gue bawain buah segar buat Lo. kurang baik apalagi coba gue". sombong Vivi.


"Yaelah, baru juga bawain buah. tapi makasih yah". ujar Anin tersenyum.


"Laki Lo mana? udah berangkat kerja kan?". tanya Vivi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mansion mencari keberadaan Askara.


"Udah di kantor, kenapa emangnya?".

__ADS_1


"Gue malu aja kalo harus cerita terus ada suami Lo".


Wajah Anin nampak meneliti. "Lo mau bicara apa sih? kenapa Lo bawa-bawa Mas Askara segala". tanya Anin penasaran.


Vivi menarik nafas terlebih dahulu, sebelum akhirnya menceritakan bagaimana sekretaris Dito menyatakan perasaannya padanya sewaktu dirinya di bawa ke makam ibu sekretaris Dito.


"Apaaa...?" pekik Anin tak percaya.


Bi Ratih yang baru saja meletakkan minuman mengelus dadanya terkejut mendengarkan suara Anin.


"Aduh, maaf Bi. Anin nggak bermaksud ngagetin". Anin merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Non.. oh Iyya silahkan di minum Non minumnya, bibi mau balik ke belakang".


"Makasih bi". ujar kompak Anin dan Vivi.


Anin kembali fokus pada Vivi.


"Lo serius?, sekretaris Dito nyatain perasaannya? kok bisa? tapi sejak kapan sekretaris Dito suka sama Lo?". Anin memberondong Vivi dengan beberapa pertanyaan.


"Nanyanya satu-satu Anin". kesal Vivi geregetan.


"Sorry-sorry, abisnya gue kaget. selama ini gue taunya sekretaris Dito itu nggak beda jauh sama Mas Askara. kaku, dingin, dan irit bicara terus tiba-tiba nyatain perasaannya ke Lo, kayak tiba-tiba aja gitu". terang Anin yang sama halnya dengan Vivi.


"Lo aja kaget, apalagi gue waktu itu. rasanya gue kayak mimpi waktu itu tau nggak".


"Terus Lo jawab apa?". ini yang paling ingin Anin tau.


Vivi menunduk lesu. "Gue belum ngasih jawaban apapun. gue masih bingung aja, Lo tau sendiri kan gue belum kepikiran buat pacaran apalagi umur sekretaris Dito yang jauh di atas gue, takutnya dia langsung ngajak gue kawin".


Vivi yang punya target menikah kapan, tidak ingin buru-buru melepas masa lajangnya.


Anin menghela nafas pelan.


"Tapi perasaan Lo saat ini gimana?".


"Gue nggak tau. tapi yang pasti gue ngerasa nyaman aja sih, dia juga pernah nolongin gue. walaupun ternyata dia aslinya cukup nyebelin". terang Vivi.


Anin meraih tangan Vivi.


"Lo harus mastiin perasaan Lo dulu ke sekretaris Dito itu kayak gimana. nggak usah buru-buru, apalagi kalian baru dekat. sebaiknya kalian mengenal satu sama untuk tau sifat dan karakter masing-masing. meskipun aku bisa jamin sekretaris Dito itu orangnya sangat baik dan bertanggungjawab tapi semua keputusan kembali lagi sama Lo, apapun jalan yang Lo ambil gue pasti dukung".


Inilah salah satu sifat Anin yang sangat Vivi sukai. Anin selalu bijak dalam memberinya pilihan tanpa harus memberatkan atau menyulitkannya.


"Gue akan coba untuk mengenal sekretaris Dito lebih jauh lagi. thanks yah Nin, Lo emang sahabat gue yang paling bisa di andalkan". ujar Vivi merasa lebih lega dan tentunya tau harus bersikap seperti apa setelah ini pada sekretaris Dito.


"Makanya, sering ajak baik-baikin gue". ujar Anin terkekeh.


"Iyya.. Lo mau apapun pasti gue turutin. tapi istri sultan kayak Lo mana mungkin kekurangan. yang ada malah Askara bisa ngasih lebih dan lebih lagi kalo Lo mau apapun". seloroh Vivi.


"Yang banyak duit itu suami gue, bukan gue". ujar Anin merendah.

__ADS_1


"Sama aja, duit suami yaa duit istri. fix no debat". celetuk Vivi membuat pembicaraan mereka semakin seru karena membahas banyak hal.


__ADS_2